Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kabur


__ADS_3

Setelah percobaan kesekian kalinya, akhirnya Hanum berhasil meninggalkan kediaman Daddy Malik tanpa di ikuti siapa pun. Langkah kaki kecilnya sangat cepat, berjalan sejauh mungkin agar mereka semua kehilangan jejaknya dan tidak lagi mencari dirinya yang memutuskan untuk pergi.


Bukan tanpa alasan Hanum melakukannya, dirinya di rundung ketakutan yang teramat besar. Ancaman yang Baskoro sampaikan tidak main-main, Hanum takut jika dirinya bersikeras bertahan di kediaman Malik. Baskoro akan nekat menyakiti keluarga Malik yang saat ini hidup dengan sangat bahagia.


Hanum tidak mau menjadi alasan Baskoro menyakiti keluarga Malik yang sudah sangat baik dan tulus pada dirinya selama ini.


Hanum menghelas nafasnya panjang, sungguh keberaniannya mengambil keputusan ini hanya semata-mata demi menyelamatkan keluarga nya. Hanum tidak mau keluarganya celaka jika dirinya terus bertahan di sana. Hanum tidak mau lagi kehilangan.



Jangan kau kira Daddy mu ini hanya bisa menggunakan cara halus untuk memaksamu kembali. Daddy akan gunakan cara kotor sekalipun untuk mengembalikan Hanum ke sisi Daddy. Tempat mu semestinya.



Mereka bisa kapan saja aku habisi jika Hanum masih tidak mau kembali dengan cara baik-baik. Terserah Hanum ingin kembali dengan cara apa pada Daddy mu ini Nak.



Jika menunda lebih lama, kau bisa kehilangan dia dan calon bayi yang ada di dalam perutnya. Daddy mu tidak main-main Hanum.


Ancaman terakhir membuat Hanum benar-benar ketakutan. Hanum tidak mau lagi kehilangan orang-orang yang sangat Hanum sayangi. Tidak mau mereka terancam karena kehadiran dirinya yang bukan siapa-siapa bagi mereka.


Hanum tidak mau kebaikan mereka di manfaatkan orang tidak bertanggung jawab seperti Baskoro yang sangat Hanum benci.


Tekad nya sudah bulat, Hanum memutuskan untuk menghilang. Hanum bahkan meninggalkan semua yang bisa membuat dirinya di temukan, Hanum meninggalkan semuanya. Dia hanya membawa beberapa pakaian dan uang tunai hasil tabungannya selama ini.


Ragu sekali, berulang kali Hanum melihat kembali kebelakang jalanan yang sudah dirinya lalui. Mengingat banyak kenangan yang sudah dirinya lalui bersama keluarga barunya yang sangat tulus pada dirinya. Hanum menitikan air mata, dirinya tidak rela menukar apapun dengan kebahagiaan yang saat ini dirinya miliki.


Keputusannya untuk pergi yang terbaik, Hanum ingin semuanya baik-baik saja dan kembali pada kehidupan mereka yang normal, seperti saat dirinya tidak ada dalam hidup mereka. Hanum merasa hadirnya hanya membawa luka dan ancaman.


Punggung Hanum di tepuk wanita paruh baya yang melihatnya menangis seorang diri di terminal Bus yang cukup ramai.


“Adek.....adek baik-baik saja?” Hanum mengusap air matanya, mengangguk karena dirinya tidak mau merepotkan orang lain. “Sini duduk nak, jangan di jalanan.” Hanum di tarik ke kursi panjang, duduk di temani wanita paruh baya yang menegurnya.


“Aku baik-baik saja Bu.” Hanum ingin pergi dari tempatnya duduk. Tangan Hanum di tarik dengan paksa. Kasar sekali sampai Hanum terbelalak kaget. “Lepasin Bu! Lepasin tangan ku!” Karena sedikit berteriak, Hanum diperhatikan banyak orang.


Tangan Hanum terlepas, Hanum segera pergi dari tempat itu menuju pembelian tiket yang antriannya cukup panjang. Wanita tadi masih saja menempel padanya, Hanum sampai gemetar karena merasa dirinya sednag terancam.


Beruntung ada laki-laki yang seumuran Om Riyan menarik tangannya masuk ke barisan di depannya. Wanita yang mengikuti Hanum tidak berkutik, dia akhirnya pergi meninggalkan Hanum yang sudah ada di dalam antrian pembelian tiket.


“Terimakasih Om.” Laki-laki itu tidak menanggapi. Cuek sekali.


Hanum bisa bernafas lega sekarang, dirinya aman karena sepertinya laki-laki yang berdiri di belakangnya menatap tajam setiap orang yang ingin mendekati Hanum.

__ADS_1


“Mau kemana cah Ayu?” Tanya laki-laki paruh baya yang menjaga antrian tiket. Hanum menhempas perasaan ragunya.


“Ke Surabaya Pak.” Hanum menyodorkan uang lembaran kertas pada petugas tiket.


“Bis nya berangkat dua puluh menit lagi yah. Tunggu saja, belum dateng bisnya.” Hanum mengangguk paham, meski ini pertama kalinya. Hanum sudah mencari tahu lebih dulu debelum melakukan perjalanan.


Hanum tidak lantas pergi. Dirinya berhenti menunggu laki-laki baik hati yang tadi menolongnya. Hanum tersenyum saat pria tersebut sudah selesai dengan tiketnya.


“Kita punya tujuan yang sama, ayo tunggu di sana.” Ajak nya dengan nada suara yang begitu dingin. Wajahnya sangat kaku tapi dia sangat baik.


“Om.....Mmmmmm....Hanum boleh minta tolong tidak?” Masih menatap Hanum, menunggu kalimat lanjutannya. “Hanum ingin ke toilet Om.”


“Ayo, jangan lama. kita bisa ketinggalan Bus kalau kau lama.” Hanum berjalan setengah berlari, sudah tidak tahan lagi.


Tidak lama Hanum sudah keluar dari toilet. Bukan Om yang tadi yang dirinya lihat, Hanum sedikit takut karena ada wanita yang tadi menyakitinya berdiri di depan pintu keluar toilet.


“Hey....cepat.” Hanum segera menghampiri laki-laki yang Hanum percayai, ternyata dia baru saja keluar dari toilet juga. Hanum sudah mengira kalau dirinya di tinggalkan.


“Ku kira Om meninggalkan ku.” Dia hanya sedikit tersenyum.


Tidak lama Bus yang mereka tunggu sampai, satu persatu penumpang duduk memenuhi kuri-kursi di alam Bus. Hanum gemetar, ini perjalanan pertamanya seorang diri.


Tidak lama setelah pengecekan penumpang, Bus sudah mulai bergerak menuju tujuan mereka akan pergi. Baru saja keluar dari terminal, Bus dipaksa berhenti karena ada mobil menghalangi jalan mereka.


Hanum tertegun, mematung di tempatnya saat melihat sosok laki-laki yang sangat dirinya sayangi keluar dari mobil yang menghalagi laju Bus yang di tumpanginya.



“Maaf Pak, saya ingin menjemput Putri ku.” Malik diperilahkan masuk. Banyak mata yang begitu kagum dengan sosok Malik yang begitu berwibawa, sudah tidak ada lagi suara teriakan dari para penumpang.


“Kau kabur dari rumah?” Tanya laki-laki yang duduk di sebalah Hanum.


“Han....Daddy datang Nak, ayo turun.” Hanum mengusap air matanya. Pelariannya gagal, Hanum kembali ditemukan oleh Daddy nya. “Ayo sayang, Daddy sampai salah tarik hoodie Nak, punya Mommy yang Daddy pakai.” Hanum tertawa.


“Apa kau mengenalnya?” Hanum mengangguk.


“Dia Daddy ku.” Laki-laki yang duduk di sebelah Hanum berdiri, memberikan jalan pada Malik agar mudah meraih tangan Hanum yang masih duduk di tempatnya. Bingung sekali harus apa dirinya.


“Terimakasih sudah menjaga Putri ku.” Ucap Malik yang membuat laki-laki yang berdiri di depannya mengernyitkan dahi nya. “Maaf semuanya, silahkan lanjutkan perjalananya.”


Malik turun dari bis, menggandeng tangan Putri kecilnya yang berusaha kabur darinya dengan sangat lembut.


“Hanum mau makan dulu Nak?” Hanum menggeleng, wajahnya masih sangat sedih dan terpukul. “Makan dulu, semua orang sedang menunggu Hanum di rumah.”

__ADS_1


“Dad....sorry.” Hanum menangis.


“Untuk apa? Hanum tidak melakukan kesalahan. Daddy boleh peluk Hanum?” Hanum mendekatkan duduknya. Memeluk Malik yang dengan hangat menjempunya tanpa marah sedikitpun pada Hanum. “Daddy sangat bersyukur Bus nya belum berangkat. Daddy hampir saja menelpon perusahaan dan meminta semua perjalanan di tunda sampai Daddy temukan Hanum.”


“Sorry Daddy....sorry membuat keributan Dad.” Malik mengusap air mata yang membanjiri wajah cantik Putri nya.



“Sudah sayang, Hanum tidak bersalah. Sekarang kita makan ya Nak, Daddy tahu Hanum belum makan sejak pagi. Mommy juga khawatir Hanum belum menyentuh sarapannya.” Hanum menganggguk. Dirinya masih bingung harus melakukan apa, yang jelas kedatangan Daddy membuat nya sangat bahagia.


Dirinya dicintai dengan begitu besar, diperlakukan dengan sangat manis seolah dirinya memang bagian dari keluarga mereka.


Flash back


“Hanum pergi Dad, aku sudah katakan pada Daddy sejak kemarin kan Dad.” Mahes sedang sangat marah Pada Malik yang membiarkan Hanum berhasil kabur.


“Ada apa sayang? Kenapa marah-marah begitu?” Mahes memeluk Ayuna yang baru saja keluar dari kamar Ranu.


“Daddy Mom, sudah Kakak katakan untuk jaga Hanum, tapi Daddy malah membiarkan Hanum berhasil keluar. Bagaimana jika benar-benar hilang?” Mahes sangat kesal.


Malik hanya tersenyum melihat Putra nya sangat ketakutan kehilangan Hanum, wanita yang sangat dikaguminya.


“Benar Dad.” Ayu berjalan cukup cepat ke kamar Hanum. “Dadddd!!!! Benar anak nya gak ada Dad. Cari Dad! Kenapa diam saja?” Ayu memegangi perutnya yang mengencang tiba-tiba.


“Mom......Jangan terlalu keras Mom.” Mahes dan Malik menuntun Ayu ke sofa. “Daddy sudah awasi Hanum. Dia tidak akan kemana-mana.” Malik memijat pergelangan tangan Ayu agar rileks. “Tarik nafas Mom.” Ayu menegakkan duduk nya.


“Kenapa di biarkan keluar Dad? Anak perempuan loh Dad. Lain hal nya jika itu Abang atau Kakak. Hanum kan perempuan, Daddy mana bisa membiarkan Hanum sendirian di luar sana.” Malik memeluk istrinya yang sangat cerewet.


“Jangan peluk-peluk.” Ayu mendorong Malik menjauhi dirinya.


“Mommy....Daddy tidak mungkin membiarkan Hanum pergi begitu saja. Daddy hanya ingin tahu bagaimana perasaan Hanum setelah keluar dari rumah kita. Daddy ingin Hanum tahu kalau kita sangat menyayangi dia. Daddy ingin ragu di hati Hanum hilang Mom, dan hanya ini cara satu-satunya yang bisa Daddy lakukan.” Malik membelai lembut tangan Ayuna, ada bulir-bulir airmata di peluk matanya.


“Hanum belum sarapan Dad. Nanti dia bisa masuk angin Dad.” Ranu yang mendengar keributan mendekat, memeluk Mommy nya yang kini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.


“Iya sayang, Daddy jemput yah. Anak nya sudah Daddy tahu ada di mana.” Malik segera pergi menjemput Hanum seperti yang Aldo informasikan keberadannya.


Malik tidak membiarkan orang lain menjemput Hanum, dirinya sendiri yang akan membawa Hanum kembali pulang dengan selamat.


Malik memang sudah tahu dari Ranu dan Mahes jika Hanum akhir-akhir ini merasa tidak nyaman berada di rumah mereka. Hanum merasa menjadi beban mereka dan kehadirannya hanya membawa bahaya bagi mereka semua.


Mendengarnya Malik merasa kebingungan, bagaimana menghadapi situasi seperti ini dengan anak remajanya. Malik berkonsultasi dengan Sarah dan dirinya di sarankan membiarkan Hanum melakukan rencananya.


Berhasil, Malik akhirya merasakan sesak seperti yang istri dan anak-anaknya rasakan. Takut sekali jika Hanum benar-benar pergi dari hidup mereka. Malik tidak sanggup, Hanum sudah Malik taruh di bagian hatinya menjadi bagian penting yang akan dirinya jaga dan jamin bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2