
Pagi ini Hanum bersemangat, pasalnya hari ini dirinya mulai masuk sekolah baru. Tidak sabar ingin mengenal lingkungan baru yang pasti akan sangat menyenangkan. Dirinya sampai kesulitan memejamkan matanya. Kantung mata sedikit terlihat padahal sudah Hanum tutupi dengan foundation.
Hanum berjalan di belakang Baskoro, sedikit jauh karena dirinya menaruh curiga pada setiap orang yang berada di sana. Teror malam yang selalu menghantui beberapa hari ini membuat Hanum semakin berkecil hati punya tempat aman saat ini.
Ketukan pintu tidak beraturan yang pasti di lakukan orang tidak waras yang membuat dirinya hampir gila setiap malam.
Kaki nya baru pagi ini melangkah keluar dari kamarnya karena dirinya sudah di daftarkan sekolah, senang sekali akhirnya dirinya bisa sedikit bebas dan bisa bernafas lega. Meski Hanum tidak bisa menebak esok akan seperti apa hidup yang akan dirinya alami.
Hanum menunduk penuh rasa takut, wajah-wajah yang tidak bersahabat yang selalu Hanum lihat di sekelilingnya. Hanya supir Baskoro yang sedikit ramah, entah siapa namanya Hanum tidak pernah tahu. Karena hanya beberapa kali mereka bertegur sapa.
“Turun di sini ya cantik, Pak Baskoro menyuruhku cepat-cepat ke pangkalan jadi tidak bisa sampai sekolah. Jalan saja dari sini, sudah dekat.” Jelasnya tanpa menunjukkan arah yang benar pada Hanum.
“Ba...baik Pak. Terimakasih.” Hanum turun, dia tidak berani membantah atau hanya sekedar bertanya. Ketakutannya luar biasa.
Celingukan, Hanum melihat sekeliling yang tidak ada tanda-tanda siswa dengan seragam yang sama dengan dirinya. Hanum mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Hanum di turunkan di halte sekolah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Bingung karena Hanum tidak tahu arah sekolah menuju kemana meski sudah di jelaskan sedikit oleh supir yang mengantarnya.
Kakinya berjalan saja menyusuri trotoar jalan. Menyalakan GPS di ponselnya yang malah membuat dirinya kebingungan harus mengarah kemana.
Sudah beberapa kali memutari arah yang di tunjukkan namun sekolah masih belum juga terlihat. Pikirannya kacau, hari pertama sekolahnya tidak seperti yang dirinya bayangkan. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, ingin sekali berteriak. Dadanya sesak, tidak ada satupun orang yang bisa dirinya mintai bantuan. Jalanan sangat sepi, toko-toko masih tertutup karena masih cukup pagi.
Hanum celingukan tidak tentu arah, tangannya gemetar sampai langkahnya membentur tubuh seorang siswa laki-laki yang berdiri di belakangnya karena Hanum memutar arah secara tiba-tiba.
“Ma...maaf....maaf. Hanum tidak sengaja.” Membungkuk beberapa kali memelas agar dirinya tidak di marahi. Takut sekali kekacauan akan semakin menjadi karena kecerobohannya.
“Tunggu...” Hanum menatap mata laki-laki tampan yang tersenyum manis padanya.
“Maaf Kak, Hanum buru-buru.” Hanum takut laki-laki yang tersenyum padanya hanya punya niat jahat.
"Hey...tunggu." Hanum tertegun menatap penuh takut. "Aku tidak marah, apa kau sedang kebingungan?" Hanum berkaca-kaca.Mengangguk meski dirinya sangat malu. "Mau aku bantu?" Tawar Mahes dengan tulus, dia melihat tidak tega wajah kebingungan Hanum.
"Apa tidak merepotkan Kak, nanti Kaka bisa terlambat." Tapi dirinya sungguh membutuhkan pertolongan.
Apakah dia punya niat jahat? Ahhhhh.....tapi aku sungguh tidak perduli asal bisa sampai sekolah secepatnya.
"Tidak, aku hanya mampir ke sekolah sebentar. Hanya mengambil beberapa berkas dan akan pergi lagi. Jadi tidak masalah." Mahes bingung kenapa dirinya menjelaskan sebegitu gamblangnya pada gadis yang baru saja dirinya temui.
"Sungguh Kak ..." Hanum lega, tanpa sadar jemarinya bertengger di lengan Mahesa.
"Panggil aku Mahesa, jangan sungkan. Ayo aku antarkan." Hanum menepuk dadanya lega. Akhirnya Tuhan benar-benar menjawab do’a nya.
"Maaf ya Kak, jadi merepotkan." Mahes hanya tersenyum.
"Cantik sekali" Gumam Mahes.
__ADS_1
"Kenapa Kak." Mahes hanya menggeleng, senyum nya membuat Hanum heran.
Aku pasti bukan sedang bermimpi sekarang kan, dia Hanum yang dulu aku kenal. Baik sekali dia tiba-tiba muncul dengan indahnya di hadapanku. Padahal sudah lama aku penasaran bagaimana dia tumbuh selama ini. Senyum nya masih senyaman dulu di mataku. Andai saja aku bisa memeluknya.
"Mau minum?" Tawar Mahes pada Hanum yang berkeringat.
"Hanum bawa Kak, Mommy selalu pesan agar Hanum bawa air saat ke sekolah." Anak baik, puji Mahes dalam hati.
"Ini sekolah nya Han. Sana masuk, sebentar lagi bel sekolah bunyi."
"Pantas saja susah sekali Hanum temukan, sekolahnya seperti bangunan toko." Hanum menyunggingkan senyum setelah mengamati sekolahnya sekilas.
"Bagus Han, hanya tampilan luar nya saja." Hanum hanya membalasnya senyum manis.
"Hmmmm......" Hanum seperti mencari sesuatu. "Aku ingin kasih ini, boleh aku gantung di tas Kaka?"Mahes menyodorkan tasnya.
"Pasangkan." Dengan senang hati menerimanya.
Tangan Hanum antusias. "Aku sudah berjanji akan memberikan ini pada teman pertama yang aku temui." Ucapnya membuat Mahes tersipu. Hanum tidak tahu saja Mahes sedang berbunga-bunga.
"Aku yang pertama?"
"Hmmmm....." Mengangguk dengan raut bahagia. "Kak Mehes yang pertama." Mahes membelai lembut kepala Hanum.
"Selamat hari pertama pertemanan kita Han." Hanum cengar cengir kesenangan. Seperti tidak asing padahal mereka baru saja bertemu. Sudah akrab sekali.
"Kau waras Kak, senyum-senyum tidak jelas dari tadi." Mahes menggeret tangan Ranu menempelkannya di dadanya.
"Dengar Dek.....seperti mau meledak Dek." Ranu mengernyit. Ada yang tidak beres.
"Ketemu siapa sih Kak. Kau seperti sedang jatuh cinta saja." Mahes mengangguk, Adiknya terkejut sekali melihatnya. "Sungguh Kak!" Mahes cengar cengir kegirangan.
"Dia teman kecil kita dulu Dek, Hanum. Ingat tidak?" Ranu menggeleng. "Payah, aku sudah lama mencarinya. Dan tiba-tiba dia muncul seperti bidadari di hadapanku." Ucapnya penuh rona bahagia.
“Jangan berlebihan Kak, kau membuatku merinding Kak.”
Chat Group Para Lelaki
Foto yang Ranu ambil diam-diam tanpa ijin Mahesa
Ranu : Kakak sedang kasmaran.
Adam : Gadis mana yang berhasil mencairkan Kakak mu Dek. Senyumnya sampai seindah itu. Akhirnya punya foto Kaka senyum manis.
__ADS_1
Ranu : Hanum
Malik : Jangan bicarakan hal-hal begini pada wanita-wanita kesayangan kita, jaga perasaan mereka. Kalian masih kecil. Belajar dulu dengan benar Nak.
Ranu : Daddy seperti tidak pernah muda saja.
Jofan : Aku baru tahu senyum Kakak semanis ini.
Mahes : Kelas 3 SMA. Sudah pantas punya pacar Dad.
Adam : Jangan Nak, jaga Mommy nya. Cukup dengan kita saja bicara hal-hal seperti ini. Mommy kalian untuk saat ini belum siap. Ingat Papih sering ingatkan kalian harus bersikap baik dan tidak membuat pikiran Mommy kacau.
Mahes : Iya Pih, Kakak hanya bercanda. Kalian tahu, sudah cukup.
Malik : Good Boy. Daddy belum siap kalau Mommy kalian gelisah karena Putra nya punya wanita lain di hatinya.
Ranu : Iya Dad, kalau sudah saat nya kita akan bicara. Aku sudah ingatkan Kakak supaya menjaga jarak.
Malik : Abang juga punya wanita lain Nak? Masih kelas 2 Nak. Belum waktunya.
Jofan : Kalau hanya dekat tidak masalah Kak. Yang penting jangan sampai adik ku sakit memikirkan kalian.
Ranu : Tidak ada Abang bilang begitu Dad. Belum ada yang lain untuk saat ini.
Mahes : Siap! I Love U All.
Adam : Abang masih bayi, jangan macam-macam.
Ranu : Bukan bayi Pih, Abang sudah besar. Hanya beda satu tahun dari anak mu Pih.
Adam : wkwkwkwkw......bayi ku sayang.
Jofan : Setuju dengan Papih.
Malik : Dia masih suka dekat-dekat istriku, memang masih bayi.
Ranu memasukkan ponselnya kesal, dirinya malah jadi bahan bullyan karena paling kecil di atara yang lain. Dirinya memang sering diperlakukan seperti anak bayi. Tapi Ranu suka, dirinya paling suka saat mereka memanjakannya.
Mahes dan Ranu sudah tidak asing saat di ingatkan bagaimana harus menjaga perasaan Mommy nya yang sangat sensitif. Mereka tidak pernah keberatan, bahagia mereka memang ada pada Mommy kesayangannya.
"Pulang nanti kita mampir ya Dek, aku kenalkan. Kau pasti akan ingat siapa dia."
"Ok....sekarang aku masuk dulu Kakak ku sayang. Berhenti bucin dan bertindak bodoh Kakak Mahesa."
"Bilang saja kau iri kan Dek."
__ADS_1
Ranu berlalu dan tidak menghiraukan Kakaknya yang sedang kasmaran, senyumnya berbeda sekali. Ranu juga sebenarnya tidak kalah senang melihat Kakak nya bahagia betul. Wajahnya dipenuhi senyum kebahagiaan, jarang sekali melihat Kakak nya berseri.