Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mencintai Wanita Lain


__ADS_3

“Mas Jofan….” Ayu memeluk kesayangannya yang jarang sekali datang. “Riyan, sibuk sekali yah kalian berdua. Tidak pernah menengok ku lagi.” Memeluk Riyan dengan perasaan sedikit kesal. Mereka semua sangat sibuk.


Riyan memang akhir-akhir ini menyibukkan dirinya agar tidak sering teringat kedua orang tuanya yang sudah tidak ada lagi. Bahkan ajakan Jofan untuk tinggal bersama pun di terimanya, dirinya tidak mau sendirian.


Riyan tidak mau tinggal bersama Ayu karena tidak mau memperlihatkan kekacauannya setelah kepergian kedua orang tuanya. Kakak tersayang nya sudah cukup menderita, sudah cukup banyak kesakitan yang dia lalui. Riyan tidak mau lagi memberikan beban berat untuk langkahnya.


“Aku sehat Mbak, ayo lanjutkan makannya.” Riyan terus menunduk setelah menyapa sekedarnya. Dia memang pemalu jadi tidak terlalu banyak bicara.


Ayu segera mengisi piring Jofan dan Riyan, mereka senang melihat Ayu baik-baik saja. Senyumnya menyembuhkan banyak luka di hati mereka. Melihat Ayu baik, membuat dunia mereka juga menjadi sangat baik.


“Oh iya, kenalkan adik perempuan Kaka yang baru saja pulang.” Helga yang masih mematung gelagapan, dirinya sangat malu karena melihat laki-laki yang sangat dia kenal duduk tidak jauh darinya.


Dirinya pulang ingin menghindari masalah, tapi justru masalah yang dia hindari menyapanya terang-terangan.


“Siapa?” Tanya Jofan penasaran. Dia hanya mendengar sedikit pembicaraan mereka tadi. Namun lupa siapa Helga yang Ayu maksud.


Ayu menjelaskan dengan semangat, bagaimana pertemuan mereka, perjalanan karir Helga dan bagaimana selama ini Helga menjalani hidup seperti yang sudah dia ceritakan tadi padanya. Penuh cerita mengharukan.


Riyan mengangkat kepalanya, melihat wanita yang di bicarakan Ayuna dengan intens. Helga yang tahu Riyan menatapnya membuang muka. Dadanya bergemuruh dan mendadak perutnya terasa mual.


Kepalanya pusing dan sepertinya asam lambungnya naik secara mendadak, semua karena dirinya panic melihat laki-laki yang sangat dia hindari ada di depan matanya. Helga gemetar.


“Mbak….maaf, aku ke toilet sebentar.” Helga sudah tidak tahan ada di ruangan yang sama dengan Riyan.


Menyadari adiknya tidak baik-baik saja, Ayu lari ke arahnya, meraih tangan Helga yang ternyata sudah berkeringat. Ayu memeluknya dengan hangat.


Mencoba menenangkan agar Helga tidak panic dan kembali tenang. “Kenapa Hel, ada apa? Apa Helga merasa tidak nyaman?” Helga menggeleng. Dirinya benar-benar tidak bisa lagi menahan diri.


“Aku segera kembali, aku benar-benar mual.” Ayu yang ingin mengikuti Helga di tahan Malik. Akhirnya Sandra yang mengalah mengikuti Helga ke toilet.


Sandra kaget, terdengar suara tangisan. Tidak ada orang lain selain Helga yang masuk ke toilet. Sandra memutuskan menunggunya di depan toilet.


“Mbak….” Sandra terlonjak, baru ini melihat Riyan berani bicara padanya. “Maaf mengejutkan Mbak. Aku ingin bicara dengannya.” Sandra mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Dengan…dengan Helga maksudmu?” Riyan mengangguk. “Ok….aku masuk yah.” Sandra kebingungan tapi juga tidak berani ikut campur. Mungkinkah mereka saling mengenal?


Jofan meraih tangan Sandra yang terlihat kebingungan saat masuk.


Menggenggamnya erat meski dirinya juga dipenuhi banyak pertanyaan. Sandra menatap mata Jofan lekat, seolah sedang melihat dirinya dalam diri Helga.


Mungkin dirinya dulu sehancur Helga, tapi apa mungkin mereka punya hubungan. Sejauh ini Sandra tidak pernah melihat Riyan memiliki pasangan. Dia tidak pernah bercerita apapun pada dirinya ataupun Jofan.


Kini intensitas semua orang tertuju pada Ayu. Kedua adiknya bersikap sangat aneh dan membuatnya gelisah. Malik masih tidak mau melepaskan tangannya dari genggaman. Tidak mau lagi istrinya terluka dan memikirkan berbagai persoalan yang menimpa keluarganya.


“Mom….” Suara Ranu memecah keheningan. “Boleh tidak jangan memikirkan hal yang berat. Mereka pasti bisa mengurusnya sendiri.” Kata yang Malik tahan keluar dari bibir Putranya yang juga pasti sangat merasa khawatir dengan Mommy nya.


“I…Iya Bang, Mommy percaya mereka kok. Ayo kita makan, nanti dingin makanannya.” Ayu mencoba bersikap senormal mungkin meski dia tahu semua orang tidak percaya dengan sandiwaranya. Mereka paling paham dirinya.


Riyan dengan sabar menunggu Helga keluar dari toilet, Helga keluar dengan wajah basah dan tentu saja matanya yang sedikit memerah. Riyan meraih tangan Helga yang ingin masuk kembali ke dalam toilet. Membawanya ke halaman depan agar bicara lebih leluasa.


“Hay…apa kabar?” Tanya Riyan mencoba mencairkan suasana. “Maaf kita harus bertemu seperti ini. Aku tidak pernah menyangkanya.” Helga masih diam. Dadanya masih bergemuruh hebat. Kesal sekali.


“Riyan….” Melan yang baru datang menyapanya dengan ramah. Menatap wanita cantik yang Melan kira pacar Riyan. “Cantik….aku masuk yah.” Senyum Melan masih sangat nyaman.


“Apa sudah cukup? Aku tidak bisa lagi ada di sini. Aku tidak sekuat itu Riyan.” Kembali meneteskan air matanya.


“Ku mohon maaf kan aku. Aku sangat menyesal.” Riyan tidak tega melihat Helga menangis.


“Kenapa kau membuka hati mu untukku. Kenapa melakukan itu? Kenapa melampiaskan kekecewaanmu pada orang lain. Kau sakit Yan.....!!!” Helga ingin melangkah namun tangannya di tahan Riyan.


“Salah kan aku sebanyak yang kamu mau Hel, benci aku. Aku tidak apa, tapi aku mohon. Mbak Ayu tidak pantas mendapat benci mu karena aku. Aku mohon jangan membenci Mbak Ayu karenaku.”


“Kau gila, aku tidak sebodoh itu. Aku mengenal mereka sebelum aku dengan bodohnya menyerahkan hatiku pada laki-laki breng*ek sepertimu.” Menghempas tangan Riyan.


“Maaf Hel, maaf kan aku. Aku benar-benar bodoh. Aku sangat malu.” Masih menatap lekat Helga yang menangis dalam diam. “Sungguh aku akan lakukan apapun untuk menebus kesalahanku."


Helga melangkah masuk. Tidak menghiraukan lagi Riyan yang masih merengek meminta maaf padanya. Riyan mengekor di belakangnya, mengikuti kemana Helga menuju.

__ADS_1


Melihat Ayu hati Helga kembali sakit. Tapi dirinya tidak mau membawa masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan Ayu dan semua orang yang ada di sana. Dirinya kembali duduk dengan senyum terukir di sudut bibirnya. Meski matanya tidak bisa berbohong.


“Everything ok Dek” Tanya Ayu Pada Riyan yang hanya di balas senyum. “Ayo makan, Helga juga makan sayang.” Ayu mendekatkan piring Helga yang makanannya pasti sudah dingin.


Melan yang melihat semua orang sendu jadi kesal, dirinya sudah dengan banyaknya pekerjaan. Sekarang pemandangan yang dia lihat tidak kalah mengerikan dari tumpukkan kertas yang ada di ruangannya tadi. Melan meraih mik dan menyalakan pengeras suara.


“Aunt…..mau nyanyi?” Tanya Mahes ikut mendekat dan membantu Melan menyalakan perangkat karaoke.


“Kak Mahes ayo kita yanyi lagu duet. Ini bagus, aku baru dengar lagu ini.” Melan menyerahkan satu mik yang sudah dia tes suaranya terlebih dulu.


Mereka menyanyi membuat semua orang ikut terhibur, kadang suara fals Melan membuat mereka tertawa. Riyan tersenyum meski malu-malu, dia sangat suka tingkah Melan bagaimanapun.


“Giliran ku, ayo Aunt. Kita nyanyikan lagu kesukaan kita. Lagu andalan.” Ranu memencet remot mengetik lagu kesukannya.


“Abang….Aunty suaranya jelek kalau yanyi lagu itu. Nanti mereka semua tertawa.” Melan menyadari kekurangannya dalam bernyanyi. Dirinya tidak mau mempermalukan diri.


“Tenang, Abang bisa menyelaraskan suara. Bisa terdengar bagus kok Aunt, jangan khawatir.” Mencoba meyakinkan Melan.


“Benar yah….jangan seperti kemarin meninggalkan suara jelekku sampai terdengar di telinga mereka.” Ranu senyum-senyum ingat kejailannya.


Helga sangat kesal, Riyan terlihat sangat bahagia di tengah-tengah kegundahan hatinya. Melani ternyata orang yang sangat menyenangkan, pantas saja Riyan sangat mencintainya.


Meski dirinya tidak bisa mengungkapkan isi hatinya, Helga bisa melihat dengan jelas sebesar itu rasa cinta Riyan pada Melan.


“Apa Helga merasa pusing? Ada tempat istirahat sayang, mau Mbak Ayu antar?” Helga menggeleng. Dirinya tidak mau merusak suasana hangat kekeluargaan yang sangat harmonis.


Mendengar suara Ayu, Riyan menoleh dan memperhatikan wajah Helga yang pucat. Riyan tahu Helga punya trauma panic yang sama dengan Ayu. Tapi Helga lebih parah karena masa kecilnya penuh dengan luka. Tubuhnya mudah sekali merespon dan akan bereaksi dengan cepat saat Helga merasa tidak baik-baik saja.


“Helga…..lebih baik istirahat. Ayo akau antar.” Riyan sudah berdiri di depan Helga mengulurkan tangannya.


Mata Helga melotot seolah ingin keluar dan mengobrak abrik laki-laki yang saat ini berperan besar menyakiti hatinya.


“Kau puas? Kau senang memamerkan wanita yang sangat kau sayangi? Aku sadar kenapa kau mencintainya sebesar itu. Dia jauh sekali berbeda dariku. Kau pantas sangat mencintainya.” Helga menunjuk Melan yang mematung tidak tahu apa-apa, menangis pilu.

__ADS_1


Semua orang ikut menatap Riyan tidak percaya. Masih kabur cerita antara mereka berdua.


__ADS_2