
Langit sore menampakan pendar cahaya cantik bagai lukisan yang tertuang di atas langit yang terbentang begitu luas. Indah nya tidak bisa di gambarkan tiada tandingan.
Udara dingin menyeruak menusuk menerpa kulit yang terbungkus pakaian tebal. Sedikit mengganggu tapi tidak bisa di hindari.
Dua pasang kaki yang kini berada di tempat asing mencoba berjalan penuh percaya diri. Langkahnya penuh keyakinan meski belum tau akan seperti apa hasil usahanya kali ini.
Tidak lagi ada ragu dalam dirinya. Melepaskan segala rasa sesak untuk mencoba menjadi kuat menjalani takdirnya tanpa rasa sesal. Senyum tipis menghiasi wajah tampan rupawan nya. Membayangkan bagaimana reaksi pujaan hati nya saat perjumpaan yang tidak dirinya duga.
Riyan mendatangi negara dimana ada pujaan hatinya di sana. Mencoba mencari tau apa yang hatinya mau, yang batin nya ingin rasakan untuk hidupnya. Bercampur rasa menjadi satu sampai dirinya sulit membedakan apa mau hatinya.
Hampa sekali jika harus merelakan semua rasanya tanpa berjuang. Hampa jika hanya menunggu tanpa usaha untuk meraihnya. Takut menyesal karena wanita yang dirinya inginkan begitu indah.
Riyan mengunjungi toko kue, mencari beberapa kue manis kesukaan Melani. Senyum terukir di bibir tebalnya. Riyan malu melangkah, tapi semua orang meminta dirinya menyelesaikan perkara hatinya. Jangan biarkan Melan menunggu ketidak pastian hubungan mereka.
Riyan berdiri tegak menyambut Melan yang baru saja keluar dari ruang meeting bersama manajernya. Wajahnya nampak kesal menatap dirinya. Wajar saja, kesalahan yang sudah dirinya perbuat begitu besar.
Meninggalkan Melan secara terang-terangan saat dirinya butuh sosok yang melindunginya dari para penjahat.
Melan berdiri menajamkan matanya di depan Riyan yang mematung. Sungguh matanya sangat menakutkan, Riyan sampai berdebar-debar melihatnya. Kini Melan bertolak pinggang dengan sedikit senyum mengejeknya.
"Bayangan sialan......pergi kau!." Riyan terkejut dengan kalimat sambutan untuk dirinya terima. Mendengarnya tubuh Riyan reflek menghindar. Tapi senyum terukir di bibir nya.
Manajer Melan geleng-geleng kepala tidak percaya dengan apa yang Melan lakukan. Menatap gemas, Riyan yang hanya membalasnya dengan senyuman.
"Dia kira ini ilusi. Mas Riyan kapan sampai?" Sapa manajer Melan yang cekikikan melihat tingkah Melan. Riyan berdiri bersedekap. Heran dengan tingkah Melan, tapi juga gemas.
"Apa dia sering seperti ini?" Dia mengangguk. Melan memang suka bicara sendiri saat bayangan Riyan muncul.
Tapi Manajer Melan yang waras masih bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bayangan.
"Mungkin karena rindu yang menggunung. Dia benar-benar kehilangan akal nya. Tidak tau mana yang bayangan dan yang asli." Riyan menyesal datang begitu lama.
"Benarkah? Kalau begitu anggap aku tidak ada. Biar Melan bisa melihat sendiri kalau aku bukan ilusinya." Sang Manager mengangguk paham. Seru sekali memang melihat orang kasmaran.
__ADS_1
"Sekarang bayangan bisa ada di dalam mobil?" Mata Melan melotot melihat spion. Riyan hanya tersenyum tanpa suara. Sampai sejauh mana Melan menganggap dirinya hanya bayangan.
"Mau kemana kita sekarang Mel?" Tanya Manajer agar Melan mengira dirinya tidak melihat Riyan. Ingin teriak pada Melan tapi tidak tega. Bisa-bisa nyantidka sadar pujaan hatinya ada di depan matanya.
"Yahhhhh!!!!!!" Bentak nya pada spion. "Jangan tersenyum dan cepat pergi." Semakin melotot ke arah spion. Riyan dan Manajer nya sedang menahan tawa.
"Mbak.....ih gak jelas. Mau kemana?" Tanya nya lagi agar Melan sadar.
"Makan dulu aja yah, aku kabari Kak Anna dulu supaya temui kita di restoran." Melan menjulurkan lidahnya ke spion. Tidak menghiraukan bayangan yang tak kunjung pergi.
Melam mengirim pesan pada Anna. Dia juga cerita tentang bayang-bayang Riyan yang akhir-akhir ini datang lebih sering. Melan takut dirinya gila karena tidak bisa menahan rindu.
Sesampainya di restoran. Riyan ikut masuk dan duduk di depan Melan. "Kenapa mengikuti ku! Pergi tidak! Cepat pergi!" Melan tersenyum malu pada orang-orang yang memperhatikannya. "Lihatkan, mereka pasti menganggapku aneh bicara sendiri." Riyan kembali tersenyum.
Ya Tuhan kenapa Melan sangat menggemaskan.
"Pesen dulu aja Mbak, nanti Kak Anna yusul aja." Manajer Melan tidak habis pikir Melan tidak menyadari kehadiran Riyan yang begitu nyata.
"Ihhhhh....kenapa sih senyum-senyum terus. Kok bayangan kali ini beda ya Mbak. Dia kayak beneran." Nyata sekali.
"Mel....loh Adek....kok di sini?" Anna memeluk Riyan dengan erat.
Rindu sekali meski baru beberapa hari mereka tidak berjumpa. Wajah kurus Riyan terlihat jelas di mata Anna.
Melan memukul pipinya menyadarkan dirinya. Menatap dua manusia yang sedang bercengkerama di depannya. Kak Anna mulai berhalusinasi seperti dirinya, mereka bahkan bisa saling bicara berbeda dengan dirinya yang hanya bisa saling menatap dalam diam.
"Begini sambutan seharusnya yang aku dapatkan." Anna menatap Riyan, bergantian menatap Melan yang masih kebingungan.
"Kau bisa bicara?" Melan memukul pelan pipinya sendiri sekali lagi. Terasa gesekan kulitnya yang menandakan dirinya sedang dalam kesadaran penuh.
"Bukan bayangan? Kau sungguhan?" Riyan berjalan perlahan, mendekat. Riyan memeluk Melan, menyadarkan Melan dari ketidak percayaannya.
Riyan mengecup kening Melan dengan lembut. Wanita yang selama ini mengisi banyak cinta di hatinya. Yang memenuhi ruang kosong dalam jiwanya menjadi penuh.
__ADS_1
"Kenapa kau berfikir aku bayangan? Aku sering muncul di hadapan mu?" Melan menoel pipi Riyan, bukan hayalan. Semua yang ada di depan matanya nyata.
"Mba....kamu juga lihat?" Manajer Melan mengangguk. Dia tersenyum merasa Melan begitu menggemaskan.
"Aku sudah bicara bahkan dengan Mas Riyan tadi." Melan lega. Semua bukan hanya bayangan seperti yang selama ini muncul di depan matanya.
Mengusak matanya yang terasa panas dengan kasar. Melan menangis, sedih bercampur bahagia laki-laki yang sangat di rindukannya ada di sisinya. Mulutnya terkunci rapat mencoba menyusun dan merangkai kata mengatakan bagaimana perasanya selama ini.
"Kau baik-baik saja?" Riyan membelai lembut pipi Melani. "Kenapa lama sekali datangnya?"
Riyan mengangguk, melihat kesedihan Melan yang mendalam. Ada sesal yang menyeruak merutuki kebodohannya yang menghindar begitu lama. Mencari tenang yang justru membuat dirinya semakin lemah dan hilang arah.
"Sorry sayang. Sepertinya aku tidak bisa melepaskan cinta ku seperti yang kau minta. Ijinkan aku memilikimu Mel, ku mohon." Melan memeluk Riyan erat. Mau dirinya juga sama, bersama saja. Saling melengkapi dengan cinta kasih.
"Aku juga mencoba melepaskan, tapi kau malah semakin sering datang. Aku jadi tidak bisa Yan. Aku rindu." Keduanya melepas rindu yang sungguh begitu menyakitkan.
Mencoba menjauh agar rasa nya hilang. Tapi tidak berhasil, cinta membawa mereka pada kesakitan. Kerinduan menyiksa sampai berubah jadi bayangan yang muncul begitu nyata.
***
Ayuna sedang duduk menikmati susu hangat yang Malik buatkan, ada beberapa potong biskuit menemani susu hangt nya.
"Mommy....." Teriak Ranu begitu keras membuat Ayu tersedak.
Uhukkkkk....uhukkkkk....uhukkkkk
"Pelan-pelan Mom." Malik melorotke arah Ranu yang baru saja masuk. Terkejut sekali melihat Mommy nya batuk-batuk.
"Sorry.....Abang mengejutkan Mommy yah?" Mata Ayuna sedikit berair. Hidungnya merah.
"Mommy sedang minum susu dan Abang masuk rumah bukanya salam malah teriak begitu kencang." Tegur Malik tidak suka Putra nya masuk rumah dengan tidak sopan.
"Abang lupa, sungguh Dad. Sorry Mommy." Ayu mencium tangan Putra nya yang masih begitu merasa menyesal.
__ADS_1
"Mommy yang tidak hati-hati sampai tersedak. Abang kenapa tumben sekali teriak-teriak sayang?" Pasti ada yang begitu menggembirakan.
"Abang hanya sedang senang. Tidak ada hal lain." Ranu mengurungkan niatnya bercerita tentang beasiswa yang dirinya kejar. Diterima tentu saja, tapi melihat Mommy nya, bibir Ranu bahkan kelu.