Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Nikmatnya Sambutan.


__ADS_3

Setelah mencapai kesepakatan dengan Delon, Akemi pun akhirnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Akemi bersiul ria, karena hatinya di baluti suka cita. Pria itu tengah merasakan nikmatnya dunia. Oh sungguh indah rasanya. Jika saja Akemi tahu, bahwa jatuh cinta senikmat itu, maka dia akan rela mencari sosok Shella meski ke ujung dunia sekalipun. Akemi akan merawat dan merangkulnya, hingga wanita itu tak perlu merasakan sulit dan pahitnya kehidupan.


Akemi akan menggenggam tangan Shella, hingga tak terjatuh ke dasar jurang hinaan dan cacian orang. Shella tak perlu menerima sakitnya penolakan. Karena Akemi akan merangkulnya dengan tangan terbuka dan penuh cinta.


Mobil sedan Akemi berpacu dengan kecepatan sedang, hingga tibalah dia di rumah dimana istrinya berada. Akemi turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Tampaknya pria itu sudah tak sabar untuk segera bertemu istri cantiknya.


Akemi membuka pintu dan berjalan dengan langkah cepat, hingga langkah itu berhenti di depan pintu kamarnya sendiri. Namun, Akemi belum masuk ke dalam kamar itu. Dia masih mengatur deru nafasnya yang membuncah. Menetralkan detak jantung yang mulai berpacu tinggi.


"Huf, mengapa aku jadi gugup? aku tidak boleh seperti ini. Aku bukan pria kaku, aku adalah pria pemberani." Akemi bermonolog untuk menenangkan perasaan nya yang bercampur aduk. Takut, malu, canggung, dan bahagia yang berlebihan.


Masih terus bermonolog, hingga pintu kamar itu terbuka, dan muncullah Shella yang sudah tampak rapi dan cantik. Gaun putih sebatas lutut bermotif bunga melati, menghiasi tubuhnya yang ramping. Wajahnya di poles dengan make-up tipis, lipstik warna dusty pink menghiasi bibirnya yang manis. Rambutnya di gerai bebas, menutupi lehernya yang jenjang.


"Cantik sekali," gumam Akemi tanpa berkedip. Pria itu sungguh terpesona akan kecantikan istrinya. Postur tubuh Shella yang tinggi selayaknya model, menyetarakan persamaan bentuk tubuh mereka.


Shella tersenyum malu-malu ketika pujian terlontar dari bibir Akemi, wanita itu tak dapat menyembunyikan perasaan nya yang juga turut bahagia, sama halnya dengan Akemi. Aura kecantikan Shella tak menyurut meski dalam kondisi apapun. Namun, kali ini kecantikan itu seolah bersinar terang hingga memenuhi seluruh kehidupan Akemi. Senyuman itu pun tak kalah manisnya, semanis madu asli yang ada di hutan Amazon. Nikmatnya sambutan sang istri. Pikir Akemi.


"Selamat datang," ucap Shella sembari melempar senyuman manis. Tangan Shella meraih tangan Akemi. Sejujurnya pria itu cukup terkejut dengan sikap Shella yang terang-terangan mau menyentuh tangannya terlebih dahulu. Lalu kemudian,


Cup,


Shella mencium punggung tangan suaminya. Luar biasa sekali perasaan Akemi kala dirinya merasakan ciuman itu. Bagai ada sengatan listrik yang mengalir di sekujur tubuh pria berparas tampan tersebut. Saat itu juga Akemi merasakan nikmatnya ketika menjadi seorang suami yang di hargai oleh istri. Lagi pula, bukankah mencium tangan suami seumpama mencium Hajar Aswad di Mekkah? sekiranya, itulah ajaran agama yang di anut Akemi dan Shella.


Akemi tampak salah tingkah, sementara Shella masih dengan senyuman termanisnya. Tiba-tiba Papa Javier dan Mama Alea pulang dari pertemuan rutinnya bersama empat orang sahabat mereka. Entah apa yang di bahas oleh orang tua paruh baya itu sampai mereka menghabiskan waktu cukup lama dalam pertemuan tersebut.


"Kamu sudah pulang Nak? kok tumben cepat?" Tanya Mama Alea yang kini berada di antara Akemi dan Shella.

__ADS_1


"Mama ini, paling juga dia tidak sabar mau bertemu istrinya," goda Papa, dan menciptakan rona merah di wajah Shella. Mama Alea mencubit pelan pinggang Papa Javier sembari berkata, "Papa ini, suka sekali mengganggu anaknya." Beralih kepada Shella.


"Maafkan Papa ya sayang? dia hanya bercanda saja," lanjut Mama kemudian.


"Iya Ma," balas Shella.


"Ya sudah, Mama dan Papa masuk ke kamar dulu ya? kalian lanjutkan lagi." Dan sepasang suami istri paruh baya itu pun memasuki kamar mereka, menyisakan Akemi dan Shella.


"Ayo kita masuk," ucap Akemi. Lalu kemudian keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka.


Shella meraih tas kerja Akemi, dan di letakan dalam rak khusus tas kerja pria tersebut. Akemi semakin merasa di hargai sebagai suami. Ternyata indah rasanya menjadi suami, bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya.


"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" Tanya Shella mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi tampak canggung.


***


Sementara di tempat yang berbeda, Delon tengah di sibukkan dengan segudang pekerjaan bekas tangan Akemi. Pria itu tampak kewalahan mengerjakan pekerjaan yang sungguh menyebalkan. Bagaimana tidak, pria itu sedang bertemu klien penting yang bernama Aditya, tetapi dia juga harus bertemu dengan Tuan Karim, dan di sisi lain Delon juga harus terjun langsung ke lapangan untuk mengawasi karyawan yang sedang mengerjakan proyek yang ada.


Sedangkan di rumah, Akemi tebar pesona pada Shella. Pria itu sungguh luar biasa bahagianya, padahal menyisakan kesulitan untuk sang sahabat Delon.


"Akemi benar-benar keterlaluan!" gerutu Delon.


"Mungkin inilah mengapa dulu dia ingin mencari sekretaris pribadi untuk membantu pekerjaannya, tapi aku justru melarang dia. Akkk--, dasar payah." Delon tampak sangat frustasi dengan segudang pekerjaan yang ada di depan mata. Wajah pria itu tampak lusuh tak terurus.


Sementara di rumah, Akemi sangat menikmati kebersamaan nya sebagai pengantin baru.

__ADS_1


"Kamu mau kemana dengan pakaian ini?" Tanya Akemi.


"Tidak kemana-mana, aku hanya pakai saja baju ini. Aku tidak tahu harus menggunakan baju apa untuk menyambut mu pulang," lirih Shella, dan sukses menciptakan desiran cinta yang amat sangat besar di hati Akemi. Pria itu tersenyum bahagia.


"Jadi ini untuk ku?" Tanya Akemi datar, namun penuh kebahagiaan. Pria itu tampak dingin meski hatinya menghangat.


"Iya," jawab Shella malu-malu sembari menundukkan kepalanya.


"Cantik," bisik Akemi. Shella semakin merasakan malu yang luar biasa. Bagaimana tidak, kalimat pujian selalu terlontar dari mulut Akemi. Pria itu tak pernah mengucapkan satu kata buruk pun pada Shella. Bahkan pria itu juga tak pernah memandang Shella dengan tatapan tidak suka. Melainkan sebaliknya. Tatapan Akemi seakan penuh cinta. Pria itu menerima Shella tanpa syarat.


"Terimakasih," jawab Shella kemudian.


"Jadi, apakah kita akan terus seperti ini?" Tanya Akemi dengan penuh harap akan terjadi sesuatu dari sekedar melempar kalimat pujian.


"Tentu saja ada," jawab Shella antusias, menciptakan senyum malu-malu kucing di bibir Akemi.


"Apa?" Tanya Akemi.


"Kita akan menjelajah gunung berapi, tapi jangan dekat-dekat larvanya, nanti kita terbakar."


"Ha?"


Sumpah demi apapun ingin rasanya Akemi membenturkan kepalanya di tembok kamar hingga jebol. Bagaimana tidak, Shella masih berpikir, bahwa penjelajahan di gunung berapi merupakan kegiatan nyata yang benar-benar akan di lakukan keduanya. Padahal itu hanyalah kalimat plesetan dari Akemi agar Shella tak menganggap nya sebagai pria mesum.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2