Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mendadak Reuni


__ADS_3

Pesta pernikahan berjalan lancar dan hikmat. Semua tamu undangan menikmati setiap rangkaian acara yang sudah di susun dengan apik oleh wedding organizer yang sudah punya pengalaman puluhan tahun menangani pesta megah.


Indah sekali rangkaian acaranya, banyak wanita-wanita iri melihat bagaimana Jofan menyiapkan semuanya dengan begitu indah. Sandra pantas mendapatkannya, mereka menimang begitu lama untuk bisa sampai ada di titik mereka mau benar-benar bersama dan menjalin sebuah hubungan keluarga dengan menikah.



Ayu, Anna dan Sarah duduk menikmati makanan lezat menikmati pemandangan indah di tepi pantai. Pesta acara memang ada di dekat pantai, sesuai impian masa kecil Sandra. Ayu hanya memakan sedikit kue coklat, makanan lain membuat perutnya mual.


Melan, Hans dan Oji sedang bersenda gurau dengan beberapa teman SMA dan teman kuliah mereka yang turut menghadiri undangan. Hanya ada beberapa orang yang memang sangat dekat dan mengenal Sandra dan Jofan dengan baik.


Mata Ayu memerhatikan mereka dari kejauhan, ingin ikutan. Tapi Malik melarangnya terlalu jauh dari jangkauan matanya. Mereka duduk sedikit jauh karena takut suara tawa mereka yang sedang mengenang masa lalu mengganggu tamu lain. Mereka cukup tahu diri untuk tidak mengacau dan membuat tamu undangan lain tidak nyaman.


Ranu datang membawa makanan ditangannya, sampai penuh binar bahagia wajahnya. Wajahnya girang sekali membuat Mommy nya ikut penasaran dengan apa yang dia bawa.


"Makanan apa sih Bang? Kok sampe kegirangan begitu." Tidak menjawab karena nafasnya masih terengah-engah. Meletakkan piring di atas meja dengan wajah bangga, senang sekali bisa mengabulkan permintaan wanita kesayangannya.



"Pesanan Mamah Anna. Abang cari sampai keluar lounge dengan Om Riyan." Anna bukan meraih piring malah memeluk Ranu merasa terharu. “Abang hebat kan Mah?” Anna mencubit gemas hidung Ranu yang mancung.


"Becanda loh Bang....dianggap serius yah?" Ranu senyum-senyum menebar pesonanya. Tetap saja Anna merasa begitu dicintai, tidak ada yang perlu lagi dirinya risaukan. Banyak cinta yang akan menjaga dirinya.


"Makan Mah, habiskan yah. Ingat jerih payah Abang untuk mendapatkannya." Ranu ikut menoel kaki kepiting yang melambai-lambai di matanya. “Enak....” Mengacungkan jempolnya, pilihan rasanya tepat.


"Jerih payah ku juga." Timpal Riyan yang baru saja masuk. Duduk di sebelah Ayu.


Mata Riyan menangkap gelagat Kakak nya yang tidak nyaman. Dirinya merasakan hal yang sama saat mencoba menemukan kemana arah mata Ayuna memandang. Melihat Melan tertawa lepas dengan orang lain membuatnya iri.


"Makasih ya Dek. Kak Anna akan habiskan." Anna menarik piring mendekati tempatnya duduk. Riyan menyunggingkan senyumnya, Ranu memaksa keluar demi kepiting. Jika bukan demi Kak Anna, Riyan malas melangkahkan kakinya.


"Mom ..." Malik mendekat. Memeluk Ayu karena rindu sekali meninggalkannya beberapa saat karena harus menemui tamu yang juga merupakan kolega bisnisnya. "Sudah makan? Mau makan apa?" Ayu menggeleng. Matanya masih fokus memperhatikan teman-temannya.


"Mbak mau duduk di sana yah?” Akhirnya ada yang bertanya, matanya berbinar. “Ayo Riyan temani." Ajaknya, padahal Riyan ingin dekat dengan Melan.


Tidak menjawab, mencari jawaban dari suaminya yang masih mematung berdiri di sisi kanannya. Mata Ayu memohon dengan sangat agar di ijinkan.


"Bisa jaga Mbak nya dek? Mereka duduknya jauh sekali, Kakak takut tidak bisa perhatikan kalian." Masih belum mau memberikan ijin. Ragu karena susana masih sangat ramai orang-orang asing yang tidak begitu Malik kenal dengan baik.


"Curang....Melan di ijinkan." Merajuk sampai bibirnya manyun menggemaskan. Ayu ingin sekali diperlakukan sewajarnya, dirinya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Tapi Ayuna ingat siapa dirinya saat ini, Malik suaminya. Mana bisa hidup biasa saja.


"Ada Oji dan Hans yang jaga. Mommy hanya ada Riyan, kurang." Ranu yang sedang menyeruput daging kepiting menaikan tangannya.

__ADS_1


"Abang bisa, ayo Mom. Abang temani." Malik tersenyum, dirinya hanya bisa percaya pada orang-orang yang memang mencintai keluarganya dengan tulus. Apalagi acara seperti ini mudah sekali jika ada orang yang berniat jahat masuk ke sana.


"Ok, jangan lama-lama yah. Mom....makan, jangan kosong perutnya." Ayu mengacungkan jempolnya. Senang sekali akhirnya bisa bergabung dengan teman-teman yang sangat dirinya rindukan.


"Thank Daddy....” Kembali berbalik. “Oppa salanghaeyo." Malik menarik pinggang Ayuna mendekat, mengecup sekilas kening istrinya yang bertingkah menggemaskan. Ayu menggandeng tangan Ranu dan Riyan berjalan ke meja teman-temannya berada.


"Hay.....duduk Yu." Seseorang menggeser kursi di sebelahnya. Oji terlihat menatapi Ayu yang baru sampai dengan tajam. Memang Oji sedikit berharap bisa duduk sedikit dekat dengan Ayuna, mengobati rasa rindunya yang menumpuk dan tidak bisa di sampaikan.


"Kangen kalian....." Ayu memeluk teman-teman yang duduk di selah kiri kananya. "Apa kabar kalian semua?" Antusias sekali karena sudah sangat lama tidak bertemu.


Ayu termasuk orang yang mudah akrab dengan siapa saja, dia sangat di sayangi karena sifat lemah lembutnya yang selalu bisa mencuri banyak cinta dari orang lain.


Rata-rata mereka menjawab keadaan mereka baik dan aman. Matanya tidak berhenti menatap teman kuliahnya yang berkulit paling mencolok di antara yang lain. Mata mereka saling bertemu dan menatap degan rasa gemas, ingat banyak kejadian lucu saat pertemuan pertama mereka di kampus.


"Jangan tetap-tatap cantik, nanti aku jatuh hati." Oji menajamkan matanya pada Samuel, berani sekali merayu Ayuna di depan matanya.


Ayu terseyum, Samuel selalu lucu di benaknya. Samuel memiringkan duduknya menghindari tatapan mata Oji yang menakutkan baginya, Ayu yang sudah paham sifat Oji hanya pasrah.


"Kak Oji, Ayu mau duduk di sebelah Samuel." Meminta Oji untuk pindah.


"Pindah Kak, dia hamil. Takut ngidam." Oji dan yang lainya tidak percaya dengan apa yang mereka barusan dengar dari mulut Melan.


Uhukkkk.....uhukkkk...uhukkkk ...


Tidak mau punya hutang budi pada orang lain apapun alasannya.


"Cepat duduk." Ayu yang takut-takut tapi tetap melangkah. Oji tidak pindah, dia hanya menarik kursinya ke belakang. Duduk di antara Ayu dan Melan. “Pelan-pelan AYUNA!” Ngeri sekali melihat kaki Ayu yang sangat lincah. Ayu tersenyum manis agar Oji tidak lagi khawatir.


"Abang..... Adek, sini. Mommy kenalkan dengan penjinak binatang yang pernah Mommy ceritakan." Riyan dan Ranu yang mendengarnya tertawa. Mommy nya memang suka memberikan julukan pada orang seenaknya.



Menyalami bergantian laki-laki berkulit hitam yang tersenyum ramah. Setelahnya mereka kembali duduk di kursinya.


"Tadi ngobrolin apa? Seru sekali aku perhatikan dari jauh sana." Tanya Ayu penasaran.


"Pekerjaan Samuel Yu." Ayu menyimak. Pasti seru sekali membicarakan pekerjaan Samuel yang beda dari yang lain.


"Dia jadi kepala pengurus kebun binatang di Papua Yu." Ayu menatap tidak percaya. “Dia sudah berteman dengan banyak binatang Yu.” Ayu menutup mulutnya takut kelepasan tertawanya.


"Aku penakluk ular toh, ingatkan Yu, jadi aku cocok kerja di sana." Teman-temannya menahan tawa mendengar logat Papua Samuel yang sangat kental.

__ADS_1


"Sudah menaklukan apa saja Kak Sam?" Tanya Ayu penasaran. Ayu penasaran dengan kehidupan laki-laki paling polos dan baik yang menjadi temannya saat kuliah dan SMA.


"Tak hanya hewan Yu, aku berhasil menaklukkan hati wanita cantik." Senyumnya berseri-seri.


Cieeeee......


Sorak teman-teman yang berhasil membuat suasana semakin gaduh. Samuel paling sering mendapat banyak perhatian karena kehidupan yang di jalaninya berbeda dari yang lain. Selalu menarik untuk menjadi bahan perbincangan.


Oji yang melihat senyum indah wanita kesayangannya yang sudah sangat lama tidak di lihatnya sangat bahagia. Hidupnya seindah ini, Oji berjanji akan membantu Malik menjaga senyum indahnya. Mereka bercanda tawa sampai suasana pantai gelap, Oji berdiri dan meminta semua kembali untuk membersihkan diri. Tujuan utamanya meminta Ayu istirahat, dia sedang hamil dan tidak boleh kelelahan.


"Abang, bawa Mommy masuk." Ranu yang sedang memainkan ponselnya mengerjap karena namanya di panggil. Oji tidak mungkin membawa Ayu masuk, Putra nya saja.


"Oh...sudah selesai yah. Ayo Mom." Ranu menepuk paha Om Riyan yang terlelap di sisinya. "Om.....cepat, Mommy sudah selesai." Riyan meregangkan tubuhnya yang kaku.


"Mel...ayo aku antar." Melan meraih tangan Riyan. Melan juga cukup lelah karena tugsnya banyak sekali sebagai pendamping mempelai wanita.


Semua kembali ke kamar masing-masing yang menjadi fasilitas undangan pernikahan. Melihat Ayuna masuk, Malik menyudahi perbincangannya dengan para kolega bisnisnya.


"Mom....sudah selesai?" Ayu menghamburkan tubuhnya memeluk Malik. "Mau istirahat?" Lagi-lagi istrinya hanya mengangguk. Tubuhnya terasa lemas.


Kalau kedua mempelai jangan di tanya yah, mereka setelah penutupan rangkaian acara pernikahan langsung terbang ke Sidney untuk honeymoon. Jadi mereka tidak ada di peredaran, menikmati bulan madu.


Selesai mandi, Ayu merebahkan tubuhnya yang cukup lelah hari ini. Malik jug sudah selesai mandi dan menjatuhkan dirinya di sisi Ayu yang sedang memainkan ponselnya.


"Jadi Mommy makan apa tadi?" Tanya Malik penasaran, Ayu sedari siang tadi menolak apapun makanan yang di tawarkan padanya.


"Baby cuma makan kue coklat Kak, perutnya gak enak." Kumat lagi malas makannya. Malik sangat merasa bersalah saat Ayuna tidak bisa makan apapun seperti ini.


"Tunggu sebentar." Malik menghubungi Aldo, memintanya menyiapkan tempat untuk makan malam dengan istrinya.


Setelah suasana kening sekitar 10 menit, Malik turun dari ranjang.


"Come on Mom, kita makan malam." Ayu mendongak tidak percaya, meletakkan ponsel yang sedang dirinya pegang di atas nakas.


"Semalam ini Kak? Masih ada yang buka?" Malik mencium bibir istrinya yang sangat bawel.


"Ayo Mom, kasihan Baby dan Mommy belum makan." Ayu menurut saja, perutnya juga sedikit perih. Tapi mulutnya enggan untuk mengunyah makanan.


Mata Ayu terpesona dengan pemandangan indah yang ada di depan matanya. Dia hanya menyiapkannya sebentar, tapi seindah ini.


__ADS_1


Malik menarik kursi untuk istrinya. "Duduk Love." Ayunya masih tidak percaya dengan yang dirinya lihat. "Tidak ada yang sulit untuk ku Mom, semua yang Daddy miliki untuk Mommy." Ayu terharu sekali. Malik rela melakukan apapun demi dirinya.


Melihat Ayu begitu senang, Malik tidak jadi marah. Bagaimana Aldo menyiapkan tempat yang begitu apa adanya untuk wanita kesayangannya. Menyembunyikan guratan kesal di wajahnya demi Ayuna.


__ADS_2