
Suasana pagi begitu sejuk di tepi pantai, Malik mengerjap saat tangannya meraba sekeliling dan tidak menemukan tubuh Ayuna yang semalam tidur di sisinya. Malik membuka pintu kamar mandi dan tidak ada siapa pun di sana, hanya beberapa pakaian berserakan di lantai karena ulahnya semalam.
Malik mencuci mukanya sebelum keluar dari kamar, tetap harus rapih dan wangi meski hanya berdiam diri di hotel yang kini dirinya tempati bersama keluarga besarnya.
Tidak ada siapa pun di restoran hotel, sepi. Malik merogoh ponselnya dan kesal sendiri karena ponselnya ternyata tidak dirinya bawa. Dengan kesal dan perasaan was-wanya, Malik kembali ke kamarnya. Mencoba menghubungi anak-anaknya dan semua para lelaki di keluarga nya mencari keberadaan Istrinya.
Malik yang malas mengetik satu persatu, akhirnya memulai obrolan di group chatnya.
Group Chat Laki-laki
Malik : Kalian semua ada yang suah bangun? Mommy ada di tempat kalian kah?
Adam : Aku dan Sarah sudah kembali semalam, kami tidak pamit karena kalian sedang di luar kata Aldo.
Malik : Memang tidak pernah ijin kalian kalau kemana-mana. Baik-baik kalian di sana.
Mahes : Abang, Kakak, Om Oji dan Om Hans masih di kamar. Mommy tidak ke sini Dad. Mommy tidak ijin kah keluarnya?
Ranu : Dad.....Mommy ku kemana?
Malik : Kalau Daddy tahu, tidak akan Daddy tanya kalian semua. Tidak bilang Daddy keluarnya.
Riyan : yang benar Kak, dia pergi atau bagaimana?
Pertanyaan Riyan membuat dada Malik bergemuruh, Ayu tidak biasanya keluar tanpa pamit pada dirinya. Malik gusar dan isi kepalanya hanya hal-hal buruk yang bisa saja terjadi pada Ayuna.
Malik : Bantu aku cari Mommy. Sekarang!
“Om....Mommy tidak ada di kamarnya. Daddy meminta kita mencari Mommy.” Oji dan Hans yang mendengarnya segera menyambar kaos mereka, mereka memang bertelanjang dada karena baru saja selesai pertandingan adu panco untuk menghilangkan penat.
Semua keluar dari dalam kamar mereka yang berada di lantai yang sama. Saling menatap penuh selidik karena merasa kecewa sering sekali kejadian seperti ini menimpa Ayuna. Mata Oji begitu tajam tapi tidak menyalahkan, dia hanya khawatir jika Ayu mengalami hal buruk seperti yang dulu pernah terjadi padanya.
“Daddy tadi baru bangun dan tidak melihat Mommy di sisi Daddy. Cepat kita berpencar mencari Mommy. Daddy takut Mommy kenapa-napa.” Racaunya yang sudah merasa tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ranu dan Mahes berjalan menggandeng Daddy nya yang sedang kalut, Oji tersenyum bangga melihatnya. Mereka tumbuh menjadi laki-laki yang kelak akan bisa di andalkan untuk menjaga wanita kesayangan mereka.
Merasa keputusannya tidak salah kali ini, melihat Ayu di jaga dan disayangi dengan begitu banyak cinta. Akan lain jika Ayu hidup dengan dirinya yang penuh sepi, tidak ada hal indah ataupun menarik yang bisa Oji berikan pada wanita sebaik Ayuna.
Hans menyenggol lengan Oji, Hans tahu betul perjuangan sahabatnya melepaskan perasaannya pada Ayuna. Tidak mudah, dia melewati berbagai macam kehancuran yang membuatnya bisa berdiri kokoh saat ini. Merasa bahagia melihat Ayuna bahagia meski bukan dengan dirinya.
Malik dan yang lain berkeliling mencari ke segala penjuru, mereka berkumpul di titik yang mereka sepakati jika tidak menemukan Ayuna. Malik mengusak kasar rambutnya, bisa-bisanya tetlelap begitu lama sampai tidak menyadari kepergian Ayuna.
__ADS_1
“Nak....” Suara Mamih Ajeng yang berjalan dengan Ayuna dan Hanum dan juga Rama di belakang mereka.
“Mih....” Malik bertolak pinggang. Dia lupa kalau ada keluarga lain yang masih tinggal di sana. Lega sekali melihat Ayu baik-baik saja.
“Kenapa kalian berkumpul di sini? Mau ada acara apalagi Nak?” Tanya Rama penasaran dengan mereka yang berkumpul sepagi ini.
“Mom.....jelaskan! kenapa keluar kamar dan pergi jalan-jalan tanpa ijin pada Daddy?!” Intonasinya sedikit keras. Ayu melirik kedua mertuanya. “Mom....jawab.” Malik masih merasakan gemuruh di dadanya.
“Aku tadi coba bangunkan Kak Malik. Tapi Kaka bilang masih mengantuk.” Rama dan Ajeng hanya tersenyum. mereka tidak berubah meski sudah sama-sama menua.
“Lain kali tidak ada ya Mom...pergi-pergi seperti ini tanpa ijin Daddy.” Malik akhirnya melunak, kasihan jika membuat mood istinya berantakan hanya karena diirnya merasa khawatir dan takut.
“Mommy hanya berkeliling Dad. Sorry.” Ucap Ayu yang tahu jika suaminya hanya takut dirinya mengalami kesulitan.
“It’s ok, selama Mommy bersenang-senang dan tidak mengalami hal buruk.” Malik melihat Hanum yang berdiri di belakang Ayuna. “Han....sini Daddy kangen Hanum juga. Maaf Daddy sibuk sekali dari kemarin.” Hanum membalas pelukkan Malik yang memang sudah seperti ayah baginya. Hanum hanya tersenyum.
“Boleh kah Abang main di pantai?” Ranu ingin berenang. “Hanya main, tidak akan berenang di pantai kalau Daddy tidak ijinkan.” Malik sedang menimang.
“Biar pergi denganku. Aku akan menjaganya.” Canggung sekali rasanya bicara dengan Malik begitu. Dirinya pernah menjadi bayang-bayang kelam di keluarga yang Malik jaga dengan baik.
“Om....apa Abang boleh be....re...nang?” Tanya Ranu ragu-ragu. Oji meminta jawaban lewat tatapannya.
“Jangan terlalu jauh dari Om Oji ya Nak. Berenang jangan terlalu jauh dari pantai. Ingat apa yang Daddy bilang Abang Ranu.” Ranu mengangguk paham dengan wajah penuh rona bahagia.
Mahes kini menatap Daddy dengan tajam. “Kakak juga mau berenang? Sama seperti adik nya yang masih bayi?” Mahes mengangguk tanpa malu-malu. Senang sekali jika di ijinkan bermain ditempat terbuka layaknya manusia normal pada umumnya.
“Aku bisa membantu menjaga mereka Pak Malik.” Tawar Hans yang malu-malu karena sudah sangat lama tidak bersua, dia lebih dekat dengan Rama karena memegang kendali perusahaan milik orang tua Malik yang mempercayainya.
“Baiklah.....Daddy serahkan pada Om Oji dan Om Hans, kalian juga harus bertanggung jawab menjaga diri kalian dengan baik. Jangan mengandalkan meski ada yang menjaga kalian, ingat pesan Daddy!.” Malik bicara sedikit keras.
“Tenang saja, aku akan kembali dengan mereka dalam keadaan selamat. Come on boy’s.” Malik menyunggingkan senyumnya pada Oji.
Meski dingin, dia selalu baik dan hangat pada anak-anaknya. Tidak heran jika dia begitu dekat dan anak-anaknya percaya pada Om Oji yang selama ini selalu mereka banggakan sebagai laki-laki keren.
“Daddy thanks. Kakak akan jaga diri dan jaga Adek degan baik.” Bukan Malik yang mereka peluk. Tapi Mommy nya yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan panjang untuk ijin berenang di pantai.
Malik yang paham tatapan Mahes dan Ranu segera membawa Hanum dan Ayuna masuk. “Jangan minta lebih dari ini! Hanum tidak Daddy ijinkan bermain di tempat terbuka seperti itu.” Mereka tertawa gemas melihat Daddy mereka merajuka karena ulahnya.
__ADS_1
Seperti itu memang cara Malik menjaga semua wanita yang sangat dirinya sayangi. Nyamuk saja tidak akan di ijinkan menyakiti mereka.
Malik membawa Ayuna, Hanum, Mamih dan Papih ke restoran untuk sarapan. Fasilitas hotel untuk semua tamu yang menginap di sana. Sudah ada Anna dan Rey di sana. Mereka tidak tahu kekacauan yang terjadi.
“Dari mana?” Tanya Rey penasaran. “Pantas Anna mengetuk kamar Hanum tidak ada orang di sana.” Malik menggeser kursi agar Ayu segera duduk.
“Melan belum turun. Masih di kamarnya, aku belum melihatnya.” Malik menyipitkan matanya merasa khawatir. “Han...aunty pergi kah?”
“Tadi pagi masih bobo waktu Mommy ajak Hanum pergi keluar.” Hanum jadi merasa bersalah meninggalkan Aunty nya sendirian.
“Hay Guy’s....i’m here. Don’t worry Daddy.” Melan mendudukan dirinya di sisi Ajeng.
“Dari mana anak cantik? Putra ku pagi-pagi sudah seperti orang kesurupan. Jangan lagi-lagi yah. Mamih jadi ikut khawatir.” Ajeng paham bagaimana Malik berusaha keras menjaga mereka semua agar selalu aman.
“Kangen Mih.....harum Mamih sampai sekarang tidak ada yang mengalahkan. Tidak tergantikan di indra penciuman ku Mih.” Ajeng menepuk punggung tangan Melan yang memeluk lengannya.
“Mamih senang bisa keliling dunia habiskan banyak waktu berdua dengan Papih. Sudah kenyang kami berkeliling sekarang.” Ajeng menyuapkan roti ke mulut Melan yang meminta di suapi. “Bagaimana hubungan kalian? Sudah ada kemajuan?”
Uhukkkk....uhukkkkk...uhukkkk.....
“Pelan-pelan Dek.” Ayu menepuk punggung Riyan dan menyodorkan tissue. Riyan tersedak minumanya. Hidung Riyan memerah. “Sudah sejauh mana Dek?” Bisik Ayu meledek adiknya.
“Diam Dut.” Riyan sadar semua orang sedang menunggu jawaban dari mulutnya. Melan juga hanya terdiam enggan menanggapi.
“Jangan lama-lama kalau kalian ingin melangsungkan hubungan ke arah yang lebih baik. Ada kita semua yang bisa kalian andalkan.” Rama memberikan nasehat pada Riyan yang sudah seperti anak bungsunya. “Ingat kan Dek, Papih suka bilang ke Riyan jangan setengah-setengah kalau sudah ada niat. Kejar!” Riyan hanya mengangguk menanggapi dengan sopan. Senyumnya terpancar indah di mata Melan.
“Mereka malu-malu, seperti Jofan dan Sandra. Lama sekali mengambil keputusan untuk hidup bersama. Padahal kalian sudah sama-sama yakin dengan perasaan kalian.” Rey menambahkan dengan menggebu.
“Kau juga dulu begitu Rey. Kita saja sudah melewati itu semua. Jangan sombong kau.” Rey tertawa, Istrinya mengacungkan jempol pada Malik. Anna dulu juga menunggu begitu lama sampai Rey benar-benar yakin menikahinya.
“Aku tidak punya keraguan, aku hanya menunggu Melani benar-benar siap menerima ku seutuhnya. Aku serahkan pada Melan mau bagaimana akhirnya.” Melan tersipu malu, gentle sekali. Dia benar-benar mempercayai dirinya.
“Bisakah jangan bahas ini....kepalaku sedang pusing.” Melan kembali bergelayut di pundah Ajeng yang sudah seperti ibunya.
Tring.....
“I love you Mom.” Ayu senyum-senyum menerima pesan gambar foto Putranya yang sedang berpose di depan pantai. Tampan sekali wajahnya.
__ADS_1
“Jangan menggoda istri Daddy yah. Cepat berenang dan hati-hati.”
Jari Malik menutupi pesan yang Mahes kirimkan di ponsel Ayuna dan hanya menampilkan foto dirinya saja. Ponsel Ayu kebetulan ada di kantong baju Malik. Di sebrang sana Mahes kesal karena malah di balas Daddy pesan manisnya.