Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Perkelahian


__ADS_3

Memang sudah agak malam saat Mahes dan Ranu keluar ruang latihan band nya yang ada di dekat sekolah. Suasana cukup sepi hanya ada mereka berdua yang berjalan di lorong yang cukup panjang penghubung antar gedung dengan gedung lainnya.


Mereka di awasi oleh bodyguard yang tidak terlalu dekat jarak nya dengan mereka, risih sekali kata mereka.


Setelah perdebatan sengit dan penuh drama akhirnya Malik setuju agar penjagaan mereka tidak perlu seketat Mommy dan aunty-aunty nya yang lain.


Mereka laki-laki dan ingin punya jati diri yang utuh tanpa campur tangan Daddy dan orang lain saat mereka sedang menitinya perlahan. Jangan terlalu ikut campur pinta mereka. Ingin menikmati layaknya kemauan dirinya melangkah.


Mahes berhenti tiba-tiba, meminta Ranu menghentikan celotehannya karena seperti mendengar suara rintihan dari kejauhan.


"Kak, kenapa? Jangan aneh-aneh." Ranu merapat ke sisi Kaka laki-laki nya. Merinding melihat Mahes yang nampak serius.


"Diam Dek. Kak Mahes dengar suara perempuan seperti sedang merintih." Ranu menelisik setiap sisi. Tidak menemukan sesuatu, menajamkan pendengarannya dan dirinya berhasil menangkap suara yang Mahes maksud.


"Yah...Abang juga dengar. Apa kita perlu mencarinya?" Mahes dan Ranu memutuskan mencari ke sisi belakang gedung.


Suara nya berasal dari sana.


Benar saja ada seorang anak perempuan tergelatak di lantai. Mahes dan Ranu segera berlari menghampiri, terkejut sekali mereka berdua, anak perempuan yang mereka temukan tubuhnya dipenuhi dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Wajahnya penuh luka dan sudut bibir nya mengeluarkan darah.


Mahes terkejut sekali saat mengenali wajah perempuan yang ada di hadapannya. "Hanum.....Han....ada apa ini. Bagaimana bisa. Ran panggil ambulance, cepat....Ranu....!!!." Abang Ranu yang gemetaran mencoba menghubungi siapa saja. Bahasa Mahes juga berantakan.


"Lari.....Mahes....cepat lari." Mahesa menggeleng menolak permintaan Hanum. "Aku mohon cepat pergi dari sini. Cepat Kak Mahes, cepat ......." Hanum berteriak kencang sekali. Mendorong tubuh Mahes yang menegang di hadapannya.


Tiba-tiba saja segerombolan anak muda dengan tongkat kayu dan beberapa memegang pisau menghampiri mereka bertiga. Spontan Mahes dan Ranu melindungi Hanum di belakang tubuh mereka.


"Serahkan semua harta benda berharga yang kalian miliki." Seseorang dengan tubuh tinggi besar bicara sambil mengayun ayunkan tongkat kayu yang ada di tangannya. Mata begisnya mengintimidasi.


"Siapa yang berani menyakitinya!" Mata Mahes seperti menyala, kesal sekali melihat Hanum sehancur ini. Berani sekali mereka menyentuh wanita yang akhir-akhir ini memenuhi fikirannya.


"Mahes ku mohon cepat kabur dari sini. Ku mohon." Mahes memeluk Hanum dengan erat, dia pasti sangat ketakutan. "Lari Kak......" Suaranya membuat Mahes semakin sakit.


"Tutup saja mata mu Han, ku mohon." Bisiknya dengan lembut.


Hanum kebingungan, dirinya benar-benar tidak habis pikir akan ada Mahes di sini. Apa yang harus dirinya lakukan. Melihat Mahes begitu marah, Hanum jadi semakin ketakutan. Tidak pernah dirinya melihat Mahes sedingin ini, dia pria yang hangat.


Hanum menarik ulur perasaannya karena merasa tidak pantas dengan Mahes, dirinya sudah tidak punya harapan untuk menjadi wanita baik. Hancur semua.


"Ku tanya sekali lagi siapa yang berani melakukan ini semua pada Hanum!!!!!." Suaranya penuh penekanan. Kemarahan nya memenuhi memekik penuh benci.


"Namanya One, tidak ada Hanum di sini. Kau salah orang anak ingusan." Balas lawan bicaranya menyeringai.

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan, kalian akan menyesal jika berani menyerang kami." Ranu melihat Mahes yang tidak sedang baik, dia tidak akan bisa bertindak jernih, Ranu sedikit tahu Kaka nya naksir perempuan yang ada di dekapannya saat ini.


"Hah.....bicara apa kau anak ingusan. Cepat rampas semua nya. Banyak bacot lw berdua."


Perkelahian terjadi.


Dua lawan sekitar 15 orang, tentu saja tidak sebanding. Ada 4 bodyguard yang berhasil sampai saat perkelahian berlangsung. Ranu dan Mahes untungnya belajar bela diri. Mereka bisa membela diri meski tetap saja kena hantam sana sini. Lawannya main keroyokan, konsentrasi mereka terpecah belah dan hasilnya gerakan mereka berantakan.


Bruggggghhhh


Suara kursi hancur berantakan karena memukul tubuh bagian belakang Hanum yang mencoba melindungi Mahesa.


"Yeach!!!!!....Hanum.....kenapa kau begini..... Hanum, bangun. Han ku mohon. Ahhhhhhhhh.....tolong Pak, tolong Hanum!!!!!" Ranu yang melihat Mahes limbung memeluk Hanum jadi kehilangan fokus, kepalanya hampir saja terpukul tongkat kayu.


Beruntung ada tangan kekar yang menghadang kayu tidak sampai memukul kepalanya. Berdebar begitu hebat jantung Ranu, dirinya terbayang wajah Mommy nya yang terpukul.


Dalam sekejap, mereka kocar kacir tidak mampu melawan kekuatan Oji. Padahal Oji hanya bertiga bersama temannya yang tidak sengaja melihat Ranu di hajar preman saat dirinya tengah memantau gedung yang akan dirinya sewa untuk kantor yang baru akan dirinya buka.


"Jangan berani ganggu adikku kalian." Oji yang kesal berteriak membahana memenuhi gedung.


Memeluk Ranu yang memang dekat dengannya, Oji sudah melepaskan Ayu begitu saja, cintanya tidak salah, hanya saja tidak terbalaskan. Berjuang tidak akan membuat semestanya bahagia, dirinya sadar bahagia Ayu ada pada Putra dan Malik suaminya.


"Aku takut." Ucapnya lirih.


"Tidak apa, sudah aman. Sekarang cepat pulang.” Ranu nya menatap Mahes yang masih memeluk Hanum gemetaran.


Baru saja Oji mau melangkah, suara gemuruh sepatu bebenturan dengan lantai memenuhi udara.


Ternyata salah. Mereka bukannya pergi karena menyerah, tapi mereka datang dengan jumlah yang lebih banyak. Oji dibantu beberapa bodyguard Malik yang sudah ada di lokasi mencoba melawan mereka, seperti tawuran anak-anak sekolahan. Beruntung bodyguard Malik segera datang dan mengamankan semua penyerang yang entah berasal dari mana.


Tidak lama setelah nya polisi juga datang ke lokasi. Laporan warga sekitar yang melihat perkelahian saat mereka lewat. Mereka semua di giring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Kecuali Hanum yang di bawa ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan.


Ponsel Malik bordering.


"Bos.....Abang dan Kak Mahesa. Aku juga sama, kami ada di kantor polisi." Malik kebingungan menjawab. Dirinya menutup sepihak panggilannya.


Malik menepikan mobilnya. Menatap lekat bola mata istrinya yang menyejukkan. Malik harus memastikan keadaan Ranu dan Mahes sebelum dirinya meluncur. Jantungnya berdetak tidak beraturan, anak-anak nya ada di luar sana dan dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Sayang tunggu sebentar, aku perlu telpon sebentar sayang." Mencium kening istrinya yang menatapnya kebingungan. Tumben sekali, biasanya tidak menjauh meski membicarakan pekerjaan.


Malik : Abang dan Kak Mahes bagaimana? Mereka terluka!

__ADS_1


Biru : Tidak Bos, iya maksudnya Bos.


Malik : Biru, bicara yang betul.


Biru : Kata Dokter luka nya tidak terlalu berbahaya.


Malik : Jaga mereka sampai aku tiba. Biru jangan sampai aku memukul mu jika anak-anak ku kenapa napa.


Biru : Maaf Bos.


Malik mengacak rambutnya frustasi, bisa-bisa dirinya kecolongan dan anak-anak nya bisa dalam bahaya seperti ini. Ayu pasti sangat kecewa.


Malik berbalik.


Ayu sudah berdiri di belakang Malik, dirinya tidak tenang dan diam-diam menguping pembicaraan Malik di telpon. Yang dia tangkap anak-anak nya sedang dalam masalah.


"Anak-anak ku ok Dad?" Wajahnya tersenyum tapi tidak dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Malik memeluk mencoba menetralkan perasaan dirinya yang juga sedang tidak baik. Ampuh sekali mengembalikan kesadarannya agar bisa berpikir dengan jernih.


"Anak-anak baik Mom, ada Biru dan yang lain di sana. Daddy harus pastikan mereka aman, sekarang Mommy ku antar ke rumah Jofan yah." Ayu menggeleng. "Sebentar saja sayang."


"Tidak bisakah ikut, aku ingin peluk mereka." Malik mempertimbangkan juga perasaan Ayu. Tapi takut sekali kalau anak-anaknya tidak baik-baik saja dan istrinya malah semakin terluka.


"Mereka pasti akan sedih melihat mu sekarang sayang. Beri mereka waktu."


Ayu menangkup wajahnya, tidak tahan ingin meluapkan emosinya. Dia tidak bisa tenang jika menyangkut anak-anak nya. Ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri mereka baik. Tidak terluka, tidak kesakitan dan aman.


"It's ok Baby, please tenang." Malik membawanya kembali masuk ke dalam mobil.


Dia tidak akan bisa bergerak jika kesayangannya masih sesakit ini.


Malik membiarkan Ayu menangis, istrinya akan tenang jika sudah meluapkan air matanya. Malik tahu betul wanitanya sangat kuat.


"Daddy belum tau keadaan anak-anak, yang jelas mereka terluka. Tapi Biru jelaskan singkat tadi mereka ok, tidak ada luka serius." Ayu mulai membuka tangannya. Tidak mau menunggu lama.


"Aku akan kuat Kak, aku mohon biarkan aku di sana. Mereka pasti butuh aku."


Ada benar nya juga yang Ayu katakan. Mereka pasti akan merasa lebih baik jika ada Mommy nya, wanita kesayangannya yang mereka bilang ingin mereka lindungi seumur hidup mereka.


Malik nya luluh, dia mengiyakan permintaan Ayu agar bisa ikut menjemput mereka.

__ADS_1


__ADS_2