Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mencintai Dengan Tulus


__ADS_3

Sudah seminggu Melani tidak bersua atau hanya sekedar memberi kabar di ruang obrolan group chat mereka. Semua orang mencoba memahami Melan dan memberinya waktu berpikir.


Tidak ada yang memulai obrolan, seminggu ini group tidak bernyawa. Tidak ada satupun pesan meski hanya sekedar bertukar kabar seperti biasa.


Ayu yang paling khawatir mencoba menepis segala macam pikiran buruknya dan tetap terlihat biasa saja. Meski banyak hal yang sebenarnya ingin sekali dia selesaikan dengan cepat terkait adik kesayangannya.


Pikiran kacaunya dia alihkan dengan banyak kegiatan yang dia ikuti menemani Malik bekerja, bermain di area kerja Malik tanpa komplain dan dengan manis menuruti semua permintaan suaminya.


Memasak banyak makanan dan membagikannya pada beberapa karyawan yang menjadi temannya bergosip dan menghabiskan waktu jika sedang di kantor suaminya menjadi kegiatan barunya. Senang sekali seperti sedang mengunjungi teman di tempat kerjanya.


"Mom, hari ini Abang ada jadwal latihan band ya Mom. Jadi Abang pulang sedikit malam setelah ujian." Ayu merentang kan tangannya.


"Kenapa Abang cepat sekali besar sih. Mommy masih ingin peluk-peluk Abang." Menciumi pipi Putra nya.


"Besar juga tetep boleh di cium-cium Mom." Balas mencium pipi Mommy nya. Mengabaikan mata Daddy nya yang melotot.


"Tapi beda, Abang kan kalau ada teman nya suka malu. Mommy tidak suka sekali Bang." Ranu tidak kuat melihat wajah Mommy nya yang merajuk. Memeluk nya erat.


"Lain kali Abang tidak akan lakukan itu." Ranu suka di ledek teman-temannya. Jadi sedikit membatasi diri. Padahal dirinya paling suka sentuhan Mommy nya yang penuh kasih sayang.


"Kenapa harus cium anak nya Mom. Kalau cium Daddy di depan umum kenapa Mommy tidak mau?" Malik merasa cemburu. Dirinya malah ingin di perlakukan mesra oleh istrinya di depan umum.


"Malu Daddy, masa cium Daddy di depan umum." Pipi nya merona.


"Pilih kasih sekali, harusnya aku yang diperlakukan manis Mom." Ayu membuang muka. Dirinya dengan sadar sering menolak ciuman Malik di depan umum. Malu sekali rasanya.


"Ih kok kita bahas ciuman sih, Abang ayo kita sarapan. Kan nanti pulang nya malam, jadi harus sarapan yang banyak."


"Mommy mu malu itu Bang, lihat wajahnya merah sekali." Malik sadar Ayu nya sedang tersipu malu. Semakin senang menggoda.


Mawar masuk membuat perhatian tertuju padanya sepenuhnya.


"Mawar.... kenapa?" Tanya Ayu karena mendapati Mawar hanya garuk-garuk kepala.


"Maaf Non, nanti saya kembali lagi kalau sudah selesai sarapan." Merasa tidak enak hati.


"Siapa yang datang sepagi ini?" Malik sudah tau dari gelagat Mawar. Kesal tapi tidak mau kesayangan tahu.


"Mengaku teman masa kecil Nona Bos. Suaminya saya kenal tapi lupa namanya Bos."


"Teman kecil ku?" Ayu penasaran dan segera berjalan ke depan. "Yakin bilang begitu?" Mawar mengangguk.

__ADS_1


"Putri nya pakai seragam sekolah yang sama dengan Abang Ranu Non."


Dada Ayu rasanya bergemuruh. Tebakannya ternyata benar, Wanita yang wajahnya sangat dia kenal, beda nya sekarang sahabatnya ini tidak mengenakan hijab seperti dulu. Wajahnya masih Ayu dan penuh kehangatan, rindu sekali wajah ini.


"In...." Yang di panggil menoleh dengan senyum yang sangat Ayu kenal. Ayu memeluk hangat sahabatnya. "Masuk In, ini Putri mu yah?" Padahal Ayu mengenalnya. "Cantik sekali Putri mu In. Ayo masuk." Menggandeng tangan sahabat nya.


"Hay Kar.......tumben sekali mampir sepagi ini." Sapa Malik yang menaruh curiga. Malik menyapa Karang yang berjalan di belakang Ayu dan dua orang wanita dengan wajah pura-pura ramahnya.


"Maaf Tuan, tiba-tiba Istri saya ingin mampir katanya. Maaf pagi-pagi sudah menganggu." Tidak enak hati.


Kalau sadar kenapa kau mampir, seharusnya bujuk istrimu agar tidak datang kesini pagi-pagi buta.


"Ayo sarapan bersama, kalian pasti belum sarapan sampai sini pagi-pagi buta." Ayu mulai sadar Suami nya tidak suka. Kata-katanya tidak enak di dengar.


"Kak, jangan bicara begitu. Kan kami sudah lama tidak bertemu, aku juga Rindu sekali dengan Iin." Malik membalas ramah ucapan istrinya dengan senyum di sudut bibir nya.


"Ok, selesaikan sarapan kalian dan kita lanjutkan ke kantor obrolan kita. Abang dan Putri teman mu berangkat diantar Biru." Malik meninggal kan meja makan.


Ayu merasa tidak enak hati, sahabatnya juga terlihat tidak nyaman dan canggung.


"Maaf yah, suami ku agar rewel kalau pagi."


"Salah ku datang pagi-pagi Yu, lain kali aku akan perhatikan waktunya dan tidak memaksakan."


"Beruntung sekali kamu Yu, dicintai laki-laki sebesar itu." Matanya penuh kesedihan. Ayu sedikit tidak mengerti kenapa Iin bicara seperti itu.


"Kamu juga beruntung menikah dengan laki-laki seperti Kak Karang, Aku tau dia laki-laki yang baik In." Sahabatnya hanya tersenyum, banyak kesedihan, seperti ada yang mereka tutupi.


"Mom, Tante dan Om. Abang berangkat yah, Mommy tolong jangan jauh-jauh dari Daddy." Menatap kedua orang yang duduk di sebelah Ayu.


"Ok Abang." menarik Ranu kepelukannya agar kedua sahabatnya tidak sadar dengan tatapan tajam mata Putra nya.


"Hati-hati, Abang sedikit Ragu Mom." Bisiknya mengingatkan.


“Ok Abang sayang, Mommy akan hati-hati.” Berbisik juga agar sahabatnya tidak mendengar percakapan mereka. Anaknya dalam mode menelisik dan curiga.


"Abang hati-hati ya sayang, ajak temen nya turun. Dah......" Mendorong Putra nya agar segera pergi.


"Aku siap-siap sebentar ya In, Kak Karang." Ayu memasuki kamarnya setelah mendapat anggukan dari keduanya.


Ayu memeluk suaminya yang sedang berdiri di depan cermin. Wajahnya masih terlihat kesal meski tidak bicara langsung padanya.

__ADS_1


"Siap-siap Mom, dan jangan jauh-jauh dariku." Ayu mengambil alih tangan Malik yang sedang memasang dasi. Ciuman mendarat di pipi Ayu yang merona.


"Anak dan Daddy nya kok kompak sekali, mereka itu loh sahabat aku Dad. Masa curiga juga." Merasa tidak enak sahabatnya di curigai juga.


"Abang saja merasa begitu sayang, apalagi aku." Ayu tidak melanjutkan argumennya. Bisa panjang. Suaminya memang selalu waspada pada siapa saja tanpa terkecuali.


"Ok, aku akan menempel pada suami ku." Mencium pipi Malik, wajah Malik merona karena perlakuan manis Ayu. Jarang sekali Istrinya manis dan manja seperti ini.


"Aku jadi tidak mau bekerja, libur saja yah....yah....ok." Merengek seperti bayi.


"Kan Kak Malik bilang ada meeting penting. Ayo cepat." Menariknya keluar setelah selesai mengenakan hijabnya.


"Aldo bisa handle." Masih tidak mau melepas pelukkannya. Malah menghujani Ayu dengan ciumannya.


"Jangan kebiasaan, Bos juga punya tanggung jawab." Menarik Malik keluar kamar, dengan posisi suaminya masih menempel. “Kak bedak ku luntur.”


“Biarkan saja, mana boleh secantik ini di kantor ku. Nanti ada yang jatuh cinta.” Mengeratkan pegangan tangannya.


"Tidak akan ada yang berani menyukai ku."


"Kalau ada yang berani, dia bosan hidup." Ayu benar-benar kewalahan.


"Ayo In, Kak. Kita jalan." Ayu risih sekali dengan sikap Malik di depan kedua sahabatnya. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ayo, naik mobil ku saja Kar, Aku tidak terbiasa naik mobil orang lain." Bicara tanpa menoleh, matanya sibuk mengangumi Ayuna nya.


"Baik Tuan." Karang mengandeng tangan istrinya mengikuti Ayu dan Malik dari belakang.


“Hay....sayang ku. Kalian baru saja berangkat? Mana Abang?” Sarah menoleh kana kiri mencari Putra kecilnya. “Kok anak kecil ku gak ada Al.” Sarah kecewa.


Ayu memeluk Mahes yang merentangkan tangannya. Rindu sekali setiap saat pada wanita baik hati kesayangannya. Pelukkannya sekilas, Malik melotot minta Mehes tidak berlama-lama memeluk miliknya.


“Kenalkan Dok, ini teman Ayu.” Mereka saling menyapa dan berkenalan.


“Abang berangkat dengan Biru, laki-laki kan harus mandiri Sar. Mana boleh manja.” Jelasnya dengan sederhana.


“Kan, Kaka bilang apa Mih, Kaka juga ingin mandiri. Please Mih.” Sarah menggeleng tidak mau menanggapi.


“Minta apa sih Kak?” Tanya Ayu penasaran.


“Mommy mu tanya, coba bicara kalau berani. Mamih bisa bilang apa kalau Mommy mu sudah setuju.” Mahes hanya tersenyum, dia malah bergelayut di pelukkan Mommy nya agar Ayu tidak penasaran lebih lanjut.

__ADS_1


“Daddy tahu apa yang Kaka Mahes minta.” Malik di pelototi Mahes karena kesal, memancing. Padahal Mommy nya sudah tidak bertanya lebih lanjut.


Melihat hubungan harmonis mereka ada rasa iri mengganjal di hati Iin sahabatnya, sejak dulu Ayu selalu di kelilingi orang-orang yang tulus mencintainya. Ingin marah sekali tapi apa hak nya.


__ADS_2