Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Pengkuan Part 2


__ADS_3

"Maaf ya Kak, aku ini tidak tahu diri."


"Nanti saja bicara nya, makan dulu. Kalau kau pingsan apa kata orang. Cepat sarapan, aku juga lapar." Riyan tidak bisa menolak. Begitu gaya Melani memang.


Melan menyiapkan beberapa potong roti untuk dirinya dan Riyan, tidak lupa ditemani teh hangat kesukaan Riyan.


Suasana makan begitu hening, hanya ada dentingan bunyi sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring. Melan tidak banyak bicara, terlihat sekali dia juga canggung duduk di hadapan Riyan.


Riyan sesekali melirik wanita pujaan hatinya. Memastikan Melan tidak membencinya. Takut sekali kalau harus benar-benar menjauhi Melan. Selama dirinya bisa berada di dekat Melan, Riyan pasrah meski tidak bisa memilikinya.


Tapi tidak untuk kehilanganya. Riyan tidak akan sanggup.


"Apa yang ingin Riyan sampaikan?" Tanya Melan yang kini duduk di ruang tamu bersama Riyan selesai sarapan.


"Aku ingin mengakui perasanku. Hmmm..." Meremas jemarinya.


"Perasaan.....” Mengernyitkan dahinya.


Melan menatapnya tajam, tapi Melan sendiri yang jadi salah tingkah.


Mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah mengindari perasan nya yang kini juga sedang berkecamuk tidak karuan.


"Kak Mel, maafkan aku. Aku sudah lancang punya perasaan lebih selama ini." Riyan gemetar, bisa-bisa nya membicarakan perasaan nya yang egois. "Maaf Kak Mel."


"Ehh....Riyan, bukan aku tidak mau menerima. Tapi......"


Bicara apa aku ini. Aku juga suka......!!!!!!! teriaknya dalam hati.


"Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman saja Kak. Aku tidak akan punya keberanian meminta Kak Melan membalas rasa ku. Aku minta maaf Kak." Entah sudah berapa kali kata maaf terucap dari bibir Riyan.


"Kalau kau sudah tau jawabannya kenapa datang? Kenapa mencoba meluruskan. Seharunya jangan punya perasaan untukku." Melan kecewa karena Riyan tidak berjuang. Dia terdengar sangat pasrah jika harus merelakan perasaannya.


Sebenarnya selama mereka berhubungan baik sebagai keluarga, Melan memang memiliki perasaan lebih pada Riyan. Dia laki-laki yang baik, lembut dan sangat perhatian. Tidak jauh berbeda dengan sahabatnya Ayuna. Mereka mungkin di besarkan penuh kasih sayang. Maka pribadi mereka tidak begitu jauh berbeda.


"Kak Mel, aku hanya tidak mau Kak Mel berubah dan menjauh dari Mbak Ayu. Dia bahagia ku Kak. Aku tidak akan bisa sekuat ini kalau tameng ku rapuh. Aku mohon Kak, jangan diami Mbak ku lama-lama. Dia akan sakit." Perasaan orang lain yang dia pikirkan, Melan kesal dan membuang muka malas menatap wajah Riyan.


"Pulang Yan, sementara waktu kita jangan bahas perasaan apapun. Aku sedang tidak mau membagi pikiran ku dengan hal lain. Masih banyak yang harus aku kerjakan." Melan bicara tanpa menatap yang di ajak bicara.


"Kak, ku mohon limpahkan semua marah padaku. Jangan dengan Mbak Ayu Kak." Masih memohon belas kasihan Melan.


"Riyan cukup....cukup aku bilang. Sekarang keluar dan jangan pernah datang lagi sampai aku benar-benar siap bertemu dengan kalian." Melan membuka pintu meminta Riyan pergi. Hatinya sedang tidak baik.

__ADS_1


Brukkkkk.....


Pintu tertutup dengan sangat kencang. Jelas sekali Melani sedang marah padanya. Riyan sangat tidak berperasaan. Dia malah membahas orang lain dan mengabaikan perasaan Melan yang saat ini jauh lebih membutuhkan perhatiannya.


"Kak Mel, aku tau kau wanita yang sangat lembut. Aku jatuh cinta dengan semua jenaka mu Kak Mel. Cintaku tidak salah, kau wanita paling bisa mencuri semua perhatianku. Tapi maaf karena tidak tau diri dan membuat Kak Mel kecewa." Mendengar nya Melan roboh. Kakinya lemas tidak mampu lagi menopang tubuh kecilnya.


Melan menangis di balik pintu yang sudah dia tutup rapat. Dirinya tidak mungkin mampu meminta Riyan mencintainya. Jauh sekali, Riyan akan menjadi bahan ejekan jika itu benar-benar terjadi.


Riyan pulang dengan perasaan bersalahnya. Merutuki segala keegoisannya yang benar saja membuat wanita pujaan hatinya tersakiti. Riyan patut di salahkan, tidak akan meminta pembelaan atas sikapnya. Kini Riyan bertekad memperbaiki keadaan.


"Tuan Riyan sudah kembali. Saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah besar Tuan." Jofan menerima laporan dari orang suruhannya yang diminta membuntuti dan mengikuti Riyan.


Khawatir sekali Riyan tidak bisa mengontrol emosinya dan berbuat yang tidak baik, yang tentu saja akan dia sesali di kemudian hari.


Jofan tentu saa tidak tinggal diam, menyayangkan kenapa adik nya harus mengalami cinta yang sesakit ini. Takut sekali jika Riyan sampai berhenti menjadi adiknya yang mengagumkan karena patah hatinya. Jofan masih menahan diri untuk tidak ikut campur.


Riyan tergelincir karena tidak bisa menahan rasa cintanya. Mengorbankan perasannya demi kebahagiaan wanita pujaan hatinya. Tapi langkahnya salah karena menyakiti perasaan wanita lain yang ternyata di besarkan penuh cinta oleh Ayuna mereka. Rumit sekali Yan.


Tapi saat ini dirinya lega, Riyan tidak berbuat nekat dan kembali padanya. Jofan sama kalut nya memikirkan masalah Riyan, kepalanya sampai berdenyut karena tidak istirahat dengan benar.


Bagaimana jika dirinya kembali gagal menjaga adik nya. Tidak mau lagi kejadian masa lampau terulang. Dia ingin bahagianya utuh.


"Damai sekali San, kita hanya tinggal menunggu beberapa Minggu sayang. Sabar yah." Bicara sendiri sambil merapihkan rambut yang terurai tidak beraturan menutupi wajah Sandra.


Jofan segera turun saat mendengar deru mobil Riyan.


Pintu terbuka lebar, menampakkan wajah kusut adik laki-laki nya yang baru saja sampai.


"Mas....belum pergi ke kantor?" Tanya nya canggung.


"Sini Dek, Mas tunggu kamu dari semalam."


Deg..


Bisa-bisa nya dirinya mengabaikan orang yang paling selalu ada dan perduli padanya selama ini.


"Mas belum tidur kah?" Suaranya lembut merasa bersalah. Padahal Riyan sendiri tidak tidur.


"Tentu saja Mas tidur Dek, kau kira Mas mu ini kelelawar." Jofan tidak mau Adik nya terus-terusan sedih.


"Maaf ya Mas, aku lupa mengabari kalau tidak pulang malam tadi. Maaf Mas."

__ADS_1


Jofan reflek memeluk Adiknya, kasihan sekali dirinya di rundung rasa bersalah. Kasihan sekali kesayangannya sesedih ini. Bersandar padaku Yan, jangan ragu.


"Adik Mas sudah besar ternyata, semuanya akan baik-baik saja. Jalani saja Dek. Mas tahu kamu tidak pernah punya niat menyakiti siapa pun. Mas yakin." Riyan tidak lagi bisa menahan air matanya.


"Aku egois, aku bertindak tanpa tahu akan semenyakitkan ini untuk kalian semua." Suaranya parau, serak sekali dia memaksa bicara.


"Tenang Dek, Mas akan selalu ada untuk Adek. Mas bangga Adek berhenti sebelum semuanya terlalu jauh." Riyan sedikit lega tindakannya tidak di hakimi oleh Mas nya. Padahal dia sudah sangat ketakutan.


"Riyan berterimakasih Mas. Percaya Riyan Mas, tidak akan pernah mengulang kesalahan ini." Matanya tulus sekali.


"Mas percaya Riyan akan kuat melewati semua ini." Jofan mendudukkan Riyan di sofa ruang keluarganya.


"Riyan kesal pada diri Riyan sendiri. Kasihan Mbak Ayu."


"Adikku Ok, dia tahu kau bisa bereskan semuanya." Menatap lekat mata Riyan. "Bagaimana? Kau sudah ungkapkan perasaan mu?"


Riyan mengangguk malu-malu. "Tapi sepertinya Kak Mel kecewa padaku." Jofan menyipitkan matanya.


"Jual mahal sekali Melan ku. Apa jawabannya?" Riyan menggeleng. Percakapan mereka sepertinya tidak baik jika di ceritakan.


"Aku akan kembali lagi dan meminta Kak Mel melupakan perasaanku."


"Loh....Adek belum berjuang. Berjuang dulu sampai Melan ku benar-benar menolak. Kalau dia masih belum ambil keputusan Riyan harus berjuang." Riyan senang sekali dapat dukungan.


"Takut Mas, Riyan sungguh merasa tidak pantas." Tidak sepadan.


"Kata siapa? Jangan dulu berkecil hati." Menepuk pundak Riyan. "Percaya diri Dek, kau ini hebat, Melan pasti akan luluh. Percaya lah pada Mas."


"Riyan sepertinya tidak ke kantor hari ini." Jofan hanya tersenyum.


"Mas juga libur, bidadari Mas masih tidur, sepertinya dia kelelahan karena bergadang semalaman."


"Ya Tuhan, maaf ya Mas. Aku minta maaf sekali."


"Tenang saja......" Baru saja di bicarakan, suara nya sudah menggema.


"Fan...... aduh kenapa tidak membangunkanku, aku kesiangan." Sandra terburu-buru memakai sepatunya.


"Pelan-pelan sayang, aku antar. Pelan-pelan ku mohon." Sandra dengan cepat menyambar blazer miliknya.  "Riyan, Kaka jalan yah. Jangan banyak menangis, nanti tampan mu hilang." Sandra mencium pipi Riyan sebelum berlalu.


"Mas jalan ya Dek, sarapan dulu sebelum istirahat. Jangan kosong perutnya." Riyan hanya menatap haru keduanya. Sesayang itu mereka pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2