
"Mommy....." Panggil Ranu yang saat ini sedang memandangi Mommy nya yang duduk bersilah di depan nya. Tangannya sibuk mengupas apel besar yang menyulitkan tangannya. "Mom.....I love u Mom." Ayu menggelengkan kepalanya sambil tersipu.
"Abang makan apel nya." Ranu tahu Mommy nya masih punya perasaan was-was karena sikapnya. Dia bahkan tidak menyinggung sedikitpun dikapnya yang tidak waras kemarin.
"Jangan ragu kan cintaku Mom." Mencium tangan Mommy yang menyuapi nya dengan lembut. Rindu sekali suara merdu Mommy nya.
"Mommy mana bisa ragu, kalian loh hidup Mommy." Ayu menyembunyikan perasannya yang masih acak-acakan. “Mommy senang Abang datang secepat ini.” Matanya mulai berkaca-kaca.
“Abang minta maaf karena sempat bersikap tidak dewasa. Abang harap Mommy mengerti, Abang sungguh menyesal.” Menatap netra Mommy nya dengan teduh.
“Mommy mengerti, Abang pasti.....” Ragu sekali takut Ranu sedih. Dadanya sakit, ingin sekali meluapkan segala keresahannya tapi tidak mau menyakiti Ranu. Dia sudah cukup sulit menerima Baby yang ada di rahimnya.
"Mommy selalu nomor satu di hati Abang." Ayu menyerah. Dia menatap lekat mata putra nya yang indah.
Ayuna memeluk erat Putranya.
"Abang, Mommy harap Abang bisa terima Baby ya Nak. Bukan ingin Mommy dia ada. Mommy juga bingung, Abang pasti kecewa sekali dengan kami ya Bang." Ayu mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan.
“Mom…..calm down.” Ranu menciumi kepala Mommy nya dengan penuh saying.
“Mom sungguh tidak mau mengecewakan Abang, tapi Baby juga sudah terlanjur ada Bang. Mom bingung sekali, Mom takut Abang pergi dari si…si Mom…..my.” Suaranya mulai terbata-bata.
"Hey...look at me. Mommy bicara apa sampai nafasnya berat sekali Mom." Ranu memeluk Mommy nya dengan hangat. "Dunia ini di tukar dengan Mommy pun Abang tidak rela. Abang akan jaga kalian berdua. Mommy cinta sejati Abang."
Mommy nya menangis, si cengeng yang mudah sekali terharu dalam segala keadaan. Ranu sungguh paham bagaimana Mommy mencintainya, bagaimana dirinya bisa berpikir akan kehilangan Putranya, dia benar-benar punya trauma menyakitkan.
Ayu menangis meluapkan segala kegundahannya, mendengar ungkapan cinta Putranya, dirinya yakin kalau kehadiran buah hatinya akan diterima dengan suka cita. Kini tangisnya penuh bahagia. Ayuna hanya sedang mengeluarkan semua energy buruk yang menyesakkan dada nya.
Malik yang baru masuk berjalan perlahan. Mendekati keduanya sambil meminta jawaban lewat sorot matanya pada Ranu.
Ranu meminta Malik diam dan tidak menganggu. Sudah sekian lama dirinya menunggu dan baru detik ini Mommy nya meluapkan perasannya.
"It's ok Mom. Menangis saja, setelah ini Abang tidak mau lagi lihat Mommy sedih." Ayu mengangguk di pelukkan Ranu.
Lega sekali dadanya yang beberapa hari ini sesak. Akhirnya Putra kesayangannya mau menerima takdir Tuhan yang begitu indah. Ayu berharap jiwa raganya kuat menerima segala rintangan akan kehamilannya. Sungguh dirinya masih meragukan kemampuannya, tapi melihat dukungan dan cinta kasih semua orang padanya, Ayu sungguh bersemangat menjalani hari-harinya.
__ADS_1
Malik meraih saku celananya, ponselnya bergetar membuat Malik mengurungkan niatnya menemui semestanya. Memberikan kode pada Ranu dirinya keluar untuk menerima panggilan. Ranu mengangguk masih sibuk menenangkan Mommy nya yang sesenggukan.
Ayuna kelelahan, tangisan yang meluapkan emosi membuat tubuhnya lemah, Ayu memeluk tangan Ranu dengan erat. Terlelap begitu saja karena kini dirinya merasa nyaman. Sudah hilang gundahnya, sudah nyaman karena Putra kesayangannya tidak lagi menghindari dirinya. Karena Putranya berjanji akan menjaganya dengan baik.
Wajah teduhnya membuat Ranu menangis, memandangi wajah cantik kesayangannya yang beberapa hari lalu dirinya sakiti perasaannya.
Ranu mengusap kasar air matanya yang lolos, menciumi kening Mommy yang memberinya banyak cintanya.
Ranu sungguh menyesali perbuatannya yang pasti membuat Mommy nya terpukul. Wajahnya selembut ini tapi dirinya masih bisa bersikap begitu kasar pada Mommy nya. Ranu menciumi tangan Mommy nya, perasaan bersalahnya masih belum hilang.
Malik tersenyum melihat dua kesayangannya sedang begitu dekat. Bahagia sekali karena Putranya mau mengalah demi kebahagiaan Ayuna nya.
"Mommy tidur Nak?" Ranu mengangguk. "Kau menyesal yah?" Ranu menatap sendu wajah Daddy. “Tidak ada yang bisa marah lama pada semesta kita. Lihat wajahanya, mana bisa kita menyakitinya.”
"Ucapan maaf Abang tidak bisa menebus kesalahan Abang." Sendu sekali suaranya. “Apa pun akan Abang lakukan untuk menebus kesalahan Abang.”
"Kalau menyesal, kau harus berjanji menjaga Mommy dan Baby dengan sepenuh jiwa. Kita jaga sama-sama Nak." Ranu mengangguk setuju.
"Abang janji."
"Ok Dad." Malik mencium kening Ayu dan Ranu sebelum pergi. Tidak rela sekali meninggalkan mereka berdua.
"Segera hubungi Daddy kalau ada apa-apa ya Bang." Pintanya dengan suara berat.
"Mommy akan selalu aman bersama Abang, percaya Abang." Malik bangga sekali mendengarnya.
***
Malik sampai di restaurant usang yang sepertinya sudah sangat lama tidak terpakai. Ada beberapa orang berpakaian serba hitam yang sudah menunggunya. Ada laki-laki sepertinya seumuran dengan dirinya duduk di antara mereka, segera berdiri menyambut kedatangan Malik.
Senyumnya menakutkan, tidak bersahabat dan sungguh sangat memuakkan.
Malik duduk di kursi yang sudah di siapkan setelah menyambut sapaan yang mereka perlihatkan. Malik tidak sekali dua kali menghadapi suasana seperti ini. Dirinya sudah sedikit terbiasa.
“Panggil saja Baskoro, aku harap kita bias selesaikan masalah kita tanpa menimbulkan masalah baru. Kau cinta damai bukan? Dan tentu saja uang bukan masalah besar untuk mu Tuan Malik.” Ucap Baskoro menyeringai.
__ADS_1
“Tapi aku juga kalian rugikan, anak-anak ku mengalami luka-luka yang tidak sedikit. Aku sepertinya harus buat perhitungan dengan kalian!” Ucap Malik tidak kalah menjengkelkan dari Baskoro.
“Tuan jangan bermain dengan kotoran seperti kami, kami hanya ingin Tuan membayar semua kerugian yang sudah anak buah ku alami. Kami tidak bisa pergi ke rumah sakit seperti yang kalian lakukan.” Menyindir Malik. Malik menatap malas pada Baskoro.
“Tidak tahu diri sekali kalian. Kalian bahkan sudah mengelabuhi anak-anaku untuk membuat mereka terpancing. Mana bisa aku membiarkan kalian lolos begitu saja.” Malik bangkit dan malas melanjutkan percakapan yang tidak ada manfaat bagi dirinya.
“Hyeacchhhh…..Malik!!!!!!” Kalau kau melangkah, sejengkal saja. Aku akan membunuh anak perempuan tidak bersalah yang ternyata sahabat Putra mu.” Baskoro menunjuk balkon.
Malik kaget melihat Hanum di ikat di balkon lantai 5. Mudah saja untuk Baskoro berbuat gila pada gadis muda tidak bersalah yang sering Putra nya ceritakan. Sorot matanya seolah meminta pertolongan.
“Baskoro, kotor bukan hanya pekerjaanmu ternyata, bagaimana bisa kau menyakiti anak mu sendiri demi uang.” Baskoro acuh tidak perdulu.
“Bayar atau aku akan menjatuhkannya dengan cepat.” Ancam Baskoro.
“Kalau begitu serahkan Hanum padaku. Dan setelah ini tidak ada lagi urusan Hanum dengan Mu Baskoro.” Baskoro mengernyit. Tidak mengerti dengan apa yang barusan dirinya dengar.
“Maksud…..” Mata Baskoro membulat melihat selembar cek.
“Turunkan Hanum.” Perintah Malik pada anak buahnya yang jumlahnya lebih banyak dari anak buah Baskoro. “Isi sendiri nominal yang kau inginkan dan berhenti mencari Hanum. Dia milikku sekarang.”
Bak mendapat durian runtuh, Baskoro segera meraih cek yang dirinya terima. Bahagia bukan kepalang. Baskoro sangat senang Malik dengan mudah menyerahkan harta kekayaannya demi gadis tidak berharga di mata Baskoro.
Hanum yang masih gemetar duduk di belakang kursi Malik. Tubuhnya penuh luka dan bajunya tidak layak menempel di tubuhnya. Malik mengingat bagaimana dulu Ayuna nya bertahan sendirian. Hanum membuat hati kecilnya teriris.
Srakkkk…..
“Ma….maaf Tuan…Hanum tidak…..” Hanum gagap dan terkejut dengan reflek tangannya. Aldo juga ikut terkejut. Dirinya hanya menyodorkan kantong plastic berisi air mineral dan roti yang Hanum tolak dengan kasar dan spontan.
“Tenang Han, kita tidak punya niat jahat pada Hanum.” Malik tidak merespon apapun, dirinya tenggelam dalam pikirannya bagaimana jika Mahesa tahu keadaan Hanum saat ini. Pasti Mahesa sangat hancur.
Brakkkkkkk……..
Tiba-tiba saja pintu mobil terbuka dengan kasar. Malik dan Aldo saling menatap tidak percya.
Hanum melarikan diri.
__ADS_1