Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 60. Rahasia Alex.


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian.


Pencarian Javier terhadap Alea tidak membuahkan hasil selama dua bulan berlalu. Setiap hari yang di lakukan pria itu adalah minum-minum dan merokok, hal yang tidak pernah di lakukan nya selama ini. Namun kehilangan Alea seperti ia kehilangan jati dirinya. Tidak ada lagi keangkuhan dan kesombongan dalam diri Javier. Bahkan sikap dingin yang melekat dalam dirinya pun telah hilang. Yang ada hanyalah sikap frustasi, Javier seperti orang tak bertujuan.


Selama masa frustasinya karena kehilangan Alea, Javier tidak memperdulikan lagi perusahaan miliknya, bahkan proyek besar bersama Tuan Handoko hampir saja terputus karena Javier tidak pernah menghadiri rapat atau apapun itu yang berhubungan dengan kerjasama mereka, hingga membuat Tuan Handoko merasa Javier tidak profesional. Beruntung Alex dan Andre bersedia membantu Javier, keduanya tidak pernah meninggalkan Javier dalam kondisi terpuruk sekalipun.


****


Di club, Javier sedang meneguk minuman yang entah sudah berapa kali di minumnya. Alex yang merasa sahabatnya itu telah berubah merasa iba, dan menghampiri sahabat sekaligus bosnya tersebut dan mengehentikan aktivitas minumnya dengan mengambil botol minuman yang masih tersisa setengah.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini?". Tanya Alex sambil mendaratkan tubuhnya di kursi Samping Javier.


"Ngapain kamu kesini?. Mau menasehati ku lagi?". Jawab Javier dengan wajah yang persis seperti orang mabuk dan matanya pun sayup. Javier berusaha merebut botol minumannya, namun Alex mencegah dengan menyingkirkan botol minuman tersebut.


"Ck. Kamu bisa mati kalau minum terus Javier. Sudah dua bulan terakhir ini kamu minum-minum terus".


"Aku sudah mati Alex. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Semenjak Alea pergi aku sudah mati. Mati Alex, mati!. Huhuhu...". Javier mulai menangis seperti anak kecil yang kehilangan orang yang di kasihinya.


"Ayo kita pulang. Biar aku mengantarmu". Titah Alex sambil memapah tubuh kekar sahabat yang di sayanginya tersebut.


"Aku mencintai Alea, Lex. Sangat mencintai nya". Javier terus meracau, membuat Alex merasa iba pada sahabatnya itu.


'Maafkan aku, Vir'. Batin Alex. Seolah merasa bersalah pada sahabatnya yang tidak berdaya itu. Tidak ada lagi sosok Javier yang dingin dan angkuh, yang ada hanyalah Javier yang rapuh dan menyedihkan.


****


Ke esokan paginya, Javier mengerjab kan matanya dan melirik kearah jendela. Ternyata matahari sudah mulai bersinar, Javier mengambil jam weker yang terletak di atas nakas guna melihat waktu. Ternyata sudah pukul 10.45 pagi. Waktu yang cukup lama untuk Javier tidur. Javier ingin membersihkan diri ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika melihat sahabatnya Alex sedang tertidur pulas di sofa tempat biasa Alea tidur sewaktu mereka bersama dulu.


"Sedang apa Alex disitu?. Kenapa bisa dia tidur di rumah ini?". Javier bermonolog dan mencoba mengingat peristiwa semalam.


"Astaga, ternyata semalam Alex mengantar aku pulang".


"Mmmmm--- Selamat pagi". Ucap Alex dengan suara serak.


"Hmm". Javier cuma berdehem sebagai jawaban dan beranjak ke kamar mandi.


15 menit kemudian pria itu keluar dari kamar mandi dan tampak sudah segar. Ia ingin mengambil minuman beralkohol yang di biasa di letakan di atas nakas selama dua bulan ini, setiap pagi Javier selalu mengkonsumsi barang haram tersebut. Namun Alex menghentikan nya.

__ADS_1


"Kamu bisa sakit jika minum barang haram ini terus. Terlebih lagi kamu belum sarapan. Apa kamu mau bunuh diri?". Tutur Alex dengan suara yang mulai meninggi. Kali ini ia merasa jengah dengan sikap dari sahabatnya itu.


"Berikan padaku. Aku butuh itu".


"Gak".


"Alex!"


Intonasi suara Javier mulai meninggi. Ia merasa tidak terima Alex melarang keinginan nya.


"Apa?. Apa kamu mau mati sebelum bertemu Alea?. Baiklah, mati saja sana!. Dasar pria tidak bertanggung jawab. Brengsek!".


Alex memberikan botol minuman yang sempat di ambilnya tadi dan memberikan begitu saja pada Javier.


"Kenapa jadi kamu yang marah?". Tanya Javier dengan wajah datar. Namun hal itu membuat Alex marah. Bagaimana tidak, ia melihat sahabatnya yang di sayanginya itu meminum alkohol tanpa sarapan terlebih dahulu dan tidak menghiraukan larangannya.


'Alea, maafkan aku. Kali ini aku harus memberitahu Javier,. Kalau tidak, pria bodoh ini akan mati perlahan-lahan'. Batin Alex.


"Apa kamu mau bertemu dengan Alea?". Tanya Alex.


"Hm". Javier tersenyum kecut kala mendengar pertanyaan dari sahabat yang menurutnya sudah di tahu jawabannya itu.


"Aku akan memberimu kesempatan untuk menemui Alea". Bagai mendapat kabar yang tak ternilai, hati Javier mulai mencerna ucapan dari Alex. Ia mulai melepas botol minumannya dan memegang pundak dari sahabatnya tersebut.


"Apa kamu serius?. Tunggu... Itu artinya selama ini kamu---". Javier menggantungkan kalimatnya, ia merasa tak percaya pada Alex yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ia. Aku yang menyembunyikan keberadaan Alea darimu".


Bug...


"Brengsek kamu!. Apa kamu tidak tau aku hampir gila karena nya?. Aku seperti orang kesetanan karena kehilangan Alea, dan kau!. Kau malah menyembunyikan istriku dariku, brengsek kamu!".


Bug.. Bug..Bug..


Tiga kali hantaman yang di layangkan Javier pada Alex sehingga sudut bibir Alex robek dan mengeluarkan darah, namun pria tampan itu tidak membalas sama sekali. Ia membiarkan sahabatnya itu melepas kekesalannya.


Alex, memegang sudut bibirnya yang berdarah.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tenang?" Tanya Alex. Napas Javier yang memburuh mulai mereda, itu artinya emosi yang sempat membuncah jiwa dan hatinya mulai surut dan mereda pula.


"Cepat beritahu padaku dia ada dimana". Tanya Javier dengan suara yang mulai melunak.


"Dia ada di apartemen ku".


"Apa?".


"Jangan salah paham dulu. Ingat, terakhir kali kamu salah paham padaku justru membuatmu kehilangan Alea". Sebelum Javier bertanya secara beruntun dan memberinya satu kali pukulan lagi, Alex terlebih dulu mencegahnya dengan memberi peringatan agar Javier tenang. Kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Saat itu aku kembali dari apartemen mu dan ingin menemui Alea untuk memastikan apakah kondisinya Baik-baik saja. Tapi aku melihatnya sedang menunggu seseorang di tepi jalan dekat rumah mu. Jadi aku putuskan untuk menghentikan mobil dan bicara padanya".


FLASH BACK ON'


Alea sedang mengisi tas miliknya dengan pakaian, ia ingin pergi dari rumah yang menurutnya bagai neraka. Ia tidak mau lagi hidup bersama suami yang tidak pernah mencintai ataupun menghargai dirinya. Lagipula pernikahan yang di anggap nya sebagai pernikahan kontrak sudah berjalan 6 bulan, itu artinya masih tersisa 6 bulan lagi. Baginya tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi, bukankah untuk menepuk tangan harus butuh keduanya agar menghasilkan suara?.


Saat Alea sedang menunggu Taxi yang di pesan nya, sebuah mobil Mercedes berhenti tepat di depannya. Alea sangkat mengenali mobil sedan tersebut.


"Alex". Alea ingin pergi meninggalkan sahabat dari suaminya itu, namun suara Alex menghentikan langkahnya.


"Alea tunggu. Kamu mau kemana, em?. Biar aku antar". Tutur Alex. Pria itu tidak ingin bertanya perihal Javier ataupun kondisinya saat ini. Bukankah sudah jelas bahwa saat ini wanita itu tidak baik-baik saja?.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Next...


__ADS_2