
Kicauan burung camar yang berterbangan di sekitar Apartment, seolah berdendang ria mengiringi hati yang bahagia. Kicauan itu tak berhenti menemani damainya perasaan. Hembusan angin sepoi-sepoi meniup rambut sang wanita yang tergerai setengah ikatan. Sementara sang pria asik menikmati aroma tubuh wanita yang di rindukan selama seharian penuh.
Debaran jantung mereka pun mulai normal kembali. Organ tubuh itu tak bekerja keras lagi untuk memompa darah agar memicu adrenalin. Keduanya tak lagi bermuram durja karena nestapa. Kesalahpahaman yang di anggap badai karang di lautan, kini di belah oleh ombak lautan cinta dan kepercayaan.
Menanamkan kepercayaan dalam setiap pasangan memang selalu di butuhkan. Tak ada salahnya memberi kesempatan pada hubungan, dan tak ada salahnya mendengar kan dengan seksama tiap bait penjelasan. Bukankah untuk mengetahui seseorang orang itu berkata jujur, harus bertanya pada yang bersangkutan? jika dia berkata jujur, maka kau akan tahu dia sedang membual.
Seperti yang di alami oleh Akemi dan Shella. Mereka memberi kesempatan pada hubungan yang di bangun dengan penuh perjuangan. Setiap pasangan pasti akan di terpah masalah. Tinggal kita manusianya yang mau memilih untuk duduk dan menyelesaikan masalah, atau justru pergi dari kenyataan hingga hanya penyesalan lah yang tersisa.
"Mengapa kamu memilih ku?" Tanya Akemi masih dalam posisi memeluk tubuh Shella. Pria itu seakan tak ingin melepaskan wanita itu lagi.
"Karena kamu sendiri yang memilih ku," jawab Shella sungguh-sungguh. Akemi melepas pelukannya, lalu kemudian menatap manik mata hitam pekat Shella.
"Apa yang kamu pikirkan tentang ku sampai kamu mengikuti jejak ku dalam memilih mu?" Tanya Akemi kemudian. Sebelum menjawab pertanyaan Akemi, Shella merapikan kemeja yang di kenakan Akemi terlebih dahulu. Lalu kemudian tersenyum hangat.
"Aku tak pandai menyusun kalimat cinta hanya untuk menyenangkan hatimu. Aku bahkan tak pandai merangkai kata untuk menyampaikan suara hatiku padamu. Setiap hari hanya tindakan yang aku sanggup tunjukkan padamu, agar kamu tahu seberapa besar aku menginginkan dirimu, mencintai dirimu, dan ingin memiliki mu sampai akhir hayat ku. Entah mengapa sejak pertama kali kita bertemu dulu, hatiku seperti bergetar ketika melihat mata mu yang berwarna perak. Semuanya tampak indah. Tapi aku tidak cukup berani untuk mengakui itu semua. Karena kita sangat jauh berbeda. Kamu seorang CEO dari Perusahaan ternama, sedangkan aku hanya wanita miskin yang berstatus yatim piatu," terang Shella lirih di penghujung kalimatnya.
Akemi menuntun Shella untuk duduk di tepi ranjang. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya tersebut.
__ADS_1
"Menjadi yatim piatu bukan gelar yang patut untuk di hina. Bahkan sebagian harta kita adalah milik dari yatim piatu itu. Nah, karena aku adalah harta berharga disini, jadi kamu bebas memiliki ku sayang," goda Akemi sembari mengedipkan sebelah matanya. Shella tersipu malu dengan rayuan gombal suaminya itu. Tak di sangka, seorang Akemi yang awalnya irit bicara, kini royal kata. Di depan para karyawan, pria itu bagai pria dingin dan kaku dari benua Antartika. Namun, lain halnya ketika di depan Shella. Dia berubah menjadi pria sang pujangga cinta. Akemi tak pernah jera menebar cintanya pada wanita yang bernama Shella. Bahkan cinta itu tumbuh dan berkembang setiap harinya.
"Mengapa malu-malu seperti itu? apakah kamu tersanjung dengan ucapan ku tadi? memang aku berharga di hidup mu kan?" lanjut goda Akemi. Shella semakin tak bisa menahan rasa malunya lagi, akhirnya wanita itu memulai permainan untuk mengecup ranum Akemi yang begitu tipis nan manis. Sontak saja Akemi diam terpaku. Ini pertama kalinya Shella memulai permainan bela semangka. Apakah wanita ini sudah kehilangan rasa takutnya? apakah gombalan Akemi membuat Shella lupa, bahwa dia adalah wanita pemalu? baiklah, karena sudah menempel, itu artinya Akemi harus meladeni. Namun, dia masih belum mau membalas penyatuan dua benda kenyal itu. Dia seakan ingin memberi Shella kesempatan untuk memulai permainan bola tenis. Tapi sayang, Shella tak tahu lagi harus berbuat apa. Malu rasanya, jika mengawali permainan.
Akhirnya Shella melepas pertautan itu, namun sebelum berhasil terlepas, Akemi menahan bagian belakang kepala Shella agar tetap menempel selayaknya perangko.
Dua insan itu menyalurkan rasa rindu lewat transaksi air liur, lalu kemudian berakhir dengan penggunaan tongkat si buta dari goa hantu untuk membela semangka. Keduanya saling mendominasi permainan bola tenis. Shella yang tadinya pasif, kini menjadi lebih aktif. Hal itu tentu saja membuat semangat Akemi semakin menggebu-gebu. Bagai ribuan ulat bulu bermain-main di atas tubuh mereka. Menggeliat kesana kemari akibat efek gatal yang ada. Hingga tibalah mereka di puncak klasemen kenikmatan dunia. Permainan bola tenis itu berlangsung selama berjam-jam. Jika dalam turnamen, permainan bola tenis hanya berjalan tiga set dengan satu kali kesempatan untuk memenangkan pertempuran. Maka lain halnya dengan permainan tenis ala Shella dan Akemi. Jumlah set mereka tak terhitung, hanya air lutut yang menjelaskan betapa lelahnya permainan itu.
**
"Berhenti sampai disini dulu, leherku rasanya ingin patah. Belum lagi pinggang ku yang terasa ingin terlepas," ucap Shella pada Akemi yang masih menginginkan permainan.
Mendengar itu, Akemi pun menyelesaikan permainan yang sudah melewati batas garis finis.
"Baiklah sayang, pagi ini sampai disini dulu. Kita bisa lanjutkan nanti siang," jawab Akemi dengan tatapan mendamba.
"Ha? lagi?" Shella tampak tak percaya dengan keinginan suaminya itu. Apakah dia tak merasa lelah sama sekali? Akemi seperti baru saja terpisahkan dari Shella selama bertahun-tahun lamanya, dan menumpahkan segala kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
"Hehe, tentu saja. Apakah kamu tidak ingin mendapatkan surga? kata Papa, melayani suami itu balasan nya surga," balas Akemi dengan suara manja khas dirinya.
"Surga sih surga, tapi tidak seperti ini juga kali. Lama-lama aku bisa mati di atas perut mu jika terlalu lama bolak-balik badan. Sudah naik, turun lagi. Belum lagi kesamping, ke atas, bawah, dan lainnya yang tak bisa aku jabarkan," gerutu Shella. Akemi hanya tersenyum lucu dengan omelan istrinya itu. Sebenarnya Akemi hanya menggoda Shella saja, tapi seperti kata netizen, bahwa Shella orangnya polos mendekati bego, jadi Akemi melengkapi kepolosan itu dengan sedikit bermain-main.
"Tapi tadi aku dengar suara seseorang yang tampak sangat menikmati permainan?" goda Akemi dengan suara yang di buat-buat.
Sumpah demi apapun Shella sangat malu karena suaranya sangat kencang tadi. Saat ini juga, ingin rasanya Shella menyemprot Akemi dengan cairan disinfektan, agar kuman-kuman yang berada di otaknya mati saat itu juga.
"Apa kamu sangat menikmati nya? apa kamu tidak merasa kasihan padaku? apa kamu rela aku mati di atas perut mu? mengapa kamu mengejekku? hu, hu, hu. Kamu jahat, hu, hu, hu." Akhirnya Shella menangis karena rasa malu yang tak bisa di bendung lagi. Akemi pun merasa bersalah karena sudah menggoda Shella secara berlebihan.
"Oh, cup, cup, cup, sini aku peluk. Aku hanya bercanda saja tadi. Mana mungkin aku berani menertawakan istriku ini?" balas Akemi dengan suara yang di buat-buat.
"Tadi kamu tertawa, memangnya tadi itu tawa kelelawar? itu tawa mu," tandas Shella sembari menaikkan ingusnya yang hampir terjatuh. Akemi semakin merasa gemas pada wanita yang sangat di cintainya itu. Akhirnya Akemi menggunakan segala bujuk rayu agar istrinya itu mau tenang. Entah mengapa Shella selalu saja menangis ketika rasa malunya tak bisa lagi di kendalikan. Namun satu yang pasti, Akemi sangat menyukai wajah malu-malu Shella. Baginya, wajah itu akan terlihat sangat manis ketika rona merah ikut menghiasi wajahnya yang imut.
Terkadang rumah tangga itu butuh candaan. Karena bercandanya suami istri adalah ibadah. Berikan apresiasi pada pasangan Anda, agar hubungan itu terasa lebih berharga.
To be continued.
__ADS_1