Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Surat


__ADS_3


Malik tersenyum melihat Putra nya saat ini sedang begitu manis menemani Mommy nya yang ingin membuat es campur khas tempat lahir nya. Ranu sedang membantu membaca langkah-langkah yang mereka perlukan agar es campur keinginan Mommy nya bisa seenak bayangan dalam benaknya.


Malik duduk di ruang tengah di meja kerjanya yang ada di ruang keluarga. Malik menyiapkan meja kecil tempat laptop nya bisa bersandar saat dirinya harus mengawasi Ayuna namun tugasnya juga tetap harus di selesaikan dengan cepat.


Malik membaca dengan seksama email-email yang memenuhi kotak masuknya. Satu persatu Malik buka dan membacanya dengan teliti, tidak ada satu bait kalimat pun yang luput dari perhatiannya. Malik sangat teliti dalam pekerjaannya, dan terbawa sampai ke rumah tangga nya yang selalu apik dirinya jaga.


“Daddy....” Ayu tersenyum dengan sangat bahagia di tempat nya duduk memperhatikan Ranu yang datang ke tempatnya. Malik tersenyum, dirinya jadi orang pertama yang mencicipi hasil karya mereka. “Cicipi Dad.” Malik terlihat tersenyum remeh membuat Ranu membolakan matanya. “Jangan mengejek, ada cinta ku di situ Dad.”


“Iya....Daddy loh Cuma senyum aja Bang.” Malik menatap es campur yang terlihat begitu lezat. Mendarat dengan mulus di atas meja nya.



“Daddy.......nilai yang jujur yah. Ini baru pertama dan Mommy mau perbaiki jika ada yang kurang.” Suaranya sedikit keras. Malik tahu mereka berharap dirinya puas dengan rasanya.


“Mmmmmmm........” Malik masih menyendok beberapa kali membuat Ranu dan Ayuna menunggu dengan tidak sabar.


“Menguji kesabaran Abang ya Dad?” Malik menahan tawanya. “Nilai nya berapa dari angka 1 sampai 10?” Malik pura-pura berpikir keras. “Daddy stop. Don’t joke like that please.” Malik menyudahi jahilnya.


“Enak Abang, Daddy kasih nilai 8 untuk percobaan pertama kalian.” Keduanya tersenyum bahagia, Ranu bangga sekali mendengarnya.


Ranu kembali ke tempat Mommy nya, mengecup pipi Mommy nya dengan bangga. Ranu senang sekali bisa membantu Mommy nya membuat ide makanan yang ada di kepalanya menjadi nyata. Hobi baru Ranu sepertinya.


Tidak lama suara pintu apartemen mereka terbuka. Menampakkan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara sedang berjalan dengan bergandengan tangan seolah tidak mau terpisahkan.



“Adek.....Melan, kebetulan sekali kalian sampai. Ayo coba es campur buatan aku dan Abang.” Sambut Ayu yang sangat bahagia adik nya datang sudah dengan wajah dan suasana hatinya yang kini penuh dengan bahagia. Raut wajah yang Ayu rindukan penuh cinta kasih berdiri di hadapannya dengan bangga.


“Mentang-mentang sudah jadian, pegangan tangannya sampe tidak di lepas.” Melan yang canggung sedang berusaha keras melepas pegangan tangan mereka, Riyan yang iseng malah mengeratkan genggaman tangannya. Malik ikut terkekeh melihat wajah merah Melan yang sedang menahan malu.



“Yan....ihhhhh....lepasin. Abang....tolong auty!” Riyan terbahak melihat ulah Melan yang teriak-teriak tidak jelas.


Ranu mendekati Aunty nya, menarik Melan dalam dekapannya melepaskan aunty kesayanganya dari bully an dua laki-laki yang dengan puas mengerjainya.


“Stop yah goda-goda cantik ku. Kalau nangis Abang nanti yang repot.”

__ADS_1


“Awww.......” Melan mencubit perut Ranu kesal, ternyata sama saja. “Sorry sayang, ayo duduk. Jangan hiraukan mereka semua.” Melan yang masih cemberut lari, duduk di sebelah Ayu yang tertawa di tempatnya duduk.


“Bagaimana Adam? Apa aku perlu ke tempatnya Dek?” Tanya Malik pada Riyan yang saat ini duduk di sofa ruang keluarga.


“Jangan Kak, Dokter Adam sedang tidur. Dia sepertinya minum obat penenang agar bisa istirahat dengan benar. Melan juga sudah siapkan makanan tadi, jadi kita beri waktu supaya Dokter Adam istirahat cukup.” Malik mengangguk setuju.


Sampai saat ini pencarian tentang siapa Alana belum membuahkan hasil. Riwayat masa lalu nya hanya menjelaskan tentang Alana adalah anak yang tumbuh di panti asuhan tanpa keluarga. Tapi masih belum jelas, karena sumber yang memberikan informasi tidak akurat untuk bisa dipercaya.


Alana masih abu-abu, tapi banyak yang mengatakan jika Alana gadis yang cukup baik. Dia tumbuh dengan membanggakan meski tidak ada satu orang pun yang dirinya miliki sebagai keluarga. Alana sendirian, seperti itulah yang Malik ketahui.


Malik sedikit ingat, itu alasan mereka dulu dekat. Malik merasa punya tanggung jawab untuk melindungi Alana yang tumbuh sebatang kara. Tapi langkahnya entah tidak bisa Malik yakini benar, karena Adam begitu tersiksa dengan kembalinya Alana. Malik masih belum menemukan masalah apa yang ada di antara mereka.


“Jangan khawatir Kak, aku dan yang lainnya akan membantu Kak Malik dan Dokter Adam mengatasi ini semua.” Riyan dewasa sekali bicaranya.


“Ternyata jatuh cinta membawa banyak perubahan ya Mom. Adek ku jadi bertingkah seperti bapak-bapak.” Ledek Malik membuat Melan menyembunyikan rona malu nya. Melan lucu sekali di mata Malik.


“Cukup Daddy, aunty ku gemetaran ini.” Melan yang mau menarik tangannya kesulitan, tangan Ranu menggengam tangannya cukup erat.


Mereka sedang menikmati waktu bersama yang jarang sekali bisa mereka habiskan bersama seperti saat ini. Rumah terasa penuh warna, indah seperti kilauan cahaya mentari yang selalu setia bersinar setelah kegelapan. Indah seperti rangkaian warna pelangi yang tetap cantik meski hadirnya setelah derasnya air hujan yang membumi.


Hay Hanum Cantik, anak Daddy.


Daddy rasa Hanum pasti ingat, Daddy sayang Hanum.


Bagaimana kabar Hanum? Daddy berharap Hanum selalu sehat dan bahagia.


Tangan Daddy gemetaran menulis surat ini, seperti sedang mengutarakan perasaan Daddy dulu pada Mommy mu Nak. Daddy seperti sedang kasmaran.


Daddy mohon Hanum pulang lah Nak, Daddy rindu sekali dengan anak gadis Daddy. Ingin menebus semua kesalahan Daddy pada Hanum yang sudah Daddy lakukan pada Hanum. Daddy mohon berikan Daddy kesempatan untuk menebusnya ya Han.


Salam sayang dan rindu dari Daddy Baskoro.


Hanum sedang meremas kertas berwarna kecokelatan yang sudah sangat kusut. Dirinya mencoba membaca berulang kali surat yang diterima nya entah dari mana datangnya dan tetap saja hanya menyisakan sedak di dada nya.


Bisa-bisanya setelah kejahatan yang dilakukannya, dia masih menyebut dirinya orang tua. Bisa-bisa nya dengan tidak tahu malunya memintanya kembali, hidup dengan penuh sakit dan derita dengannya. Hanum meremas kuat kepalan tangannya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dunia mempermainkan peranya menjadi gadis penuh luka yang tidak di biarkan tenang dengan udara yang di hirupnya.


Hanum menidurkan tubuhnya yang kelelahan menangis. Lemas sekali sampai tidak punya tenaga sedikitpun untuk melangkah dari tempat tidurnya. Sedang hancur sekali hatinya saat ini, Hanum sedang merutuki takdirnya yang harus memiliki seorang Ayah tidak bertanggung jawab. Yang menyakitinya dengan sadar padahal darah dagingnya.


Sesak, Hanum sampai tidak bisa menahan diri dengan rasa sakit yang dirinya rasakan. Hanum menarik selimut sampai menutupi sekujur tubuhnya. Tidak mau membebani orang lain jika tahu dirinya saat ini sedang sangat terluka.

__ADS_1


“Abang, panggil Kak Hanum sayang. Kok tidak keluar-keluar kamar padahal bilangnya cuma ganti baju sebentar.” Ranu menyendok es dengan suapan besar dan penuh sebelum beranjak.


“Abang....pelan-pelan Nak, nanti kesedak makan nya begitu.” Ayu tidak suka Ranu terburu-buru.


“Sorry Mom, Heheheheh.....” Ranu mencium pipi Ayu sebagai ungkapan rasa menyesalnya.


Tidak lama Ranu kembali lagi ke ruang keluarga tanpa Hanum. Malik menatap nya penuh tanda tanya. Ranu dengan santai duduk di sofa menyalakan TV tanpa bicara apapun.


“Abang, Daddy suruh apa kok kesini malah sendirian?” Malik bicara dengan serius.


“Tidak tega banguninya Dad, Kak Hanum nya bobo.” Malik menatap jam, tidak biasanya Hanum tidur di jam segini. Malik beranjak dari duduknya, ingin memeriksa sendiri keadaan Putri nya. Ayu dan Melan saling menatap, melihat Malik yang begitu hangat membuat hati mereka juga ikut bahagia.



Malik tersenyum, membenahi selimut agar tubuh Hanum tidak kedinginan. Memeriksa kening Hanum memastikan Putri nya tidak demam seperti biasa, menyelipkan rambut Hanum yang berantakan menutupi wajah cantiknya. Malik mengecup kening gadis kecil yang kini menjadi tanggung jawab nya.


“Daddy mohon Han, bahagia ya Nak dengan Daddy dan keluarga kita. Kita sama-sama jalan pelan-pelan ya Nak. Daddy janji akan selalu ada untuk Hanum.” Malik keluar dari kamar Putri nya dengan tenang.


“Tidur anaknya Dad?” Tanya Ayu yang di jawab dengan anggukan kepala suaminya. “Capek mungkin Daddy anaknya.” Ayu membelai kepala suaminya yang ada di pangkuannya.


“Aku bisa gak ya Mom besarkan Hanum seperti seharusnya? Aku takut tidak bisa seperti yang Hanum harapkan dari ku.” Malik masih belum percaya dengan dirinya sepenuhnya.


“Pelan Dad, Hanum lebih tepat ada di tangan Daddy. Mommy tidak akan biarkan siapapun membuat Daddy berkecil hati seperti ini. Suami ku sudah bekerja begitu keras, siapa yang berani menilai kinerjanya.” Ucap Ayu seolah sedang marah dengan rasa tidak percaya diri suaminya.


“Apa aku harus percaya diri?” Ayu mengangguk. “Aku sangat percaya diri karena ada kalian semua yang membantu ku mengawasi Hanum, jika sendiri aku akan angkat tangan mengawasi tiga anak ku Mom.” Ayu memeluk suaminya dengan bangga. Seperti itu seharusnya.


“Hmmmm.....” Ranu terlihat ragu-ragu ingin bicara.


“Kenapaa Nak? Daddy sudah katakan untuk tidak ragu jika apa yang Abang rasa harus Abang sampaikan kan Nak.” Malik duduk memperhatikan Putra nya.


“Tidak, Abang tidak mau melanggar janji Abang dengan Kak Hanum.” Ranu fokus lagi dengan kartunnya.


“Ckkkkk.....bikin Daddy penasaran saja. Tidak mau bicara?” Ranu menggeleng. “Daddy kasih imbalan Nak.” Masih tetap menggeleng. “Abang, kasih tau Daddy. Daddy janji tidak akan bocorkan rahasia kalian.”


“Om Riyan, ayo kita main game.” Ranu menarik Riyan agar terhindar dari Daddy nya yang masih mencari jawaban.


“Abang......tidak tanggung jawab ya Abang.” Ayu menahan tangan suaminya yang ingin mengejar Ranu.


“Mungkin memang bukan sesuatu yang harus Daddy tahu, sabar saja Dad. Abang tahu mana yang harus dia sampaikan dan mana yang masih bisa menjadi konsumsi mereka pribadi. Anak mu itu cerdas Dad.” Malik kembali duduk dengan malas.

__ADS_1


“Istri mu benar Kak, Abang itu sangat cerdas. Aunty nya aja selalu di kirimi pesan-pesan manis sepanjang hari.” Melan bangga Ranu sangat menyayanginya dengan tulus.


__ADS_2