
Satu bulan setelah Javier dan Alea pindah ke rumah baru mereka, tak banyak yang berubah. Hanya saja emosi Javier mulai stabil, namun hal itu tidak berpengaruh pada kondisi psikis Alea. Wanita itu masih saja takut untuk sekedar berbicara pada suaminya tersebut. Hanya jika Javier butuh sesuatu, ia akan bicara pada pria tersebut. Namun jika tidak ada hal lainnya, wanita itu lebih memilih diam. Baginya diam adalah jalan terbaik untuk mengobati luka yang sengaja di toreh kan oleh Javier. Dan benar saja, hal itu berhasil membuat Javier uring-uringan. Kadang pria itu sengaja membaut hati Alea kesal, namun wanita itu sengaja mengacuhkannya. Jika dulu Alea menanggapinya dengan menangis, namun lain halnya sekarang. Mungkin waktu yang membuat ia berubah. Seperti saat ini. Alea sedang memasak di dapur sesuai dengan keinginan Javier, namun pria itu sengaja mengubah menu makan malam mereka tanpa memberitahu Alea sebelumnya, hal itu tentu saja membuat Alea kesal, namun sebisa mungkin ia menepis kekesalan itu. Baginya, perdebatan tidak akan menyelesaikan masalah.
"Aku tidak mau makan ayam goreng. Aku mau nya makan stik". Tutur Javier seolah memprotes menu masakan Alea.
"Baiklah". Jawab Alea singkat.
"Gak deh. Aku mau asparagus. Ah, bukan spaghetti saja sama soto ayam, nasi goreng, dan... sayur bening". Begitu banyak menu yang sengaja di sebut oleh Javier, membuat Alea mengumpat dalam hati.
'Ni orang manusia apa jin sih?. Maunya banyak banget. Apa dia mau buka restoran sekalian. Dasar bunglon'.
"Apa kamu sedang mengumpat ku?". Pertanyaan Javier membuat kening Alea berkerut dalam.
"Apa aku mengatakan sesuatu?". Jawaban Alea membuat Javier salah tingkah. Pria itu berpikir ia berhasil membuat Alea kesal, namun wajah wanita itu tampak datar tanpa ekspresi.
"Baiklah. Masak semua menu yang tadi aku sebutkan. Ingat, jangan ada yang tertinggal". Titah Javier. Ia sengaja menekan kata 'Jangan ada yang tertinggal' agar Alea merasa kesal.
Alea tidak menjawab ucapan Javier, ia hanya tetap fokus dengan masakannya. Sementara Javier di buat bingung dengan sikap Alea yang tampak tenang. Javier terpaksa meninggalkan Alea di dapur, pria itu menuju ruang keluarga yang letaknya tidak jauh dari dapur. Sesekali pria itu melihat Alea yang sedang berkutat dengan pekerjaan rumahnya, ada sedikit rasa bersalah dalam benak Javier ketika melihat Alea mengusap keringat di keningnya.
"Apa aku keterlaluan ya tadi?. Ya sudahlah. Itu urusannya". Javier bermonolog.
Satu jam lamanya Alea menyelesaikan semua menu masakan yang di inginkan oleh Javier. Pria itu di buat takjub manakala semua menu yang tersaji di meja makan tidak ada satupun yang kurang dari keinginannya tadi.
"Kamu masak sebanyak ini siapa yang mau makan?". Tanya Javier dengan ekspresi seolah marah. Padahal ia sengaja hanya mau melihat kekesalan Alea.
"Nanti aku bagi ke tetangga. Bilang saja majikan ku sedang berulang tahun". Jawabnya singkat.
"Enak saja. Apa aku bekerja keras untuk memberi makan tetangga?".
"Kalau begitu habiskan semua makanan ini jika kamu mau". Alea menghentakkan sendok makan di atas piring yang di sajikan olehnya dan berlalu meninggalkan Javier yang masih terdiam karena jawaban Alea.
"Kenapa dia yang marah?. Harusnya kan aku yang marah". Javier tidak memperdulikan kepergian Alea, ia hanya menaikkan bahunya tanda tak perduli, dan ia pun asik menyantap semua menu makanan yang di buat oleh istrinya tersebut. Dan ternyata semua makanan yang di cicipinya sangat menggugah selera.
"Wah, ternyata dia pintar masak juga. Tapi kenapa dia tidak makan?. Apa aku antarkan saja makanan ini di kamarnya ya?". Ada sedikit rasa iba di hati Javier manakala ia mengingat Alea telah bekerja keras untuk memasak semua menu makanan yang tersedia, ia pun mengambilkan makanan yang sekiranya di sukai oleh istrinya itu.
Javier telah sampai di depan pintu kamar Alea, ia merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar wanita itu. Namun ketika ingin mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu kamar Alea terbuka dan tampaklah Alea yang telah rapi dengan mengenakan pakaian mini dress dan di lapisi sweater rajut untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu mau kemana?". Tanya Javier dengan kening berkerut.
"Aku mau keluar sebentar". Jawab Alea singkat seolah ingin mengacuhkan Javier.
"Siapa yang memberimu izin untuk pergi?". Balas Javier.
"Baiklah aku tidak akan pergi". Jawab Alea sambil menutup pintu dengan sedikit keras.
BRAK...
"Alea buka pintunya. Aku mau bica---". Belum sempat Javier menyelesaikan kalimatnya pintu kamar Alea kembali terbuka.
__ADS_1
"Ada apa?". Tanya Alea datar.
"Ehem, A-ku membawakan mu makanan. Makanlah. Aku tau kamu belum makan sejak tadi dan--".
"Terimakasih".
BRAK...
Javier tampak diam mematung di depan pintu kamar Alea. Ia merasa heran dengan sikap istrinya tersebut.
"Dia kenapa?. Apa dia sedang datang bulan?". Javier mengidikan bahunya merasa acuh. Ia pun meninggalkan kamar Alea menuju kamar tidurnya sendiri.
"Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa rasanya sesakit ini Tuhan?. Apa salah ku?. Javier, setidaknya hargai aku. Hiks... Hiks...". Alea terisak dalam kamar sambil menutup rapat mulutnya agar tidak di dengar oleh Javier. Ia begitu terpukul dengan sikap Javier yang memperlakukan dirinya seperti mainan. Wanita itu menangis sepanjang malam hingga ia terlelap dengan sisa-sisa air mata yang menetes di pipinya.
*****
Pagi-pagi sekali Alea meninggalkan rumah. Tujuannya adalah ingin memeriksakan kondisinya ke rumah sakit. Wanita itu merasa mual ketika bangun tidur, di kiranya ia hanya masuk angin, namun semakin lama mual nya semakin bertambah, bahkan ia merasa sensitif terhadap bau. Dan makanan yang di beri oleh Javier semalam tidak di sentuhnya sedikitpun.
*****
Di sebuah rumah sakit ternama, dimana sahabatnya Dina bertugas sebagai dokter kandungan.
"Din, gimana hasilnya?". Tanya Alea dengan wajah sedikit pucat.
"Al, kamu hamil". Ada sedikit keraguan di wajah Dina untuk memberitahu kondisi sahabatnya itu, namun wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut tidak memiliki pilihan lain selain memberitahu yang sebenarnya.
"Din, tolong rahasiakan ini pada siapapun, termasuk sama Mama dan Papa". Titah Alea sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Apa kamu yakin, Al?". Dina merasa ragu akan keputusan Alea. Bukankah suatu saat kehamilannya akan bertambah besar?.
"Aku yakin Din. Untuk saat ini biar kamu saja yang tau. Aku tidak ingin siapapun mengetahui jika aku hamil".
"Tapi , Al".
"Please...". Permintaan Alea tidak dapat di bantah oleh Dina. Wanita itu terlanjur kecewa dan terluka pada cintanya yang mungkin ia akan berhenti perjuangkan. Bukankah sudah ada benih dalam rahim wanita itu?. Anggap saja itu ada Javier junior yang menaungi tubuh Alea.
"Baiklah jika itu mau mu. Tapi apa kamu tidak berniat untuk memberitahukan Ayahnya?". Pertanyaan Dina membuat Alea menitikan air mata. Ia begitu terluka, bahkan ketika seseorang menyebut nama pria itu, hatinya teriris, seolah mengingat perbuatan Javier yang selalu menyakitinya.
"Aku capek Din. Kali ini aku harus bangkit. Ada titipan Tuhan dalam rahimku. Dan aku harus menjaganya. Tolong bantu aku untuk merahasiakan ini dari siapa pun". Alea meraih tangan Dina sebagai permohonan dirinya.
"Baiklah. Sebaiknya kamu pulang. Jangan lupa minum vitamin yang aku berikan. Jaga kesehatan, dan makan yang teratur ya. Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menelpon ku". Titah Dina panjang lebar.
"Ia, bawel banget sih". Dina dan Alea tersenyum sebelum akhirnya wanita itu meninggalkan ruang dimana sahabatnya bertugas.
"Semoga kamu baik-baik saja Al". Dina bermonolog. Namun saat dirinya ingin melanjutkan kerjaan nya, ia melihat ponsel Alea yang tertinggal. Dina pun keluar dari ruangannya guna mencari sahabatnya tersebut.
"Semoga saja dia masih berada di sekitar sini". Dina berbicara sambil melangkah cepat, dan tiba-tiba saja,
__ADS_1
Bug...
"Maaf-maaf, aku tidak sengaja". Dina tidak memperdulikan siapa yang di tabrak nya, ia terlalu fokus pada sahabatmu Alea yang hampir saja naik Taxi,
"Hei!". Panggil pria yang di tabrak oleh Dina.
"Alex". Panggil Andre pada sahabatnya tersebut. Ya, yang di tabrak oleh Dina tadi adalah Alex. Sebenarnya Alex ingin mengejar wanita yang menabrak dirinya, karena ia ingin memastikan sesuatu, namun Andre sudah telanjur memanggil dirinya. Dan ia pun menemui sahabat yang telah menunggunya cukup lama tersebut.
*****
Sementara di halaman rumah sakit, tampak Dina yang ngos-ngosan sambil memegang dadanya karena mengejar Alea untuk memberikan ponsel miliknya.
"Al, ponsel mu".
"Astaga, aku sampai lupa. Terimakasih ya Din". Tutur Alea sambil memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama. Kamu hati-hati ya". Titah Dina. Dan Alea pun meninggalkan rumah sakit, tanpa di sadari ada dua pasang mata yang memperhatikan keduanya dari jauh.
"Alea. Sedang apa dia di rumah sakit ini. Dan siapa wanita yang bersamanya tadi?. Sepertinya tidak asing". Alex tampak berpikir apa yang di lakukan oleh istri dari bos sekaligus sahabatnya itu di rumah sakit tanpa Javier. Ya, tanpa sengaja Alex melihat Alea dari kejauhan. Alex datang ke rumah sakit atas panggilan Andre. Pria itu ingin memeriksakan kondisi kekasihnya Naura yang tangah hamil, namun pria yang terkenal playboy itu tidak mengakui anak yang di kandung oleh Naura kekasihnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hay Readers, Mohon beri like dan komen. Jangan lupa vote untuk beri sedikit trip, dan jangan lupa beri bintang juga ya. Terimakasih.
Oh ia. Sekedar info ya Readers, untuk cerita Alex dan Andre nanti Author akan bahas disini juga. Atau jika kalian memiliki pendapat mengenai perjalanan cinta Alex dan Andre, silahkan beri saran di kolom komentar ya.
Happy Reading.
"Dede...
__ADS_1