
Ranu terbangun dengan wajah bercucuran keringat. Nafasnya tersengal sampai Anna tergopoh-gopoh membawakan air putih supaya Ranu bisa cepat sadar dari mimpi buruk nya. Kasihan sekali sampai mimpinya saja membuatnya tidak bisa istirahat dengan tenang.
Anna merangkuh nya dalam pelukkan, memberikan sentuhan sayangnya pada Ranu yang terlihat jelas ketakutan.
"Ada Mamah Nak, tenang yah. Jangan takut." Anna mencoba memberikan kehangatan. Sentuhan lembutnya berhasil menyadarkan Ranu.
Ranu terisak, suaranya sakit sekali. Anna hanya membelai lembut tanpa bisa berkata apa-apa. Pasti beban nya berat, dia dipaksa menerima kenyataan yang sebenarnya bahagia untuk banyak orang.
"Aku sedih Mommy melepaskan tanganku." Lirihnya setelah mulai bisa menguasai emosinya. "Dia memilih Baby di perutnya Mah." Suaranya bergetar.
"Mana mungkin sayang. Tenang yah, cuma mimpi Nak." Anna menggenggam erat tangan Ranu. “Seerat ini genggaman Mommy, mana bisa lepas.” Anna mencoba tersenyum dengan penuh kasih. "Kamu nafasnya Mommy. Mana bisa Mommy bernafas tanpa Abang, kekuatannya."
"Abang tidak akan bisa tanpa Mom." Terisak sampai sesenggukan.
Anna membiarkan Ranu meluapkan semua emosinya. Dadanya pasti sesak, semoga setelah ini sedih nya hilang. Dia harus bahagia, dia akan jadi Kakak laki-laki hebat yang akan menjadi pelindung keluarganya termasuk Anna.
Setelah cukup tenang Ranu meraih ponsel nya. Membuka jaringan internet yang dia matikan dengan sengaja. Mimpinya menyadarkan dirinya untuk menurunkan egonya, pasti Mommy nya juga dirundung kesedihan.
Abang......
Ehmmm.....Jangan lupa makan ya Nak.
Mommy tunggu yah, adik bayi di perut Mommy juga tunggu Abang pulang.
Mommy tadi makan dengan ayam goreng kesukaan Abang. Abang juga makan yah...
Beberapa pesan manis yang masuk di ponselnya yang baru saja dia aktifkan. Mommy nya selalu ada dan tidak pernah berubah, dirinya yang dengan egois menjauh padahal Mommy butuh uluran tangannya.
Jahat sekali, bisa-bisanya menyakiti wanita paling berharga yang dirinya miliki. Selembut ini Mommy nya bicara, bahkan tidak ada marah pada Putra nya yang menghilang. Dia percaya penuh Putra nya akan kembali dalam keadaan baik.
"Mah...." Anna segera duduk mendekat di sisi Ranu.
"Abang masih sakit? Apa perutnya sudah enakan?" Ranu mengangguk.
Sungguh langkah bodohnya menyakiti banyak orang. Sungguh dirinya harus segera waras, para orang tua sebaik ini menjaga dirinya.
"Sorry Mah.....Abang menyesal." Senyum di sudut bibir Anna membuat Ranu memeluknya.
"Apa yang Abang bicarakan, Abang tidak salah, Abang tidak boleh ragu dengan perasaan Abang.” Anna tidak sedikitpun menyalahkan tindakan Ranu.
__ADS_1
“Abang sungguh ingin memperbaiki kesalahan Abang. Sungguh Mah.” Matanya tulus sekali, air matanya di usap dengan lembut oleh kedua tangan Anna.
“Jangan ragu dengan langkah Abang. Tapi jangan sakit Nak, Mamah tidak kuat. Abang harus kuat sayang."
"Jangan menangis, cukup Mah. Abang sedih melihat kalian seperti ini." Anna mengangguk. "Tersenyum seperti tadi, Abang buruh senyuman manis kalian."
"Mamah tidak menangis, Abang sudah tidak demam sekarang. Abang sudah sehat." Anna tidak mau tenggelam dalam kesedihan.
Ya Tuhan ....apa yang terjadi. Ranu menengok sekeliling. Ada baskom kecil penuh air, handuk kecil. Alat pengukur suhu badan. Obat-obat an yang mungkin milik dirinya yang berjejer di atas meja.
Wanita cantik yang duduk di hadapannya pasti kelelahan merawatnya.
Ranu menarik Anna kembali kepelukannya. "Thanks Mah, merawat Abang sebaik ini dan sesabar ini Mah."
"Kau kan Putra ku, nanti Mamah tua Abang yang rawat." Ucap Anna membuat Ranu tersenyum.
"Tentu saja, aku akan jaga kalian menua dengan Bahagia." Ucapnya penuh penekanan.
"Abang......" Suara Mahes yang baru saja masuk mengejutkan. " Cepat ke rumah sakit. Mommy di rumah sakit. Kita harus ada di sisi Mommy Bang, seperti yang selalu Mommy lakukan." Mahes bergegas menyambar jaket Ranu yang tergantung.
Ranu menangis, lagi-lagi wanita kesayangannya sakit karena ulahnya.
Mahes menggandeng dengan lembut tangan Adiknya yang gemetar duduk di sofa agar sedikit lebih baik untuk bicara, mengangkat dagu nya, menatap mata adik nya dengan penuh kasih sayang. Mahes menggeleng meminta Ranu menyudahi kesedihannya. Air matanya berharga, dirinya tidak bersalah atas apapun yang terjadi.
Ranu masih mematung di tempatnya berdiri.
"Yakin akan ke tempat Mommy tapi Adek masih belum bisa move dari perasaan yang tidak baik itu!" Ranu menggeleng. "Good....Adek jangan lagi lihatkan sedih seperti kemarin. Mau apapun yang terjadi, Baby di perut Mommy tidak pantas dapat marah dari siapapun." Anna tersenyum mendengar Mahes merayu Ranu dengan gentle.
"Mommy pasti matanya mematikan, Abang tidak kuat. Salah Abang fatal sekali." Ranu terduduk lemas.
"Mommy kalian orang yang sangat baik, lembut sekali hatinya. Dengar suara Abang saja, Mommy pasti langsung luluh. Tidak akan ingat lagi salah yang sudah-sudah." Anna menepuk punggung tangan Ranu yang mengepal.
"Mamah Anna betul, Mommy tidak punya sifat seperti yang Abang bayangkan. Tidak ada, Mommy ku orang paling baik yang aku kenal. Ayo..... Mommy tunggu kita." Mahes mengulurkan tangannya.
Berjalan dengan gagah berani menuntun Ranu seperti dulu saat kanak-kanak.
Anna senyum-senyum melihat mereka tumbuh sehebat ini.
Sesampainya di rumah sakit, Anna yang menggandeng kedua Putra nya segera menuju ruangan khusus yang Malik miliki hanya untuk keluarganya di rumah sakit miliknya. Memastikan Putra-Putra nya berjalan dengan aman di sisinya.
__ADS_1
Sesekali Anna melirik ke arah keduanya bergantian. Bahagia dirinya seolah benar-benar nyata mereka adalah anak-anaknya.
Adam sedang berdiri di depan ruangan berbicara dengan dokter kandungan yang menangani Ayu. Senyumnya merekah melihat mereka berjalan ke arahnya dengan raut wajah penuh bahagia, meski Ranu terlihat masih ada keraguan.
"Kalian datang." Sapa Adam memeluk ketiganya bergantian. Adam mencium pipi Ranu sebagai bentuk apresiasi atas keberanianya melangkah ke rumah sakit. "Mau dengar detak jantung Baby tidak?" Tawar Adam ragu-ragu.
"Apa bisa?" Tanya Mahes antusias, Ranu masih menunduk. Dirinya malu, takut. Dan entah perasaan apalagi yang bisa dirinya gambarkan tentang suasana hatinya saat ini.
"Bisa, suaranya akan kalian ingat dan membayangi kalian." Mahes mengangguk. Matanya berbinar penuh rasa penasaran. Adam mengedipkan matanya melihat Ranu masih bungkam, meminta Mahes peka dan merayu adiknya.
"Adek juga mau pasti." Mahes menatap bola mata Ranu menunggu jawaban.
Ranu sedikit berpikir lalu mengangguk. Dirinya tidak bisa diam begitu lama, sakitnya melebihi nyeri di punggungnya yang mendapat jahitan berlapis-lapis.
"Ayo, kita dengarkan sama-sama." Mereka masuk memenuhi ruangan. Ayu yang melihat Putra nya tersenyum lega. Sungguh wajah mereka kekuatan nyata yang Ayu miliki.
"Hay.....kalian ke sini sayang." Mereka saling memeluk hangat. Ayu menciumi puncak kepala Putra kesayangannya. "Abang rambutnya bau, nanti Mommy keramasin ya Bang." Ranu enggan melepas pelukkan hangat Mommy nya.
Bukan omelan yang dirinya dengar, Mommy nya bersikap seolah dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Sabar sekali, dia harus menahan sakit dan amarahnya. Ranu semakin merasa menyesal dan merutuki kebodohannya.
"I love U Mom. Sor..."
"Mommy Love Abang lebih besar, melebihi besarnya dunia dan alam semesta." Senyumnya hangat sekali. "Jangan ingat lagi yah, Mommy butuh tangan kalian semua, pelukkan kalian semua." Pinta nya dengan mata berkaca-kaca.
"Yes Mom, Abang sungguh menyesal." Ayu mengangguk. Malik, Adam, Anna dan Mahes hanya ikut haru mendengar penyesalan Ranu.
Dokter memulai pemeriksaan. Memastikan keadaan kandungan Ayu yang sempat flek karena sang Ibu stress. Beruntung Baby nya sangat kuat dan bertahan dengan aman di rahim hangat Ibunya.
Ranu dan Mahes menggenggam erat tangan Anna saat menemani Ayu menjalani pemeriksaan.
"Kakak dan Abang tidak lahir dari Rahim Mamah, tapi dekat jantung kita ada di sini." Menunjuk dada Anna, wanita baik hati yang Tuhan pilih sebagai pelindung mereka.
"Abang sayang Mamah." Timpal Ranu yang juga tahu bagaimana Anna melewati ujian berat nya.
“Ihhhh.....kalian kenapa sih. Tumben sekali semanis ini. Takut yah kalau Mamah Anna akan sedih?”
“Siapa yang berani buat wanita kesayangan ku sedih, bawa kesini. Akan aku beri pelajaran.” Anna tersipu malu. Mereka sangat bisa di andalkan menghibur kegundahannya.
“Segera datang ke rumah susun Cempaka. Kita selesaikan kerugian yang sudah kalian lakukan pada anak buah ku."
__ADS_1
Malik membaca dengan seksama pesan teks yang dirinya terima. Membuang tarikan nafasnya yang cukup berat.