Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Perkara Tiket Konser


__ADS_3

Setelah memastikan Ayu sudah tertidur pulas, Malik mengendap endap keluar dari kamar. Menghubungi orang andalannya yang sudah cukup lama hidup dengan tenang bersama istrinya yang saat ini tengah mengandung.


“Hallo Bos.” Suaranya terdengar mengantuk. “Ada yang bisa saya bantu Bos.” Heran menghubungi tapi tidak bicara apapun. “Bos…Bos…” Aldo tidak berani memutuskan sambungan telpon duluan sesuai peraturan.


“Mmmm…..Ehemmm….ehem….” Cukup lama, 5 menit berlalu baru Malik mengeluarkan suaran. “Al…..aku sedang berpikir Al.” ucapnya enteng.


Kenapa tidak berpikir sendiri Bos…..!!!!!!! Kenapa menelpon ku jika sedang berpikir! Aku juga punya pekerjaan lain Bos! Makinya dalam hati. “Lalu apa yang bisa saya bantu Bos?” Tanya nya lembut. Bos tidak akan pernah salah.


“Tiket konser yang aku minta apa kau sudah dapatkan?” Aldo baru saja memberikannya pada keponakannya karena Malik bilang tidak mau mengijinkan Ayu pergi.


“Masihhhh….ada Bos.” Mengirim pesan pada keponakannya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Mengeluh pun tidak akan membantu.


“Good Al, besok bawa ke sekolah Abang. Aku sepertinya harus mengijinkan Ayuna pergi ke konser.” Mematikan sambungan telpon.


“Ananta….Paman ke rumah….buka pintu sekarang An…..!!!!!!!” Pesannya terkirim dengan cepat. Aldo segera mengenakan jaket dan meluncur ke rumah Ananta.


Aleta yang sudah lama tidak melihat Aldo seperti ini tersenyum. Sudah lama tidak mendapati Malik meminta suaminya mengerjakan tugas yang diluar pekerjaanya.


“Semangat Ayah….” Ucap Aleta yang membuat Aldo sadar, dirinya tidak sendiri.


“Maaf sayang, aku keluar sebentar ke rumah Ananta. Bos meminta tiket konsernya tiba-tiba.” Aleta mengijinkan tentu saja, dulu Aldo sering kelabakan saat Malik meminta dirinya memenuhi segala permintaannya yang di luar nalar. Kini sudah terbiasa.


Tok…tok…tok…


Tidak lama Aldo sudah sampai di tujuan. Lampu kamar Ananta masih menyala, berarti pemilik kamar masih belum tidur. Aldo harus segera mendapatkan apa yang Malik inginkan agar tidurnya nyenyak, bisa terbawa mimpi jika belum ada di tangannya.


“Paman….dimana Ananta.” Tanyanya tanpa basa basi saat Pamannya membuka pintu. “Aku ke kamarnya ya Paman.” Paman hanya menggeleng, belum juga menjawab Aldo sudah lenyap masuk ke kamar putrinya.


“Om Al….kenapa masuk tidak ketuk pintu. Bagaimana kalau Ananta tidak pakai baju.” Kesalnya.


Tak…


Menjitak kepala Ananta yang bicara sembarangan. “Kau ini kan belum punya suami, kalau sudah punya suami Om akan lebih hati-hati.” Ananta mengusap keningnya yang tidak begitu sakit. “Tiket…berikan tiket konsernya.” Mata Ananta membulat.


“Enak saja, aku kan tidak meminta. Om yang kasih sendiri.” Aldo duduk karena kakinya lemas setelah berlari dengan cepat dari rumahnya.


“Iya…..sini kembalikan. Om tidak jadi memberikannya.” Tegasnya.

__ADS_1


“Enak saja….mana bisa barang sudah dikasih diminta kembali. Om jangan seenaknya.” Aldo tahu keponakannya tidak akan semudah itu menyerahkannya.


“Om ganti…..uang saku. Sebutkan mau berapa?” Mengeluarkan poselnya. Ada senyum nakal di wajah Ananta.


“Setara dengan harga tiket yang Om berikan.”


“Awww……Om lepaskan. Aww….Paman…..eh.....Om......sakit.” Teriaknya karena Aldo menjewer telinga Ananta.


“Jangan macam-macam An, Om sudah cukup kesal sekarang. Jangan sampai uang jajan bulanan mu aku hentikan.” Ancamnya.


“Iya….iya….Om ini mengancam saja.” Bermaksud mengeluarkan tiket konser yang Ananta simpan di tasnya. Mengubek isi tas karena yakin sudah menyimpannya.


“Mana An….” Mencoba membantu Ananta mencari. “Tidak ada An….” Ananta mundur sedikit. Dirinya lupa menitipkan tiket konser pada sahabatnya yang ingin memostingnya di media social. “Bicara ANANTA…..” Kesalnya yang sudah memuncak.


“Aku lupa Om, aku titip sama Karmila teman sekelasku Om.” Ucapnya lirih.


“Ya Tuhan…!!!!!” Ananta pasrah saat Aldo berteriak kesal. “Ayo pake jaket mu, kita ambil sekarang.” Ananta menurut saja, daripada urusannya menjadi panjang dan uang sakunya hilang. Aldo selama ini terbaik yang selalu memperhatikanya.


***


Ayu menyempatkan diri mengantar Ranu ke kelasnya. Putranya tidak pernah menolak perlakuan manis darinya. Ranu banyak mendapat nasehat dari Mahesa karena sudah lebih dulu mengalami berbagai macam hal yang membuat Ayu sedih dan tidak boleh Ranu mengulangnya.


“Mom….” Mahesa yang melihat Ayu berjalan bergandengan dengan Ranu menghambur. Mahesa memang selalu pergi lebih pagi karena Papih nya sangat sibuk namun tetap menyempatkan mengantarnya.


Ayu memeluk Mahesa. “Kak Mahes datang pagi lagi yah?” Mengangguk. “Nanti siang ikut Mommy yah, kita makan siang di tempat Papah Ray.” Mahes mencium pipi Ayu. Ayu sudah tahu jawabannya pasti tidak kalau sudah seperti ini.


“Maaf Mom….” Ucapnya pelan, takut Mommy nya sedih.


“Ada kegiatan ya Kak?” Mahes tidak menjawab, hanya memeluk Ayu dengan hangat. “Ya sudah, malam mampir ya Kak. Mommy kangen.”


“Siap Tuan Putri. Nanti malam Kakak ke rumah. Mmmm…..Aku mau makan capcay dan Ayam kecap buatan Mommy.” Pintanya, Mahes tahu sekali Mommy nya paling suka kalau anak-anaknya memintanya menyiapkan makanan kesukaan mereka.


“Merayu kau kan.” Ledek Ranu.


“Anak kecil jangan ikut-ikutan. Kakak ke kelas ya Mom. Byeee Mommy, love u Mom.” Ucapnya menggemaskan.


“Mommy Love Kakak juga. Belajar yang pintar ya Kak.” Mahes segera masuk ke kelasnya yang tidak jauh dari kelas Ranu.

__ADS_1


Tidak hanya dirinya, ada beberapa wali kelas yang juga hari ini datang. Mata Ayu tertuju pada wanita cantik yang kini tidak berhijab seperti dulu saat dirinya kenal. Rambutnya yang ikal tergerai indah. Senyumnya masih sama, hanya warna rambutnya saja yang berubah. Sedikit kemerahan namun tidak terlalu menonjol.


“Hay…I..Iin…apa kabar?” Sapa Ayu, wajah sahabatnya tidak seramah dulu. Uluran tangan Ayu bahkan tidak di sambut.


“Aku baik.” Menghindari kontak mata dengan Ayu. “Aku duluan ke ruang rapat ya Yu.” Ijinnya yang malah membuat Ayu semakin penasaran dengan perubahan sikap Iin pada dirinya. Selama ini Ayu merasa baik-baik saja.


“Mommy….Mommy yakin tante itu sahabat Mommy?” Tanya Ranu yang membuat Ayu tersenyum. “Mommy sepertinya salah orang.” Tidak menanggapi karena dirinya sendiri bingung kenapa sikapnya berubah.


“Hey….sudah selesai sayang?” Malik sudah datang menjemput Ayu. “Ayo ke ruang rapat, sudah mau di mulai sebentar lagi.” Ayu mengangguk paham. “Bye Abang.”


Ranu segera meraih ponselnya.


Ranu : Dad, Mommy sapa temannya tapi tidak di respon dengan benar.


Malik : Maksudnya? Yang jelas Bang.


Ranu : Teman Mommy namanya Iin, Ibunya Salina.


Malik langsung paham.


Malik : Bagaimana responnya?


Ranu : Tidak penting, Daddy tolong jaga Mommy ku. Abang tidak mau orang itu menyakiti Mommy.


Malik : Ok, tanpa Abang minta Daddy selalu jaga kalian. Terutama Mommy.


Ranu : Good Dad, suami idaman.


Malik tidak lagi membalas chat Putranya yang mulai menggodanya. Malik lebih memilih menyibukkan tangannya memperhatikan Ayu yang saat ini duduk di sebelahnya.


Rapat tidak berlangung lama, karena semua sudah di susun dengan rapih hanya tinggal mendapat persetujuan semua pihak untuk terselenggaranya acara.


Malik dengan jelas melihat istrinya menyibukkan diri dengan ponselnya. Malik sangat sadar, traumanya sangat besar.


“Aku punya kejutan….” Bisiknya di telinga Ayu. “Kau pasti suka sayang.” Malik membuat Ayu tersipu malu.


Aldo dengan senyum sumringah menyambut keduanya di depan mobil. Ayu merasa aneh karena tidak biasanya Aldo tersenyum manis seperti itu. “Kejutan apa Kak?” Malik menyodorkan tanyannya pada Aldo. Segera Aldo mengeluarkan amplop pink berenda biru muda.

__ADS_1


“Nona pasti sangat suka isinya.” Ayu yang sudah tidak sabar segera membuka isi amplop berisi tiket konser permintaannya yang sebenarnya mustahil akan Malik kabulkan.


__ADS_2