
Alana sedang menunggu di depan pintu masuk restoran, Alana akan makan malam dengan laki-laki yang baru beberapa bulan ini dekat dengan dirinya.
Setelah menimang cukup lama dan Alana merasakan sedikit kenyamanan, dirinya memutuskan untuk membuka hati perlahan. Mungkin ini salah satu cara agar bayangan mas lalu yang begitu kelam bisa dirinya lupakan, meski mustahil.
Alana menunggu di depan restoran sampai seorang laki-laki yang sepertinya berlari cukup jauh menghampirinya. Senyumnya indah seperti biasa. Nafasnya masih tersenggal tidak beraturan, sedikit peluh membasahi keningnya yang mulus.
"Sorry Al, kamu pasti kesel ya nunggu lama. Meeting lama sekali selesainya." Ucapnya masih dengan nafasnyanya yang berat. Alana hanya tersenyum.
"Tidak cukup lama untuk membuatku jamuran Atar." Atar mengusap kening nya dari peluh keringat.
Atar mengulurkan tangan nya, Alana menatapnya ragu. Meski ragu dengan perasaanya sendiri, Alana merasa yakin dengan cinta Atar yang tulus pada dirinya. Alana menautkan tangannya. Berjalan bergandengan memasuki pintu restoran yang sudah terbuka lebar disambut senyum manis para pegawai yang ramah.
"Aku tidak salah pilih tempat kan Al?" Alana mengangguk. “Ini yang terbaik di antar yang lain Al.” Mendengarnya Alana merasa punya tempat istimewa di hati Atar yang tidak bisa dirinya lihat.
"Keren tempatnya, lucu." Setiap sudut restoran akan nampak indah jika masuk dalam kamera foto.
Tidak lama makanan yang mereka pesan sampai. Sajiannya cantik, Alana mengeluarkan ponsel dan memotret maknan yang indah di pandang mata.
Keduanya menikmati makan malam dengan suasana romantis. Di iringi suara musik dari band yang memainkan beberapa lagu hits saat ini. Alana senang sekali bisa menikmati saat seperti ini yang sering di ceritakan banyak orang dalam media sosialnya.
Alana mencoba hal yang sangat dirinya takuti, berhubungan dengan laki-laki. Makhluk yang paling dirinya takuti di dunia ini.
"Setelah ini ke apartemen ku ya Al." Alana sedikit terkejut, tatapannya penuh selidik tidak percaya dengan yang dirinya dengar. "Kita nonton Al, aku punya beberapa film bagus." Atar sedikit takut melihat respon Alana yang begitu di luar dugaannya. Tangan Alana gemetar.
"Sorry, aku sebaiknya pulang." Alana berlalu sepeti debu yang hilang tertiup angin. Atar menyadarkan dirinya dan segera berlari pergi ke kasir.
Atar yang kebingungan mengejar Alana yang sudah tidak terlihat karena dirinya mampir dulu ke kasir. Alana menghilang begitu cepat, Atar kebingungan lari kesana kemari mencari keberadana Alana.
Alana merasa ajakan Atar sebenarnya tidak ada salahnya. Tapi entah kenapa dadanya bergemuruh dan rasanya sakit menjalar di sekujur tubuhnya sampai nafasnya sesak. Tidak ada salahnya, dirinya juga bukan lagi anak kecil yang harus takut pada laki-laki.
Alana merutuki dirinya yang bersikap bodoh, kapan lagi dirinya punya kesempatan baik seperti ini, bertemu dengan laki-laki seperti Atar lagi. Laki-laki lemah lembut yang penuh perhatian, yang tulus dengan perasannya.
Alana berjalan tidak tahu arah, sampai dirinya tidak melihat ada sepeda motor yang melaju cukup cepat ke arahnya berdiri, Alana berdiri di tengah jalan.
Chhiieeettt.......Srekkkkkkkk ..... brakkkkk....
__ADS_1
Suara keras membuat banyak orang berkerumun mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Alana terpental cukup kuat karena tubuhnya tertabrak motor yang kini tergeletak di atas aspal.
"Kau buta! Kenapa berdiri di tengah jalan!" Maki pengendara yang kesal.
"Bawa ke rumah sakit, kenapa bapak malah mengomelinya." Bela seorang wanita yang mencoba menenangkan Alana.
"Dia yang salah! Berdiri di tengah jalan." Membela diri, karena merasa tidak melakukan kesalahan.
"Nanti saja cari siapa yang salah, sekarang tolong bawa ke rumah sakit." Pinta perempuan yang masih membela Alana.
Alana merasa pusing. Kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat dan pandangannya menggelap. Alana pingsan. Wanita yang menolong Alana mencoba menghubungi nomor yang ada di ponsel Alana yang tidak di kunci.
"Bu.....maaf, ini saya menghubungi karena yang punya ponsel kecelakaan. Pingsan Mbak." Racaunya karena panik.
Prankkk....
Anna menjatuhkan nampan dari atas meja dapur. Wajahnya panik setengah mati. "Kalian dimana?" Tanya Anna dengan tangan gemetar. Alana tidak punya siapapun, dia hanya sebatang kara.
"Kita bawa ke rumah sakit terdekat Mbak." Terdengar suara ambulance yang begitu kencang. “Tolong segera ya Mbak, saya tunggu di rumah sakit.”
"Saya segera kesana ya Bu, terimakasih banyak." Anna meremas tangannya cemas.
Malik berjalan menghampiri Anna yang masih berada di dapur. "Apa kau terluka?" Anna menggeleng, isi kepalanya sedang mencari alasan untuk keluar dari apartemen seorang diri tanpa dicurigai.
"Aku kangen Jofan dan Sandra Al, boleh tidak aku ke rumah sakit?" Malik menebak ada yang tidak beres. Dia akan mengajak Malik dan Ayu tentu saja, Anna sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, aku antar." Malik tidak mau membuat Anna tidak nyaman. Dirinya pura-pura tidak tahu saja.
"Tidak Al, aku sendiri saja." Anna bingung, takut jika Alana harus bertemu keluarga nya yang tidak suka pada sahabatnya itu.
"With me or stay." Alana sudah menebaknya, tidak semudah itu keluar sendirian. Apalagi tangan cerobohnya membuat Malik menaruh curiga.
"Sayang ....." Ayu yang tengah bermain bersama ketiga anaknya mendongak. "Mau tengok Sandra tidak?" Ayu mengerutkan keningnya. Malik baru ingat jika Ayu belum tahu kabar kehamilan Sndra. Sibuk sampai kabar sepenting itu tidak dirinya sampaikan.
"Sakit?" Malik menggeleng. Dia malah tersenyum membuat Ayu semakin penasaran.
"Dia sedang masa pemulihan." Mahes membantu Mommy nya yang berusaha berdiri. "Sandra hamil sayang." Mata Ayu membola, senyum bahagia terpancar di wajah cantiknya. Ayu memeluk Malik erat, senang sekali mendengarnya.
__ADS_1
"Pantas saja Sandra tidak terlihat dari kemarin, biasanya dia heboh." Senang sekali melihat Ayuna tersenyum begitu bahagia. “Apa hanya aku yang baru tahu kabar ini?” Malik mengangguk. “Kalian hebat sekali menjaga berita sebesar ini dari Mommy.” Kesalnya sudah hilang, bahagia di hatinya tidak bisa tergantikan.
Anna yang tidak tega melihat adik nya begitu antusias tidak mungkin menolak membawanya. Anna akan mencari cara menemui Alana jika sudah sampai di rumah sakit. Anna merasa punya tanggung jawab menemani Alana yang tidak punya siapa pun lagi. Anna merasa Alana hanya punya dirinya.
"Kalian di rumah ya Nak, sebentar lagi Aunty Melan dan Om Riyan sampai. Sudah di bawah mereka." Ketiganya mengangguk.
Malik yang tidak bisa melihat adik-adik nya kesulitan meminta Riyan membawa Melan pulang. Tidak mau hal buruk menimpa mereka jika terlalu lama berada di luar. Malik dengan tegas memberikan peringatan pada Riyan yang keras kepala agar segera kembali. Melani harus tetap di dalam rumah sementara waktu sampai semua kembali damai.
Alana sadar saat dirinya sudah sampai di rumah sakit. Matanya terkejut setengah mati melihat ada dimana saat ini dirinya berada. Rumah sakit yang tidak akan pernah lagi dirinya pijak.
Alana dengan susah payah mencoba turun dari brangkar yang membawa tubuhnya. “Mbak tenang Mbak, nanti bisa jatuh Mbak.” Wanita yang menolong Alana mencoba menahan tubuhnya.
“Aku mau pulang, tolong biarkan aku pergi.” Para perawat mencoba mengelilingi Alana yang nampak tidak tenang. “Aku mohon.”
“Tapi luka di kaki nya harus di obati dulu Mbak, kalau tidak bisa infeksi Mbak. Tenang ya Mbak.” Ucap seorang Suster mencoba menenangkan.
“Aku tidak mau, aku pulang saja. Dan aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku.” Alana masih keras kepala.
“Jangan Mbak, aku sudah telpon keluarga Mbak supaya datang ke sini.” Wanita yang menolong Alana merasa tidak tega sekali melihat keadaan Alana.
“Biarkan dia pergi. Jangan memaksa orang yang tidak mau kita bantu.” Adam berdiri menatap tajam pada Alana yang juga menatap nya penuh kebencian.
“Lepaskan, jangan kotori tangan kalian dan lakukan pekerjaan kalian yang lain.
UGD cukup sepi, semua orang jadi fokus pada Adam yang tidak biasanya bersikap seperti itu pada pasien-pasiennya. Dia Dokter yang dikenal penuh kehangatan dan ramah.
“Aku juga tidak butuh bantuan kalian semua.” Alana mencoba turun dari brangkarnya tapi kesulitan, dia sangat kesakitan karena luka di kakinya cukup dalam. “Akhhhh.....” Adam mendekat ke arahnya. Semua orang hanya memperhatikan dari kejauhan.
Tangan Adam menarik Alana cukup kuat, mendudukannya kembali di brangkar dengan kasar. “Kalau bisa aku ingin membunuh mu saat ini juga.” Tangan Adam terkepal menahan amarah.
“Lakukan! Jangan hanya bicara saja Dam. Cepat bunuh aku! Cepat....!!!!!” Teriak Alana begitu kuat.
Tangan Adamyang sudah terayun di tahan oleh Malik yang baru saja sampai.
“Lepaskan, aku ingin menghabisinya. Lepaskan!” Mata Adam penuh dengan amarah dan kebencian. Suasana begitu mencekam.
“Kosongkan UGD. Biarkan Adam aku yang tangani dan bawa Alana ke ruangan lain.” Pinta Malik pada petugas keamanan yang sudah berjaga.
__ADS_1
“Jangan halangi aku! Tahu apa kau berani menghentikan ku Al. Hah.....tahu apa kalian semua.” Adam masih dikuasai amarah. “Aku akan menghabisinya dengan tanganku. Dia berani muncul di hadapanku setelah merenggut semuanya Al, dia jahat!” Adam terisak.