
Dia mencintai nya, cinta yang berusaha dia sembunyikan dalam sikap dingin nya. Cinta yang keliru selalu buta, cinta selalu membuat gembira, tak kenal hukum, bersayap, dan tak terbatas. Dan cinta mematahkan semua mata rantai logika. Begitu juga cinta Shella terhadap Akemi. Shella memutuskan semua mata rantai logikanya, demi mengutamakan sayap-sayap cintanya yang tak ingin patah.
Shella mengumpulkan segala kemampuannya demi menyambung sayap-sayap itu. Warnanya putih, bagaimana bisa harus menjadi abu-abu? jika saja warna itu tak berubah, lalu mengapa Shella harus mengubah keputusan nya untuk tetap tinggal?
Shella meratapi nasibnya yang di kira sangat malang. Berpikir dia akan kehilangan suami tercinta, membuat jiwanya ketakutan. Seluruh dunia Shella seolah runtuh. Pernikahan yang di peliharanya, kini pupus sudah. Kemana dia harus mengadu akan hati yang resah? sementara dia tak memiliki kerabat ataupun sahabat. Shella bagai hidup sebatang kara di dunia fana ini.
"Akemi, apakah pernikahan kita akan berakhir seperti ini? setidaknya dengarkan penjelasan ku. Setelah itu baru kamu memutuskan hasilnya. Hiks, hiks, hiks." Shella menangis di dalam kamar masih dengan menggunakan gaun semalam. Bahkan wanita itu belum juga makan. Tadi pagi Shella harus melewatkan sarapan, atau mungkin lebih tepatnya dia sudah tak ingat lagi waktu makan. Bahkan wanita itu juga lupa bagaimana cara tidur yang nyenyak. Dia selalu terjaga di sepanjang hari demi menunggu Akemi pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.27, tetapi yang di tunggu-tunggu tak kunjung tiba. Hati Shella semakin gusar.
"Apakah aku harus pergi dari rumah ini? agar dia bisa tenang sendirian disini. Mungkin keberadaan ku disini, membuat dia semakin terluka. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?" Shella masih terus bermain-main dengan pikirannya. Rasa itu semakin berkecamuk. Tak pernah di duganya hari ini akan tiba. Cinta di masa lalu justru membuat wanita itu bermuram durja, akibat dari pasangan yang melarikan diri.
Apakah dia harus benar-benar pergi dari rumah ini? tidak, itu tidak boleh dia lakukan. Melarikan diri bukanlah keputusan yang tepat.
"Jika nanti dia akan marah, maka aku akan mendengar kan dia. Tak akan aku sanggah kemarahan itu. Aku akan duduk diam sampai dia tenang, dan mau mengulurkan tangan kepadaku lagi," monolog Shella untuk menguatkan hatinya.
Tak lama Shella mendengar pintu kamar terbuka, dia melihat sosok yang di rindukan itu berdiri di depan nya. Wajah itu sangat di rindukannya sepanjang hari ini. Suaranya yang merdu, dan tak jarang berkicau manja, sangat di rindukan oleh wanita bermata hitam pekat tersebut.
"Akemi?" Shella beranjak dari tempat tidur dan mendekati Akemi. Ingin rasanya Shella memeluk erat tubuh suaminya, dan tak akan melepaskan hangatnya tubuh itu. Namun, Akemi menatap Shella dengan tatapan tak terbaca. Akhirnya Shella mengurungkan niatnya untuk memeluk pria tersebut. Dia terlalu takut hanya sekedar menyentuhnya.
Shella menundukkan kepalanya, dia masih merasa takut sekaligus bersalah. Akhirnya wanita itu menitikan air mata. Sakit rasanya jika di abaikan.
"Akemi, aku---" Suara Shella bagai tercekat di tenggorokan. Tak sanggup melanjutkan kalimat yang sudah tersusun rapi satu jam yang lalu.
Ayolah, Akemi. Setidaknya katakan sesuatu. Jika marah, maka luapkan saja. Jika tak ada masalah, maka jangan tatap Shella dengan tatapan yang sulit untuk di baca.
"Ceritakan padaku," tutur Akemi akhirnya setelah lama diam. Sontak Shella mengangkat kepalanya. Cairan bening itu semakin tertampung di pelupuk matanya.
"Aku rasa kamu perlu menjelaskan sesuatu padaku. Jadi ceritakan padaku, aku akan mendengar kan mu sampai kamu memberiku kesempatan untuk bicara," lanjut Akemi kemudian.
Dengan mengumpulkan semua keberanian, akhirnya Shella bercerita.
__ADS_1
"Namanya Ibrahim, orang tuanya adalah salah satu Donatur di Panti Asuhan tempat ku di besarkan. Sejak kecil kami berteman karena adanya donasi itu. Lambat laun kami pun saling jatuh cinta. Kami bahkan berencana untuk menikah. Tapi kedua orang tua Ibrahim tak menerimaku yang hanya sebagai yatim piatu." Akemi masih belum bergeming, dia seolah menikmati setiap bait penjelasan Shella.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami, karena kami terlalu berbeda. Sejak awal aku merasa, bahwa kami tak pernah sama, bahkan tak akan pernah setara. Tapi Ibrahim terus mendorong ku untuk berjuang. Akhirnya Ibrahim membawaku ke rumah untuk memenuhi kedua orang tuanya. Tapi sekali lagi, aku mendapat penolakan. Aku yang hanya sebatang kara tentu saja tak akan di terima di tengah-tengah keluarga besar Ibrahim. Akhirnya aku berhenti," terang Shella.
"Mengapa kamu berhenti?" Tanya Akemi dengan raut wajah yang masih sama, tak terbaca.
"Karena aku juga seorang wanita. Jika aku tetap memperjuangkan cinta kami, maka akan ada hati wanita lain yang akan terluka. Dan itu adalah seorang Ibu. Bagaimana bisa aku mematahkan hati seorang Ibu yang melahirkan kita di dunia ini? suatu saat nanti aku juga akan menjadi seorang Ibu." Air mata Shella mulai bercucuran, dia tak bisa menahan lagi perasaannya.
"Apakah dia yang sering namanya kamu sebut di sepertiga malam mu selama ini?" Sumpah demi apapun, hati Akemi terluka karena pertanyaan nya sendiri.
"Iya, dia yang aku sebut di sepertiga malam ku, agar Tuhan berbaik hati untuk mempertemukan kami. Agar aku bisa mengatakan, bahwa aku berhenti. Dan meminta maaf kepadanya karena sudah pergi meninggalkan dirinya yang berjuang sendirian. Tapi sebelum aku menyebut nama Ibrahim, namamu lah yang aku sebut di awal dan penutup doa ku," balas Shella tulus.
"Lalu mengapa kamu tak pernah mengatakan, bahwa kamu mencintai ku?" Pertanyaan Akemi bagaikan memposisikan Shella ke dalam ruang sidang. Ya, Shella sedang menjalani sidang perihal cintanya.
"Karena aku menunggu momen yang tepat untuk itu. Awalnya aku putuskan untuk mengatakan padamu semalam, meski aku belum mendapatkan maaf dari Ibrahim. Karena aku tak mau membuat mu menunggu lebih lama lagi. Bagiku sudah cukup kamu menunggu ku di rumah ini, di rumah kita." Kalimat Shella bagaikan menghujam Akemi. Ada rasa bahagia dalam hati pria bermata perak tersebut. Namun, dia masih ingin melanjutkan sidangnya pada Shella. Dia harus menguji wanita itu sampai lulus dan memiliki hasil yang memuaskan. Ya, sejujurnya Akemi ingin menguji Shella, agar wanita itu berani mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama ini. Terlepas dari pria itu ingin tahu kisah masa lalu istrinya bersama pria yang tak ingin dia sebut namanya itu.
"Lalu sedang apa pria itu di sekitar sini semalam?" Tanya Akemi. Pria itu tak ingin menyebut nama Ibrahim, karena hatinya terlalu sakit ketika nama pria itu harus berada di antara mereka.
"Lalu sedang apa kamu disini, mengapa tak ikut bersamanya?" Tanya Akemi datar. Namun, sejujurnya hati pria itu bergetar ketika dia harus menanyakan pertanyaan yang tak ingin di ajukan.
"Karena ini rumah suamiku, rumah kita, surgaku. Lalu bagaimana bisa aku meninggalkan surga yang penuh kebahagiaan?" Jawab Shella mantap.
"Apakah kamu bahagia bersama ku?" tanya Akemi datar, namun penuh penekanan.
"Tentu saja aku bahagia!" Jawab Shella sungguh-sungguh.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu! apakah kamu tidak bisa melihat seberapa besar aku mencintaimu? apakah kamu tidak bisa merasakan nya setiap waktu? karena aku mencintaimu Akemi, aku sungguh mencintaimu. Hiks, hiks."
Cup,
__ADS_1
Sudah cukup ujiannya, dan hasilnya sangat memuaskan. Akemi mencium bibir Shella agar wanita itu berhenti terisak karena perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.
Shella tak membalas ciuman itu, dia masih terkejut dengan sikap Akemi yang seolah tak terjadi apa-apa. Mengapa pria itu justru menciumnya? apakah itu artinya dia tak marah sama sekali? lalu mengapa dia pergi meninggalkan Shella seorang diri tadi?
Akemi melepas ciuman itu, dan menyatukan keningnya pada Shella.
"Sudah cukup, aku sudah mendengar nya," ucap Akemi sembari tersenyum, lalu kemudian mengecup kening Shella dengan lembut.
Shella menatap mata Akemi, berusaha mencari kemarahan di sana, tapi dia tak menemukan sama sekali. Itu artinya? bagaimana bisa Akemi tak marah? bukankah seharusnya pria itu marah? pikir Shella.
"Apakah kamu tidak marah padaku?" Tanya Shella takut.
"Untuk apa aku marah padamu? apakah kamu ingin aku memarahi mu?" goda Akemi. Namun, Shella masih belum mau menanggapi godaan itu. Baginya, masih terlalu cepat kejadiaannya.
"Akemi," lirih Shella. Akemi tersenyum manis pada wanita pujaan hatinya itu sembari menangkup kedua pipinya.
"Aku tidak marah padamu sayang, aku tahu kamu tidak akan mengkhianati ku. Aku bisa melihat seberapa besar cinta mu padaku. Mungkin bibir mu bisa berbohong, tapi tidak dengan matamu, dan aku sudah melihat matamu selama ini," terang Akemi. Shella menjadi terharu akan jawaban Akemi. Sebaik inikah pria yang dia nikahi? setulus itukah cinta pria ini untuknya? maka niat mana lagi yang akan di dustakan?
"Tapi mengapa kamu tidak jujur padaku saat aku menanyakan apa yang membuatmu cemas kala itu? apakah benar dia yang membuatmu cemas?" tanya Akemi kemudian.
"Karena aku takut kamu tidak akan percaya padaku. Bagaimana bisa aku menyelipkan nama pria lain di antara kita? sementara aku selalu terisak ketika mengingat masa itu. Aku takut kamu menganggap tangisanku itu sebagai tangisan cinta untuk pria lain," terang Shella dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa aku tidak mempercayai mu? kepercayaan itu aku ukir dalam hatiku setiap saat. Dan aku tidak pernah merenggangkan genggaman tanganku padamu. Bukankah aku selalu menunggu mu disini? di rumah kita," terang Akemi tulus.
"Lalu mengapa tadi kau pergi meninggalkan ku sendirian disini? tahukah kau seberapa takutnya aku karena tak melihat mu ketika membuka mata? aku pikir kau tak akan kembali lagi. Hiks, hiks, hiks," tutur Shella sembari terisak pilu.
"Karena aku butuh waktu sayang. Aku butuh ketenangan untuk menjernihkan pikiran ku. Aku tidak ingin menghadapi masalah dalam situasi yang gusar. Semalam kita sama-sama tak tenang. Tak baik bagi kita untuk membahas masalah di tengah kobaran api. Aku tidak memungkiri, jika hatiku cemburu ketika melihat mu bersamanya. Tapi aku jauh lebih percaya padamu," terang Akemi. Shella pun tersenyum bahagia sekaligus terharu dengan kepercayaan yang di miliki Akemi untuknya. Mereka pun berpelukan, seolah melepas rindu yang kian menggebu.
Cinta itu akan lebih kuat ketika ego di turunkan dan memberi kesempatan pada hubungan. Jika sebuah hubungan di terpa suatu badai, maka biarkan badai itu mereda. Lalu beri ombak kesempatan untuk membela karang di lautan, agar badai itu cepat berlalu.
To be continued.
__ADS_1