
Pasca kejadian malam itu Javier menjadi lebih dingin dan marah-marah, bahkan Alea di buat bingung. Selama seminggu Alea terus membacakan agenda Javier, namun lelaki itu tidak pernah konsentrasi. Javier selalu menyibukkan dirinya dengan perkerjaan yang sebenarnya bisa di wakilkan oleh Alex maupun Andre. Dia selalu menjadikan Alea sebagai bahan pelampiasan kemarahannya. Bahkan hal kecil pun akan memacu emosinya. seperti saat ini misalnya,
"Alea, apa organ pendengaranmu itu tidak berfungsi dengan baik?. Mengapa kamu terlahir tidak sempurna?. Sudah rabun, tuli lagi!". Javier memarahi Alea tanpa rasa bersalah sedikitpun, padahal Alea hanya menjalankan sesuai perintahnya, namun lelaki itu terlalu arogan membuat mata Alea berkaca-kaca.
"M--mafkan saya Pak". Dengan suara bergetar Alea meminta maaf, sebisa mungkin wanita itu menahan tangisnya agar tidak di ketahui oleh Javier.
"Kamu selalu minta maaf. Jangan hanya karena kamu selalu berhasil membantu memenangkan tender selama beberapa bulan ini lantas membuatmu besar kepala dan membangkang atasanmu!" Bentak Javier membuat air mata yang sedari tadi di tahan oleh Alea lolos begitu saja.
"Hiks... Hiks... Hiks...". Alea mulai terisak, dia ingin segera keluar dari ruangan pria yang berhati dingin it, namun dia takut hal itu justru akan memperkeruh hati Javier.
CEKLEK..
Pintu ruangan Javier terbuka, Alex menatap wajah sahabatnya itu dengan sedikit geram.
"Javier, apa yang kamu lakukan? kau membuatnya takut!". Bentak Alex yang sedari tadi mendengarkan kemarahan Javier di balik pintu ruangannya. "Alea, kamu boleh keluar. Istirahat lah. Tunggu aku di lobby, aku akan mengantarmu pulang". Titah Alex yang di susul dengan anggukan oleh Alea. Alea merasa lega karna Alex menyelamatkan dirinya dari kemarahan Javier. Alex selalu bersikap hangat padanya, Itulah mengapa Alea menyimpan rasa pada Alex, dia jatuh cinta pada Alex yang selalu bersikap ramah dan menghargai dirinya, berbeda dengan Javier yang selalu membuat tensinya naik turun.
Alex mendekati Javier dengan geram,
"Vir, lo sadar gak si apa yang baru saja lo lakuin?. Lo buat wanita itu menangis ketakutan. Kalo lo ada masalah bukan begini caranya". Tutur Alex dengan suara yang mulai mengeras.
"Tau apa lo?". Jawab Javier dengan suara arogan.
"Gue emang gak tau apa-apa, tapi yang gue tau lo itu sahabat gue yang berubah semenjak lima tahun yang lalu hanya karena seorang wanita yang pada dasarnya tidak di tau persis kesalahannya apa!". Jawab Alex dengan sarkatis.
"Tutup mulutmu Alex, aku ini bos mu jika kamu lupa".
"Ya, dan aku adalah sahabatmu jika kamu masih menganggapku. Vir, gue udah bilang sama lo, sebaiknya lo temui dia. Bicarakan masalah kalian baik-baik. Anggaplah dia salah, tapi paling tidak lo akan tau apa alasan dia sampai ngelakuin itu sama lo". Tutur Alex yang sudah mulai melunak. "Buang harga diri lo untuk sesaat Vir". Sambungnya.
__ADS_1
"Gak, gue gak sudih bertemu dengan seorang pengkhianat, gue gak punya hubungan dengan seorang wanita pengkhianat". Terang Javier dengan mengepalkan tangannya.
"Baiklah, terserah lo saja. Tapi ingat, Alea bukanlah objek pelampiasan kemarahan lo, dia gak tau apa-apa tentang masalalu lo. Kalo lo gak suka sama dia, kenapa lo gak pecat saja sekalian biar lo puas!". Tutur Alex dengan kegeraman yang kembali memasukinya. Alex berlalu pergi meninggalkan Javier dengan wajah angkuhnya. Alex menutup pintu ruangan Javier dengan sangat keras.
BRAK....
******
Di Hotel Deluxe
Tampak seorang wanita cantik berparas molek, berkulit putih bersih, berambut panjang dan lurus. Bentuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol menghantarkan dirinya menjadi seorang model terkenal hingga ke luar negeri. Karirnya yang cemerlang menambah poin kecantikannya, banyak lelaki yang terpikat padanya, namun di hempaskan begitu saja. Ketika sudah bosan maka dengan suka hati dia akan membuang percuma pria-prianya. Dia tidak mengejar harta pria-prianya, dia hanya bersenang-senang saja, bukankah dirinya sudah kelebihan materi dengan kerjaannya saat ini.
Wanita itu sedang memoles wajahnya dengan makeup yang sudah menjadi kebutuhan sehari-harinya, hinggap suara ketukan pintu kamarnya membuat aktivitas meriasnya berhenti seketika. Dia membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang baru saja berada di depannya.
"JAVIER".
Yah, Javier saat ini sedang berada di hotel tempatnya menginap selama beberapa minggu terakhir.
"Wah, ternyata kamu tidak berubah. Kamu masih tetap sama, mur*h*n". Javier tersenyum sinis.
"Vir, jika kamu kesini hanya untuk menghinaku, sebaiknya kamu pergi dari sini".
"Aku juga tidak mau berlama-lama denganmu disini". Javier menatap Wanita itu dengan wajah datarnya. Dia perlahan berjalan mendekati wanita itu dan mencengkram kedua lengannya dengan keras,
"Untuk apa kau kembali lagi, ha?. Apa tujuanmu kali ini AIRIN PRATIWI, atau aku harus memanggilmu, TIWI?". Javier menghempaskan tubuh Airin hingga hampir saja terjatuh.
Airin adalah wanita dari masa lalu Javier, dia pernah menjadi satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hati seorang Javier Alexander. Mereka menjalin kasih cukup lama, tiga tahun lamanya memadu kasih tidak membuat Javier dan Airin saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya sebuah insiden yang membuat hati Javier porak-poranda, Airin menghancur luluh lantakkan hidup Javier. Dia dengan teganya berselingkuh dengan seseorang yang di anggap Adik oleh Javier. Dia adalah Aditya Pratama, pria yang minggu lalu menabrak Javier di sebuah club saat merayakan keberhasilan Javier memenangkan tender bersama Tuan Handoko.
__ADS_1
"Apa peduli mu jika aku kembali?. Apa itu berpengaruh dengan karir yang selama ini kamu idam-idamkan?". Tutur Airin dengan senyuman sinis di wajahnya.
"Kau---".
"Vir, harusnya kamu mengoreksi dirimu. Mengapa aku memilih jalan yang membuatmu kecewa padaku". Terang Airin.
"Apa maksudmu ha?. Apa kamu pikir aku yang salah dalam hal ini?". Tanya Javier dengan memegang erat dagu Airin.
"Lepasin!. Apa kamu lupa bagaimana dulu kamu menolak ku ha?". Airin menghempaskan tangan Javier dengan sekuat tenaga membuat tangan Javier terhempas. Javier mengeratkan rahangnya, ingin rasanya dia menampar wanita itu dengan sekuat tenaga, namun masih di tahannya.
"Baiklah, jelaskan padaku apa alasanmu". Javier bertutur dengan suara yang mulai melunak, memberi kesempatan pada wanita yang mengisi hari-harinya selama tiga tahun itu untuk menjelaskan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.
*Dede...