
Di suatu tempat, dimana terdapat seorang wanita paruh baya dan seorang pria muda, sedang duduk terdiam. Mereka tak saling membuka kata. Hanya suara angin yang menemani kediaman itu. Deru nafas keduanya memburuh seolah amarah sedikit lagi anak meluap ke permukaan.
Pria itu memegang beberapa lembar foto wanita yang di cintai nya dengan susah payah. Namun sayang, takdir tak berpihak pada mereka. Karena ego orang tua yang terlalu tinggi.
"Sekarang kamu tahukan, mengapa Ibu tak merestui mu dengan Shella? dia bukan wanita baik-baik sayang. Percayalah pada Ibu," ucap Nisa seolah meyakinkan Ibrahim yang masih setia menatap nanar sejumlah foto Shella di tangannya. Ya, kedua orang itu adalah Ibrahim dan Ibunya, Nisa. Nisa memberikan sejumlah foto Shella bersama beberapa pria berbeda agar putranya membenci Shella dan mau melupakan wanita tersebut. Padahal kenyataannya adalah, foto itu merupakan foto Shella dan Akemi sewaktu berbelanja di supermarket, dan yang satunya lagi adalah foto Shella bersama Aljav setelah Nisa mengancam Shella di supermarket dulu. Ya, semua yang mengintai Shella selama ini adalah Nisa, Ibu dari Ibrahim. Wanita paruh baya itu sengaja mengintai gerak gerik Shella, agar ia memiliki bukti yang kuat untuk memisahkan antara putranya dan Shella. Dan parahnya lagi, sejujurnya Nisa tahu, bahwa Shella telah menikah dengan Akemi saat itu. Hanya saja dia memilih untuk memfitnah Shella agar namanya hilang dari dalam hati Ibrahim.
Siapa yang tak mengenal keluarga Akemi? kabar pernikahan itu tersebar luas hingga ke penjuru negeri. Bahkan sampai ke telinga Nisa. Namun, wanita paruh baya itu berpikir, bahwa Shella menggunakan tubuh nya untuk menjerat Akemi. Siapa yang mau dengan Shella yang merupakan wanita miskin, dan yatim piatu? pikir Nisa.
Ibrahim masih belum bergeming, dia diam terpaku sembari menatap nanar gambar Shella bersama Akemi dan Aljav.
"Sayang, katakanlah sesuatu. Katakan, bahwa kamu percaya pada Ibu, Nak," lanjut Ibu setelah tak mendapat jawaban dari Ibrahim.
"Antar aku bertemu Shella, aku ingin melihat dengan mata kepala ku sendiri."
Deg,
Bagaimana bisa Nisa mengantar Ibrahim untuk bertemu Shella yang sudah menikah? bagaimana jika kebohongan nya selama ini terbongkar? Nisa selalu berkata, bahwa Shella bukanlah wanita baik-baik. Dia menjual dirinya di berbagai macam jenis pria hidung belang. Agar supaya putranya itu mau membenci Shella. Sungguh ironis jika keegoisan seorang Ibu yang menutup akal sehat putranya demi sebongka kehausan duniawi.
__ADS_1
"Ibu tidak ingin mengulang kata-kata Ibu Ibrahim! kamu tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu, titik!" Ibu pergi meninggalkan Ibrahim yang perasaannya tersayat-sayat sembilu. Jiwanya guncang. Benarkah wanita itu Shella? benarkah wanita yang di cintainya sepenuh hati selama ini tega menjual dirinya demi uang? mustahil. Pikir Ibrahim. Lalu kemudian,
"Aaaakkk--" Ibrahim berteriak frustasi seperti seseorang yang sedang kesetanan. Harga dirinya sebagai pria hancur. Hatinya terluka oleh sikap Ibunya sendiri.
"Shella, kamu tega. Kamu tega. Aaaakkk...., mengapa kamu tega menduakan cinta kita Shella? tahukah kamu seberapa besarnya perjuangan ku untuk mempertahankan cinta kita? tahukan kamu apa yang sudah aku lalui selama ini? hu, hu, hu. Shella Yolanda..." Akemi berteriak histeris dalam sebuah ruangan isolasi. Ibunya mengurung dirinya seperti tahanan yang akan melarikan diri. Ya, Nisa tega mengurung Ibrahim yang notabene nya sebagai putranya sendiri, hanya demi keegoisannya semata. Nisa tak ingin Ibrahim berkeliaran mencari Shella dan menemui wanita itu. Lalu kemudian menikah di belakang dirinya.
Nisa menangis pilu dari balik pintu ruang isolasi tersebut sembari menatap nanar putranya yang sudah setengah gila karena ulahnya sendiri.
"Maafkan Ibu Nak, suatu saat nanti kamu akan paham mengapa Ibu melakukan ini semua. Ibu memiliki alasan mengapa wanita itu tak bisa kamu nikahi Nak. Maafkan Ibu Nak, maafkan Ibu."
Nisa pergi meninggalkan ruang isolasi itu dengan perasaan yang berkecamuk. Hatinya perih ketika melihat putranya harus menderita karena cinta. Biar bagaimanapun juga, Nisa adalah seorang Ibu. Hati kecilnya turut menangis pilu ketika anak yang di lahirkan dengan susah payah, harus menanggung beban ego rahasia yang selama ini di tutupnya rapat-rapat. Rahasia apakah itu? hanya Nisa dan Tuhanlah yang tahu.
Di Apartemen, sepasang suami istri saling berpelukan seperti perangko yang tak mau lepas. Kedua tubuh itu menyatu dan melekat seolah tak mau saling menjauh. Mereka bermandikan peluh sehabis acara bela duren di malam hari, paling enak dengan kekasih, di belah bang, di belah, enak bang, silahkan di belah. Kira-kira begitulah ungkapan nya.😀
"Bagaimana perasaan mu tadi sewaktu berada di Panti Asuhan? apakah kamu bahagia?" Tanya Akemi seraya mengelus rambut Shella dengan lembut.
"Aku bahagia. Terimakasih sudah mengantarku kesana dan melihat anak-anak Panti lagi. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka," jawab Shella.
__ADS_1
"Nanti kita akan mengunjungi mereka lagi, sekarang kita tidur ya. Sudah hampir subuh," tutur Akemi sembari mengecup kening Shella.
"Selamat malam," lanjut Akemi kemudian.
"Selamat malam."
Dua insan ciptaan Tuhan itu pun, akhirnya menutup mata sebelum akhirnya berdoa mengucap syukur kepada sang pemilik bumi dan langit.
Akemi sudah tertidur pulas, sementara Shella masih terjaga. Wanita itu ingin memaksakan matanya untuk tertidur, tetapi tak bisa juga. Akhirnya Shella bangun dari tempat tidur, dan pergi keluar kamar.
Shella berdiri di atas balkon ruang sebelah. Dia menatap langit yang hitam, seperti nya akan turun hujan. Lalu tiba-tiba saja Shella terisak, "Hiks, hiks, hiks, maafkan aku Akemi, aku masih belum bisa melupakan masa laluku sepenuhnya. Aku masih belum bisa melupakan Ibrahim. Aku memang sudah tak mencintai nya lagi, tapi aku ingin meminta maaf padanya karena sudah sengaja meninggalkan dirinya sendirian. Aku tidak bisa menemaninya memperjuangkan cinta terlarang itu. Aku ingin mengungkapkan cintaku padamu setelah aku berhasil meminta maaf pada Ibrahim. Karena kalau tidak, aku tak akan tenang karena bahagia di atas derita pria malang itu, hiks, hiks, hiks." Ya, Shella masih menahan diri untuk tidak mengungkapkan cintanya pada Akemi, karena dia masih harus menyelesaikan hubungan nya dengan Ibrahim secara baik-baik. Pertemuan mereka yang terakhir sangatlah menyakitkan. Dimana Ibrahim harus pergi dengan perasaan hampa. Sementara Shella bungkam dengan kebohongan nya, bahwa dia pergi bukan karena dorongan dari Ibu Ibrahim. Dia pergi karena keinginan nya sendiri. Dia bahkan berbohong perihal perjodohan yang di lakukan Ibu Ibrahim hanya untuk meninggalkan dirinya.
Hal itulah yang membuat Shella semakin merasa bersalah. Dia ingin membuka hati dan memulai hidup yang baru bersama Akemi, tanpa melukai perasaan orang lain. Ibrahim merupakan pria yang baik. Dia selalu menemani Shella dalam suka dan duka. Dia bahkan rela menentang kedua orang tuanya demi mempertahankan Shella. Namun, apa hendak di kata. Hubungan mereka harus kandas di tengah jalan karena satu ego orang tua.
Assalamualaikum. Apa kabar readers? semoga kita sehat-sehat terus ya. Aamiin...
Oh iya, author mau meminta maaf nih karena kemarin tidak up sama sekali. Author jadi merasa seorang pembohong. Kemarin author kehabisan ide cerita, dan novel author yang lainnya juga butuh perhatian. Tapi Alhamdulillah hari ini mood author sudah kembali lagi. Semoga dengan crazy up ini bisa menutupi kesalahan author yang kemarin ya. Terimakasih yang sudah selalu setia mengikuti novel ini. Terimakasih juga yang sudah memberikan vote. Sampai ketemu besok ya. Author mau tidur dulu. Selamat malam. Love-love pull buat kalian semua.😘
__ADS_1
Happy reading.