
Aku sangat marah ketika Alea mengacuhkanku dan justru lebih dekat dengan Alex. Suami mana yang tak akan cemburu jika melihat istrinya tertawa bahagia bersama pria lain sedangkan bersama suami sendiri sangatlah bertolak belakang, terlebih lagi itu adalah bersama sahabat ku sendiri. Mungkin Alex tidak mengetahui perasaan Alea kepadanya, tapi Alea? bahkan dia sangat sadar beribu-ribu persen mencintai Alex.
Setelah menyaksikan interaksi Alea dan Alex yang menurutku mesra, aku memiliki niat untuk memberinya pelajaran pada wanita itu ketika berada di rumah nanti.
Aku memutuskan untuk pulang kantor lebih awal karena aku ingin berbicara pada Alea. Aku ingin menegaskan padanya bahwa dia adalah Istriku yang sah. Namun setibanya aku di rumah, aku tidak menemukan Alea dimana pun itu. Di kamar, dapur, ruang keluarga, kamar mandi, bahkan para asisten rumah tangga tidak ada yang tahu keberadaan istriku itu. Aku menjadi frustasi dan hampir gila di buatnya. Apakah Alea akan meninggalkan ku karena aku menghinanya sewaktu di kantor?. Pikirku.
"Alea, kamu dimana sayang?". Aku bertanya pada diri sendiri. Aku ingin menelpon dirinya, tapi aku terlalu menjunjung tinggi harga diriku. Aku ingin mendiamkannya sebagai sikap protes ku pada wanita itu. Tapi bukannya aku memprotes, justru aku yang di protes lewat kepergian Alea. Jujur saja, aku sangat takut kehilangannya. Aku yang pernah terluka di masa lalu, seketika sembuh karena pertemuan yang tak di sengaja. Aku jatuh cinta akan sikap dan kepolosan Alea. Dia mampu mengubah duniaku yang dingin menjadi hangat. Hanya saja aku tidak pandai mengekspresikan perasaan ku padanya. Aku tidak tau bagaimana cara menunjukkan cintaku pada istriku itu.
*****
Tepat jam 9 malam Alea pulang ke rumah. Aku berusaha untuk menetralkan emosi dan pikiran ku. Aku menunjukan sikap datar seolah tidak perduli. Namun sikap acuh Alea membuat hatiku panas.
"Kamu dari mana saja, ha?. Apa kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?". Tanyaku dengan wajah yang marah. Namun Alea tidak menjawab ku. Dia hanya berlalu pergi meninggalkan ku ke kamar mandi. Aku masih sabar menunggu, hingga wanita itu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama yang lengkap.
"Apa kamu tidak mendengar ku?. Apa kamu tuli?". Tanyaku lagi dengan emosi yang hampir tak terkendali.
"Kamu itu istriku Alea, sejak kapan kamu berani mengacuhkanku?. Dan sejak kapan kamu berani pulang selarut ini?. Dasar wanita murah*n!". Aku mengatai Wanitaku murah*n, hal yang tidak pernah aku bayangkan selama ini. Seberani itu kah aku padanya?.
"Istri?. Dengar baik-baik Tuan Javier Alexander yang terhormat. Apa Anda lupa poin pertama perjanjian kita? Bahwa kita tidak boleh saling mengikut campur urusan masing-masing. Lalu apa yang membuat Anda marah?".
__ADS_1
Pertanyaan Alea seolah mengingatkan aku akan posisiku di hati dan hidupnya. Seolah aku ini tak berarti apa-apa. Hatiku benar-benar sakit dan hancur berkeping-keping. Apakah kebersamaan kita selama masa pernikahan tidak berpengaruh pada hati dan hidupnya?. Pikirku.
"Dengar baik-baik Nona Alea. Apa kamu lupa jika aku bisa saja mengubah isi perjanjian itu sewaktu-waktu jika aku mau, jadi jaga sikap kasarmu itu Nona!". Aku menghempaskan tubuh Alea dan nyaris terjatuh di atas tempat tidur. Wajahnya berubah menjadi pias.
"Apa yang membuat mu marah Vir?. Bukankah kamu menikahi ku karena suatu tujuan?. Kamu ingin memanfaatkan otakku untuk kepentingan pribadi mu, dan aku selalu memenuhi itu. Lalu untuk apa kamu marah jika aku harus pulang selarut ini?. Bukankah kewajiban ku hanyalah membantu mu untuk mencapai ambisimu saja?. Lalu dimana letak kesalahan ku?". Mata Alea mulai berkaca-kaca. Kali ini dia berkata dengan suara lirih. Jujur saja, aku sangat terpukul dengan ucapan Alea saat itu. Betapa tidak tahu dirinya aku ini. Aku mencintainya, namun tak berani untuk mengungkapkan. Aku terlalu takut akan penolakannya, terlebih lagi dia mencintai sahabat ku sendiri. Aku sangat merasa bersalah membuat wanitaku sedih. Alih-alih ingin meminta maaf atas ucapanku sendiri, aku justru membentaknya. Aku berbelok haluan.
"Jika kamu mengetahui kewajibanmu, maka tetap tenanglah di rumah jika aku pulang dari kantor. Bukankah statusmu tetap istriku?. Maka bersikaplah seolah kamu adalah wanita yang sudah menikah. Paham!".
Wajah Alea berubah menjadi pias manakala ucapanku itu aku ucapakan dengan lantang seperti tanpa beban. Wajah sendu Alea membuat hatiku tercubit. Ingin rasanya aku menarik tubuhnya dan membenamkan dalam pelukanku. Tapi aku terlalu pengecut, aku masih saja menjunjung tinggi egoku. Wanita itu tidak menjawab ucapanku, dia memilih diam dan memasuki kamar mandi, entah apa yang di lakukan nya di dalam.
*****
Setelah dari kamar mandi, Alea mendaratkan tubuhnya di sofa tempat biasa dia tidur. Yah, selama beberapa bulan pernikahannya aku membiarkan Alea tidur di tempat kecil itu. Namun malam ini aku ingin mengajaknya tidur bersama ku di tempat tidur. Alih-alih ingin mengajaknya, aku justru mengajak Alea berdebat. Hingga ia merasa jengah dengan sikapku dan tidur membelakangiku di sofa tersebut. Aku menatap punggung istriku itu dengan perasaan bersalah. Apa yang sudah aku lakukan. Pikirku.
Ingin rasanya aku merangkul tubuhnya itu, namun hati dan otakku justru berkata lain. Terkadang aku berpikir bagaimana cara mencintai Alea dengan baik dan benar. Apakah aku terlalu terobsesi pada cintaku sehingga aku melupakan cara mencintai seseorang?. Terlalu lama bersikap angkuh membuatku bodoh akan satu hal, yaitu cara mencintai wanita dengan benar.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Mohon maaf ya Readers jika ceritanya mulai membosankan. Di part ini masih rada-rada melow. Jangan lupa like dan vote ya. Terimakasih.
__ADS_1
Happy Reading 😊
*Dede...