Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 87. Bersin Mengacaukan Segalanya.


__ADS_3

Puas menghabiskan waktu di kamar mandi, akhirnya Shella keluar. Wanita itu sudah tampak segar dengan mengenakan pakaian yang sama, pemberian Akemi semalam. Namun, Shella tak melihat sosok Akemi.


Shella keluar kamar, dan mencari Akemi. Pria itu pergi entah kemana. Sedangkan Shella tak tahu harus berbuat apa. Bahkan dia tak tahu dimana letak dapur ataupun ruang tamu. Posisi kamar yang di tempatinya semalam sangat rumit, terlebih lagi Shella tak pernah memasuki rumah semewah itu.


Shella membuka salah satu ruangan, dan ternyata ruangan tersebut adalah salah satu kamar di Apartement Akemi. Shella ingin menutup pintu, akan tetapi perhatian nya teralihkan dengan gambar yang terpampang di dinding kamar tersebut. Gambar itu adalah seorang anak kecil sedang bermain bersama seorang wanita cantik. Keduanya tampak sangat akrab sekali. Hingga Shella tak sadar memasuki kamar tersebut. Nalurinya seolah menuntun kakinya untuk melangkah dan melihat gambar yang begitu membahagiakan tersebut.


Seumur hidup Shella tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Sejak kecil dia hanya bermain bersama anak-anak Panti Asuhan. Satu-satunya orang yang mencurahkan kasih sayang dengan tulus adalah Ibu Panti. Beliau sangat menyayangi Shella selayaknya anak kandung sendiri.


Masih terus melihat foto, tanpa Shella sadari air matanya jatuh menetes membasahi pipinya yang mulus.


"Ibu, seandainya aku juga merasakan kasih sayang seperti yang ada di gambar ini," ujar Shella bermonolog. Dia menyeka air matanya, lalu kemudian melirik ke foto yang lainya. Ternyata kamar itu di penuhi foto-foto yang menggambarkan nuansa kekeluargaan. Ada keakraban yang sangat kental. Senyuman mereka memancarkan kebahagiaan. Tak ada kebohongan dan sandiwara dalam senyuman tersebut. Semuanya tulus.


"Apa kamu menyukainya?" Suara itu membuyarkan lamunan Shella. Dia menyeka sisa-sisa air mata yang ada di sudut matanya.


"Maafkan saya Tuan, saya sudah lancang memasuki kamar ini. Tadi saya mencari dapur mau masak sarapan buat Tuan, tapi saya tidak tahu dimana letak dapur Tuan," terang Shella dengan menundukkan kepalanya. Suara wanita itu bergetar ketakutan. Dia sangat kaku jika berhadapan dengan Akemi. Terlebih lagi Shella merasa, bahwa dirinya sudah merepotkan Bosnya tersebut.


"Apakah kamu bisa masak?" Tanya Akemi dengan kening berkerut.


"Iya Tuan."


"Baiklah, kamu boleh masak."


"Tapi Tuan." Shella tampak ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Ada apa?"


"Saya tidak tahu dimana letak dapur Tuan, maaf." Lanjut Shella kemudian.


Akemi tersenyum tipis melihat sikap Shella yang kaku. Baginya, Shella akan terlihat sangat manis ketika wanita itu ketakutan. Terlebih lagi sorot matanya yang memancarkan kecantikan alami, dan jangan lupa bibir tipisnya. Bibir itu seakan terlihat seksi ketika di sentuh. Ah, matilah kamu Akemi. Bisa-bisanya kamu membayangkan bibir manis wanita itu. Akemi mengutuk dirinya sendiri.


"Ikut aku," ucap Akemi akhirnya setelah beberapa saat melamun akan bibir tipis nan manis milik seorang Shella Yolanda.

__ADS_1


Keduanya pun pergi ke dapur, Shella yang ingin memasak sedang memeriksa kulkas. Sementara Akemi duduk diam di kursi pantry.


Shella tampak sangat gugup, karena sedari tadi Akemi terus memperhatikan dirinya. Pandangan pria itu seakan ingin menerkam Shella mentah-mentah. Karena merasa tak nyaman, akhirnya Shella bertanya, "Apakah tuan tidak ke kantor?"


"Tidak." Jawaban yang singkat.


"Kenapa?" Tanya Shella bingung dengan kening berkerut.


"Hari Minggu." Oh, ayolah Akemi. Setidaknya ucapkan lebih dari satu kalimat.


Shella menganggukkan kepalanya seakan memahami pria yang sedari tadi menatapnya itu.


"Apa kamu tinggal sendirian disini?"


"Apa kamu mau menemani ku?"


Deg,


Jawaban Akemi sontak membuat Shella tersedak air liurnya sendiri.


Shella meminum air tersebut hingga habis tak tersisa.


"Mengapa kamu sangat terkejut?" Tanya Akemi seraya mengambil gelas bekas minuman Shella tadi.


"Tentu saja aku terkejut, bagaimana bisa kamu mengajak ku untuk tinggal bersama mu disini? apa kamu sudah gila ya?" Shella seakan melupakan kesopanannya pada Akemi. Dia tak lagi menggunakan kata Anda dan Tuan. Keduanya seolah telah lama akrab.


"Kapan aku mengajakmu untuk tinggal bersama ku?" Tanya Akemi santai seolah tak melakukannya kesalahan.


"Tadi," jawab Shella sembari mengkacak pinggang. Akemi merasa lucu melihat cara Shella memandangnya. Mata hitam itu sangat memancarkan kepolosan yang natural. Dan bibirnya, bibir itu sangat manis.


"Benarkah?" Akemi memasang wajah yang membuat Shella jadi salah tingkah. Akhirnya wanita itu menjadi canggung. Dia menyadari jika jarak keduanya semakin dekat. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Akemi yang menatap Shella dengan tatapan mendamba, sementara Shella dengan tatapan takut sekaligus malu.

__ADS_1


Shella menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap mata perak Akemi. Sungguh sangat tajam. Akemi menaikkan dagu Shella, dia seakan menikmati kedekatan yang terjalin di antara mereka. Kedekatan yang mengantarkan dalam keintiman. Jarak itu semakin dekat, sedikit lagi bibir Akemi meraih bibir tipis Shella. Jarak keduanya telah mencapai lima senti, empat senti, tiga senti, dua senti, hingga...


Haciu,


Shella bersin dan ingusnya keluar mengena tepat di wajah Akemi. Sontak saja hal itu membuat Shella ketakutan. Bagaimana bisa dia tiba-tiba bersin di tengah situasi yang aneh tadi.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja," ucap Shella gugup. Dia menyeka percikan ingusnya di wajah Akemi dengan menggunakan tisu.


"Tidak ada romantis nya wanita ini," gumam Akemi. Namun, tak terdengar oleh Shella.


"Apa Tuan?" Tanya Shella.


"Tidak apa-apa." Akemi mengambil tisu dari tangan Shella dan membersihkan wajahnya dengan air.


Shella semakin merasa bersalah, dia tak menduga jika harus bersin dan ingusnya terkena Akemi.


"Kamu masaklah yang enak, aku mau ganti baju dulu," tutur Akemi.


"Iya Tuan."


Dan akhirnya Akemi pergi meninggalkan Shella yang masih di rundung rasa bersalah. Wajahnya sendu, dia memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Dasar bodoh, mengapa aku tadi tiba-tiba bersin?" Gumam Shella.


"Lagi pula, kenapa juga tadi dia seperti mau mencium ku? ah, sudahlah pasti hanya perasaanku saja." Shella mengakhiri monolog nya dengan menggoreng nasi dan ayam.


Sementara di dalam kamar, Akemi tak henti-hentinya menggerutu. Dia hampir saja berhasil mencium Shella, tetapi ingus wanita itu mengacaukan segalanya.


"Sialan, kenapa juga tadi dia harus bersin? padahal sedikit lagi aku..., astaga Akemi, apa yang sudah kamu lakukan? kamu mau menghancurkan hidup anak gadis orang?" Akemi mengutuk dirinya sendiri melalui cermin di kamar mandi dalam kamarnya.


"Aku pasti sudah gila, bisa-bisanya aku mau mencium gadis itu tadi. Aku pasti sudah tidak waras," ucap Akemi sembari tersenyum malu. Dia membayangkan kembali peristiwa dimana dirinya hampir saja mencium Shella. Pria itu mulai berfantasi liar. Berhalusinasi dengan berbagai macam gaya kecupan. Kecup kiri, kecup kanan, atas dan bawah. Sungguh nikmat fantasi itu, membuat ular naga dari balik celana pendek Akemi terbangun dari tidur panjangnya. Sungguh tersiksa.

__ADS_1


Lalu Akemi pun berkata, "Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya readers, hehe."


Happy reading.


__ADS_2