Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Sosok Misterius


__ADS_3

Pintu apartemen Melani terbuka, menampilkan suasana gelap menandakan tidak ada penghuni di dalam sana.


Cetrek



Melan menyalakan lampu satu persatu ruangan. Suasana cukup pengap padahal apartemen hanya di tinggal beberapa hari. Melan tidak suka jika gelap, dia selalu menyalakan semua lampu jika sedang berada di dalam apartemen.


Melan menarik pintu kulkas mencari minuman segar yang bisa menghilangkan dahaganya. Memilih minuman lemon kemasan yang dirinya stok karena rasanya enak dan punya banyak khasiat. Melan menuangnya di gelas memudahkannya untuk minum.


Glukkkk....glukkkkk....glukkkk....


Prannkkkkkk.....


Pecahan gelas berserakan. Tubuh Melan kaku merasakan benda tajam menusuk punggungnya. Mengerjapkan matanya mencoba mengumpulkan keberaniannya yang saat ini hilang, berganti rasa takut yang begitu besar.


Deru nafas yang terdengar penuh marah membuat Melan gemetar ketakutan. Hanya ada pantulan tubuh laki-laki yang terbalut pakaian serba gelap menggunakan masker. Hanya menampakkan mata seseorang yang cukup Melan kenal karena luka yang pernah dia torekhan dalam hidupny.


Hembusan nafasnya begitu nyata sampai Melan benar-benar mematung dalam bayang-bayang laki-laki yang mulai merapatkan tubuhnya pada Melan. Benda tajam menusuk semakin nyeri di punggungnya.


"Kau bosan hidup......aku bahkan masih bisa mencium wangi tubuhmu!" Melan menarik nafasnya panjang. Memejamkan matanya mencoba mengurai rasa takutnya yang memenuhi dirinya. Suaranya begitu mengganggu membuat Melani saat ini mematung tidak percaya melihat siapa yang ada di belakangnya saat ini.


“Mau apa Kau! Pergi! Aku bisa teriak!” Lehernya tercekik tangan kekar yang saat ini mengekang tubuhnya.


"Berani-beraninya kau membuat masalah dengan ku. Kau lupa siapa aku!" Melan menangis dalam diam. Air matanya berderai tanpa suara. "Aku akan membuat perhitungan dengan mu! Jangan harap kau bisa hidup dengan tenang setelah yang kau lakukan."


Brukkkkk.....


Suara lift membuat laki-laki yang berdiri di belakang Melan mendorong tubuhnya. Kepala Melan membentur ujung meja yang ada di samping kulkas. Pelipisnya sedikit berdarah. Melan meringkuk di bawah meja memeluk lututnya.


Rasa takut membuat tubuhnya tidak bisa bergerak, lemas tidak bertenaga.


"Aunt...." Ranu yang baru masuk meletakkan koper Melan yang dia bawa di dalam kamar. Ranu mendekat kan kupinya mencoba mencari suara dari dalam kamar mandi yang lampunya masih gelap. Aunty nya tidak suka gelap.


Tok...tokkk....tokkkkk


Ranu mencari kesana kemari keberadaan Aunty nya yang tidak ada juga di kamarnya.


“Love....dimana sayang?” Tidak ada sahutan. Ranu mencari ke kamar dan balkon pun aunty nya tidak ada di semua tempat itu.


Ranu berdiam di depan pintu kamar Melan. Mencoba menelisik seluruh ruangan. Heran sekali kenapa tidak ada dimanapun. Ranu merasa tidak berpapasan dengan aunty nya tadi, bagaimana dia tidak ada di dalam apartemennya.

__ADS_1


Ranu meraih ponselnya, mencoba mencari tahu keberadaan Aunty nya.



Ranu : Dad.....Aunty Melan turun lagi kah?


Malik : Kan tadi naik Kak, coba cari di dalam kamar.


Ranu : Aku sudah mencari nya Dad. Tidak ada di dalam apart.


Malik : Daddy naik yah. Abang coba cari pelan-pelan.


Malik memang tadi sempat curiga melihat laki-laki berpakaian serba hitam menggunkan masker keluar dari gedung apartemen.


Ranu : Dad ...sepetinya Abang menemukan Aunty.


Malik : Ada! Syukurlah. (Malik sangat lega mendengarnya)


Ranu : Cepat naik Dad. Ada yang tidak beres.



Suara tangis Melan pecah melihat Ranu yang saat ini ada di hadapannya, mengeluarkan semua amarahnya yang membuat dadanya sesak. Melan sedari tadi membekap mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.


Ranu memeluk erat Aunty nya yang ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Ranu. Melihat Aunty yang biasanya tertawa penuh keceriaan menangis membuat Ranu sakit, kesal sekali melihatnya kesakitan seperti ini.


"Aunty tenang Aunt, ada Abang di sini. Tenang sayang." Ranu ikut meneteskan air mata meski mencoba tetap kuat agar bisa menahan tubuh Melan yang sedang butuh sandaran.


"Abang....!" Malik berlari cepat menghampiri Ranu. "Kenapa aunty nya Nak?" Ranu menggeleng tidak paham, Malik mengecup kening Putra nya meras bangga Ranu bisa bersikap begitu tenang. “Good Boy Abang.” Malik meraih tubuh Melan ke dalam pelukkanya. Melan sudah tidak bertanaga, dia pasti sangat ketakutan.


"Aunty berdarah Dad." Melan masih emosional, belum bisa di ajak bicara. Ranu menunjuk dahi Melan yang sedikit berdarah.


Malik meraih tubuh Melan menggendongnya, membawanya turun dan masuk kembali ke dalam mobil. Ranu mengikuti dari belakang membantu Daddy nya membuka pintu lift dan membuka pintu mobil.


Malik meraih kotak P3K yang ada di laci mobilnya. Dengan telaten Malik mengusap kening Melan yang berdarah. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam. Keningnya benjol tapi luka di keningnya tidak begitu berbahaya. Hanya goresan kecil saja.


Ranu yang duduk di kursi belakang memeluk tubuh aunty nya dengan erat. Menatap wajah kesayangannya yang masih menangis begitu pilu. Jari-jari Ranu mencengkeram erat bagian kursi mobil meninggalkan bekas.


"Jaga aunty ya Nak, Daddy jalan sekarang." Ranu mengangguk, tangannya sibuk menyeka air mata yang terus berderai membasahi pipi aunty nya.


Dalam isi kepala Melan hanya ada suara laki-laki yang selama ini begitu menakutkan dalam ingatanya. Melan tidak bisa mendengar apapun selain ancamna yang dirinya terima. Padahal Melan bekerja sangat keras untuk bisa lepas dari suara laki-laki yang terus membayanginnya.

__ADS_1


Riyan yang melihat Malik datang menggendong Melan begitu terkejut. Mendekat dan meminta penjelasan dari Malik.


"Ada apa Kak?" Ada Ayuna juga di belakang Riyan. Putra nya kini bergelayut di punggung Mommy nya.


"Aku belum tau. Seperti yang kalian lihat. Dia tidak bicara apapun. Terguncang sekali Melan saat ini. Kita tunggu yah." Malik meraih tubuh istrinya, membawanya duduk di sofa menunggui Melan yang masih menangis di bawah selimut.


Ranu masih memeluk Mommy nya, mereka menunggu tanpa suara.


Ayuna memperhatikan wajah Melan dan Riyan bergantian, mereka kenapa kasihan sekali harus melalui ujian seperti ini. Ayuna mencoba tidak membuat keadaan semakin rumit, mencoba tenang dan percaya suaminya akan bisa menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.


Tidak lama Adam datang, Malik memang meminta Adam datang memeriksa kondisi Melan. Ingin memastikan semua baik-baik saja meski Malik tidak melihat hal berbahaya selain Melani yang ketakutan begitu hebat.


"Kenapa Melani Al?" Adam mengeluarkan peralatan yang dirinya bawa. Malik tidak menjawab, dirinya memang saat ini tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Melan.


"Sedang aku selidiki manusia mana yang bosan hidup!" Tangannya terkepal. Malik sudah meminta semua menyelidiki siapa yang membuat Melan seperti ini.


Adam melihat bercak darah di bawah punggung Melan tidur saat memeriksa suhu tubuh Melan, Adam mencoba menurunkan ujung kaos yang Melan gunakan dan memiringkan sedikit punggung Melan, Adam melihat ada luka yang tidak dalam di sana. Bercak darah sepertinya tembus karena Melan menindurkan tubuhnya begitu dalam karena tubuhnya begitu lemas.


Malik mendekat saat Adam membuat kontak mata. Semakin geram Malik melihatnya. Adam menggenggam tangan Malik, memintanya mengatur emosinya yang saat ini sedang begitu menguasai kepalanya.


"Kau sepetinya harus menyingkirkan nya Al. Jangan biarkan dia berkeliaran di manapun di muka bumi ini!" Geram juga Adam melihat Melan di lukai. Malik tersenyum kecut mendengarnya. Dirinya sudah tidak bisa lagi pelan-pelan.


“Libatkan aku jika kalian ingin menghabisi laki-laki yang berani mengganggunya.” Mata Riyan begitu merah. Kesal sekali melihat Melan yang sangat kesakitan, Adam bahkan memberikan obat penenang agar Melan bisa istirahat dengan nyaman.


Ayu menatap ketiganya penuh tanda tanya, apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Kenapa serius sekali dan suaranya tidak bisa telinganya dengar. Jantungnya berdegub kencang takut sekali Melan mengalami hal menakutkan seperti dirinya dulu.


Air matanya menetes meski sudah dirinya coba tahan sekuat tenaga. Ranu yang melihat mata Mommy nya berkaca-kaca duduk dengan tegap, mengusap lembut memberikan kehangatan. Ranu memeluk Mommy nya erat, banyak sekali hal menakutkan yang harus keluarganya alamai.


Ekhemmmm....ekhemmmmmm....


Ranu memberikan kode agar mereka bertiga yang sedang bicara begitu serius sadar, ada wanita lembut dan baik hati yang tidak bisa melihat kekacauan seperti ini terlalu lama. Mereka bertiga berbalik melihat Ayuna yang sedang ada dalam pelukkan Ranu tersenyum pada mereka.


“Berpose.....gaya apa saya yang lucu dan bisa membuat Ayu tersenyum.” Ucap Adam memberikan ide. “Siap....satu...dua...tiga.”



“Yah....Adek....Adam, tidak punya gaya lain? Kenapa mengikuti gayaku.” Bentak Malik melihat gaya serempak dan kompak mereka.


“Kalian yang meniruku.” Bantah Adam. “Aku yang begini duluan.” Ayu tersenyum melihat tingkah mereka bertiga yang sangat konyol.


Riyan hanya diam saja tidak bisa banyak bicara, menahan senyum malu-malunya dengan kelakuan dua orang tua yang suka bertingkah konyol layaknya anak kecil. Riyan tidak keberatan karena mereka bisa mengembalian senyum Mbak kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2