Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Bab. 44. Penjelasan Alex.


__ADS_3

Alex mengetuk pintu Apartemen Javier, karena merasa tak ada jawaban, ketukan itu berubah menjadi gedoran cukup keras hingga orang yang berada dalam Apartemen itu membuka pintunya dan tampaklah Javier dengan wajah urakan bagai seseorang yang tak terurus.


"Hei, hallo bro. Ayo masuk...". Tutur Javier mempersilahkan Alex masuk sambil tertawa mabuk dan memegang gelas minumannya. Ya, pria itu sementara melakukan aktivitas minumnya. Setiap hari Javier meminum minuman haram itu seperti telah menjadi kebutuhan hari-hari nya. Padahal minuman itu dulu sangat di jauhi dirinya.


"Ayo duduk. Atau kamu mau minum?". Tawar Javier seolah bersikap santai, namun gerak tubuhnya berkata lain.


"Alea sakit". Ucapan Alex menghentikan aktivitas Javier yang sedang menuangkan minuman untuk sahabat yang di bencinya itu.


"Mau pake es batu atau langsung saja?". Tutur Javier seolah mengacuhkan ucapan Alex dan melanjutkan menuang minuman di gelas yang sempat terhenti beberapa saat.


"Javier!". Bentak Alex. Pria itu kehilangan kesabaran dan akhirnya membentak pria yang tampak mabuk itu.


"Jaga sikapmu!. Ini rumahku!". Balas Javier tak kalah berang nya dari Alex.


"Javier, dengarkan aku baik-baik, apa yang kamu lakukan ini tidak benar. Kamu cuma salah paham, Vir". Tutur Alex dengan suara yang mulai melunak. Ia berusaha untuk meyakinkan sahabat nya itu.


"Hm". Javier tersenyum kecut sebelum akhirnya meminum sisa minumannya hingga habis dan meletakan gelas di atas meja.


"Apa kamu kesini hanya untuk berkata itu?". Tanya Javier dengan wajah datar. "Jika ia sebaiknya kamu pulang. Aku tidak mau mendengar apapun tentang wanita itu!". Lanjutnya kemudian tanpa menatap wajah Alex. Javier seperti menyembunyikan raut wajah sendunya ketika menyebut kata 'Wanita itu'.


"Apa kamu mencintai nya?". Pertanyaan Alex berhasil membuat Javier menoleh padanya dengan tatapan tajam. "Kau tidak perlu menjawabnya, wajahmu telah mengatakan segalanya". Lanjutnya kemudian sambil tersenyum mengejek.


"Pergilah. Aku tidak mau membahas apapun, apa lagi tentang wanita mura*an itu". Tutur Javier dengan santai namun penuh penekanan, dan hal itu membuat Alex berang. Hingga--


Bug...


Alex tidak sanggup menahan amarahnya lagi, baginya sudah cukup sahabatnya itu bertingkah.


"Kau---".


Javier menarik salah satu kerak baju Alex hingga keduanya pun saling menatap dengan tatapan membunuh.


"Apa yang membuatmu marah padaku?. Apa kamu cemburu?. Bukankah kamu tidak mencintainya?. Lalu apa yang membuatmu marah?". Kalimat pertanyaan yang begitu menohok jiwa Javier. Hatinya terasa tercubit dengan perkataan sahabatnya itu. Javier melepas baju Alex dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, ia tidak ingin Alex menatap matanya yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu.


"Pergilah". Titahnya dengan suara yang mulai melunak.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelum aku pergi dengar kan aku baik-baik". Ucap Alex sambil mendekati Javier dan berdiri di hadapan nya. "Alea tidak baik-baik saja. Dia sakit, bukan hanya secara fisik, hatinya juga hancur karena seseorang telah mematahkan hatinya". Lanjutnya kemudian sebelum akhirnya meninggalkan Javier yang tampak terkejut mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Ia masih mencerna satu persatu kata Alex, hingga ia sadar bahwa dirinya tinggal sendirian di tempat itu.


"Apa maksud Alex?". Tutur Javier seolah berpikir ingin mengartikan maksud dari ucapan sahabatnya itu. Mata Javier membulat seperti memahami sesuatu dan ia pun memasuki kamar untuk mengambil kunci mobil di atas nakas untuk menyusul Alex yang telah pergi dan meminta penjelasan. Namun saat ia mengambil kunci tersebut, sebuah kertas jatuh ke lantai hingga menghentikan langkahnya yang sudah ingin beranjak pergi.


Javier meraih kertas berupa perangko itu, dan di bacanya. Ternyata kertas itu adalah surat dari Airin yang beberapa bulan lalu di berikan Alex padanya. Namun saat itu Javier belum juga membaca isi surat Airin hingga ia meletakkan di atas nakas selama berbulan-bulan lamanya.

__ADS_1


*Teruntuk Javier.


Apa kabar, Vir?. Aku rasa kamu baik-baik saja meski tanpa aku. Aku ingin meminta maaf padamu atas apa yang terjadi. Aku tau aku salah, dan aku tidak pantas mendapatkan maaf mu. Tapi ketahuilah, Vir. Aku melakukan itu semua karena aku benar-benar bingung atas apa yang terjadi pada hubungan kita berdua. Kamu menjauh, mengacuhkanku, menghindari setiap topik pernikahan. Hingga aku bertemu seseorang yang menawarkan kenyamanan. Aku tidak menyalahkan mu dalam hal ini, aku lah yang salah. Harusnya aku tidak goyah, tapi aku terlalu rapuh dan naif untuk berharap lebih dari mu.


Javier...


Aku hanyalah seorang wanita lemah yang membutuhkan perhatian mu. Tapi kamu terlalu jauh untuk aku jangkau. Hingga aku terbuai dengan kenyamanan yang di berikan oleh Aditya. Kenyamanan yang selama ini kau tak pernah tawarkan padaku. Pernikahan...


Yah, aku memang menikah dengannya. Bahkan hal itu di ketahui oleh Mami dan Papi, tapi kamu jangan salahkan mereka, aku yang melarang mereka untuk tidak memberitahumu, karena aku tau, kau akan terluka.


Javier...


Aku akan pergi dari hidupmu. Dan jalanilah hidupmu dengan baik sekarang. Jangan sia-siakan wanita yang rela menghabiskan sisa hidupnya untuk mu demi mendapatkan perhatian dan cintamu. Jangan buat dirinya menunggu terlalu lama, jika itu terjadi maka, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.


Wanita itu mahluk lemah, Vir. Jika kamu menawarkan cinta untuknya, maka dia akan memberikan hidupnya untukmu.


Salam dariku.


Airin Pratiwi*.


****


Javier duduk terkulai lemah setelah membaca isi surat dari mantan kekasih nya itu. Ia seperti memahami sesuatu,


"Aku harus memastikan sesuatu. Ya, harus!". Javier bermonolog dan menghapus air mata yang sempat lolos ke wajahnya.


****


Di rumah, Alex baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan memakai baju kaos hitam dan celana pendek. Wajah pria itu tampak segar setelah terkena air hangat.


Ting tong...


Sebuah bel berbunyi, dan Alex pun pergi ke ruang tamu dan membuka pintu guna melihat siapa yang tengah malam ke rumahnya.


Kening Alex berkerut dalam hampir menyatu manakala ia melihat sahabatnya Javier berdiri tepat depannya dengan wajah yang sulit untuk di artikan.


Javier memasuki Apartemen Alex tanpa menunggu di persilahkan masuk oleh sang empunya. Pria itu masih saja dengan sikap angkuhnya meski dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Jelaskan padaku yang terjadi sebenarnya". Tutur Javier tanpa basa-basi, membuat Alex tersenyum mengejek.


"Apa kamu sudah siap?".

__ADS_1


"Cepat katakan!. Aku tidak punya banyak waktu!.


"Baiklah. Sebaiknya kamu duduk dulu". Titah Alex dan mereka pun duduk saling berdampingan.


"Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan Alea di hotel. Dia sedang mau mengambil makanan, tapi tidak jadi karena dia ingin mengenalkan ku dengan sahabatnya... Dina".


Tatapan Alex kosong kedepan dan terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu ketika menyebut nama 'Dina'.


"Dan aku menyetujui ajakan Alea. Kami pun ke kamar dimana Dina berada, dan tanpa aku tau ternyata sahabat Alea adalah Dina wanita yang selama ini aku cari". Lanjutnya kemudian. Wajah Alex berubah menjadi sendu seperti menyesali sesuatu. Alex menoleh pada Javier dan melihat pria itu yang tampak sedang bingung dengan dahi berkerut. Alex pun menepuk pundak Javier sambil tersenyum.


"Percayalah pada Alea. Dia tidak pernah mengkhianati mu. Dia adalah wanita yang baik dan setia. Saat itu dia hanya membalas pelukan ku karena tanpa sengaja aku memeluknya, melepaskan rasa bersalah ku pada Dina. Aku sangat terkejut ketika melihat wanita yang sangat aku cintai berada tepat di depan mataku. Ternyata selama ini kami tinggal di negara yang sama, bahkan kota yang sama. Tapi takdir tidak pernah mempertemukan kami, sampai saat insiden kecemburuan seseorang datang". Tutur Alex panjang lebar sambil tersenyum mengejek seolah menyindir sahabatnya itu.


"Is kau ini". Javier tampak salah tingkah dengan sindiran sahabatnya itu, namun masih dengan sikap angkuhnya.


"Jadi... Apa kamu sudah memahami sesuatu?". Tanya Alex dengan tatapan penuh selidik.


"Entahlah".


"Sejak kapan kamu mencintai Alea?".


DEG...


Pertanyaan Alex berhasil membuat jantung pria bermata coklat itu berdetak. Hanya mendengar namanya saja jantungnya sudah berdenyut kencang.


"Aku tidak tahu sejak kapan. Semuanya mengalir begitu saja. Berada di dekatnya membuat ku nyaman, dia mampu membuatku tersenyum lama. Aku sibuk mencari perhatian nya, hingga lupa bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku mematahkan prinsip ku sendiri. Tapi aku tidak berani untuk mengungkap perasaan ku. Entah itu karena masa laluku yang begitu menyakitkan, tapi Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Aku selalu menampik perasanku sendiri. Membuangnya sangat jauh, hingga aku benar-benar gelap mata ketika aku melihatnya bersama mu berdua di kamar Hotel". Tutur Javier panjang lebar dengan wajah penuh penyesalan. Tatapannya kosong.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2