
Ayuna memeras handuk kecil yang dirinya gunakan untuk mengompres Malik. Suaminya demam, meski sudah tidak tinggi. Rasanya Ayu ingin membantu suaminya mengurangi demam nya dengan berbagai cara. Seperti yang biasanya Malik lakukan saat dirinya sakit.
Jarang sekali dirinya melihat suaminya sakit dan lemah seperti ini. Ayu sungguh tidak tega, Malik sesekali mengigau memanggil namanya saat demam. Meski begitu Ayu tidak rela suaminya menderita, dia ingin Malik selalu bisa menjaga kesehatanya dengan baik.
Terlalu banyak pekerjaan belakangan ini membuat Malik lupa dengan sehatnya, tubuhnya kini protes minta istirahat dengan paksa, Malik sakit dan lemah karena demam yang cukup tinggi semalaman.
Malik masih setia memejamkan matanya, Adam sedikit memberikan obat tidur agar Malik bisa istirahat dengan maksimal. Adam tahu karakter Malik, jika belum tumbang, dia akan bekerja seperti orang gila sampai tubuhnya kelelahan.
Tidak tahu saja efeknya membuat Ayuna yang menungguinya khawatir. Kenapa hanya demam tapi suaminya tidak kunjung bangun.
Rasa khawatirnya begitu tinggi, kini fokusnya hanya pada suaminya yang ingin segera dirinya lihat kembali kesadarannya. Rindu sekali meski suaminya hanya tidur beberapa jam saja.
"Nonna, sup nya sudah mendidih." Suara Mawar menyadarkan Ayu dari lamunan. “Aku saja yang selesaikan atau bagaimana Non.” Ayu segera beranjak dari duduknya.
"Oh iya, terimakasih Mawar. Biar aku saja yang kasih sentuhan magic ku.” Mawar menyunggingkan senyumnya. Nonna nya selalu bicara hal baik dalam kondisi apapun.
Brakkkkk.....
"Etss......kekencengan. Hahahah...." Ayu terlalu bersemangat sampai tidak sengaja membanting pintu. Mawar hanya geleng-geleng kepala, selama Nonna nya aman, Mawar tidak akan mempersoalkan kecerobohannya.
Ayuna berjalan menuju dapur. Berjalan sambil melantunkan syair islami yang akhir-akhir ini sering dirinya dengarkan. Suaranya merdu, Mawar saja suka sekali mendengarnya.
Malik mengerjap saat mendengar dentuman pintu yang cukup keras. Memijat pelipisnya yang masih terasa pening. Mencari sosok wanita kesayangannya yang tidak dirinya temukan dimanapun.
Malik merasa lemas untuk berdiri, akhirnya memutuskan untuk memejamkan kembali matanya. Tidak ingin memaksakan diri untuk bangun karena kakinya tidak kuat menopang tubuh besarnya. Suara dentuman pintu tadi tentu saja ulah istrinya, tidak akan ada makhluk lain yang berani mengganggu istirahatnya.
Wangi sup menerobos hidung Malik, perutnya yang keroncongan semakin menjadi tidak sabar ingin menikmati kelezatannya. Malik menelpon ruang tengah, Mawar mengangkatnya dan segera menyampaikan permintaan Malik padanya.
“Nonna....” Ayu terlihat menunggu kabar bahagia melihat senyum di wajah Mawar. “Bos minta di bawakan sup hangat, dia kelaparan katanya Non.” Ayu mengangguk semangat.
Dengan wajah manisnya Ayuna masuk membawa sup hangat permintaan Malik dibantu Mawar tentu saja.
Ayuna mondar mandir seperti orang kebingungan. Menatap makanan yang sudah dia siapkan untuk suaminya yang sedang tidak enak badan namun terasa masih ada yang kurang.
Ayuna kembali lagi keluar untuk mengambil obat, setelah nya Ayu keluar lagi mengambil air hangat. Malik tersenyum sendiri melihat Ayuna mondar mandir dengan raut wajah khawatir. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan dan tingkahnya membuat Malik ingin menerkamnya.
"Mom....Love....come here." Malik menepuk sisi kasur meminta Ayuna duduk. Kakinya sudah ingin berbalik lagi namun terhenti karena suara Malik.
"Sebentar, aku ambil buah...."
"No Mom, sit down please. I want hug mine." Ayuna mendekat. Mendudukkan tubuh kecilnya di sisi Malik. Bahagia sekali Malik sudah membuka matanya.
__ADS_1
Malik merengkuh tubuh Ayuna, tubuhnya berkeringat. Jelas saja, kakinya tidak berhenti mondar mandir padahal dia tidak boleh kelelahan dan terlalu banyak bergerak. Tubuh kecilnya sedang di titipi anugerah indah dari Tuhan.
Kak Malik sepertinya bangun karena suara pintu tadi yah, tidak sia-sia punya tangan ajaib. Bisa membangunkan orang pingsan. Ayuna bicara dalam hati.
"Coba aku lihat jempol kakinya." Ayuna tersenyum, padahal sudah di tutupi kaos kaki, tapi suaminya masih saja menyadari jika di tubuhnya ada luka. Ayu ragu-ragu mengangkat kakinya.
"Sudah membaik Kak." Ayu menaikan kakinya lebih dekat. "Tuh....sudah tidak sakit." Malik mengusap sayang pipi Ayuna.
Bahkan warnanya sekarang menghitam, dia selalu berusaha membuat Malik merasa baik-baik saja dengan kondisinya, meskipun tidak akan mempan. Malik akan sangat menyalahkan dirinya jika Ayuna terluka. Luka sekecil apapun baginya adalah kecerobohan, Ayuna nya tidak boleh tergores meski hanya sedikit.
"Kenapa bisa sampai seperti ini Mom. Mommy jatuh?" Ayuna menggeleng. “Luka seperti ini pasti benturannya keras Mom, jangan menutupinya.” Ayu tersenyum kikuk. Bagaimana menjelaskan kecerobohannya.
“Gak sakit Dad, sungguh.” Matanya berbinar, mematikan. Malik menghindarinya, dirinya harus mendapatkan jawaban. “Percaya Dad, kakiku sedari tadi baik-baik saja di bawa jalan kesana kemari Dad.” Malik menajamkan matanya.
“Jangan mengalihkan pikiran ku Mom, jawab jujur kenapa bisa sampai seperti ini. Jatuh dimana Mom?” Malik masih menatap sedih luka kehitaman di kuku kesayangannya.
"Tidak tahu Dad, aku tidak jatuh, aku juga tidak tahu kenapa jempol ku bisa luka." Ayu menghindari tatapan mata Malik. Jika Ayu bilang kakinya terpentok pembatas jalan di Apartemen, bisa-bisa Malik meminta pihak gedung merenovasi bangunan mereka.
Ayu ingat saat dirinya tersandung tangga sebelum pintu masuk sebuah cafe yang di depannya terdapat tiga buah tangga kecil, dua hari setelahnya saat Ayu mampir, tangga sudah berubah menjadi jalanan datar dengan design lebih nyaman dan tidak berbahaya.
“Apa sungguh sudah tidak sakit?” Ayu mengangguk, kini Malik memeluk erat semestanya. Melepaskan semua rindunya dan ingin sekali Ayu melupakan kesalahan yang sudah dirinya perbuat.
"Ayuna....." Malik mengangkat dagu Ayu karena merasa sedang di hindari. Matanya tidak bisa berbohong kalau masih ada rasa kecewa."Mommy masih marah?" Ayu menggeleng. "Maaf Mom, sungguh Daddy hanya ingin menjaga sehat mu Mom. Aku dan anak-anak butuh senyum mu Mom." Ayuna menyadari semua demi dirinya.
"Jangan pendam kalau marah, utarakan seperti kemarin Mom. Daddy harus dengar dari Mommy lebih sering. Daddy lega, Mommy bisa marah seperti kemarin Mom." Malik menciumi puncak kepala Ayuna, bangga sekali Ayu bisa bicara lantang dan cukup keras.
“Tapi aku tidak sanggup bicara seperti itu lagi Kak, aku takut kalian akan sakit mendengarnya.”
“Kami haru lebih sering mendengar marahmu Mom, agar kami tahu saat hati Mommy tidak baik-baik saja. Teriak yang keras Mom. Aku suka.” Malik senang Ayu bisa sedikit terbuka, biasanya Ayu akan menutup rapat perasaannya.
"Aku hanya takut kalian tidak nyaman lagi pada ku. Aku ingin selalu jadi rumah kalian." Wajahnya terlihat sedih. Matanya sudha berkaca-kaca.
"Kamu paling nyaman untuk ku Mom. Aku yang takut tidak bisa menjaga mu dengan benar. Daddy takut kalah dan membuatmu tidak bahagia." Ayu menatap lekat bola mata suaminya.
"No....aku mohon katakan apa saja yang Kak Malik alami. Aku akan dengarkan, aku akan kuat untuk kalian." Jawab Ayuna mencoba meyakinkan.
"Maaf kan sikap kita Love, sungguh aku tidak menyangka ini semua menyakiti mu ternyata. Aku kira menutupinya dulu lebih baik agar kamu lebih siap." Malik memeluk erat tubuh Ayuna. Membawanya ke pangkuannya.
"I love you Dad. Terima sih sudah begitu keras berusaha menjaga kita semua." Ayu mengecup sekilas bibir Malik.
"Hanya itu? Hadiahnya tidak bisa lebih baik dari tadi! Hmmmm....." Ayuna menutup wajahnya merasa malu.
__ADS_1
"Jangan lihat begitu Kak, aku malu." Ayu menenggelamkan wajahnya di dada Malik. Suaminya sedang menggodanya sampai wajahnya pasti sedang bersemu merah sekarang.
"Kenapa malu, kau sudah jadi istriku 17 tahun ini sayang. Kenapa malu." Malik terus membuat Ayuna tersipu malu dengan kelakuannya.
Tok... tok... tok
Wajah Ranu sayu dan matanya sedikit merah. "Daddy....berhenti bucin pada Mommy ku." Ranu masuk tanpa permisi membuat Ayuna mencoba turun dari pangkuan Malik tapi di tahan tangan kekarnya.
"Terserah Daddy, she is my wife." Menciumi pipi Ayuna.
"Hentikan Kak, aku siapkan makan malam dulu." Malik masih tidak mau melepaskan Ayuna dari pelukannya.
"Dad....Mom, Kak Hanum belum pulang?" Tanya Ranu yang kini duduk menatap kedua orang tuanya.
"Kenapa tanya Daddy Bang. Kan hari ini pulang dengan Papah Rey." Ayuna turun dari pangkuan Malik mencoba mencari ponselnya. Memeriksa pesan masuk di ponselnya.
"Oh iya, Mamih bilang Hanum ada di rumah sakit. Perutnya kambuh kata Mamih Bang." Malik terlihat khawatir. Jelas sekali terlihat.
"Apa Daddy perlu kesana?"
Ayuna mencoba menghubungi Sarah. Tapi terdengar suara Putra nya.
Mahesa : Yes Mom. I love you.
Ayuna : Kakak ini, bagaimana Hanum? apa kita perlu ke rumah sakit Kak? Daddy khawatir.
Mahesa : kita sedang jalan pulang. Tunggu ya Love, Kakak rindu. Hanum nya masih perlu perawatan kata Papih.
Ayuna : Kakak ini kenapa jadi suka gombal Kak. Mommy tunggu yah, Love banyak sekali.
Mahes : Kakak jatuh cinta Mom. Mommy membuat Kakak jatuh hati.
Malik : Jangan berani-berani ya Kak. Cepat pulang.
Mahes : Daddy tidak boleh cemburu, aku sedang jatuh cinta banget Dad.
Ayu tidak mau menghiraukan keduanya, meraka akan berdebat panjang. Sama-sama suka menggombal dan mengodanya sampai tersipu-sipu.
"Abang, kenapa berkeringat sekali?" Ranu langsung berdiri tidak mau Mommy nya tahu kalau dirinya sedikit demam.
"Abang tadi sedikit lari, Abang mandi dulu ya Mom." Mencium kepala Mommy nya yang terbalut hijab.
__ADS_1
Ranu merebahkan tubuhnya setelah meminum obat yang dirinya lupa minum siang tadi. Akibatnya tubuhnya sedikit demam karena luka di bahunya belum sembuh betul. Lemas sekali rasanya, Ranu memejamkan matanya.