Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Restu


__ADS_3

Deg degan sekali saat Ayu melihat Jofan, Melani, dan Riyan masuk ke ruangan Malik bersamaan. Kenapa mereka datang serempak saat dirinya belum terlalu siap menerima kabar buruk apapun.


"Sayang ku...." Melan meluapkan rindu nya pada sahabat kesayangannya, si paling tidak bisa di diami lama dan tidak bisa di kasari.


Awal nya Melan ingin membiarkan saja semuanya menguap begitu saja, lama-lama semua orang juga akan lupa dengan yang sudah terjadi. Tapi suami sahabatnya yang khawatir dengan kesehatan istri kesayangannya membujuk Melan agar mau berbaik hati menyapa istrinya.


Perlihatkan jika dirinya baik-baik saja dan tidak marah pada Ayu. Buat Ayuna ku tidur nyenyak Mel. Pinta Malik memelas pada Melan.


"Rindu sekali Mel. Kamu sehat kan Mel, kok aku lihat sedikit kurus sih Mel. Kamu pasti sedih yah?" Tanya nya berentet tanpa jeda.


"Semakin cerewet saja sayang ku ini, aku sehat, baik dan tidak kekurangan makanan. Aku makan dengan baik." Ayu mengusap air mata di sudut matanya.


Kini tangannya merentang pada Adik nya Riyan. Dia baru datang, pasti Riyan takut sekali Mbak nya sedih. Riyan nya suka sekali menghilang saat melakukan kesalahan.


"Sehat kan Dek, Mas jaga kamu degan baik kan?" Riyan mengangguk, hal yang paling dia tidak mau lihat. Air mata Mbak nya.


"Please jangan lagi menangis, aku berat sekali datang Mbak. Aku tidak akan sanggup lihat Mbak menangis." Ucapnya di pelukkan Ayu. Lirih sekali suaranya.


"Memang nya Mbak mu secengeng itu. Mbak kuat kok, Mbak cuma khawatir kalian sakit. Mbak takut kalian tidak makan dengan baik." Mencoba tersenyum.


Meski gemetar di tangannya tidak bisa di sembunyikan.


"Mana mungkin aku biarkan Adik ku tidak makan, aku yang jaga dia dengan jiwa raga ku sayang." Jofan mengecup puncak kepala Adik yang tetap kecil di matanya. "Jangan menangis, aku bawa kabar gembira." Jofan berhasil mengalihkan perhatian Ayu.


Sebahagia ini Ayu menjalani kehidupannya, dia sangat beruntung. Dia dikelilingi banyak orang yang sangat mencintainya. Sejak dulu. Iin lagi-lagi melihat bagaimana begitu banyak cinta dalam hidup sahabat nya.


"Aku hampir saja lupa, kenalkan. Dia Iin sahabatku. Aku pernah cerita pada Mas dan Melan. Riyan juga pasti kenal." Iin yang merasa di sebut namanya segera fokus pada mereka semua, menyapa dengan ramah.


"Pangling Mbak." Ayu mencubit pelan tangan Riyan agar tidak melanjutkan ucapannya. "Mbak Iin sehat? Lama Riyan tidak ketemu Mbak." Iin mendekat dan menyalami satu persatu dengan wajah Ayu nya. Iin tidak banyak bicara, masih canggung.


"Ayo, sekarang kalian semua dengarkan aku." Jofan meminta perhatian semua orang.


Brakkkk.....


"Jofan..........!!!!!!!" Sandra masuk tidak mengetuk pintu, malah membukanya dengan paksa sampai bunyinya mengejutkan semua orang.


"Calon suami mu loh San, masa panggilnya kenceng begitu gak ada manis nya." Malik paling suka menyulut keributan.


"Lagian Jofan suka sekali kebiasaan, aku kan sudah bilang jangan dulu." Matanya terkejut melihat sahabatnya duduk di sana. "Mel.....kamu Dateng Mel." Sedikit lari menghampiri sahabatnya. "Rindu sekali aku ini Mel, jangan lagi-lagi diami kami yah. Ih ...sedih Mel." Jofan menggenggam erat tangan Sandra, dia melihat bagaimana Sandra merasa terpukul.

__ADS_1


"Aku juga, maaf yah. Aku egois sekali." Ayu ikut memeluk dengan erat kedua sahabatnya. Akhirnya kembali berkumpul karena sama-sama rindu.


"Kalian kenapa datang semua hari ini? Kangen aku yah?" Tanya Ayu di sela rasa haru nya. Tumben sekali mereka semua ada di kantor suaminya. Tempat membosankan.


Jofan menarik tangan Adik nya agar duduk di sebelahnya. "Aku dan Sandra sudah putuskan. Kami sudah yakin melangkah sayang."


Jofan mengangguk melihat tatapan mata Ayu. Ayu di buat menangis hari ini, kabar gembira dan berita yang sangat di tunggu akhirnya dia dengar. Terharu sekali.


Meski tangisnya penuh kebahagiaan. Malik rasanya tidak rela membiarkan wanita kesayangannya menangis lebih lama.


"Cukup, aku tidak tahan lagi. Ikut aku sebentar sayang." Membawa Ayu ke ruang pribadinya.


Semua sudah terbiasa kecuali Iin yang terlihat sangat terkejut, dia kira Malik sedang kesal. Kenapa membawanya tiba-tiba.


Memeluknya erat. Ayu masih tidak bisa berhenti dari tangis harunya di pelukkan Malik. Kesayangannya sesenggukan membuat dada Malik sakit. Malik menciumi wajah cantik istrinya, sudah tidak kuat lagi melihatnya menangis.


"Apa Ayu akan baik-baik saja?" Tanya Iin pada yang lain. Ada rasa khawatir.


Melan menggenggam tangan Iin. “Santai In. Suami bucin nya sedang tidak bisa melihat istrinya menangis.”


"Aku kira Ayuna mau di marahi." Tertawa merasa malu. Oh...... dia manis sekali.


"Kak Malik tidak pernah marah pada semestanya. Dia kecintaan betul pada sahabat ku." Melan gemas sekali dengan mereka berdua.


"Jangan bahas apapun yang bisa membuat istriku menangis lagi. Air mata nya bisa membunuhku." Memberikan peringatan keras.


"Menangis bahagia Kak. Kalau cek di google gambarannya seperti bunga-bunga." Malik nya tersenyum mendengar ucapan polos istrinya.


"Tetap aku tidak tahan sayang. Please jangan lagi menangis." Mengusap lembut puncak kepala kesayangannya. “Sudah cukup air matanya, suami mu memohon sayang.”


"Ayu usahakan, susah sekali tidak menangis di saat-saat seperti ini kak."


"Bicarakan yang ringan, ku mohon."


Malik memberikan ruang pada mereka untuk bicara. Dirinya menyibukkan diri dengan beberapa dokumen yang harus segera di selesaikan.


Ayu menghampiri yang lain. "Selamat yah......, belum juga kasih selamat sudah di tarik. Ya Tuhan, aku sangat bersyukur." Ayu buru-buru mengusap air matanya.


Jofan mencium pipi Ayu. Dirinya juga sedih melihat Ayu begitu terharu. Pasti dirinya menunggu kabar baik ini begitu lama. "Maaf sayang, maaf kami terlalu menguras banyak pikiranmu." Ayu nya menggeleng.

__ADS_1


"Aku sedang bahagia, jangan bicara yang tidak-tidak." Memeluk erat keduanya bahagia.


"Sekarang ayo kita makan sama-sama, Kak Rey bawakan banyak makanan untuk adik kesayangannya." Yang di kirimi makanan merona.


"Aku akan telpon Kak Rey Nanti. Aku panggil Kak Malik dulu."


Iin begitu merasa di rangkul, selama ini dirinya tidak punya banyak teman. Hubungannya dengan banyak orang selama ini hanya sebatas bisnis dan membantu Karang memperluas jaringan bisnis nya.


Tidak ada yang betul-betul tulus bersahabat dengan dirinya, mereka lebih banyak hanya dekat karena kepentingan bisnis belaka. Iin tidak punya satupun sahabat yang sedekat ini sebelumnya.


Tidak pernah mendapat kasih sayang sebesar ini dari siapa pun termasuk Karang suaminya. Melihat Ayu, dirinya lagi-lagi cemburu. Bisa-bisa nya dia dikelilingi banyak cinta sebesar ini.


Iin tersenyum palsu, hatinya sangat sakit.


Dirinya melakukan banyak cara agar Karang nya benar-benar melupakan masa lalunya. Meski Karang juga tidak memperlihatkan nya secara langsung. Cinta nya untuk Ayuna masih ada. Benci sekali saat dirinya harus melihat lagi masa lalu suaminya meski mereka dulu bersahabat baik. Apalagi keadaan Ayu semakin membuatnya merasa terpuruk.


"In....in, hey...kenapa melamun. Ada yang sedang kamu pikirkan In?" Ayu berjongkok di depan Iin yang baru saja sadar dari lamunannya.


Iin segera mengembalikan kewarasannya. Jahat sekali dirinya berpikir.


"Maaf Yu, aku tidak fokus. Ingat Salina belum aku jemput." Iin terlihat gugup.


Orang yang dirinya benci sebaik ini sikapnya. Pantas banyak sekali yang menyayanginya.


"Putri mu pulang dengan Biru, aku sudah minta Biru antar kesini. Tenang saja."


Ya Tuhan, lagi-lagi Iin di buat terperangah dengan perhatian yang dirinya terima. Hal kecil seperti ini bahkan diperhatikan oleh suami sahabatnya.


“Apa tidak merepotkan Kak, aku tidak enak hati.” Ayu segera membawa sahabatnya ke meja makan besar yang ada di ruangan Malik.


“Jangan pikirkan, suami ku sudah mengurusnya. Ayo kita makan, suami mu sebentar lagi selesai juga meetingnya.”


Iin mengikuti Ayu dengan canggung, mereka memperlakukanya sangat hangat seperti anggota keluarga mereka.


Design ruangan kerja Malik banyak berubah semenjak dirinya memperistri Ayuna, Malik merubah ruangannya senyaman mungkin dan memastikan semua yang dibutuhkan Ayuna nya ada di sana. Bahkan Malik membuat kamar pribadi yang hanya bisa di masuki dirinya, Ayuna dan Aldo.


Malik sering membawa Ayu ke kantor karena merasa tidak tenang meninggalkannya di rumah sendiri. Kedua orang tuanya sibuk berkeliling dunia menikmati masa tuanya dan jarang sekali ada di rumah.


Ayu juga lebih nyaman tinggal di apartemen dari pada di rumah besar. Malik jadi tidak bisa membiarkan Ayu sendirian, takut sekali hal buruk terjadi.

__ADS_1


Mengingat saingan bisnisnya akan mencari cara licik menjatuhkan dirinya. Termasuk memanfaatkan Ayu sebagai kelemahannya.


“Aku restui kalian, Mas dan Sandra. Juga hubungan Riyan dan Melan kalau kalian benar-benar sama-sama ingin berjuang.” Ayu berdiri dengan percaya diri memberikan restunya. Hatinya sudah lapang dan sudah menerima keadaan yang membuat rapuh semua orang.


__ADS_2