Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Aku Adalah Wanita Egois.


__ADS_3

Shella menangis dalam pelukan Akemi, wanita itu tersedu-sedu seakan meratapi nasib yang tak pernah di bayangkan nya. Sementara Akemi terus mengelus rambut Shella. Pria itu seolah tak jera menyalurkan kasih sayang pada wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Maafkan aku Akemi, aku adalah wanita egois. Aku tak memikirkan perasaan mu ketika mengatakan semuanya. Aku seperti wanita yang tidak tahu diri. Aku adalah wanita bodoh. Bagaimana bisa aku menyesali keputusan ku dulu. Sedangkan ada kamu, pria yang aku pilih, pria yang aku cintai. Hiks, hiks, maafkan aku," tutur Shella penuh sesal.


Akemi melepas pelukannya, lalu menyeka air mata Shella. Dan berakhir dengan kecupan hangat di kening wanita tersebut.


"Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sayang, semuanya adalah kehendak yang di atas. Semua yang terjadi adalah rencana Illahi. Kita hanya menjalankan naskah dari-NYA," balas Akemi dengan suara lembut. Shella semakin merasa bersalah. Dia benar-benar bersyukur karena memiliki suami pengertian seperti Akemi.


"Kamu terlalu baik untuk ku, tidak hanya dirimu, tapi termasuk keluarga mu juga. Mereka menerimaku tanpa syarat. Entah apa jadinya aku bila tanpa kalian. Hiks, hiks, hiks." Shella kembali terisak penuh sesal sekaligus terharu. Dia adalah salah satu wanita beruntung di dunia ini, karena memiliki Akemi.


"Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu, aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai manusia sekaligus Suami mu," balas Akemi.


Shella menatap mata perak Akemi, dia bisa melihat sejuta cinta Dimata pria tersebut untuk dirinya. Cinta itu warnanya putih, tanpa noda sama sekali.


"Mengapa kamu mencintai ku sebanyak itu?" Tanya Shella masih dengan menatap mata Akemi.


"Karena kamu pantas untuk di cintai sayang." Jawaban Akemi membuat Shella semakin merasa bersalah karena telah menyakiti Akemi untuk sesaat.


"Apakah kamu akan terus seperti ini jika aku sudah tua nanti?" Tanya Shella selanjutnya.


"Tentu saja, kita akan menua bersama, dan membesarkan anak-anak kita bersama pula. Bahkan jika rambut mu memutih, kulitmu keriput, dan tubuh mu rapuh, aku tetap akan mencintai mu seperti saat ini," balas Akemi tulus. Shella semakin merasa di cintai selayaknya seorang ratu. Begitu besar kah cinta Akemi untuk nya?


"Terimakasih sudah mencintai ku sebesar itu. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama. Maafkan aku yang sempat egois," tutur Shella sembari menundukkan kepalanya. Dia menyesali sikapnya yang terlalu berlebihan tadi.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, kamu jangan pikirkan itu. Kamu hanya terguncang dengan kondisi Ibrahim. Aku juga sangat shock tadi ketika Tante Nisa memberitahu ku. Sejujurnya dia tak ingin kamu tahu tentang kondisi Ibrahim. Karena dia takut itu akan berpengaruh terhadap hubungan kita," terang Akemi. Kening Shella berkerut penuh tanya.


"Mengapa?"


"Karena dia yakin, bahwa kamu akan lebih sering mengunjungi Ibrahim di banding harus bersamaku. Tapi aku tidak pernah merasa di abaikan. Itu bukanlah sebuah pengkhianatan, tetapi kewajiban seorang adik untuk Kakak nya." Sumpah demi apapun, ingin rasanya Shella mengantongi Akemi kemana-mana agar tak ada wanita lain yang melirik dan menaruh hati pada suaminya itu.


"Mengapa kamu sangat mempercayai ku? bagaimana jika aku benar-benar mengkhianati mu?" uji Shella. Wanita itu masih ingin mengetahui sejauh mana pria yang berstatus sebagai suaminya itu menaruh kepercayaan terhadap nya.


"Seorang wanita yang rela melepas cintanya demi menjaga hati seorang Ibu, apakah pantas untuk tak di percaya? jika surga orang lain dia jaga, lalu mengapa surganya sendiri dia abaikan?" Seketika Shella memeluk tubuh Akemi. Dia benar-benar terharu tiap mendengar jawaban pria tersebut. Terimakasih Tuhan sudah memberikan suami seperti Akemi untuk ku. Batin Shella.


"Maafkan aku yang tak sempurna ini, aku terlalu kecil untuk mu. Tapi kamu memberiku tempat tertinggi di sisimu."


Dua insan ciptaan Tuhan yang saling mengasihi itu pun menyelesaikan percakapan yang cukup menguras emosi dan air mata itu, dan berakhir dengan kecupan hangat. Dan mereka pun akhirnya masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


**


Sementara kali ini Akemi tak menemani Shella, pria tampan tersebut sedang melaksanakan pertemuan penting untuk pembangunan panti asuhan di daerah kota B. Dia hanya menyuruh supir pribadi mereka untuk mengantar Shella.


"Kamu sudah datang?" tutur Ibrahim sembari menatap wajah Shella dengan hangat. Namun, ada yang berbeda dengan tatapan itu kali ini. Seperti sayu karena kurang tidur.


"Apakah kamu sakit? mengapa wajahmu pucat sekali?" tanya Shella selembut mungkin dan penuh ketenangan. Padahal sejujurnya dalam hati wanita itu menangis. Ya, dia menangisi kondisi Ibrahim yang begitu memprihatinkan. Dimana wajah pria itu terlihat sangat pucat bagai tak teraliri darah. Matanya sayu, dan kelihatan lebih kurus.


"Iya, aku sakit. Aku sakit bila harus berada jauh dari mu," jawab Ibrahim.

__ADS_1


"Tapi aku sudah ada disini sekarang kan?" jawab Shella dengan suara yang di buat-buat. Akhirnya Ibrahim tersenyum. Pria itu berbicara seperti selayaknya manusia normal jika itu bersama Shella. Namun, ketika dia berhadapan dengan orang lain, maka dia seperti tak mengenali dunia ini.


"Kamu tidak berubah Shella, kamu masih saja seperti anak kecil. Kamu adalah Ella ku dulu. Gadis kecil berambut kuncir. Ella dan Babam." Ella dan Babam adalah nama kecil Shella dan Ibrahim. Mereka sering memanggil nama dengan sebutan Ella dan Babam. Namun, setelah dewasa Shella berhenti menyebut Ibrahim dengan sebutan Babam, dia lebih sering memanggil dengan Kak Ibrahim. Sementara Ibrahim tetap setia menyebut nama Shella dengan sebutan Ella.


"Iya Kak Babam, aku adalah gadis kecil mu dulu. Ella si rambut kuncir. Apakah Kakak masih mengingat nya?" jawab Shella sembari tersenyum.


"Tentu saja aku mengingat masa kecil kita. Aku bahkan mengingat bagaimana caraku menguncir rambut mu. Apakah kamu mau mencobanya?" Ibrahim tampak antusias untuk menguncir rambut Shella selayaknya anak kecil, seolah mengulang momen dimasa lalu.


"Apakah kita harus melakukan itu?" tanya Shella.


"Tentu saja jika kamu bersedia. Aku bahkan punya sisir dan ikat rambut untuk mu," jawab Ibrahim mantap. Kening Shella berkerut penuh tanya. Dari mana Ibrahim mendapatkan ikat rambut dan sisir? bukankah dia seorang pria? lalu bagaimana dia bisa memiliki itu semua?


"Tunggu sebentar," ucap Ibrahim kemudian. Pria itu mengambil sebuah ikat rambut dan sisir yang berada di bawah kasur tempatnya tidur. Entah bagaimana ceritanya sampai pria itu memiliki dua benda tersebut.


"Ini dia, lihatlah. Aku punya ikat rambut dan sisir. Aku tidak bohong kan?" ucap Ibrahim sambil menunjukkan dua benda tersebut pada Shella sembari tersenyum. Pria itu terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain pada Ibunya. Hati Shella menjadi tercubit, dia merasa iba atas kondisi Ibrahim saat ini. Mata Shella mulai berkaca-kaca. Dia begitu terharu sekaligus sedih. Bagaimana bisa pria sebaik Ibrahim harus menanggung beban hidup yang begitu berat? apa salah pria ini? dia hanya mencintai wanita yang di anggap nya pantas untuk di cintai.


Shella menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Ibrahim. Dia tak sanggup berkata-kata, hanya bahasa tubuh lah yang sanggup dia peragakan.


Tak lama Ibrahim mulai menyisir rambut Shella, pria itu cukup pintar dalam mengikat rambut. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang melihat keduanya dari balik pintu sembari menangis penuh haru.


"Lihatlah Nisa, pengaruh Shella begitu kuat pada putra kita. Dia bahkan seperti manusia normal jika itu menyangkut Shella. Bahkan dia seperti tak memiliki penyakit sama sekali." Ya, Nisa dan Suaminya melihat kebersamaan Shella dan Ibrahim. Keduanya tampak sangat menikmati kebersamaan mereka, selayaknya anak kecil yang sedang bermain-main.


"Kamu benar sayang, Shella adalah pelita Ibrahim. Aku menyesal dulu tak menceritakan tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Jika saja aku tak menyalahkan wanita malang itu dulu, mungkin ceritanya akan berbeda," balas Nisa sembari menangis. Begitu juga dengan Suaminya. Meski tak bersuara, tetapi pria paruh baya itu menitikan air mata penuh sesal.

__ADS_1


Terkadang orang tua tak selamanya benar dalam suatu peristiwa. Adakalanya mereka harus melihat dari sisi anak-anaknya. Jika sesuatu itu baik di mata agama, maka baiklah hidupnya. Namun, jika salah di mata agama, maka terserah Tuhan apa mau NYA.


To be continued.


__ADS_2