
Adam sedang mengobati Alana yang nampak baik-baik saja meski mendapat luka robek yang cukup besar di kaki nya. Kuat sekali tidak seperti wanita kebanyakan yang akan merengek atau menangis karena kulit mulusnya tergores.
“Sudah aku jahit, mungkin nanti akan terasa perih setelah efek bius nya hilang. Apa aku perlu siapakan obat pereda nyeri?” Alana menggeleng.
Laki-laki yang ada di depan nya sedang berpura-pura baik-baik saja. Alana tersenyum remeh melihat tanganya yang sedikit bergetar. Tidak mungkin dia lupa.
“Aku pernah dapat luka yang lebih mengerikan dari ini Dokter.” Adam mengernyit. Mata Alana begitu tajam, dengan senyum mengerikan di bibirnya. “Dokter ingin melihatnya?” Adam menggeleng. “Tidak apa Dokter.” Alana membuka baju menampakkan perut nya yang terdapat goresan bekas jahitan cukup panjang.
Brukkkkk.....
“Maaf....aku hanya ingin mengantarkan makanan.” Ayu menumpahkan sup yang dirinya bawa. Untung saja mangkuk nya terbuat dari plastik, jadi tidak melukai kakinya.
“Tidak seperti yang kamu fikirkan sayang. Masuk lah, Alana hanya sedang menunjukkan luka lama nya.” Adam takut Ayu yang sedang berdiri memunggungi mereka mencurigai dirinya sedang berbuat tidak baik pada Alana.
“Ayu tidak mungkin punya pikiran buruk bukan? Dia yang Anna ceritakan padaku adalah wanita yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Tidak mungkin marah kan Dok.” Ucap Alana menyindir Ayu. Kata-katanya tajam penuh penekanan.
Ayu tidak menanggapi. “Aku akan minta Mawar bawakan makanan Alana ke kamar, aku permisi.” Ayu berlalu pergi, tangannya gemetar. Melihat keberanian Alana membuat dirinya ketakutan.
“Kenapa bicara seperti itu? Kau tidak berhak menilai adik ku seperti itu. Kalau sudah tidak sakit silahkan pergi, tinggalkan rumah adik ku baik-baik tanpa keributan.” Adam keluar dari kamar Hanum mengejar Ayu yang meninggalkan mereka berdua.
Mereka seperti sedang di sihir. Semua sangat berlebihan, menyebalkan sekali kalian semua. Dia bahkan menyebutnya Adik.
Alana keluar dari kamar dengan jalan pincang menggunakan tongkat yang Adam siapkan. Anna yang sedang berada di dapur lari ke arahnya. Memapah Alana untuk membantunya berjalan.
“Duduk dulu Al, jangan terlalu banyak bergerak.” Alana tersenyum pada Anna terlihat sangat tulus, seolah tidak terjadi apapun.
“Aku pulang yah. Aku sudah di jemput di bawah.” Anna menatap dengan penuh rasa bersalah. “Jangan begitu ah, aku bisa turun sendiri. Kalian harus menjaga Ayu dengan baik, jangan sampai dia terluka.”
Prakkkkkk......
Adam menaruh gelasnya cukup keras. Menatap tajam mata Alana yang saat ini sedang menatapnya tajam. Ayu terlihat oleh mata Alana sedang menarik ujung baju yang di gunakan Adam.
Anna yang terkejut juga menatap Adam penuh tanda tanya. Adam mengulas senyum di bibirnya. Alana tersenyum penuh ejekan melihat bagaimana Adam menahan emosinya di depan mereka semua.
Bahkan amarahnya tidak bisa dirinya keluarkan demi menjaga perasaan orang-orang yang saat ini dia sebut keluarga.
__ADS_1
“Anna....sayang, biarkan teman mu itu pulang.” Adam berjalan mendekat ke arah Anna dan Alana. Alana sedikit mundur melihat tatapan tajam mata Adam. “Aku yang antarkan teman mu ke bawah sayang.” Adam mengulurkan tangannya.
“Tidak! Ehhhhh.....maksud ku aku bisa turun sendiri. Tidak perlu di antar. Aku pulang An.” Anna kebingungan melihat sikap aneh sahabatnya. Entah apa yang terjadi.
“Bisa jelaskan kenapa sahabat ku begitu ketakutan?” Adam membelai lembut puncak kepala Anna. Matanya masih menunggu jawaban dari mulutnya.
“Sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya. Sekedarnya saja sayang.” Aku keluar sebentar.
Adam keluar mengejar Alana yang untung saja masih ada di depan taksi yang dirinya pesan. Adam menjegal langkahnya.
“Minggir Dam!” Alana mendorong Adam yang tidak bergerak sedikitpun. “Mau apa! Tidak puas melihat ku mengorbankan kaki ku demi wanita kesayangan kalian! Minggir.” Adam menarik Alana sedikit menjauhi taksi.
“Kenapa tiba-tiba muncul dan bagaimana bisa kau sabahat Anna. Jangan macam-macam Alana.” Alana menghempas pegangan tangan Adam yang menyakiti lengannya.
“Aku yang ingin teriak dengan muak mengatakan apa yang baru saja kau ucapkan. Bagaimana dunia sesempit ini dan aku harus kembali bertemu dengan kalian.” Adam tidak mengalihkan pandangannya, tidak berkedip sedikitpun merasakan sesak di dada nya mengingat masa lalu mereka yang begitu menyakitkan.
“Pergilah, aku mohon jauhi keluargaku. Kami sudah bahagia dan tidak mau lagi terjebak dalam masa lalu yang tidak ada untungnya. Untuk kami dan untuk mu juga Al.” Alana tersenyum remen pada Adam.
Suara gertakan gigi Alana yang kesal menahan amarah terdengar di telinga Adam, matanya bahkan membulat sempurna menatap Adam yang berdiri di depan nya.
“Aku yang rugi. Aku hidup di bawah bayang-bayang kalian yang tidak bisa lepas!” Alana mengusap air matanya dengan kasar. “Sekarang biarkan aku pergi atau aku aku teriak dengan keras siapa kalian semua sebenarnya.”
Adam tidak lagi menahan langkah Alana, Adam juga merasa sesak mengingat hubungan mereka dulu yang berakhir dengan penuh luka. Adam terduduk, dirinya sungguh ingin melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu.
Adam merogoh kantong bajunya, mengeluarkan ponsel dengan tangannya yang masih gemetar. Sesak di dada nya masih belum bisa hilang.
Adam : Jelaskan kenapa Alana tiba-tiba muncu!
Malik : Bagaimana keadaan istriku Dam? Apa dia terluka?
Adam : Kenapa bisa Alana masuk ke rumah!
Malik : Apa kau baik-baik saja?
Adam : Jawab saja pertanyaan ku brengsek. Kenapa dia ada di rumah mu!? Apa yang dia lakukan?
Malik : Aku sungguh tidak ingat Dam. Apa dia menyakiti Ayu? Ayu bilang sikapnya sedikit aneh.
Adam : Kau tidak tahu siapa dia! Dia yang sudah menghancurkan ku Al.
__ADS_1
Malik : Bicara apa kau ini? Siapa dia? Dia mengenalku, tapi aku tidak mengenalnya.
Adam : Brengsekkkkkkkkk
Malik : Tenang Dam, aku sedikit lagi sampai. Kita bicara Dam.
“Al...cepat Al. Ada yang tidak beres Al.” Aldo menaikkan kecepatan mobil yang di kendarainya.
Baru juga sampai bandara untuk perjalanan bisnis, Malik sudah mendengar kabar jika Alana terluka di rumahnya. Beruntung Ayu aman dan tidak terluka, Malik sedikit bisa bernafas lega tapi masih belum bisa tenang sebelum memastikan sendiri keadaan rumahnya yang saat ini berbahaya.
Malik menemukan Adam masih duduk di depan lobby apartemen. Wajahnya terlihat sangat terluka. Malik merangkulnya dan Adam benar-benar menangis di pundak Malik.
Aldo menyodorkan air mineral setelah Adam cukup tenang. Aldo sedikit menjauh memberikan prifasi pada dua laki-laki yang sangat dirinya hormati.
“Sekarang katakan Dam. Ada apa? Aku tidak pernah melihat mu sesakit ini? Ada apa Dam?” Adam masih menitikan air matanya.
“Aku sakit, kenapa dia harus muncul setelah semua baik-baik saja Al. sesak sekali rasanya. Aku......”Adam memukul dada nya yang begitu sesak.
“Jangan paksakan. Nanti saja kalau sudah siap untuk cerita, sekarang kita masuk. Istirahat Dam.” Malik meraih tangan Adam.
“Tidak Al, aku butuh udara segar.” Malik menggeleng, tidak ingin membiarkan sahabat yang sudah seperti saudara nya pergi dalam keadaan sesak. “Aku akan baik-baik saja.”
“Boleh kah aku egois? Pergilah besama Aldo. Aku akan ijinkan jika Aldo ada bersama mu.” Adam menggeleng.
“Iya Dokter, bahaya kalau menyetir sendiri.” Adam tersenyum. sedikit terobati dengan kasih yang Malik selalu curahkan padanya dengan tulus.
“Aku akan baik-baik saja, kau akan butuh Aldo untuk antar Anna pulang. Aku akan baik-baik saja.” Adam melambaikan tangannya tanpa berbalik.
“Apa perlu aku ikuti Bos?” Tawar Aldo yang masih melihat ragu di wajah Malik.
“Sudah ada orang yang aku tugaskan mengawasinya. Kita ke atas saja Al.” Malik dan Aldo naik ke atas. Malik sudah gugup melihat bagaimana keadaan Ayu saat ini.
Ayu, Anna dan Iin sedang duduk di meja makan. Wajah istrinya terlihat baik-baik saja, namun segera berubah saat melihat suaminya tiba-tiba muncul di depan matanya.
“Kok....Kakak kok sudah pulang?” Malik tidak menjawab, dia sedikit berlari memeluk Ayu menyalurkan rasa khawatirnya yang begitu besar.
“Syukurlah kalian baik-baik saja.” Malik membolak balik tubuh Ayu, memastikan dari ujung kaki sampai ujung kepalanya tidak ada luka di sana.
__ADS_1
“Aku sudah mirip dengan martabak telor kak. Heheheh.....” Malik ikut tertawa. Dirinya memang suka berlebihan membuat Ayu suka merasa Malik bersikap aneh.
“Maaf sayang.” Malik kembali memeluk Ayu. Kini Anna terlihat punya banyak pertanyaan dengan tatapan matanya. “Kalian sedang makan? Aku juga lapar.” Ayu segera menyendokan makanan ke piring Malik.