
Jofan sedang memakai dasinya di depan meja rias yang ada di kamar miliknya. Matanya menangkap senyum nakal di bilah bibir wanita cantik yang masih mengenakan baju tidurnya duduk di sofa dengan malas.
Jofan mencoba tidak mau mencari tahu, akan dirinya juga yang menanggung akibatya jika permintannya aneh dan menyebalkan seperti biasa. Mencoba berpura-pura tidak tahu istrinya tengah mencari perhatian dirinya.
“Hmmmm....hmmmmmm...hmmmmm....” Panjang sekali suara istrinya yang ingin mulai berkata-kata. Jofan memicingkan matanya saat tiba-tiba Sandra bergelayut manja pada dirinya yang masih repot dengan dasinya.
“Fan...Hmmmmm....sepertinya aku ngidam Fan.” Mencoba tidak penasaran. “Ihhhh....kok gitu mukanya, gak suka yah?” Memanyunkan bibirnya agar Jofan merasa iba.
Jofan mendesah, tidak tega juga dirinya pura-pura cuek. “Kenapa sayang? Ngidam apa pagi-pagi begini? Aku ada meeting loh.” Sandra senyum-senyum membuat Jofan ngeri. “Jangan aneh-aneh San.” Sandra menggeleng.
“Gak aneh kok Fan, sebentar yah.” Lari-lari membuat Jofan ngilu.
“Larinya yah San, ku ikat kaki mu nanti.” Teriak Jofan cukup kencang. Sandra hanya terkekeh dan tetap berlalu keluar dari dalam kamar.
Semoga ngidam nya tidak aneh-aneh Tuhan.
Masuk dengan kotak besar di tangannya. “Apa itu?” Tanya Jofan mulai penasaran dengan tujuan istrinya.
“Tara......” Tas kodok hijau yang membuat Jofan tersenyum lega. Ternyata dia hanya ngidam ingin punya tas lucu.
“Bagus San, mau di pakai kemana?” Dengan santainya tanpa menaruh curiga.
“Syukurlah kalau suka.” Mengelus dadanya sendiri. “Ke kantor Fan.” Jofan mulai aneh, istrinya tengah cuti. Menatap Sandra penuh tanda tanya. “Iya...pakai ya Fan.” Jofan menggeleng dengan kuat, tentu saja dirinya menolak. Bagaimana bisa dirinya yang tampan dan kharismatik memakai tas anak kecil yang lucu menggemaskan seperti itu.
“Jangan dong sayang, kan Mas nya sudah tampan menawan seperti ini loh sayang.” Sandra terlihat sedih. “Tas Mas kan masih bagus sayang.” Mencoba memberikan pengertian yang percuma saja.
"Cuma sehari loh." Rengeknya yang sudah mulai melankolis.
"Please jangan San, malu sayang." Mencoba meraih pundak Sandra tapi di tolak.
“Gak mau yah, yah Baby....kita gagal Nak, jangan sedih yah.” Sandra membelai perutnya yang masih rata. Wajah sedihnya terlihat begitu jelas.
“Sayang....tunggu...Sandra...” Panggilannya tidak di indahkan, yang punya nama tengah kesal permintaanya tidak di turuti. “sayang.....tunggu...” Menyusul Sandra yang turun dengan cepat. “Pelan-pelan jalannya sayang.” Tegur Jofan yang takut Sandra dan Baby nya terluka jika tidak hati-hati.
Sandra duduk di ruang keluarga, ada Riyan dan Hanum yang sedang duduk santai menikmati sarapan mereka sambil menikmati acara TV. Sandra pura-pura duduk dengan santai, wajahnya padahal tidak bisa berbohong jika saat ini dirinya tengah kesal dan sedih.
Riyan menetap Jofan yang terlihat sedang sangat menahan diri untuk tidak marah. Tersenyum gemas karena semenjak hamil Kakak Iparnya suka sekali membuat Mas nya yang mudah marah terpancing dan emosi dibuatnya.
“Sandra...sayang...bicara baik-baik bisa?” Hanum yang menunduk menengok pada Om nya yang lucu sekali menahan amarah. Sandra menggeleng.
“Jangan ajak aku bicara, nanti aku menangis Fan.” Menyandarkan kepalanya di sofa. “Sana pergi saja.” Bicara tanpa menatap Jofan yang tengah berdiri di depannya.
“Sini dulu sayang, bicara baik-baik supaya hilang kesalnya.” Sandra kembali menggeleng, kini matanya sudah berkaca-kaca. Sandra menahan tangan Hanum yang hendak berdiri agar Om nya bisa meraih Tante nya yang menyelip di sisinya sulit di jangkau. “Sayang sini, Baby mau apa katakan lagi biar paham aku.” Sandra masih tidak mau mendekati Jofan.
“Sana pergi saja, aku tidak mau bicara. Kamu jahat Fan.” Suaranya sudah sedikit bergetar. Riyan hanya menggeleng merasa gemas melihat keduanya begitu lucu.
__ADS_1
“Mana bisa aku pergi sedangkan istriku masih marah. Selesaikan dulu sini sayang.” Lembut sekali tidak seperti Jofan biasanya. “Sini sayang.” Hanum berhasil berdiri saat Sandra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ibu hamil satu ini mudah sekali menangis, hatinya benar-benar jadi sangat lembut dan mudah sekali sedih jika keinginanya tidak di penuhi. Jofan menarik dengan lembut tubuh Sandra, memeluknya dan memberikan belaian lembut di surainya yang tergerai indah.
Sandra benar-benar sesenggukan hanya karena ucapan spontan yang keluar dari mulut Jofan tidak sengaja, dirinya hanya reflek karena permintaan istrinya diluar nalar. Mana bisa dirinya memakai tas anak-anak seperti itu ke kantor.
Anna yang baru masuk ke rumah heran mendapati Jofan yang terlihat tengah menenagkan Sandra yang menangis di pelukannya. Riyan yang di tanya lewat sorot mata Anna hanya mengangkat bahunya, dirinya juga belum tahu masalah apa yang tengah mendera keduanya pagi-pagi buta.
Perlahan tangisnya mereda, semua sedang menunggu penjelasan. “Sudah bisa bicara belum sayang?” Sandra mengangguk. “Jadi maunya bagaimana sekarang? Masih mau Mas nya pakai tas itu ke kantor?” Tanya Jofan yang di angguki wajah sayu Sandra. “Kenapa ngidam nya aneh sekali sayang, tidak ada cara lain supaya Baby tidak marah?” Sandra menunduk, menggeleng karena dirinya ingin sekali melihat Jofan memakainya ke kantor.
“Kalian bicara in apa sih Fan? Pakai apa memang?” Jofan tersenyum kesal, dirinya merasa dipermainkan tapi tidak bisa menolak.
“Kalian jangan ada yang terarawa, kalau tertawa aku tidak mau pakai!!!!!!.” Sandra mencekal tangan Jofan. “Kenapa lagi sayang?”
“Aku mau ikut.” Baru saja Jofan berniat memakainya hanya sampai di mobil, bagaimana bisa melepasnya kalau Sandra nya ingin menempel. “Boleh? Tidak yah?” Jofan menarik tangan Sandra. Mengecupnya denga sayang, dirinya akan lakukan apapun demi melihat kesayangannya tidak lagi bersedih.
“Ayo ikut, mandi dulu. Kau bau.” Sandra senang meski Jofan mengejeknya. Tidak perduli lagi karena keinginnya dipenuhi.
Riyan yang menyetir tidak henti-hentinya senyum-senyum merasa lucu, wajah kesal Mas nya sudah menggambarkan isi hatinya pagi ini, berbeda dengan Sandra yang tampak sumringah penuh bahagia. Suaminya berhasil dirinya bujuk memakai tas lucu yang semalaman dirinya perhatikan sampai larut malam tanpa sepengetahuan suaminya, lucu sekali.
Semakin menggemaskan karena yang memakai laki-laki setampan dan sedingin Jofan.
“Jangan begitu Fan, nanti bahaya kalau Baby gak minta apa-apa. Kasihan kan Fan.” Kalau mintanya tidak aneh-aneh Jofan dengan senang hati menurutinya.
"Boleh sayang, asal jangan aneh-aneh begini." Kesal menatap tas yang seolah menertawakannya.
"Jadi kamu terpaksa Fan?" Jofan tidak jadi merajuk, sakit sekali melihat pagi tadi istrinya menangis sesenggukan.
Jofan menarik Sandra dalam pelukkanya, tidak mau lagi memperdebatkan masalah sepele yang bisa dengan mudah dirinya atasi.
Tidak lama mereka sudah memasuki gedung berlantai sepuluh yang berdiri kokoh.
“Pagi Pak.” Jofan tidak menggubris sapaan karyawannya yang berpapasan. Dirinya sedang menahan kesal karena semua terlihat menahan tawanya takut-takut. Berjalan saja dengan cepat agar segera sampai di ruangannya.
“Manis sekali ya Pak Jofan, pasti ngidamnya bu Sandra itu yang pagi tadi di bicarakan.” Ucap salah satu karyawan merasa terhibur.
“Suami ku mana mau. Yang ada aku di tempeleng. Heheheh....” Sahut yang lain, meski pelan telinga Jofan yang cukup peka bisa mendengarnya.
Banyak lagi suara-suara aneh yang membuat Jofan kesal tapi juga bangga. Ternyata ada yang memberikan pujian dengan tindakannya menuruti ngidam istrinya.
Mereka kenapa bisa tahu?
__ADS_1
Hari ini saya akan datang dengan tas kodok menuruti keinginan istri saya yang ngidam, kalian pura-pura tidak tahu saja jika berpapasan dengan ku. Kalau ada yang berani tertawa akan aku potong gaji kalian 50%. Jadi jangan coba-coba menertawakan saya.
Pesannya yang diteruskan dari sekertarisnya pada semua karyawan yang ada di naungan prusahaannya. Tidak mau di anggap lelucon, Jofan akhirnya membuat semua orang tau dirinya tengah menuruti ngidam sang istri.
***
“Kakak di mana Bang? Kok wajah Abang lesu begitu? Sakit kah sayang nya Mommy?” Ayu menempelkan tangannya di kening Ranu yang tengah memejamkan matanya di sofa.
“Abang mau bobo di sini ya Mom. Satu jam saya, Abang ingin tidur.” Ayu mengangguk. Membiarkan Putranya tiduran di sofa dengan nyaman.
Tumben sekali Putra nya pagi-pagi terlihat sangat lesu. Tapi badan nya tidak panas, dia seperti kelelahan saja. Ayu meminta Ranu meminum teh madu buatannya sebelum memintanya tidur di kasur agar lebih nyaman.
Kakinya melangkah keluar dari kamar setelah memastikan Putra nya tertidur dengan pulas di kamarnya. Menenami Baby yang juga tertidur dengan nyaman di box nya.
"Makan apa sayang?" Ayu mengecup puncak kepala Mahes yang duduk dengan wajah lesu di meja makan menikmati sarapannya. "Kalian kenapa sangat lesu pagi-pagi begini? Abang juga lesu sekali sampai tidur lagi. Ini Kakak juga sama." Tidak ada jawaban, Putranya mencoba tersenyum ditengah kelelahan yang menderanya.
"Makan Mom." Ayu membuka mulutnya saat makanan mendarat dengan apik dari tangan mulus Putra nya. "Mommy harus makan banyak Mom, harus sehat."
Ayu mengangguk, tentu saja benar yang dikatakan Putranya.
"Daddy mana Kak?" Mahes melirik sofa di ruang tamu. Ayu terseyum mendapati Malik tertidur begitu lelap di sana. Wajahnya kelelahan sekali.
"Daddy begadang semalaman." Mahes berbisik di telinga Mommy nya.
"Ini siapa yang siapkan sarapan?" Bukan masakan Mahes, Ayu hafal betul rasanyanya.
"Abang yang buat. Makanya dia sekarang istirahat karena tugasnya sudah selesai. Tinggal Kakak nanti cuci piring yang masih kotor di dapur." Senyum-senyum malu.
"Abang dan Kakak juga begadang yah?" Hanya tersenyum. "Kalian sengaja tidak bangunkan Mommy ya semalam?" Lagi-lagi Putranya hanya tersenyum. "Manis sekali kalian ini." Ayu mengecup pipi Putra nya.
"Mommy tidak boleh kelelahan, kita akan ada selalu jaga Baby." Ayu megangguk, tentu saja mereka semanis ini.
"Setelah ini Kakak bobo ya sayang, Mommy yang bereskan dapur. Tidak boleh menolak, masuk kamar Mommy dan istirahat." Tidak tega sekali melihat wajah kuyu anak-anaknya.
"No Mom, kita sudah bagi tugas, Mommy tidak boleh menyentuh pekerjaan apapun." Mahes menuju tempat cuci piring membawa bekas makannya.
"I love you Kakak sayang." Mahes menengok memberikan tatapan yang membuat jantung Mommy nya berdegub cukup kencang.
"I love you to Mommy. Kakak bereskan, setelah ini kita istirahat." Ayu menganguk menuruti maunya.
__ADS_1