
Seminggu setelah kejadian dimana Shella di tampar oleh Tante Nisa. Akhirnya wanita itu pergi bekerja setelah beberapa minggu lamanya diam di dalam Kos yang sempit.
Shella berjalan gontai, pandangannya kosong. Hatinya masih di liputi rasa sedih. Bukan hal yang mudah untuk melupakan semua yang telah terjadi secara bersamaan.
Kini Shella telah sampai di ruangan dimana petugas kebersihan berada. Tak ada lagi caci maki dari seorang Ibu Risma. Wanita paruh baya itu telah di pecat oleh Akemi karena penyiksaan dan penyalahgunaan wewenang di Perusahaan tersebut.
Ibu Risma keluar dari Perusahaan dengan meninggalkan pesan kepada Shella melalui surat yang di titipkan pada petugas kebersihan lainnya, yang berisi tentang permintaan maaf. Ibu Risma menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti Shella selama bekerja di Perusahaan tersebut.
Shella menitikan air mata haru ketika membaca surat Ibu Risma. Ternyata Akemi benar-benar membuat dirinya merasakan di hargai.
Tak lama Shella mendapat panggilan dari Pak Toni yang mengatakan, bahwa Shella di panggil ke ruangan CEO. Itu artinya dia akan bertemu Akemi setelah beberapa minggu lamanya tak bersua.
Kini Shella telah sampai di depan pintu ruangan CEO. Tubuhnya kaku, dia masih merasa ragu. Antara ingin masuk, atau justru kabur. Lama Shella menimbang rasa, akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu Akemi.
Tok, tok, tok,
Terdengar tiga kali ketukan di dalam sana, yang mana Akemi juga sedang mempersiapkan hati dan diri untuk bertemu Shella setelah sekian lama. Desiran rindu itu akan terobati seiring dengan kedatangan wanita yang di cintainya, yakni Shella Yolanda.
"Masuk," titah Akemi akhirnya setelah lama mempersiapkan diri.
Tak lama pintu terbuka lebar, menampakan wanita cantik yang menawan.
Cekle,
"Selamat pagi Tuan," ucap Shella. Dan suara itu terdengar merdu di telinga Akemi. Pria itu menatap wajah Shella. Tatapan rindu yang membara.
"Selamat datang Shella Yolanda. Aku rasa Anda sangat menikmati waktu liburan," ucap Akemi datar. Shella menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya Tuan," ucap Shella penuh sesal.
"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan mu. Tapi ada syaratnya," ucap Akemi dengan senyum penuh maksud. Namun, sebelum Akemi melanjutkan kalimatnya, Shella terlebih dahulu mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, jika syarat yang Anda berikan yaitu untuk menikah dengan ku. Maka saya mohon maaf Tuan, saya tidak bisa menerima lamaran itu," ucap Shella sungguh-sungguh. Namun, sejujurnya hati wanita itu terluka seiring dengan penolakan yang di ucapkan barusan. Bukan tanpa alasan Shella melakukan itu semua, tetapi karena Shella tak ingin merebut kekasih orang lain. Di tambah lagi posisinya yang sangat rendah di mata orang, membuat Shella semakin merasa kecil di antara yang lain.
"Aku rasa kamu terlalu percaya diri Shella Yolanda, aku mungkin melamar mu waktu itu. Ya..., katakanlah aku kasihan padamu. Jadi, menikahlah denganku." Dasar payah, bagaimana bisa Akemi mengatakan yang sebaliknya? hati dan otak pria itu tak bekerja sama. Dia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana jika Shella justru salah paham padanya? sungguh pria bodoh. Setidaknya, ungkapkan perasaan mu yang sesungguhnya Akemi.
"Maaf Tuan, saya tidak butuh di kasihani. Saya masih bisa menjaga diri saya sendiri Tuan. Saya tidak butuh belas kasihan dari orang kaya seperti kalian. Saya cukup tahu diri, saya hanya wanita miskin dan yatim piatu. Lalu apa salah ku? apa aku bisa memilih terlahir dari rahim wanita mana dan dari keluarga mana? tapi jika aku bisa memilih, aku tidak ingin terlahir dari keluarga orang kaya yang sombong seperti kalian!" Shella tampak mengeluarkan segala isi hatinya pada Akemi. Dia tak sanggup lagi menahan rasa yang bergejolak hebat di dalam sana. Hatinya terlalu sakit dan lelah.
Sementara Akemi diam tak bergeming, hatinya merasa tercubit. Dia kasihan terhadap Shella yang tampak tak berdaya. Bukan niat untuk menghina Shella, hanya saja pria itu terlalu kaku untuk urusan cinta. Dia tak pandai mengutarakan isi hatinya. Ini yang pertama kalinya untuk pria tersebut.
"Mengapa orang-orang kaya seperti kalian selalu menghina kami anak yatim dan miskin? apa salah kami? apa karena kami berasal dari keluarga yang tak jelas asal usulnya? apa karena kami terlalu kecil di mata kalian? apa kami terlalu--"
Bug,
Akemi memeluk tubuh Shella, dia tak sanggup lagi mendengar kalimat Shella yang merendahkan dirinya sendiri. Shella menangis dalam pelukan Akemi. Dia seakan mampu mengeluarkan segala keluh kesahnya pada pria tersebut. Seperti ada ketertarikan tersendiri ketika Shella mampu mengutarakan perasaannya.
"Mengapa kalian sangat jahat padaku? apa salah ku? hu, hu, hu." Shella memukul-mukul belakang Akemi. Dia menangis dan meraung.
"Ssst, tenanglah. Kamu jangan pikirkan apa kata mereka." Akemi berusaha menenangkan Shella yang masih tampak terguncang. Selama hampir sepuluh menit keduanya diam dan saling berpelukan. Hingga kesadaran Shella mulai kembali setelah merasa tenang.
Tak lama Akemi melepaskan pelukannya setelah isakan tangis Shella mulai hilang. Pria itu melihat wajah Shella yang berubah menjadi merah merona karena malu. Dia mengusap air mata wanita itu dengan penuh kasih.
Shella mendorong pelan tubuh Akemi agar jarak di antara keduanya tidak terlalu dekat.
"Maafkan saya Tuan, saya sudah lancang kepada Anda," ucap Shella akhirnya setelah lama diam.
"Tidak apa-apa, aku suka."
"Ha?"
"Ah maksudku, aku suka jika kamu mengeluarkan semua perasaan mu padaku." Shella mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap pria yang merupakan Bosnya tersebut.
"Maksud ku karena kita teman, ya teman," ralat Akemi salah tingkah. Ya, Akemi menjadi salah tingkah karena Shella menatapnya dengan tatapan yang sukses membuat hati seorang Akemi bergetar.
__ADS_1
"Teman? sejak kapan kita berteman?" goda Shella, tetapi tak di sadari oleh Akemi. Pria itu berpikir Shella tersinggung dengan ucapannya barusan.
"Sejak hari ini."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Jadi itu sebabnya kamu melamar ku? karena aku teman mu?" Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Akemi bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Shella. Sementara Shella tak pandai membaca pancaran sinar mata perak Akemi.
"Jadi kamu mau aku menjadikan mu kekasihku lalu kemudian menikahi mu?
Deg,
Pertanyaan sederhana Akemi sukses menembus jendela hati Shella. Jantung wanita itu mulai berdegup kencang lagi.
"Maksudku, kita tidak seharusnya melakukan ini Tuan. Permisi," ucap Shella akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Tunggu Shella." Akemi menghentikan langkah Shella dengan memegang tangannya.
"Pikirkan baik-baik tawaranku tadi, aku hanya ingin membantu mu dari hinaan orang-orang itu." Shella mengerutkan keningnya.
"Orang-orang itu?" Akemi jadi salah tingkah dengan pertanyaan Shella. Mungkinkah dia mengatakan jika dirinya sudah menyimpan mata-mata di sekitar Shella?
"Maksudku, jadi begini Shella. Aku sudah tahu siapa kamu yang sebenarnya, bahkan aku juga tahu kamu berasal dari mana. Bukankah kamu yang mengatakan bahwa kamu yatim piatu dan miskin? jadi ayo kita menikah. Aku mengajak mu menikah bukan karena kasihan padamu atau karena simpatik. Aku juga tidak tahu alasannya apa, tapi yang jelas aku ingin menikah dengan mu. Biarkan aku melindungi mu dari orang-orang yang sudah menghina mu." Seketika Shella mengingat tiap hinaan Ibu Ibrahim. Hinaan itu seakan bermain-main di atas kepala wanita tersebut.
"Bagaimana? apakah kamu setuju? kita tidak perlu tidur seranjang jika kamu belum siap, atau kamu juga boleh memiliki kamar sendiri. Tak perlu layani aku selayaknya suami, tapi tetaplah di sisiku, em?" Sungguh lamaran yang payah. Bagaimana bisa Akemi berkata tidak seranjang dengan Shella, bahkan tak sekamar pula. Astaga Akemi, dasar pria munafik. Bekerja keras lah kamu setiap malam untuk menahan diri. Batin Akemi.
Apakah Shella akan menerima lamaran Akemi dan membalas dendam pada Ibu Ibrahim? atau justru menolak tawaran pria tersebut? silahkan like dan komen di bawah ya readers. Jangan lupa beri vote yang banyak ya.
Happy reading.
__ADS_1