
“Dam, sudah cukup. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Kenapa tidak berubah juga sikap mu. Kenapa? Apa salah ku sampai tidak di ajak bicara Dam?” Adam mendekap sarah yang meledak ledak pagi ini. Dia sudah hilang kesabaran menghadapi Adam yang seolah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
“Hey...kenapa sayang? Kenapa bicara seperti itu?” Sarah menangis histeris di pelukkan Adam. “Keluarkan sayang, tidak apa menangis lah, maaf aku tidak tahu ada kesedihan sebesar ini di hati mu sayang.” Sarah masih menikmati sedihnya yang berhasil dirinya luapkan.
“Kenapa tidak bicara apapun dengan ku. Kenapa menahan nya sendiri! Kenapa tidak mau membukanya Dam? Aku tidak bisa kah di ajak bicara tentang beban mu? Hmmmm.....apa aku tidak bisa menanggungnya?” Adam membelai lembut wajah Sarah yang saat ini sedang mengeluarkan semua sedihnya di depan Adam.
“Sorry sayang. Ini sangat menyakitkan bahkan hanya sekedar untuk aku ceritakan. Aku ingin memendamnya.” Ucap Adam yang menahan sesak di dada nya.
Sudah lebih dari tiga minggu Adam tidak bicara apapun tentang apa yang menimpa dirinya. Yang merubah sikapnya seolah dingin menyeruak menjalar sampai bicaranya saja hanya sedikit sekali.
Sarah sampai tidak mengenali suaminya, dia yang biasanya sangat hangat dan perhatian sedikit berubah. Sikapnya yang berubah sedikit dingin membuat Sarah merasa aneh dan dirinya tidak nyaman.
Sarah mencoba sekuat tenaga untuk tidak bertanya tentang beban berat yang sedang menusuk hatinya. Mencoba biasa saja dan menjadi penenang bagi Adam. Tidak berhasil, sikap dingin Adam menggambarkan seberapa besar kesedihan yang tengah ditanggungya. Sarah ingin melepaskan nya dari Adam, tidak rela Adam menderita lebih lama.
Sarah tidak bisa berdiam diri lebih lama, dan pagi ini emosinya meledak. Sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk bersikap seolah semua baik-baik saja. Sarah menyerah, sakit sekali yang dirinya rasakan sampai semua yang diakukan tidak menemui hasil yang baik, berantakan. Sarah ingin menyelesaikannya.
“Ku mohon sayang, kali ini aku benar-benar tidak bisa bicara. Aku tidak mau otak ku mengingat lagi apa yang sudah terjadi dulu sekali. Aku sudah lupa.” Bohong sekali, bahkan bicaranya saja sampai tidak bisa manatap Sarah yang duduk di hadapanya.
“Sesakit itu kah? Apa aku tidak bisa jadi orang yang kamu percaya Dam? Aku bisa Dam. Seperti yang biasanya kita lakukan Dam.” Pinta Sarah yang masih menangis.
“Sakit Sar, dan tidak ada gunakanya kamu untuk tahu semua masa lalu menyebalkan itu. Lupakan saja. Sekarang katakan sayang, apa yang harus aku lakukan agar semua kembali normal Sar.” Sarah berdiri, ternyata suaminya masih percuma di ajak bicara.
“Kalau begitu kita jalan sendiri-sendiri saja, jangan perduli lagi dengan ku seperti yang sedang kau lakukan! Aku juga tidak akan perdulu. Lakukan sesukamu!”
Tangan Adam yang meraih tangan Sarah di hempas dengan kuat. Sarah tidak memberikan ruang untuk Adam bicara. Dia sedang diliputi rasa kecewa yang begitu besar. Adam hanya bisa menatap lorong rumah sakit yang sangat kosong.
Sarah yang kesal menekan ponselnya memesan tiket pesawat ke Surabaya, tempat dimana kedua orang tuanya yang sudah tidak ada lagi di makam kan. Sarah ingin lari dan mengadu tentang keadaannya, tentang sedihnya dan tentang cintanya yang begitu besar sampai tidak rela melihat Adam begitu terluka.
Tidak memberikan informasi pada siapa pun tentang kepergiannya. Adam sendiri tidak tahu jika Sarah pergi, dia sangat sibuk karena ada beberapa jadwal operasi dan baru tengah malam ini selesai.
Pesan nya tidak di balas, Adam segera meluncur ke apartemen Malik. Sarah biasanya menghabiskan banyak waktu di rumah kesayangannya jika dirinya sedang dalam keadaan sedih bersama anak-anaknya.
Adam sedang berdiri di depan apartemen Malik, menunggu pintu terbuka meski dirinya bisa saja masuk sendiri.
“Sarah tidak di sini?” Melihat Malik dengan reaksinya yang mencari Sarah membuat degub jantung Adam berdetak begitu kencang. Malik menggeleng.
__ADS_1
Tatapan mata Adam sedikit kabur, kebodohannya yang membuat Sarah begitu merasa sedih dan merasa tidak memiliki arti untuk dirinya. Sarah nya pergi.
Adam memukul mukul kepalanya yang berdenyut, tangan kekar Malik menahannya. Bingung dengan apa yang sahabatnya perlihatkan di tengah malam. Beruntung semua orang sudah terlelap dalam tidur mereka. Malik bisa dengan leluasa menenagkan Adam di apartemennya.
Malik membawanya pulang, tidak mau membuat kebisingan yang bisa membuat semua orang-orang kesayanganya ikut khawatir melihat keadaan Adam.
Adam terus mencoba menghubungi Sarah. Tidak berhasil, nomor nya tidak aktif. Sepertinya nomor ponselnya di blokir, termasuk nomor Malik.
“Bicara Dam....ada apa ini? Kemana Sarah ku? Kenapa begini Dam? Jangan diam saja Adam!.” Adam tidak menjawab. Dia masih sibuk mencoba menghubungi nomor Sarah yang bahkan tidak tersambung sama sekali.
“Al.....tolong minta Ed cari keberadaan Sarah, cepat Al. Ku mohon Al, temukan Sarah Al.” Sakit sekali Malik melihatnya, dirinya mengira Adam sudah baik-baik saja, ternyata belum selesai. Dia bahkan membuat Sarah kesal dan meninggalkannya.
“Akan aku cari, tenang Dam. Tarik nafas dalam-dalam dan coba untuk tenang Dam. Jangan panik ku mohon Dam.” Adam menurut, kini dia menyandarkan tubuh kelelahannya dengan nyaman. Air matanya berderai mengingat perdebatanya siang tadi.
Tidak berapa lama Aldo sampai di apartemen Adam. Membawa beberapa makanan sesuai pesanan Malik. Adam terlihat kuyu, matanya terlihat sangat lelah dan tubuhnya sangat kurus. Malik sangat kesal melihatnya.
“Aku tidak lapar.” Menolak mentah-mentah.
“Kalau begitu aku tidak akan membantu mu mencari Sarah, aku akan minta Ed menghentikan pencarian.” Adam beringsut dari duduknya.
Memakan dengan rakus makanan yang ada di depan matanya. “Pelan-pelan Dam.” Malik menarik tangan Adam agar sadar.
Adam terdiam, menatap Malik dengan tajam. “Aku bagaimana bisa tenang! Istriku di luar sana dan aku tidak tahu dia baik-baik saja atau tidak Al! Kau bisa tenang jika jadi aku?!” Adam melempar makanan yang ada di tangannya. Berserakan di atas lantai.
“Dam.....aku tidak memintamu banyak. Aku hanya minta kau makan, lihat tubuhmu, kurus sekali tidak terawat Dam. Aku hanya tidak bertemu dengan mu beberapa hari dan kau kehilangan begitu banyak berat badan mu. Apa aku bisa baik-baik saja melihat mu seperti ini! Mungkin ini yang membuat Sarah marah. Kau tidak sadar? Kau menyakiti kami jika terus seperti ini Dam.”
Adam merasa sesak, dirinya merasa bersalah tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Keadaannya membuat semua orang merasa ikut tertekan terutama Sarah.
“Kenapa? Kenapa dia harus muncul lagi setelah aku kubur begitu dalam. Kenapa jahat sekali Tuhan mengembalikan dia berdiri dengan tegak di depan ku setelah semua kejahatan yang sudah dia lakukan! Kenapa!” Teriak Adam yang membuat tubuhnya terhuyung.
Aldo menopang Adam dan membawanya duduk di atas sofa. Sepertinya Adam menanggung sakit yang begitu besar.
“Bos, Samuel ada di depan.” Malik mengangguk meminta Aldo membawa Samuel masuk.
__ADS_1
Malik memang meminta Aldo menghubungi Dokter untuk memeriksa kondisi Adam yang sangat mengkhawatirkan.
Samuel memeriksa keadaan Adam dan mencoba mengajaknya bicara. Tidak ada respon hanya gelengan dan anggukan kepala yang Adam perlihatkan. Dia sangat kelelahan, Samuel tidak mau memaksa Adam.
“Sepertinya kita harus membiarkan Pak Adam istirahat. Tidak bisa di ajak diskusi dalam keadaan seperti ini Pak.” Jelas Samuel yang merupakan Dokter dan juga sahabat Aldo kepada Malik.
“Kalau begitu beri dia obat penenang Dok. Biarkan dia istirahat.” Samuel mengangguk paham, dia sebelumnya memang sudah membaca riwayat kesehatan Adam.
Aku terpaksa memberinya obat penenang Sar. Dia menangis tidak berhenti dan menolak makan. Please pulang sayang, aku membutuhkan mu menanganinya. Aku tidak bisa sendirian Sarah.
Malik mengirim pesan dengan ponsel Aldo yang tidak di blokir. Setidaknya pesannya di baca oleh Sarah. Malik lega, Sarah di kabarkan baik-baik saja di Surabaya. Di rumah masa kecilnya yang dulu sekali pernah dirinya tempati.
“Bos mau pulang? Aku bisa menjaga Dokter Adam kalau Bos ingin istirahat.” Tawar Adam yang tidak tega melihat Malik bergadang.
“Apa menurut mu masa lalu Adam dengan Alana Al? Kenapa sakit sekali dia menahan nya.” Ucap Malik yang tidak mengalihkan pandangannya dari sahabat yang sudah seperti Kakak laki-laki baginya.
Meski umur mereka hanya berbeda beberapa bulan, Adam sangat dewasa dan sangat tulus menyayangi Malik selama ini. Seumur hidupnya baru kali ini Malik melihat Adam sehancur ini.
“Aku akan cari tahu Bos.” Malik mengangguk, Aldo paling bisa dirinya andalkan.
Sebelumnya Malik memang meminta Aldo mencari tahu kebenaran tentang hubungan Alana dengan Adam. Tapi Malik ketahuan dan Adam meminta dirinya menghentikan semua yang Malik lakukan. Adam tidak mau luka lamanya kembali terbuka, Adam sudah menguburnya cukup dalam.
Malik tidak bisa tidur, ponselnya sudah tidak di blokir oleh Sarah dan dia mengabarkan jika saat ini dalam perjalanan pulang. Malik tahu Sarah tidak akan membiarkan Adam sakit sendirian, dia hanya meluapkan emosinya yang sudah tidak tertahankan.
Menjelang pagi pintu apartemen terbuka. Sarah melihat dua laki-laki kesayanganya tertidur pulas di atas sofa di ruang keluarga. Ada Aldo yang bergadang menjaga mereka.
“Aldo terimakasih banyak sudah menjaga suami ku dan Malik. Kau boleh pulang Al.” Aldo mengangguk penuh hormat, matanya juga sudah sangat mengantuk terjaga semalaman.
Sarah penuh kesedihan menatap keduanya, tertawa karena dirinya bisa lari sebentar untuk sekedar menenagkan diri.
Lamat-lamat mata Malik terbuka, ada senyum bahagia di bibirnya. “Terimakasih sudah pulang sayang.” Ucap Malik lirih. Sarah mengangguk.
Malik kembali memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk. Dia berusaha melindungi keluarganya sebaik mungkin, Malik tidak mau masa lalu menyakiti siapa pun yang dirinya sayangi. Malik berusaha sangat keras menutup celah luka untuk kembali.
__ADS_1