Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Terjebak Kesedihan


__ADS_3

"Ayo makan Yan." Yang di tawari makan sedang sibuk kasmaran. Ada beberapa buah yang bisa mereka makan untuk mengganjal perut.


Wajahnya terlihat begitu segar sejak bangun tadi. "Bisa tidak jangan terus melihatku begitu Yan, aku deg degan loh." Melan memunggungi Riyan. Dia benar-benar sedang sangat menyebalkan.



Senyumnya semakin lebar melihat salah tingkah wanita cantik yang berhasil dirinya dapatkan cintanya. Riyan mencoba meraih tangan Melan yang terus di tepis dengan cukup keras. Melan sedang menghindar.


"Aku takut kamu menghilang Mel, bagaimana kalau aku lengah dan kamu hilang begitu saja." Melan berbalik, melempar anggur yang ada di genggaman tangannya merasa kesal.


"Kau sudah gila! Sudah tidak waras seperti pemain-pemain drama yang sudah ada naskahnya. Jangan aneh-aneh Riyan, aku tidak punya kemampuan menghilang." Oceh Melan yang merasa kesal.


"Aku bisa lebih manis dari mereka sayang. Mendekatlah." Pinta Riyan dengan suara yang membuat Melan bergidik.


"Pergi Yan, sana turun makan. Yang lain pasti sudah menunggu." Riyan malah mendekat, menempel membuat Melan risih.


"Sekali lagi sayang, aku masih ingin." Bisik Riyan membuat mata Melani terbelalak.


"Jangan macam-macam ya Yan. Sebentar lagi anak-anak pasti ke sini, jangan sampai mereka melihat pemandangan yang tidak senonoh." Riyan cengengesan. Dia semakin gemas melihat Melan salah tingkah.


"Sudah aku kunci, jangan buka pintu untuk siapa pun sayang." Melan mendekat, mencubit paha Riyan cukup keras.


Aaaaawwwwww.....


Riyan mengusap pahanya yang terasa berdenyut. "Sakit sayang." Melan menjulurkan lidahnya. "Kau ingin aku membalasnya." Melan membola.


"Berani! Coba...ingin tahu sekuat apa cubitan kamu Yan." Riyan perlahan menarik tangan Melan, mendekatkan pada dirinya membuat Melan sedikit takut. "Jangan kuat-kuat Yan." Riyan menggeleng.


"Paha ku pasti merah ayang, harus sepadan dengan yang kau lakukan." Ledek Riyan melihat wajah Melan khawatir.


"Jangan Yan.... pelan-pelan..... sakit...."


Tok..... tokkkk.....tokkkk ...


Brutal sekali suara ketukan pintu yang terdengar.


"Aunt....are you ok?! Buka Om..... Aunt buka....." Melan langsung menarik tangannya.


"Iya sayang.....tunggu." Riyan tidak bisa berbuat apa-apa.


Ranu menarik Melan ke pelukannya. Memeriksa tubuh aunty nya yang beberapa waktu lalu dirinya dengar berteriak kesaktian.


"Aunty ok?" Melan mengangguk. "Kenapa teriak-teriak kesakitan? Om Riyan jahati Aunty?" Melan menggeleng. Malu sekali Melan saat ini.

__ADS_1


"Aunty yang sudah sakiti om Mu Bang." Melan merona merasa malu di dengar oleh Ranu. Semoga anak kecilnya ini tidak berpikir yang tidak-tidak.


"Jangan coba-coba membela orang yang bersalah karena merasa harus berkorban. Katakan yang sebenarnya!" Memaksa yang memang tidak terjadi.


"Aunty lapar, ayo kita sarapan. Abang dan Kakak masak apa pagi ini?" Mata Ranu menatap penuh curiga pada Om nya.



Ranu terpaksa mengikuti Melan yang menariknya keluar dari sana secara paksa. Menyisakan Riyan yang tertawa sendiri merasa geli dengan kelakuan dirinya dan Melani membuat Ranu salah paham.


Rey, Jofan, Malik dan Ayuna sudah ada di ruang makan. Mereka sedang sarapan bersama. Makanan sederhana hasil olah an Mamah Anna dibantu Rey dan Ranu.


"Kakak baru lihat Melani sejak kemarin, tidak bosan kah berada di dalam kamar?" Malik membuat Melan tersenyum malu-malu. "Sampai di jemput anak ku baru keluar Mel." Melan tidak mau menanggapi, dia langsung duduk di dekat Ayuna.


"Maklum Al, pengantin baru. Maunya berdua an terus." Ledek Rey yang juga merasa geli.


"Ku do'a kan agar Melan cepat hamil dan kau merasakan derita ku Dek." Timpal Jofan tersenyum lucu pada keduanya.


"Pasti gara-gara Om Riyan Dad. Tadi saja aku dengar Aunty teriak-teriak." Ucap Ranu dengan lantang.


Uhukkkk.....uhuukkkkk ..uuhukkk....


"Pelan-pelan Mom." Malik juga tetkejut. Ayu meneguk air yang di sodorkan Jofan padanya. Malik menepuk punggung Ayu pelan.



"Abang bukan tidak tahu yah, aunty bukan teriak yang seperti itu Pah. Dia sepeti di sakiti Om Riyan." Ranu menjawab dengan gamblang setelah dirinya paham.


"Abang ...maksud...." Ucap Malik terpotong.


"Nak....makan yah, ayo. Aunty juga pasti lapar sayang." Ranu mendekat pada Mommy nya. Menggeleng meminta semua orang tidak membahas yang tidak penting dan tidak perlu.


"Mommy mau Abang suapi?" Ayu mengangguk. Anak-anaknya memang sangat manis.


Suasana ruang makan cukup tenang. Ada Riyan juga yang saat ini sudah bergabung, senyum-senyum melihat wajah Ranu yang terus menatapnya penuh kesal. Matanya seolah menyala ingin menerkamnya.


"Abang, jangan begitu Nak." Ayu mencoba menegur Putra nya, takut Ranu bersikap tidak sopan pada Om nya. "Adik Mommy orang yang paling lembut, tidak mungkin Aunty nya di sakiti sayang."


"Harus di beri tahu tidak adik nya Mom, jangan sakiti Aunty ku. Pelan-pelan saja supaya Aunty nya nyaman." Ayu yang semula biasa saja jadi ingin tertawa.


Kenapa dia dewasa sekali, bahkan Kakak nya tidak pernah bicara hal-hal seperti ini dengan gamblang.


"Jangan ikut campur, ini urusan mereka." Ranu menjatuhkan kepalanya di pundak Ayuna. Tangan kirinya masih menggenggam tangan Melan yang duduk di sisi nya.

__ADS_1


"Tidak ada yang mau bergerak dari meja makan? Daddy sudah siapkan cemilan kesukaan kalian semua." Malik berdiri di belakang Ayuna yang masih di peluk erat oleh Ranu.


"Daddy bisa kah Abang, peluk Mommy dulu, sebentar lagi Dad." Ayu mendongak, suaminya hanya mengangguk mengiyakan.


"Daddy tunggu di ruang keluarga." Suaminya pengertian sekali, dia sibuk menggendong Baby tapi masih sempat menyiapkan cemilan untuk semua orang.



Ranu berdiri setelah puas memeluk Mommy nya, mengandeng Mommy di kiri dan Aunty Melan di kakan nya. Berjalan meninggalkan Riyan yang merasa sedang di marahi dalam diam nya Ranu.


Dia benar-benar hanya menatapnya tajam dan tidak bicara sepatah katapun. Melan punya Ranu selain dirinya yang akan selalu menjaga dengan sepenuh hati.


"Lebih lembut Yan, ada yang marah besar dengar Aunty nya teriak kesakitan." Jofan bicara sambil senyum-senyum.


"Dia yang mencubit ku, Abang saja yang datangnya kurang pas." Riyan membuat yang lain senyum-senyum.


***



Warna langit berubah gelap, cahaya matahari kini sudah di gantikan terang bulan yang begitu cantik dan menawan. Memanjakan mata yang begitu bahagia menyaksikan keindahan malam dengan lukisan alamnya.


Mahesa keluar dari dalam rumah mendekat pada Mommy nya yang sedang duduk bersama yang lain menikmati daging barbeque. Wajah sayu khas bangun tidur tidak membuat ketampanan Putra nya berkurang. Dia tetap menawan dan tampan rupawan.



"Kenapa bangun sayang? Cari Mommy yah?" Mahes mengangguk. Memeluk Mommy nya cukup erat. "Mommy tidak bisa tidur sayang, maaf yah Mommy tidak bilang Kakak tadi." Mahes hanya membalas senyum.


"Lapar Mom" Ucapnya yang suaranya masih serak.


"Lepas dulu Mommy nya nak, Mommy ambilkan makanan sebentar." Mahes tidak beranjak, nyaman sekali bersandar di pundak wanita kesayanganya.


"Makan Nak, Mamih sudah siapkan." Sarah duduk di samping Mahes. Membawa seiring penuh beraneka ragam makanan yang begitu lezat.


Mahes yang semula bersandar menegakkan duduknya, tersenyum begitu manis pada Mamih Sarah yang selalu memperhatikannya diam-diam. "Mau di suapi Mih." Sarah sudah tahu tanpa Putra nya minta.


Sudah lama tidak Mamih suapi ya Nak....?" Mungkin dulu sekali saat dirinya masih sangat kecil, Mahes sudah lupa.


"Tangan Mamih tetap sama, aku suka Mih." Sarah tersenyum mendengar pujian Putra nya. "Kalian yang akan selalu membuat Kakak kuat di sana. Jangan sakit dan jangan kesulitan, selalu kabari Kakak tentang kalian ya Mih, Mom." Ucap Mahes yang sudah mulai merasakan sesak mengingat keberangkatan nya.


"Kita hanya di pisahkan jarak Kak, Kakak tetap di hati kita sayang." Sarah lebih tegar dari Ayu, Mommy nya sudah menguap sudut matanya berkali-kali.


"Kenapa tidak menatap ku Mom?" Ayu malah bersandar di pundak Mahes, menghindari tatapan mata yang melemahkan dirinya. "Look at me Mom. Tidak apa menangis, tidak akan membuat Mommy jelek, Mommy tetap cantik." Ayu memukul punggung Mahes pelan. "Terimakasih sayang. Jangan banyak menangis selama Kakak tidak ada ya Mom." Ayu mengangguk, tidak bisa bersuara. Tenggorokannya sudah sakit menahan tangis.

__ADS_1


__ADS_2