
Selama satu Minggu Alea terbaring lemah, ia hanya mengurung diri di kamar. Jika membutuhkan sesuatu, ia akan memencet tombol yang terhubung dengan dapur. Hingga saat ini, wanita itu masih menyembunyikan kehamilan nya pada pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut. Ia tidak ingin Javier mengambil hak atas anaknya kelak. Setelah perceraian yang semakin mendekat, Alea semakin memantapkan hatinya untuk menyembunyikan kebenaran tentang kehamilan nya.
Sementara Javier ketika mengetahui kondisi Alea semakin memburuk, pria itu melarang Alea untuk beraktivitas, terlebih lagi untuk urusan kantor. Semua tugas Alea di alihkan pada Alex, sedangkan Andre bertugas membantu proyek bersama Tuan Handoko.
Sikap Javier pun mulai menghangat, setiap hari ia berusaha untuk memperhatikan Alea. Menyisikan waktu untuk wanita yang terlanjur terluka dan kecewa padanya. Namun perubahan sikap Javier itu tidak membuat Alea membuka hati, wanita itu menepis segala perhatian yang di berikan Javier, ia terlanjur kecewa. Bukannya mendendam, hanya saja Alea sangat trauma atas perbuatan Javier yang melecehkan kondisi psikis nya. Mengatakan bahwa ia adalah wanita tidak penting merupakan hal yang sangat di ingat oleh wanita berambut madu tersebut. Menganggap dirinya boneka untuk di permainkan, dan parahnya lagi Javier mengatakan jika ia bercinta dengan dirinya karena terpaksa dan Javier merasa jijik akan hal itu. Bukan kah Alea yang di rugikan disini?. Sebagai wanita ia harus kehilangan harga dirinya yang selama 23 tahun di jaga, meruntuhkan segala pertahanan wanita itu, memporak-porandakan jiwanya, lalu kemudian pria bermata ba' kacang kenari itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Bukan kah itu seperti penghinaan bagi seorang wanita?. Sungguh menyedihkan bagi Alea.
Javier berjalan dengan langkah cepat, ingin rasanya ia segera sampai dimana tempat wanita yang ia sakiti selama ini berada. Ya, Javier mendapat telpon dari asiten rumah tangga nya jika kondisi Alea semakin drop. Dan Javier di buat heran plus kesal karena wanita itu tidak mau di bawa ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.
Kini Javier telah sampai di kamar Alea, ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Di lihatnya wanita yang sudah beberapa hari ini ia khawatir kan sedang tertidur pulas. Napas wanita itu bergerak secara teratur, wajahnya sangat teduh dan tenang. Membuat hati Javier menghangat.
Javier mendekati Alea dan mendaratkan tubuhnya ke sisi ranjang, lalu kemudian...
CUP...
Javier mencium kening Alea cukup lama, seolah merasa lega sekaligus bersalah. Ia bersyukur karena wanita yang selama ini ia hina dalam keadaan baik-baik saja.
"Syukurlah kamu baik-baik saja". Javier bermonolog. Di lihatnya Alea menggeliat kecil, mungkin wanita itu merasa terganggu karena adanya sentuhan yang di rasa pada kulitnya.
"Sudah bangun?. Bagaimana kondisi mu sekarang?. Apa kamu sudah makan?. Kalau belum biar aku suap".
"Keluarlah". Alea mengusir Javier dari kamarnya sambil memalingkan wajahnya, ia tidak ingin melihat wajah yang sangat di cintainya itu. Ia tak mau lagi memperjuangkan cintanya, bukankah berjuang sendirian itu sangat melelahkan?.
Pertanyaan Javier yang di lontarkan secara beruntun tidak membuat Alea merasa di perhatikan, namun wanita itu justru merasa di permainkan perasaannya. Minggu lalu ia di hina, dan Minggu berikutnya ia di sanjung, bukankah itu namanya plin plan?.
"Al, please. Beri aku kesempatan untuk merawat mu, em?". Suara hangat Javier membuat Alea memalingkan wajahnya untuk melihat Javier. Mata keduanya terkunci sejenak. Alea berusaha mencari sebuah ketulusan disana, namun ia tidak mau gegabah lagi untuk memutuskan suatu penilaian mengenai Javier. Dan hal itu hampir saja membuat pertahanan Alea runtuh. Namun sejurus kemudian ia memalingkan wajahnya, pun tak menjawab permintaan pria yang berada di depannya itu.
Kediaman Alea di anggap sebagai tanda persetujuan bagi Javier. Ia meraih mangkok bubur yang berada di atas nakas, dimana asisten rumah tangga nya menyiapkan sedari tadi.
"Buka mulut mu, biar aku suap".
"Aku bisa sendiri". Tolak Alea secara cepat.
__ADS_1
"Aaaaa"
"Aku bilang aku bisa sendiri Javier!". Intonasi suara Alea mulai meninggi, nafasnya memburu seolah ia baru saja melakukan lari maraton.
"Baiklah kamu boleh makan sendiri, asal kamu mau aku cium". Penuturan Javier membuat mata Alea membulat sempurna, ia tidak habis pikir dengan ucapan Javier barusan.
"Jadi pilih mana?. Mau makan atau aku cium?. Aku sih gak keberatan jika kamu lebih memilih untuk di cium". Terang Javier, membuat Alea memutar bola matanya merasa jengah.
"Baiklah. Suap saja". Akhirnya Alea mengalah, ia tidak memiliki pilihan lain. Dari pada harus di cium oleh pria yang sudah merusak kepercayaan diri nya. Sementara Javier menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan.
Lima menit Alea menghabiskan makanannya tanpa sisa. Melihat hal itu Javier tersenyum puas.
"Terimakasih". Ucap Alea dengan sungguh-sungguh. Dan tidak di sangka ucapan itu justru menjadi bumerang bagi dirinya. Karena kini posisi Javier menjadi lebih dekat dari yang tadi.
Javier membelai rambut Alea, lalu belaian itu beralih ke pipi mulus wanita yang mulai ia rindukan sentuhannya.
DEG...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat hati Javier kesal, ia mengumpat seseorang yang sudah berani menggangu konsentrasi nya. Sedikit lagi ia bisa meraih bibir wanita yang di rindukan nya itu.
"Shit. Ganggu saja". Umpatan Javier tersebut membuat Alea tersenyum, namun tak di sadari oleh Javier.
Javier membuka pintu dan melihat siapa orang yang sudah berani menggangu dirinya.
*Ada apa Bi?". Tanya Javier dengan suara kesal, ternyata asisten rumah tangga nya lah yang telah mengganggu aktivitas ciumannya.
"Maaf Tuan. Di bawah ada Tuan Alex sedang menunggu Anda".
"Baiklah. Kamu boleh pergi". Titah Javier. Dan asisten rumah tangga itu pun berlalu pergi meninggalkan Tuannya yang masih sedikit kesal.
__ADS_1
Javier menuruni anak tangga menuju ruang tamu dimana sahabatnya berada.
"Ngapain lo kesini?". Tanya Javier secara ketus.
"Aku dengar Alea sakit selama beberapa hari ini". Jawab Alex membuat Javier menoleh padanya dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak, pria itu baru saja menggangu konsentrasi nya untuk menjamah wanitanya tadi.
"Lo kesini hanya untuk menanyakan itu?". Alex menggidi kan bahunya.
"Salah satunya itu". Balas Alex dengan santai sebelum akhirnya ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi sofa.
"Alex?". Alea berlari kecil dan menghambur ke pelukan Alex, wanita itu tampak sangat bahagia ketika melihat pria yang sempat di cintainya itu dalam diam, Membuat mata Javier membulat, merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.