Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Bayang-Bayang Masa Lalu


__ADS_3

Satu Minggu ini Ayu benar-benar memanjakan Malik. Karena Malik sudah mewujudkan salah satu keinginannya yang mustahil tapi benar-benar dia wujudkan menjadi kenyataan.


Mengingat bagaimana cemburuan nya seorang Malik, Ayu sempat mengesampingkan keinginanya hadir di konser yang isinya laki-laki tampan mempesona.


Malik dengan senang hati menerima manisnya perhatian sang istri yang dia dapat secara cuma-cuma karena ide nya membawa Idola kesayangannya makan malam bersama berhasil, kesayanganya memberikan imbalan lebih dari yang dirinya bayangkan.


"Dimana Nona Al?" Tanya Malik yang tidak mendapati Ayu di ruangannya.


"Nona tadi ijin beli makanan sebentar Bos. Lapar katanya." Malik melewatkan jam makan siang rupanya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.000 WIB.


"Dengan Mawar kan Al?" Aldo mengangguk tanpa menoleh pada Malik. Matanya masih sibuk menatap ringkasan kas yang dipenuhi angka-angka fantastis.


"Aku ri..." Ucapannya terpotong.


Tok...tok...tok..


Sandra masuk dengan nafas tersengal, bahkan Malik belum mempersilahkannya masuk tapi Sandra sudah sampai di depan matanya.


"Santai San, minum dulu." Sandra mengatur nafasnya. "Pelan San, kalau kau jantungan aku bisa di omeli Mas nya Ayu.” Menyodorkan segelas air putih.


"Bilang saja Jofan, susah amat." Imbuh Aldo yang kini berdiri di sisi Sandra penasaran.


"Baca Kak, buka mata mu lebar-lebar." Sandra menyodorkan ponselnya.


"Hari ini ya San?" Wajahnya kini nampak sedih. "Tolong rahasiakan dari Ayuna dan Sarah, Adam bisa aku yang infokan nanti." Jantungnya berdegup sangat kencang.


"Aku rasa dia sudah tidak seperkasa dulu Bos, dia tua. Tenang Bos, semua akan aku awasi dengan lebih ketat." Malik menyandarkan kepalanya yang sontak berdenyut.


"Ayu masuk Kak." Malik mengedipkan matanya, meminta Sandra bersandiwara.


"San.....kamu belum makan kan? Ayo kita makan sama-sama." Sandra terlihat gugup.


"I...iya. Aku sangat lapar, kau tahu saja aku harus mengisi tenaga Yu." Sandra membantu Ayu menata makanan di atas meja.


Wajah gugup nya coba di sembunyikan sebaik mungkin.


"Kenapa tidak menunggu ku sayang?" Ayu menatap Malik yang duduk di samping nya.


Wajahnya tidak sedamai tadi, sepertinya mereka membicarakan hal serius. Ayu ingin bertanya namun ada sedikit rasa tidak enak, mungkin urusan pekerjaan. Mengusir rasa penasarannya yang tidak penting.


"Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Sandra refleks mengibaskan tangannya. "Wajah kalian mencurigakan." Tidak tahan diam saja. Ayu tidak mau ambil pusing. Menggigit bibir dalamnya karena dirinya merasa tidak pantas curiga pada mereka.


"Jangan suka curiga sayang, ayo cepat makan. Al bilang tadi kau kelaparan." Ayu menyendok kan nasi ke piring masing-masing dengan telaten.

__ADS_1


Suasana makan hening, Sandra tidak berisik seperti biasanya, Malik dan Aldo banyak menunduk seperti sedang banyak pikiran. Sangat jelas.


"Kak..." Malik meletakkan sendoknya dan meraih tangan Ayu. "Setelah makan aku ke sekolah Abang yah, tadi belum sempet ketemu anaknya." Malik menggeleng tanpa ragu.


"Mulai sekarang jangan kemanapun, tetap di sisiku." Pintanya sambil melanjutkan makan. Menghindari tatapan mata Ayu yang menjadi kelemahannya.


Dia ini kentara sekali, menyuruh orang berpura pura tapi dia sendiri malah bersikap mencurigakan. Umpat Sandra sambil melotot ke Arah Malik yang tidak memperhatikannya.


"Terus yang urus makan siang Abang dan Kaka Mahes siapa?" Protes kecil, lebih tepat nya kecewa. Hanya itu kesenangannya saat ini, ke butik juga sudah jarang sekali.


"Mereka akan mulai katering besok." Ayu paling tau Malik tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Ihhhh....kalian ini kenapa sih." Kesal, meletakkan sendoknya malas makan. "Aku akan mogok makan." Merajuk.


"Kak....aku kembali ke ruangan ku yah, aku lupa ada berkas yang deadline sore ini." Sandra paling tidak bisa berpura-pura. Menghindar lebih baik daripada salah bicara dan bertambah rumit.


"Saya juga mau beli kopi sebentar Bos." Mereka memang sangat peka.


"Kalian kesal yah, lanjutin dulu makannya San, Al." Ayu merasa bersalah. Sendu sekali suaranya.


"Gak loh Yu, aku memang sibuk Yu. Bye...." Lebih baik cepat-cepat menghindar demi keselamatan lidahnya yang tak bertulang.


Malik memeluk Ayu yang kini duduk membelakanginya. Detak jantungnya yang tidak teratur membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosi.


"Katakan Kak, jangan sembunyikan apapun dari ku. Apa kalian tidak percaya dengan ku? Aku yakin mampu Kak." Merasa kecewa lagi karena mereka tidak terbuka.


"Ini menyakitkan, aku akan pastikan kalian semua baik-baik saja." Membuat Ayu semakin penasaran. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan di belakangnya tadi.


Tapi melihat sikap Malik dirinya paham, sepertinya hal yang sangat meyakitkan menyangkut dirinya sampai Malik tidak mau dirinya tahu.


"Aku percaya Kak Malik. Aku mohon katakan jika memang aku perlu tahu, jika aku memang tidak di izinkan untuk tahu, aku mohon jaga sampai akhir. Aku tidak mau tahu dari orang lain." Membalas pelukkan Malik agar suaminya merasa tenang.


Ayu kira Malik punya perempuan lain, karena akhir-akhir ini banyak klien perempuan yang mendekati Malik dengan intens. Jangan harap.


"Jadi aku benar-benar tidak boleh ke sekolah Abang?" Masih berharap boleh menemui Putra nya. Malik khawatir terjadi hal buruk.


"Boleh tidak nurut sama suami sayang? Aku benar-benar tidak bisa membiarkan mu sendirian."


"Kan ada Mawar, aku janji tidak pergi kemanapun tanpa ijin Kak Malik." Matanya berbinar membuat Malik lemah.


Memeluk Ayu karena tidak kuat menatap matanya.


"Kau paling tau kelemahan ku. Tapi saat ini Kak Malik mohon jangan pergi dari hadapanku meski hanya sedetik. Aku harus melihatmu terus di sisi ku." Kalau sudah begini Ayu tidak akan bisa berkutik.

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya sangat serius." Ayu mengalah, dirinya tidak mau merepotkan dan membuat Malik kesulitan.


Malik bahkan membawa Ayu ke ruang meeting. Menjaga nya duduk di samping nya. Kejadian seperti ini bukan satu dua kali, beberapa saingan bisnisnya suka mengganggu dengan mengancam keselamatan kelemahan sekaligus kekuatannya.


Bukan pemandangan aneh, karyawan Malik sudah biasa melihat Bos nya yang over protektif pada istrinya. Mereka sudah mengenal baik siapa Malik.


Trinnggg....


Malik merogoh ponsel di saku nya. Tersenyum saat membaca pesan panjang lebar dari Putra semata wayangnya yang mencari Mommy nya. Ranu sangat mirip dirinya, tidak melihat Mommy nya sebentar saja rindu.


Abang : Dad, Mommy tadi bilang akan ke sini lagi. Abang tunggu kok tidak


kunjung datang kesayangannya ku Dad? Daddy larang yah?


Daddy : Iya, mulai besok Abang dan Kak Mahes katering.


Abang : Jelaskan.


Daddy : Daddy mohon jangan bertanya alasannya.


Abang : Mommy ok tidak Dad?


Daddy : Mommy mu ok, sedang temani Daddy meeting.


Abang : Daddy berhutang penjelasan. Kak Mahes juga pasti bertanya-tanya sama seperti Abang.


Daddy : Semua demi Mommy


Abang : Ok, Abang balik kelas. Cium Mommy please.....dari Abang.


Cup....


Ayu yang mendapat ciuman tak terduga terperanjat. Dirinya malu bukan kepalang. Semua mata tertuju padanya dan ada beberapa yang tersenyum menangkap basah kelakuan Malik yang memalukan, bisa-bisanya mencium dirinya tidak tau tempat.


"Malu Kak...." Mengusap pipi nya yang merona.


"Abang yang minta." Wajah tanpa rasa bersalah.


Ayu kembali menyenderkan tubuhnya di kursi yang dia duduki. Mengabaikan kelakuan Malik yang suka sekali membuatnya kerepotan seperti saat ini.


Meeting berjalan cukup lama, Ayu yang tidak kuat menahan kantuk menyandarkan kepalanya di bahu Malik. Matanya terpejam dan tidak terganggu berisiknya suara peserta meeting, sudah terbiasa.


Aldo si paling pengertian menyambar selimut yang ada di ruang meeting. Semua memang Malik sengaja siapkan. Malik memang banyak melakukan penyesuaian hidup agar selalu bisa menjaga Ayu dimanapun berada. Dirinya sering kali harus berhadapan dengan berbagai ancaman sampai tidak bisa percaya dengan siapa pun untuk menjaga Ayu.

__ADS_1


Pemandangan yang sudah biasa karyawannya lihat. Mereka bahkan berteman baik dengan Ayu dan kelakuan Malik yang unik. Tidak ada yang berani protes atau siap-siap angkat kaki dari perusahaan yang Malik miliki. Tidak ada tolerasi jika menyangkut Ayu.


__ADS_2