
Ayu mencoba tenang dan berdamai dengan isi kepalanya yang saat ini berantakan, terlalu banyak yang dirinya pikirkan sampai fokusnya kemana-mana tidak beraturan.
Paling besar menyita isi kepalanya adalah keadaan Riyan, beberapa hari ini Ayuna tidak melihat batang hidung Adiknya. Dia begitu sibuk dengan pekerjaan nya, alasannya karena Mas Jofan belum pulang.
Banyak sekali alasan saat Mbak nya meminta Riyan mampir, ingin memastikan keadaan Adiknya dengan mata kepalanya sendiri.
Ayu tidak berani mengadu pada Malik, akan berakhir Riyan semakin menjuahi dirinya karena merasa bersalah. Mungkin memang butuh ruang untuk sendiri, merajut segala kekusutan pikiranya agar tidak berlarut dan tenggelam.
Tangan Ayu yang semula ragu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kabar. Meski mengetiknya butuh waktu lama sampai pesan benar-benar terkirim. Koreksi berulang kali takut kata-kata nya tidak cocok dan membuat Adiknya tidak nyaman.
"Adek...Mbak sudah siapkan makanan yah. Boleh tidak nanti mampir ke kantor?" Tanya Ayu yang ragu sekali mengucapkan inginya. Hanya mau memastikan Riyan baik-baik saja.
"Ok." Singkat dan padat, Ayuna mengulum senyum nya. Harus semangat demi adik nya. Memang begitu laki-laki kebanyakan.
Untaian kata yang wanita rangkai sebegitu apik hanya di balas satu kata yang mewakili semuanya. Tidak salah, hanya saja wanita lebih suka di bumbu i pujian yang bisa menaikan semangat jiwanya.
Jangan harap, adiknya lebih dingin saat hatinya sedang tidak nyaman. Tidak banyak bicara dan selalu butuh waktu lama untuk kembali. Begitu Ayuna mengenal adik nya yang memang tidak suka membagi lukanya.
Ide di kepalanya muncul, Ayu mulai mengobrak abrik dapur mencari bahan-bahan untuk membuat bolu kesukaan adik nya.
Wajahnya tersenyum saat melihat bahan-bahan makanan yang di perlukanya sudah komplit. Tidak perlu lagi belanja tambahan karena semua sudah lengkap tersedia.
Ayuna mengaduk adonan kue penuh semangat, menaburkan beberapa coklat di dalam adonan nya agar sedikit spesial bolu yang dirinya buat.
Malik sedang sibuk membalas email pekerjaannya yang menumpuk, tidak lupa tetap menjaga dan mengawasi Ayuna yang tidak mau dan tidak bisa diam meski dirinya sudah melarang. Akan melihat wajah sedihnya saat Malik tidak mengijinkannya bergerak dengan bebas.
Tring ...Tring.....Tring.....
Malik meraih ponselnya yang terus bergetar
Aldo : Bos
Aldo : Bos
Aldo : Bos tolong balas.
Aldo : Bos gawat.
Malik : Berisik sekali Al. Ada apa?
Aldo : Aleta kabur Bos. Aku mencari kemana-mana tidak ketemu. Tolong aku Bos!!!!!!!
Malik yang terkejut langsung berdiri dari duduknya. Menghubungkan ponselnya dengan pelaku pembuat onar.
"Kok bisa Al! Kamu apakan sampai kabur istrimu Al!" Suara Malik yang meninggi menarik perhatian Ayuna. "Hubungi Ed, suruh dia lacak keberadaan Aleta." Suara terakhir terdengar seperti Ayah mertua mengomel pada menantunya yang teledor.
Malik menutup panggilan telponnya, setelahnya mencoba menghubungi ponsel Aleta yang tidak aktif.
"Daddy ada apa?" Malik hanya tersenyum, masih sibuk mencoba mencari keberadaan Aleta.
Duduk di sisi Istrinya yang sedang menunggu jawaban. "Aldo bilang Aleta tidak ketemu di cari kemana-mana. Aku coba bantu Aldo cari Aleta ya Mom." Kembali fokus pada ponselnya.
Kasihan Aldo, dia paling tidak bisa jika Aleta nya kenapa-kenapa, sama seperti Bos nya. Ayu merasa Aleta gadis yang baik dan tidak mungkin kabur apalagi meninggalkan suaminya.
__ADS_1
"Coba tanya pada Kak Aldo Kak. Aleta ingin apa? Siapa tau dia sedang mencari apa yang dia maui Kak." Malik menurut, mencoba menghubungi Aldo kembali. Tidak di angkat.
Malik mengirim pesan.
Malik : Aleta terakhir ingin apa? Istriku bilang mungkin dia sedang mencari.
Aldo : Dia ingin makan mie ayam jamur favoritnya.
Aldo lari kencang menuruni beberapa anak tangga yang ada di depannya. Warung mie ayam sedikit jauh jadi Aldo memutuskan menggunakan sepeda motornya.
Aldo begitu lega, Aleta sedang tertawa dengan ibu penjual mie ayam yang memang sangat ramah.
"Nonna.....terimakasih. Benar dia sedang makan mie ayam karena tidak sabar menunggu ku yang masih sibuk kerja." Sepanjang perjalanan Aldo memang tidak mematikan ponselnya, Malik juga membiarkannya menyala agar tahu keadaan Aldo.
Suami suka tidak waras jika menyangkut keselamatan istrinya. Malik juga sering melakukannya.
"Sama-sama Kak Al. Semangat dan salam untuk Aleta." Senang bisa membantu Aldo.
"Lain kali jangan biarkan Aleta keluar sendirian, ku hajar kau Al." Malik menutup panggilannya.
"Jangan marah-marah, kasihan Kak Aldo pasti panik." Ayu mencoba membela Aldo yang tidak bersalah.
"Jangan berpihak pada orang yang salah ya Mom. Dia teledor sekali membiarkan Aleta yang hamil besar keluyuran sendirian." Ayu menatap tajam suaminya.
"Itu karena pekerjaan yang Daddy berikan." Malik tersenyum, benar tadi Aldo menyebut kan pekerjanya, sehingga tidak memperhatikan Aleta yang menghilang.
"Haruskah Aldo ku suruh cuti? Aleta juga sebentar lagi melahirkan, tapi Sandra juga sepertinya sebentar lagi akan keluar dari pekerjanya. Jofan pasti melarangnya bekerja." Dirinya kerepotan tanpa mereka.
"Mas ku tidak begitu, dia profesional dan selalu mengikuti kemauan Sandra." Bela Ayu pada Mas nya. Mulutnya sampai manyun-manyun menggemaskan.
Ponselnya lagi-lagi berdering.
Malik menerima telpon dari kolega bisnisnya. Berjalan sedikit menjauh agar tidak mengganggu Ayuna yang sedang menikmati filmnya. Ayu juga tidak merasa terganggu karena suaminya memang sangat sibuk.
Rasa bosan melanda, Ayu menekan tombol paus pada TV nya dan beranjak turun perlahan dari duduknya.
Ayu berjalan ke kamar anak-anaknya yang sedang belajar. Membuka sedikit pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat. Pemandangan yang dilihatnya begitu manis.
Ihhhhhh.....Kakak kenapa manis sekali lihat Hanum nya. Mommy cemburu Nak. Kenapa kalian cepat sekali besar, senyum indahnya terbagi-bagi tidak hanya untuk Mommy.
Bukan marah, hanya kecemburuan seorang Ibu pada Putra sulung nya yang sudah mulai remaja. Hatinya mulai bisa menyukai gadis yang berhasil merebut fokusnya.
Ayu melangkah meninggalkan cemburu yang begitu besar, Putra nya tersenyum begitu manis pada gadis pujaan hatinya. Ayuna merutuki air mata yang mengalir tidak pada tempatnya.
Ranu yang baru selesai olahraga melihat Mommy nya berjalan sambil mengusap air matanya. Wajahnya sedih sekali.
Ranu tidak ingin Mommy nya tahu dirinya melihat. Memutuskan berjalan ke depan mencari Daddy yang seharusnya menjaga Mommy.
"Daddy... kenapa tinggalkan Mommy sendirian?" Malik merasa Putra nya terlihat aneh. Menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.
"Daddy terima telpon penting dari client. Kenapa Bang?" Tanya Malik penasaran.
__ADS_1
Ranu menarik tangan Daddy nya meminta nya melihat dimana Mommy nya berada saat ini.
Wajahnya sangat sendi, Malik menatap Putra nya yang matanya begitu tajam menatap dirinya.
"Tadi Mommy ok Bang, Daddy hanya sebentar." Malik mencoba memberikan alasan. Ranu mencoba mencari ide, mood Mommy nya memang sedang suka berubah seenaknya.
"Ayo lakukan hal konyol, Mommy pasti akan tertawa melihatnya." Malik mengernyitkan dahinya penasaran dan sedikit ngeri.
"Lakukan apa Bang? Jangan membuat Daddy kehilangan harga diri ya Bang." Pinta nya sedikit menekan suaranya. Ranu suka melakukan hal aneh demi Mommy nya tertawa.
"Tidak apa untuk senyum Mommy ku." Ranu memetik beberapa tangkai bunga yang ada di bagian belakang apartemen nya. Ayuna memang menanam beberapa bunga sebagai teman sepi nya jika semua orang sedang tidak ada di rumah. Terawat dengan baik di belakang sana.
"Mommy...Mom..." Ayuna tersenyum melihat dua kesayanganya begitu menggemaskan.
"Senyum Dad." Ucap Ranu lirih tanpa membuka mulut. Malik mencoba tersenyum memaksakan bibirnya bergerak.
Brukkkk.....
Aawwww......
Ayuna yang semula tersenyum tiba-tiba lari terbirit-birit menuju dapur. Tubuhnya bahkan menabrak kursi yang ada di sisi kanannya. Malik dan Ranu yang terkejut ikut lagi ke arah dapur.
"Pelan-pelan Mommy!" Malik teriak merasa takut Ayuna nya terluka.
Istrinya berdiri di depan Oven yang masih menyala. Jelas sekali wajahnya panik karena lupa dengan kue nya.
"Yahhhhh.....aku lupa." Malik menarik tubuh istrinya mundur. Tidak mau tangannya yang ceroboh terluka.
"Daddy yang keluarkan, Mommy jangan sentuh apapun." Ayuna penasaran dengan bolu nya. Malik membuka Oven perlahan.
"Gosong!!!!!" Pergi begitu saja merasa kesal. Malik dan Ranu saling menatap. Tidak tega melihat Ayuna kecewa karena lupa mematikan oven dan mengangkat bolu buatannya.
Malik mencoba menyelamatkan bolu dengan membuang bagian atas bolu yang kecoklatan. Mencoba untuk mencicipi namun bolu memang sudah tidak layak konsumsi. Malik akhirnya menyerah.
"Hanya bolu Mom. Tidak masalah, jangan sedih begitu love." Mencoba meraih tangan Ayu yang sedang kesal pada dirinya sendiri.
"Aku buat bolu untuk adek, tapi malah gosong. Itu bolu kesukannya Kak." Kini istrinya menangis, bukan bolu yang membuatnya sedih. Tapi keadaan Adiknya yang bahkan sampai detik ini menghindar.
"Sudah Mom, jangan seperti ini. kasihan Mommy menangis terus begini. Andai Daddy bisa, Daddy akan minta Adek melupakan lukanya. Tapi Daddy tidak bisa Mom. Kita kasih ruang untuk Adek sebentar ya Mom." Ayu mengangguk, bukan salah suaminya.
Ayu hanya merasa dirinya tidak berdaya, tidak bisa menjadi tempat nyaman untuk adik nya menyandarkan dirinya. Dia selalu memilih menepi sejenak, tidak ingin membuat orang lain ikut terlibat denga rasanya yang berantakan.
"Sampai kapan Yan? Mau sampaikan kapan menyiksa Mbak Mu Dek? Dia sampai menangisi bolu gosong yang seharusnya saat ini ada di atas meja mu. Kalau tidak bisa kembali seutuhnya, jangan paksakan diri lebih lama. Kaka tahu kamu juga tersiksa seperti kesayanganku yang sering menyeka air matanya diam-diam saat memikirkan mu Yan."
Riyan menatap foto besar wanita kesayangan yang ada di ruangannya. Kesal karena tidak bisa mendalikan ego nya yang menyakiti hatinya.
__ADS_1
Pesan Kak Malik menusuk tajam sampai rasanya sesak di dada, bayangan wajah semestanya yang penuh rindu dan sedih memenuhi isi kepalanya.