Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Duren Matang.


__ADS_3

Akemi larut dalam suasana yang dia ciptakan sendiri, suasana romantis penuh kabut asmara. Shella pun merasakan hal yang sama, meski mulut tak dapat berkata cinta, tetapi bahasa tubuh itu tak bisa berbohong. Keduanya sama-sama saling membutuhkan, kendati diam tak berucap. Namun, sejatinya bahasa kalbu tak pernah bisa untuk menipu.


Suara irama pertautan itu begitu sangat indah, hingga membangkitkan jiwa kelakian Akemi. Bahkan sukses menumbuhkan hasrat yang menggebu-gebu di dalam sana. Shella tak dapat menolak lagi, memang sejak awal wanita itu tak pernah menolak setiap sentuhan Akemi, bahkan tak pernah memberontak. Selain berpikir, bahwa itu adalah merupakan kewajibannya sebagai seorang istri, Shella juga membutuhkan hal itu. Terlebih lagi jarak di antara mereka hampir tak pernah ada.


Ciuman ketiga itu sangat berkesan, Akemi merasa ingin meminta haknya sebagai suami, begitu juga Shella. Wanita itu ingin menjadikan dirinya sebagai seorang istri Seutuhnya. Pertautan antara bibir itu semakin menggairahkan, dan panas. Hingga membangkitkan anak konda yang mulai meronta di dalam sana. Bahkan larva Shella juga mulai keluar dan mencair. Mungkinkah mereka akan melakukannya saat ini? mungkinkah duren itu telah matang dan siap untuk di belah?


Akemi menuntun Shella untuk memperdalam ciuman, mengabsen setiap benda yang ada di dalam sana. Keduanya sudah sama-sama terbakar gairah yang mereka ciptakan sendiri. Gairah yang sudah memenuhi hati dan pikiran. Tak lama setelah itu, Akemi menggendong Shella untuk ke kamar. Namun, tak melepaskan pertautan bibir itu.


Transaksi air liur itu bagai mengalir deras ke dalam tubuh mereka. Hingga tibalah keduanya di dalam kamar. Akemi menutup pintu dengan menggunakan kaki. Setelah itu, Akemi membaringkan Shella di atas tempat tidur dan menindihnya. Lalu kemudian melepas pertautan yang bagai magnet itu. Akemi menatap mata Shella. Mata itu sudah merah karena panas yang membara. Tatapan itu sangat mendamba. Seandainya mata itu bisa berbicara, maka dia akan berteriak karena bahagia.


Akemi mengelus bibir Shella, bibir yang kini bagaikan candu. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci, mereka saling menatap satu sama lain. Namun, bibir mereka tiba-tiba menjadi kaku, lidahnya keluh, dan otak pun lumpuh. Lalu kemudian, "Bolehkah?" Tanya Akemi akhirnya setelah lama mengumpulkan keberanian untuk meminta haknya sebagai suami. Akemi sudah berangan-angan ingin membela duren malam ini. Karena pria itu merasa, bahwa duren Shella telah matang. Benarkah duren itu sudah matang? entahlah, karena Shella pun masih tampak diam membisu.


Shella bisa melihat kabut gairah itu telah memenuhi sekujur tubuh Akemi, bahkan anak konda pria itu bisa di rasakan nya. Keras dan sudah berdiri tegak. Shella menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Akemi sembari berkata, "Duren matang."


Mendengar dua kata persetujuan itu, Akemi tak membuang-buang waktu lagi. Bahkan untuk sekedar tersenyum bahagia pun di lewatkan nya saking tingginya hasrat yang membara. Pria itu mengulang pertukaran air liur dengan ritme yang lebih cepat, seolah berlomba siapa yang sang juaranya dalam pertautan bibir.


Shella berinisiatif untuk mengimbangi permainan, tangan wanita itu mulai bergerak ke atas kepala Akemi dan meremas rambutnya. Gerakan Keduanya semakin cepat dan membuncah. Gerakan yang di iringi saling melepas kain yang menempel pada tubuh mereka.


Satu persatu kain itu tertanggal dari kulit mereka yang mulus, hingga menyisakan kain dalam. Tangan Shella kembali memegang kepala Akemi untuk mengimbangi permainan yang mulai tampak beruntun.


Anak konda Akemi sudah siap untuk membela duren, tetapi pria itu masih belum ingin melakukan nya. Dia ingin membuat malam ini lebih berkesan dengan menciptakan desahan demi desahan yang membara. Dan terpenuhi lah keinginan itu. Akhirnya Shella mengeluarkan suara yang sukses membuat suasana semakin panas. Suara itu keluar dengan nada yang indah untuk di dengar. Bahkan tangan Akemi seolah menuntun suara itu untuk keluar lebih keras lagi dengan menyentuh anak duren Shella. Tangan kokoh yang mulai nakal, bermain-main di dalam sana seakan mengarahkan larva Shella untuk keluar dan merasakan nikmatnya dunia yang sesungguhnya.

__ADS_1


Tangan itu semakin pintar bergerak kesana kemari, memutar dan memelintir. Hingga Shella tak dapat lagi memendam perasaannya. Ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Shella merasa geli dan juga ingin membuang sesuatu. Tetapi rasanya sangat berbeda, nikmat tiada tara.


Masih terus berputar mengelilingi anak duren Shella, hingga akhirnya sesuatu yang aneh itu keluar juga. Dan Shella pun berteriak histeris saking nikmatnya dunia.


"Akemi..." Shella menyebut nama suaminya dengan nafas yang memburu. Kepala dan otaknya seolah berputar-putar. Jantungnya pun masih terus bekerja keras. Shella telah sampai ke puncak.


Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan disana. Pria itu merasa berhasil membuat istrinya merasakan kenikmatan dunia yang sesungguhnya. Bukankah sudah seharusnya seperti itu?


Shella ingin berucap, tetapi pria itu tak memberinya kesempatan untuk sekedar mengucapkan satu kata. Dia kembali bermain-main dengan benda kenyal milik Shella. Bahkan tangan kokoh itu dengan beraninya menyentuh kembali anak duren Shella. Tampaknya dia sudah tidak segan-segan lagi untuk beraksi. Aku akan membuatnya menjadi milikku seutuhnya, dan tak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Pikir Akemi.


Masih terus bermain-main menuju puncak, kali ini gunung berapi pun mulai meletus dan mengeluarkan larvanya yang panas. Bahkan larva itu sudah keluar beberapa kali. Akemi semakin bersemangat untuk bermain-main di atas gunung berapi. Hingga ia melihat istrinya sudah mulai tak berdaya. Sorot mata itu seolah berkata, "Aku sudah lelah." Namun, Akemi masih terus bermain-main menuju puncak. Pria itu benar-benar bangkit dan semangat. Akhirnya dia tidak tahan juga untuk membela duren Shella.


"Kamu akan merasakan ular ini sayang," bisik Akemi. Lalu kemudian anak konda itu mulai memasuki gunung berapi yang banyak larva. Namun, belum berhasil. Ketukan pertama gagal. Akemi tak mau putus asa, pria itu berusaha untuk masuk di dalam sana dan mengobrak-abrik isinya, seolah melakukan demonstrasi. Percobaan kedua dan ketiga gagal juga. Namun, Akemi sekali lagi tak mau berputus asa. Dia mencobanya lagi. Ternyata kulit duren Shella cukup tebal untuk di bela.


Tak lama setelah itu, anak konda Akemi berhasil, akhirnya masuk juga. Shella merasa sekujur tubuhnya lumpuh, uratnya seakan terputus. Beruntung Akemi belum melakukan pergerakan apapun. Dia seakan menunggu reaksi Shella yang mulai tenang.


"Sakit banget ya?" Tanya Akemi dengan suara lirih.


"Iya," jawab Shella dengan suara bergetar. Kepala wanita itu sakit bukan main. Matanya mulai berkaca-kaca. Sejujurnya Akemi merasa iba pada Shella, tetapi tak mungkin dia menghentikan permainan. Lagi pula duren Shella sudah terbelah. Lalu apa salahnya melanjutkan menikmati isi duren itu?


Lama diam tak bergerak, Shella pun akhirnya merasa tenang, karena rasa sakit itu perlahan mulai menyurut.

__ADS_1


"Sudah lebih baikan?" Tanya Akemi yang masih setia menunggu jawaban Shella. Akhirnya wanita itu mengangguk kan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Akemi.


Merasa keadaan aman dan terkendali, Akemi pun mulai bergerak naik turun dengan ritme yang rendah. Gerakan itu mengalun indah hingga menciptakan suara gesekan kulit. Sekujur tubuh Shella gemetar, namun bukan gemetar karena lapar, melainkan karena larvanya keluar terus menerus. Tubuhnya tak terkendali, dia menerima setiap sentuhan Akemi.


Permainan itu semakin tak terkendali, Akemi merasakan sesuatu akan keluar dari dalam sana. Rasanya sungguh nikmat. Shella mulai lelah, tetapi Akemi belum juga mengakhiri permainan yang entah sudah berapa jam mereka menyatu dalam kesatuan yang utuh.


Merasa kasihan pada Shella, akhirnya Akemi mengakhiri permainan itu dengan ritme yang lebih cepat.


Terus bergerak, bergerak, terus bergerak, dan bergerak, hingga, "Shella..." Akemi berteriak menyebut nama Istrinya. Kini anak konda Akemi mengeluarkan bisa nya yang tajam, dengan harapan akan ada Akemi kecil yang tumbuh di dalam sana.


Akemi jatuh di atas tubuh Shella, nafas keduanya memburuh seolah saling bersahutan. Dada mereka kembang kempis, dan akhirnya Akemi beralih membaringkan tubuhnya di sisi Shella setelah merasa anak konda nya mulai mengecil dan mencabutnya. Namun, sebelum itu, Akemi mengecup kening Shella dengan penuh cinta sembari berbisik, "Terimakasih sayang." Keduanya pun saling melempar senyum bahagia. Ya, Akemi dan Shella sama-sama merasa bahagia karena berhasil menjelajahi gunung berapi bersama hingga mengeluarkan larva, dan sukses membela duren matang itu.


To be continued.


Assalamualaikum. Hai readers, apa kabar? pasti part ini yang kalian tunggu-tunggu kan? iya kan? iya kan? haha.


Nah, sekarang author sudah membuat Akemi berhasil membela duren Shella. Kini giliran kalian yang memberi saya durian runtuh dengan cara like dan komen serta beri vote yang banyak ya. Kasi tip juga boleh. Haha.


Sampai ketemu nanti siang ya. Apakah masih melanjutkan bela duren part 2? tetap nantikan kelanjutan ceritanya ya readers.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2