
Ibrahim POV.
Hati siapa yang tak akan patah, dan menjadi dua, korban dari keangkuhan cinta. Apa hendak di kata, padi ku tanam, tumbuh ilalang.
Aku mendendangkan lagu patah hati, karena hatiku telah terbelah menjadi dua, dan hancur berkeping-keping. Tak bisa aku satukan kembali. Aku menjadi budak cinta, karena terlalu memujanya. Hingga aku gila karena cinta itu sendiri. Aku menolak untuk hidup normal. Aku menolak setiap sugesti yang masuk. Aku menampik segala empati yang mengalir. Aku bahkan mengabaikan air mata wanita yang telah melahirkan ku. Bagiku air mata itu sangat terlambat untuk mengalir.
Aku membuang masa depan ku yang berarti demi memenuhi keegoisan mereka. Aku mengabaikan duniaku demi kebahagiaan mereka. Tapi semakin aku mengikuti alur cerita yang mereka rangkai untuk ku, semakin aku tersiksa. Tak ada yang bisa memahami diriku. Bahkan cintaku telah menemukan cinta yang lainnya. Lalu kepada siapa aku mencinta?
Berusaha membuka hati untuk cinta yang lainnya, tetapi rasanya sangat berbeda. Aku memilih hidup terlunta-lunta di jalanan, demi menemui cintaku. Aku berjuang sekuat tenaga agar cintaku tak sia-sia. Ternyata cinta yang aku perjuangkan selama ini hanya cinta semu belaka.
Aku menangis, meraung, dan berteriak ketika dia pergi meninggalkan ku untuk menemui pria yang dia sebut sebagai cinta sejatinya. Lalu kemana akan ku bawa cinta ini? aku pikir perjuangan ku bisa meluluhkan hati semua orang, tetapi aku justru patah hati. Aku menemukan kerikil tajam di tengah jalan, hingga kakiku sangat sakit ketika menapakinya. Kakiku berdarah bersamaan dengan hatiku yang terluka.
Tidak bisakah Tuhan berbaik hati padaku sekali saja? aku memeluk wajah dewiku di setiap malam lewat sepenggal potongan foto. Dia tersenyum manis ke arahku. Tetapi senyuman itu bukan tertuju untuk ku. Aku hanya terlalu besar kepala dalam mengartikannya.
Akhirnya aku memilih membalikkan jiwaku seperti orang gila, agar seluruh dunia beserta isinya paham, betapa aku sangat tersiksa. Tidakkah ada seseorang yang mengasihani ku disini?
Aku butuh wanitaku, cintaku, pujaan hatiku, aku rindu senyumannya yang bagaikan rembulan di malam hari. Cahayanya terang benderang menghiasi birunya langit. Meski rembulan muncul di malam hari, tetapi cahayanya mampu menunjukkan betapa birunya langit itu.
Setiap hari aku menangis, lalu berganti tawa sedetik kemudian. Lalu berganti dengan mendendangkan lagu cinta sembari menyebut namanya, Shella Yolanda.
__ADS_1
Shella Yolanda, wanita cantik nan imut. Pencuri hatiku, penguasa batinku, dan penguat hidupku. Budi pekertinya yang luhur, membuat siapa saja akan jatuh hati padanya. Perawakan nya yang elok, menjanjikan surga. Lalu bagaimana bisa aku menolak surga itu? bukankah surga tempatnya para malaikat dan bidadari? maka biarkan aku hidup bersama di antara mereka.
Perlahan-lahan lagu cinta itu berganti menjadi lagu kematianku. Ya, aku telah lama mati semenjak mengetahui kenyataan, bahwa cinta yang ku perjuangkan, kini jadi milik orang. Bagai menanam padi, namun tumbuh ilalang.
Aku berteriak dalam hati, "Sampai kapan harus ku menanti percintaan yang menghukum ku? karena tiada lagi duanya, terserahlah kepadaMU Tuhan." Adakah yang mampu mendengar kan teriakan ku itu? bahkan Ayah dan Ibu selalu menutup mata dan telinga, seolah aku ini bukan siapa-siapa.
Setiap hari mereka datang menemui ku, memastikan aku sudah mengisi perutku yang kosong. Tapi tahukah mereka apa yang membuatku merasa kosong? bukan makanan, bukan minuman, dan bukan pertemanan, melainkan kehilangan yang membuatku merasa kosong.
Jiwaku menolak keberadaan mereka, aku tak igin hatiku normal kembali. Biarkan patah seperti ini, agar mereka paham, bahwa selama ini aku telah sampai pada titik kelelahan. Ya, aku lelah hidup dalam kebohongan. Mereka membohongi hidupku yang sangat berarti. Aku bagai berada di ambang jurang yang terjal.
Setiap hari mereka menangisi ku, seolah aku ini telah mati. Dan aku hanya mendengar kan saja. Aku tak mau berusaha untuk mengembalikan akal sehatku. Selama cintaku belum datang menemui ku, aku menolak siapapun. Hanya cintaku yang aku butuhkan, yakni Shella Yolanda. Wanita sederhana yang penuh sahaja.
"Shella, tidakkah kau mendengar kan aku menyebut namamu setiap saat? dapatkah kau merasakan betapa sakitnya cinta yang aku pelihara ini? aku bagaikan mati ribuan kali ketika membayangkan bagaimana kamu menemukan cinta sejati mu." Aku mulai mengalun kan lagu patah hati ciptaan ku sendiri. Oh Tuhan, berikan aku satu kali kesempatan untuk bertemu dengannya, meski itu harus lewat kematian. (Kok jadi mewek ya menulis kata hati Ibrahim ini?)
**
Author POV.
Di Apartemen, Shella tengah asik memasak untuk suaminya. Dia berencana untuk merayakan hari ulang tahun Akemi. Tak ada perayaan meriah, hanya makan malam berdua dengan suasana yang romantis.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara bel berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Shella mematikan kompor, dan pergi membuka pintu untuk melihat siapakah gerangan yang sudah menghentikan aktivitas memasaknya?
Betapa terkejutnya Shella melihat seseorang yang datang menemuinya dengan wajah penuh rasa bersalah. Rasa penyesalan sangat kentara di wajahnya yang pucat pasih.
Tubuh Shella gemetar, jiwanya terguncang, dan hatinya merasa khawatir. Kali ini apa lagi yang akan dia katakan? pikir Shella.
"Tante Nisa?" ucap Shella dengan suara bergetar sembari menatap tak percaya. Ya, Nisa datang kepada Shella dengan segala kerendahan hatinya. Dia membuang segala ego yang ada, demi membenahi penyesalan yang terlanjur terjadi.
"Shella, hu, hu, hu." Nisa menagis sembari bersimpuh di kaki Shella. Tangisan itu terdengar sangat menyakitkan. Apa yang membuat seorang Nisa menangis dan bersimpuh di kaki Shella sang wanita miskin pembawa sial? setidaknya sebutan itulah yang sering di gunakan oleh seorang Nisa pada Shella.
"Bangun Tante, tolong jangan seperti ini. Bangunlah," tutur Shella sembari menuntun Nisa berdiri. Namun, wanita itu terlalu keras kepala untuk mendengarkan ucapan Shella.
"Tidak Shella, biarkan aku bersimpuh di kakimu. Bila perlu, akan aku basuh kaki ini. Kaki yang ku dorong ke dalam lembah kehancuran dulu. Hu, hu, hu, maafkan Tante Shella, maafkan Tante. Tante terlalu menjunjung tinggi harga diri untuk menerima mu. Maafkan Tante, hu, hu, hu." Nisa semakin mengeraskan tangisannya. Dia tak kuasa menahan segala rasa yang ada.
"Temuilah dia Nak, temui Ibrahim. Dia sekarat Nak, dia sekarat. Hanya kamu yang mampu mengembalikan jiwanya yang lumpuh. Hu, hu, hu." Seketika tubuh Shella melemah. Hatinya kembali bergetar. Jiwa Ibrahim lumpuh? mengapa? apa yang terjadi pada pria itu? mengapa hidupnya menjadi sebatang pohon yang rapuh dan siap untuk roboh? Shella pikir tak akan ada lagi masalah yang dihadapi dalam mahligai rumah tangga nya setelah setahun berlalu. Namun ternyata, ujian sesungguhnya baru saja di mulai.
Lalu kemudian Shella pun berkata, "Jangan lupa like, komen, dan vote ya?"
Happy reading. 😁
__ADS_1