
Di sebuah Apartemen. Javier menghabiskan waktunya di tempat yang di anggapnya nyaman setelah meluapkan segala kemarahannya pada Alea. Pria itu meminum minuman beralkohol, entah sudah berapa botol ia menghabiskan minuman itu. Mata Javier berubah menjadi merah dan berkaca-kaca. Ia terus memikirkan peristiwa dimana istrinya bersama pria lain dalam satu kamar Hotel. Hal itu kembali membuat Javier meneguk minumannya dengan rakus, seolah ingin meluapkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.
PRANK...
"Aaaaa....". Sebuah gelas di banting kelantai hingga pecahan itu berserakan dimana-mana. Javier mengusap wajahnya dengan kasar, ada bulir air mata yang jatuh ke pipi pria yang telah di tumbuhi bulu-bulu halus tersebut.
"Kenapa kau lakukan ini padaku Alea?. Kenapa---?. Huhuhu. Aaaaa".
Javier menangis dan berteriak seperti orang kesetanan. Ia terus memberontak pada dirinya sendiri, menepis segala kejadian pilu yang di lihatnya, namun bayangan dimana Alea berpelukan bersama sahabatnya Alex seolah menari-nari di atas kepalanya. Hingga minuman lah yang menjadi pelipur lara pria bermata coklat itu.
*****
Di rumah, Alea masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wanita itu menjadi lebih pendiam setelah kejadian yang di alaminya beberapa jam yang lalu. Wajahnya diam tanpa ekspresi, entah apa yang dipikirkan wanita itu, namun bulir-bulir air mata tak pernah jera menemani dirinya.
"Nyonya, sebaiknya Nyonya makan dulu". Suara Bi Asih mampu mengalihkan wajah sendu Alea untuk sekedar berbicara seadanya.
"Aku tidak lapar Bi".
Sudah pukul 19.00 wanita itu belum juga menyentuh makanan yang di sajikan oleh asisten rumah tangganya.
"Tapi nanti Nyonya sakit". Balas Bi Asih dengan penuh rasa khawatir.
"Aku sudah terlanjur sakit Bi. Disini... Hiks... Hiks...". Tutur Alea sambil memegang dadanya seolah ingin memberitahu pada dunia bahwa hatinya sakit, hancur, dan terluka. Bi Asih memeluk wanita yang tampak rapuh itu dengan cukup erat seolah ingin menyalurkan ketenangan dalam diri Alea.
*****
Seminggu kemudian setelah kejadian itu, Javier tidak masuk kantor, setiap hari yang di lakukan nya hanya lah minum-minum. Jika dulu semasa bersama Airin, pria itu mengusir sakit hati dan rasa kecewanya dengan bekerja dan mendirikan perusahaan nya sendiri, menyingkirkan semua lawannya dengan kejam, karakternya berubah menjadi dingin. Namun lain halnya sekarang. Ketika melihat Alea yang notabene nya adalah istrinya berdua bersama sahabatnya sendiri, hatinya hancur dan ada rasa dendam yang teramat dalam. Harga dirinya sebagai pria sekaligus suami hancur berkeping-keping. Oh, ayolah Javier.. Bukankah pernikahan ini hanyalah sebatas kontrak?. Lalu apa yang membuat mu marah?.
*****
Sementara di Perusahaan, Alex tampak sedang mengkhawatirkan sesuatu mengenai pekerjaan yang di tinggalkan oleh Javier. Pria itu kalang kabut harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah setengah jalan, ada banyak ribuan karyawan yang bergantung dalam perusaan ini. Pikir Alex.
"Aku harus menemuinya dan menjelaskan semuanya. Ya, harus!". Alex bermonolog dan berusaha memantapkan hati dan pikirannya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada Javier.
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke tujuannya, yaitu rumah Javier. Ya, setelah seminggu kesalahpahaman itu terjadi, Alex belum menemui Javier. Pertama, ia masih harus memberikan waktu kepada sahabatnya itu untuk menenangkan diri, karena jika ia menjelaskan saat itu juga akan percuma, Javier terlalu emosional. Dan yang kedua, pria berhati dingin itu tidak masuk kantor selama seminggu, banyak hal yang di lewatinya di perusahaan hingga baik Alex maupun Andre di buat kewalahan untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai.
__ADS_1
*****
Mobil Alex telah sampai di pelataran rumah Javier. Ia memencet tombol bel rumah minimalis berlantai dua itu. Lima menit kemudian pintu berwarna coklat itu terbuka dan tampaklah wanita paruh baya berdiri di depannya.
"Tuan Alex. Silahkan masuk Tuan". Titah BI Asih dengan sopan.
"Terimakasih Bi. Oh ia. Apakah Javier ada Bi?". Pertanyaan Alex membuat wanita paruh baya itu menundukan kepalanya, ia merasa enggan untuk memberitahu jika Tuannya sudah seminggu pergi dari rumah dan meninggalkan Alea dalam keadaan tidak baik.
"Bi, apa Bibi mendengar ku?". Tanya Alex kemudian sambil memegang bahu Bi Asih yang tampak termenung.
"Maaf Tuan. Tuan Javier sudah seminggu ini tidak pulang Tuan". Jawab Bi Asih ragu-ragu sambil menundukkan kepalanya. Dan hal itu berhasil membulatkan mata Alex dengan sempurna.
"Apa?. Lalu dimana Alea sekarang Bi?". Tanya Alex kemudian sambil mengguncang pelan tubuh rapuh wanita paruh baya itu.
"A-ada di kamar Tuan, tapi---".
"Tapi apa Bi?". Tanya Alex setelah melihat ekspresi BI Asih yang seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Nyonya Alea tidak mau makan sudah beberapa hari ini Tuan. Setiap hari Nyonya Alea hanya menangis terus. Maaf Tuan, sepertinya Nyonya Alea mengalami pelecehan se*sual". Tutur Bi Asih masih dengan menundukan kepalanya, tidak berani melihat wajah pria yang mulai mengeratkan tangannya itu, hingga wanita paruh baya tersebut menahan sakit pada bagian bahunya.
BRAK...
Pintu terbuka keras. Alex begitu terkejut melihat kondisi Alea yang seperti mayat hidup, tidak ada kehidupan di wajah wanita cantik itu. Bibir ranumnya berubah menjadi pucat pasih seperti tak teraliri darah. Tubuhnya melemah, ada garis hitam yang menghiasi mata indah wanita itu. Wanita itu seolah melupakan kondisinya yang tengah hamil.
"Alea...". Alex memasuki kamar itu dan memeluk wanita yang tampak rapuh tersebut dengan erat.
"Semua akan baik-baik saja, Al". Alex berusaha menenangkan Alea yang masih setia dalam diam. Tak ada yang membuka suara.
Hening...
Hingga 10 menit kemudian...
"Hiks... Hiks... Hiks... Alex, semuanya sudah hancur. Aku hancur. Huhuhu...". Alea menangis dalam pelukan pria berhati hangat itu dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Alex.
"Jangan menangis Al, semua akan baik-baik saja". Tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan Alex, hatinya juga ikut menangis kala melihat wanita yang di anggapnya sebagai adik itu terluka.
__ADS_1
"Tidak ada yang baik-baik saja Lex. Dia... Dia sudah pergi, Javier pergi. Aaaaa...". Tangisan Alea semakin membesar, hingga Bi Asih yang melihat keduanya pun ikut menitikan air mata.
Alex mulai memahami satu hal lewat tangisan dan ucapan Alea yang terdengar ambigu, yaitu... jatuh cinya. Ya, wanita itu jatuh cinta pada suaminya sendiri..Namun sayang, hatinya terluka karena kesalah pahaman yang terjadi.
Suara isakan Alea perlahan-lahan menjadi isakan kecil, hingga ia terlelap dalam pelukan pria bermata coklat itu. Alex pun mengangkat tubuh Alea dan membaringkannya di tempat tidur lalu beralih mendekati BI Asih yang masih setia berdiri di depan pintu kamar.
"Bi, tolong jaga Alea. Pastikan dia makan. Aku harus ke suatu tempat".
Alex menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aaaaa... Brengsek kamu Javier". Alex memukul-mukul stir mobil miliknya, pria itu merasa marah sekaligus kecewa pada sahabat sekaligus bosnya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**TBC.
Hay Readers. Mohon maaf ya jika alur cerita novel ini seperti datar dan biasa-biasa saja. Saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, terlebih lagi ini pertama kalinya saya menulis. Mohon di pahami ya Readers. Jika kalian menyukai cerita si Babang tamvan Javier dan si cantik Alea, jangan lupa like dan komen serta vote untuk memberi trip ya, dan jangan lupa beri bintang juga. Terimakasih.
Happy Reading 😊**
__ADS_1
*Dede....