
Shella menangis pilu di atas pelataran trotoar. Tangisan itu sangat pilu hingga mengoyak hati dan jiwanya. Kehilangan orang terkasih merupakan hal yang paling sulit untuk di terima. Namun, mengikhlaskan jauh lebih sulit. Ya, hatinya sulit untuk mengikhlaskan Ibrahim pada wanita lain. Namun, apalah daya dia tak sanggup berbuat lebih dari sekedar yang di lakukan.
Menyalahkan Tuhan bukanlah pilihan yang tepat, menangisi takdir bukanlah sikap yang baik, tetapi nasib di kandung badan selalu menyertai dan mengikuti kemana arah kaki melangkah.
Shella adalah wanita yang rapuh akan cinta, baik itu cinta kepada orang tua ataupun kepada kekasih. Berbicara mengenai orang tua, Shella bahkan tak pernah melihat bagaimana bentuk raut wajah kedua orang tuanya. Bagaimana lembut atau kasarnya tangan mereka. Bagaimana mereka menggendong Shella sewaktu kecil. Apakah dia di beri ASI eksklusif atau susu formula. Semua itu Shella tidak tahu.
Masih dengan menangis pilu hingga hujan turun, Shella belum juga beranjak dari tempatnya menangis dan meraung. Wajahnya yang sembab, kini terkena air hujan. Tubuhnya gemetar, bibirnya pucat, hingga ia terbaring tak sadarkan diri.
Tubuh itu kian melemah bagai tak bertenaga, hingga datanglah seseorang yang sedari tadi menyaksikan Shella dari kejauhan menggunakan mobilnya. Yaitu, Akemi. Pria itu sedari tadi melihat Shella dan juga Ibrahim. Bahkan semua percakapan keduanya terdengar sangat jelas di indera pendengaran pria tersebut.
Masih terngiang-ngiang dalam ingatan Akemi, bagaimana seorang Ibrahim memperlakukan Shella. Begitu besar cinta yang di miliki pria itu pada seorang Shella Yolanda. Apa? cinta? tahu kah kamu apa itu cinta Akemi? bahkan kamu tidak pernah tahu apa arti dari sebuah cinta dan hubungan.
Akemi mengangkat tubuh Shella yang basah kuyup. Dia memasukan wanita tersebut dalam mobilnya. Akemi memindahkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Shella, sungguh cantik luar biasa.
Masih teringat jelas di mata Akemi, bagaimana pertama kali dia melihat Shella beberapa jam yang lalu. Jantungnya seolah mulai berdegup kencang. Hatinya berdesir seakan berkata, bahwa dialah seseorang yang mampu mengalihkan dunia Akemi.
Mata polos yang memancarkan sinar ketulusan, seakan minta di kasihani. Raut wajahnya yang sederhana tanpa polesan make-up, bibirnya yang tipis berwarna pink alami, membuat jiwa Akemi terguncang merasakan sesuatu yang aneh. Ah, nikmat sekali. Rasanya sungguh tak terduga. Jika saja aku tahu rasanya jatuh cinta sangat nikmat, maka aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia. Aku akan merawat mu hingga tak ada satu orang pun yang menjatuhkan harkat dan martabat mu. Aku akan melindungi mu dari kejahatan orang-orang sombong di luar sana. Tak akan aku biarkan kamu menangis karena merasa terhina. Batin Akemi.
Akemi tersenyum tipis kala melihat wajah polos Shella. Dia ingin menunggu wanita itu sadar, tetapi sudah dua jam wanita itu belum juga sadarkan diri. merasa takut Shella sakit karena pakaian nya yang basah, akhirnya Akemi putuskan membawa Shella ke Apartemen miliknya yang bulan lalu di beli.
__ADS_1
Setibanya di Apartemen, Akemi menggendong Shella hingga ke lantai 15 menggunakan lift. Sedangkan Shella masih belum juga menyadarkan diri. Akemi membaringkan Shella di atas tempat tidur miliknya. Pria itu menyuruh pelayan wanita untuk mengganti baju Shella. Namun, ternyata wanita itu demam akibat terkena hujan.
Akemi merawat Shella dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Sampai pelayan yang tadi mengganti baju Shella merasa heran. Ini adalah kali pertama majikannya itu membawa seorang wanita di Apartemen. Terlebih lagi pelayan yang bernama Bi Ester itu tahu persis bagaimana sifat seorang Akemi Alexander Gautam. Dingin, dan juga pendiam. Jika Akemi memperlakukan seorang wanita dengan baik, artinya wanita itu sangat istimewa dalam hidup pria tersebut.
Akemi mengganti baju dan duduk di samping Shella. Pria itu terjaga, seakan wanita yang berada di depan itu adalah istri tercintanya. Tak lama Akemi merasa lelah, dan akhirnya tertidur di tepi ranjang sembari memegang tangan Shella.
Menjelang subuh, tangan itu bertautan seolah tak ingin saling melepas. Hingga waktu telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Shella mulai tersadar dari tidurnya. Dia melihat wajah pria asing tengah memegang tangannya dengan agresif. Wajah itu sangat tampan, tanpa Shella sadari, dia tersenyum tipis.
Puas melihat wajah Akemi, akhirnya Shella benar-benar kembali dengan kesadarannya. Dia melepas tangannya dari tangan Akemi, dan menutupi tubuhnya dengan selimut, seakan dirinya baru saja ternodai.
Merasa ada pergerakan, Akemi pun mulai sadar. Dia mengerjabkan matanya, dan melihat Shella tengah ketakutan.
"Sudah tidak demam," gumam Akemi.
"Bagaimana bisa saya ada disini?" Tanya Shella kaku. Wanita itu tampak berpikir bagaimana dia bisa berada dalam ruangan yang sangat mewah. Bahkan mengalahkan kemewahan rumah orang tua Ibrahim.
"Semalam aku melihat mu sangat menyedihkannya jatuh terkulai lemah di atas trotoar karena di tinggal pergi seorang pria," jawab Akemi datar. Namun, penuh penekanan.
Akhirnya Shella merasa malu, ternyata pria itu tahu apa yang menerpa dirinya semalam. Sungguh memalukan. Pikir Shella.
__ADS_1
"Lalu mengapa Taun membawa saya kesini?" Tanya Shella bingung.
"Lalu aku harus membawamu kemana? tidak kah kau memberitahuku alamat mu dimana? menyusahkan saja!" Gerutu Akemi, membuat Shella merasa bersalah. Namun sesungguhnya, hati Akemi merasa senang karena akhirnya dia bisa berada dekat dengan wanita yang sukses membuat jiwanya berteriak.
"Maafkan saya Tuan, saya jadi merepotkan Anda," sesal Shella.
"Sudah tahu, masih juga bertanya." Jawaban Akemi membuat hati Shella semakin di liputi rasa bersalah yang berlipat ganda. Bagaimana tidak, Akemi adalah seorang CEO dari Perusahaan tempatnya bekerja, justru memberinya tumpangan. Namun, di sisi lain Akemi justru merasa kan hal yang aneh. Hati dan otaknya tak sejalan. Hatinya merasa senang, tetapi otak menuntun bibirnya untuk berkata yang sebaliknya. Dasar pria payah. Akemi mengutuk dirinya sendiri. Dia benar-benar tak pandai menunjukkan perasaannya, terlebih lagi rasa simpati terhadap seorang wanita.
"Tuan, jika Anda mengizinkan. Bolehkah saya memakai kamar mandi Anda? atau kamar mandi pelayan juga tidak apa-apa. Karena saya hanyalah seorang petugas kebersihan Tuan," izin Shella polos. Wajahnya sendu. Sejujurnya hati Akemi merasa tercubit. Apakah dirinya sudah keterlambatan barusan? hingga Shella berkata dengan mengingat kan profesinya.
"Kamu pakai saja kamar mandi di kamar ini," ucap Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Tidak Tuan, saya gunakan kamar mandi pelayan saja. Kamar mandi tuan pasti sangat mewah, jadi--"
"Mau pakai atau aku akan menyuruh mu ke kamar mandi satpam yang berada di lantai dasar!" Ancam Akemi, sebelum akhirnya wanita itu mengikuti ucapan pria tersebut.
"Baiklah," ucap Shella. Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan.
Dan akhirnya Shella berkata, "Jangan lupa like, dan vote ya readers, hehe."
__ADS_1
Happy reading.