Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Kenangan Itu. (Panti Asuhan).


__ADS_3

Keesokan harinya, Akemi benar-benar membuktikan, bahwa mereka mengunjungi Panti Asuhan tempat Shella di besarkan. Akemi tak pernah main-main dengan ucapannya. Dia selalu berusaha untuk membuktikan setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya.


Perjalanan yang di tempuh menuju Panti Asuhan tersebut adalah berjarak 50 kilometer. Cukup jauh memang, tetapi Akemi sangat menikmati perjalanan tersebut. Karena dengan begitu, dia bisa bersama Shella sepanjang waktu. Kendati sebenarnya setiap hari mereka bersama, tetapi entah mengapa Akemi merasa kurang dan tak puas dengan kebersamaan mereka di rumah. Mungkin setelah ini, mereka butuh refreshing selain bulan madu di Maladewa waktu itu.


Dalam perjalanan itu, Shella hanya terdiam membisu. Di jalan itu dia seolah melihat dirinya yang dulu berjalan kaki mengelilingi desa untuk menawarkan pisang goreng dagangannya pada setiap orang yang di lihatnya. Di jalan itu pula, Shella menerima hinaan dari Ibu Ibrahim dengan menyiramkan sebotol air ke wajahnya, karena ketahuan menjalin cinta bersama putra wanita paruh baya tersebut. Saat itu untuk pertama kalinya Shella menerima penolakan dan penghinaan yang sakit tiada tara.


"Dasar wanita pembawa sial!"


Kalimat itu seakan berteriak keras di telinga Shella hingga menghujam ke jantung.


Kini Shella melewati rumah yang tak asing di matanya, yakni rumah Ibrahim. Rumah yang dulu di tapaki nya dengan penuh keyakinan akan mendapatkan restu dan menjadi menantu di dalam rumah tersebut. Sekali lagi Shella seolah melihat bagaimana dulu keadaannya ketika ia mendapat kan penghinaan dan penolakan dari Ibu serta Ayah Ibrahim.


Semua kenangan pahit itu seolah bermain-main di pelupuk mata Shella. Sakit rasanya jika mengingat bagaimana kehidupan nya dulu. Meski kenangan itu seolah tergantikan dengan kebahagiaan yang di berikan Akemi, tetapi tak dapat menutupi luka hati Shella yang kini menganga kembali seiring pertemuan nya dengan Nisa tempo hari.


Tak terasa air mata Shella turun membasahi pipinya yang mulus tanpa permisi. Dia seolah merasakan luka sayatan kembali, dan kena tepat di jantungnya. Di jalan itulah dulu dia harus berjuang sendirian untuk menegaskan, bahwa dia bukan wanita pembawa sial. Saat itu Shella berteriak dalam hati, jiwanya menjerit, dia seolah ingin berkata pada dunia, jika dia bukanlah wanita pembawa sial. Dia adalah wanita baik-baik seperti wanita lainnya.


Ingatan itu kembali menghujam jantung Shella, hingga tubuhnya tersentak ketika mobil yang di kendarai nya telah memasuki area Panti Asuhan dan sudah berhenti di pelataran Panti tersebut.


Shella menyeka sisa-sisa Aira mata yang berada di sudut matanya. Akemi menatap Shella dengan tatapan tak terbaca.


"Kita sudah sampai," ucap Akemi datar.


"Iya, ayo kita turun," jawab Shella. Shella ingin membuka pintu mobil, tetapi Akemi menghentikan gerakan wanita tersebut. Shella menoleh pada Akemi dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Shella.


"Jika kamu tidak siap untuk masuk, maka sebaiknya kita pulang saja," jawab Akemi.


"Aku baik-baik saja, mengapa berkata seperti itu?" ujar Shella dengan kening berkerut.


"Apakah kamu yakin baik-baik saja?" Akemi tak menjawab pertanyaan Shella, pria itu justru kembali melempar pertanyaan pada wanita tersebut.


"Tentu saja," jawab Shella mantap.


"Baiklah, kalau begitu tersenyum lah. Aku lihat sejak tadi kamu seperti memendam sesuatu. Jika Ibu Panti melihat mu seperti ini, maka aku akan di anggap suami yang gagal untuk membahagiakan istrinya," jawab Akemi sembari menyelipkan kata godaan di akhir kalimatnya. Shella tersenyum manis.


"Tentu saja aku bahagia, aku bahkan sangat bersyukur memiliki mu. Jadi berhentilah menganggap dirimu gagal, em?" Jawab Shella sembari tersenyum hangat. Senyuman itu mampu meluluh lantakkan pertahanan Akemi. Senyuman itu sungguh manis.


"Mengapa kamu harus kehilangan kesadaran?" Tanya Shella bingung.


"Ular naga Bonar ku sudah berjoget ria di dalam sini hanya dengan melihat senyuman mu itu sayang," bisik Akemi sensual, membuat Shella meremang panas dingin.


"Is, kamu ini. Tenangkan ular mu sebelum dia mematok ku disini," tandas Shella sedikit kesal. Bagaimana tidak, Anak konda Akemi benar-benar berdiri dan dapat di lihat oleh Shella lewat gumpalan yang menonjol dari balik celana pria tersebut.


Setelah merasa tenang, akhirnya Akemi dan Shella masuk ke Panti Asuhan dengan membawa buah tangan yang begitu banyak. Berbagai macam mainan, boneka, buku, Al-Qur'an, dan beberapa bahan makanan mentah serta cemilan, di bawah oleh Akemi dan Shella sebagai satu bentuk terimakasih kepada Panti Asuhan tersebut karena telah membesarkan Shella hingga tumbuh dewasa.


Akemi juga menjadi donatur terbesar di Panti Asuhan tersebut. Bahkan pria itu juga berjanji akan memperluas area Panti Asuhan itu dengan menambah beberapa bangunan dan juga swalayan agar anak-anak Panti tak merasa kesusahan ketika harus jajan atau berdesak-desakan di kamar yang kecil.

__ADS_1


"Kamu sungguh beruntung Shella menikah dengan pria itu," ucap Ibu Panti di sela-sela kebersamaan nya dengan Shella. Mereka duduk di kursi sudut ruangan Aula, dimana mereka bisa melihat Akemi sedang bermain bersama anak-anak Panti lainnya.


"Kamu tidak akan mendapatkan pria sebaik dia Nak. Bahkan kebaikannya, tak akan kamu temukan dalam diri Ibrahim," lanjut Ibu mantap. Ya, Ibu Panti yang bernama Nurul itu sangat yakin jika Ibrahim tak pantas untuk Shella. Entah apa yang membuat nya begitu yakin. Hanya saja, sorot mata wanita paruh baya yang mengenakan kerudungnya syar'i itu sangat tahu betul bagaimana sifat kedua orang tua Ibrahim yang menentang keras hubungan keduanya. Bahkan Ibrahim tak berdaya, pria itu seolah berhenti berjuang untuk mempertahankan Shella. Ibrahim hanya mengumbar kata cinta, tetapi tak mampu meluluhkan ego kedua orang tuanya. Perjuangan itu seolah berhenti di tengah jalan tanpa ujung.


"Aku tahu Bu, Akemi adalah pria yang baik. Aku bisa melihat dan merasakan itu. Begitu besar cinta yang dia berikan untuk ku. Dia bahkan menutupi kesedihan ku dulu dengan berbagai macam kebahagiaan. Hingga aku lupa, siapa aku dulu. Bahkan kedua orang tuanya melakukan hal yang sama. Tak pernah sekalipun aku merasakan kesepian ketika berada di dekat mereka. Aku seolah lupa, bahwa aku anak yatim piatu, Bu." Mata Shella mulai berkaca-kaca. Ternyata cinta Shella sangatlah besar pada Akemi. Sungguh tak terhingga cinta itu. Sorot mata Shella, dapat menceritakan segalanya, bahwa betapa dia sangat mencintai pria yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut.


"Apakah kamu sangat mencintai nya?"


Deg,


Pertanyaan itu untuk pertama kalinya di tujukan pada dirinya. Tak ada seorang pun yang bertanya seberapa besar cinta Shella pada Akemi. Dan kini pertanyaan itu muncul dari wanita paruh baya yang dulu menemukan dirinya di depan pintu Panti Asuhan, dan merawatnya selayaknya anak kandung.


"Iya, aku sangat mencintai nya," jawab Shella akhirnya setelah beberapa saat diam, dan penuh dengan ketulusan.


"Apakah itu artinya kamu sudah melupakan Ibrahim?"


Deg,


Sekali lagi jantung Shella terasa terhenti sejenak. Jangan bertanya apakah Ibrahim masih ada dalam hatinya atau tidak. Shella bahkan hampir lupa, jika dia pernah menjalin hubungan bersama pria tersebut dahulu. Pria itu sudah tak ada lagi dalam hati Shella, bahkan untuk memikirkannya pun tak pernah lagi. Baginya saat ini hanya Akemi lah yang menjadi satu-satunya pria yang di cintai Shella.


"Tentu saja aku sudah melupakan dia," jawab Shella mantap, sembari menatap penuh cinta ke arah sang suami, Akemi Alexander Gautam.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2