
Javier menatap tak percaya pada istrinya yang sedang merapikan semua pakaiannya dalam koper.
"Kamu benar-benar mau meninggalkan ku lagi?". Tanya Javier dengan wajah sendu. Ia benar-benar tidak mau kehilangan Alea lagi. Baginya dua bulan sudah cukup menyiksa batin dan pikiran pria tersebut.
"Baiklah, aku harus mengatakan nya". Tutur Javier dengan suara pelan sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya,
"Aku mencintaimu Alea Marwah". Alea yang sedang merapikan pakaiannya pun berhenti seketika. Kalimat yang selama ini di nantikan oleh wanita berambut warna madu tersebut akhirnya ia dengarkan juga.
"Alea, aku tahu aku salah selama ini. Aku tidak pernah menyatakan cintaku padamu, apa yang aku lakukan selalu bertolak belakang dengan hati dan pikiran ku. Aku terlalu mencintaimu hingga aku tidak suka kamu bersama pria lain, termasuk... Alex. Waktu itu aku benar-benar marah karena cemburu. Hatiku hancur dan terluka. Apa kau tahu Alea?. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu". Javier menghentikan kalimat nya sejenak dan menarik napasnya perlahan,
"Ya, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Suatu pertemuan yang tidak terduga hingga menghantarkan kita menjadi lebih dekat lagi. Saat itu aku ingin mengetahui perasaan mu padaku, namun aku mendengar jika kamu mencintai Alex. Hatiku sangat hancur saat itu. Aku menangis dalam diam hingga melupakan akal sehatku dan selalu memarahimu. Kamu tidak pernah melihatku dengan cinta, tapi pada Alex?, kamu bahkan sadar 100% Mencintainya".
"Apa kamu tahu?. Pernikahan kita itu sah di mata agama dan hukum. Pernikahan yang kamu anggap kontrak, itu hanyalah akal-akalan ku saja agar aku bisa mendapatkan dirimu. Meski tidak mencintai ku, tapi kita memiliki waktu selama satu tahun agar kamu bisa melihat cinta di mataku. Alea, aku mencintaimu, benar-benar mencintai mu".
"Saat kamu pergi meninggalkan ku, aku baru sadar bahwa akulah yang egois dalam hal ini. Aku tidak pernah menyatakan cinta ku padamu. Aku seperti orang gila, hidup tanpa tujuan. Setengah jiwaku pergi, bahkan aku menyumpahi diriku sendiri, aku bukan pria yang baik, aku tidak berguna".
"Aku mencintaimu Alea Marwah. Namun, Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya saat itu. Mengetahui kenyataan bahwa kamu mencintai sahabat ku sendiri membuatku terluka dan frustasi. Maafkan aku. Aku mencintaimu Alea, benar-benar mencintai mu. Tolong jangan tinggalkan aku".
Mata Javier mulai berkaca-kaca selama mengutarakan perasaan yang selama ini di pendam nya, kepala pria itu tertunduk penuh sesal. Sedangkan Alea yang mendengar pengakuan cinta Javier pun menitikan air mata. Namun posisinya yang sedang membelakangi suaminya tersebut, sehingga pria bermata coklat itu tidak menyadari adanya senyuman dan air mata bahagia di wajah Alea.
Alea mengusap air matanya yang sempat lolos tanpa permisi di pipi nya lalu berkata,
"Apa kamu sudah selesai berpuisi?"
Toeng...
"Ha?"
"Puisi?. Siapa yang puisi?. Aku sedang mengutarakan perasaan ku padanya, dia bilang aku sedang berpuisi?. Apa aku ini Khairil Anwar?. Atau persis WS. Rendra?. Wah aku benar-benar tidak mengerti wanita". Gumam Javier dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Alea. Wanita itupun menahan tawanya karena berhasil menggoda suaminya tersebut.
"Kalau Kamu sudah selesai membaca puisi, ayo bantu aku mengemasi barang-barang ku". Titah Alea dengan wajah penuh perintah. Namun sejatinya hati wanita cantik tersebut sedang berbunga-bunga. Seperti ada ribuan kupu-kupu di atas kepala wanita tersebut.
"Tapi kamu mau kemana?".
"Tentu saja ke rumah kita. Apa kamu mau kita tinggal terus di apartemen Alex?. Baiklah, aku sih tidak jadi masalah---".
"Kita pulang".
__ADS_1
Javier memotong Kalimat Alea hingga menghampiri wanita itu hanya dengan satu langkah besar. Alea yang melihat nya pun tersenyum.
"Katanya Mmmmm---". Belum selesai Alea berbicara, bibir Javier sudah lebih dulu mencium bibir Alea dengan rakus. Alea yang merasa terkejut pun mengerjabkan matanya beberapa kali. Namun kesadaran nya kembali beberapa saat kemudian dan membalas ciuman Javier. Bibir keduanya pun saling bertautan, menyesap hingga ke ubun-ubun, ada tuntutan ingin melakukan lebih dari sekedar tautan dan transaksi air liur yang menjadi istilah Javier.
Puas mengabsen segala isi dalam mulut Alea, Javier pun ingin beralih ke leher istri nya tersebut, hingga...
"Apa kalian sedang berkompetisi untuk mengetahui bibir siapa yang lebih tebal?"
Alex yang baru saja pulang dari kantor tiba-tiba muncul di pintu kamar Alea hingga merusak suasana keduanya. Javier pun melepas ciumannya, sedangkan Alea jangan di tanya lagi. Wajah wanita itu berubah menjadi merah merona akibat malu.
"Shit!. Apa kamu tidak bisa tidak menggangu kami?. Merusak saja suasana!". Hati Javier pun benar-benar kesal.
"Pintu kamar terbuka, jadi aku pikir kalian sedang tidak melakukan apa-apa. Lagian kalo mau ciuman itu tutup pintu dulu. Akhirnya adik kecil mu jadi terbangun deh dari tidurnya". Cibir Alex sambil melihat tubuh bagian bawah Javier yang mulai mengeras dan bentuknya hampir kentara.
"Sialan lo".
"Hah, apa kalian lupa?. Ini tuh rumah bujang, melihat kalian berciuman membuat jiwa jomloh ku meronta-ronta". Tutur Alex dengan wajah sendu yang di buat-buat.
"Makanya menikah. Dasar bujang lapuk". Cibir Javier.
"Ala..., baru juga lo baikan sama bini lo udah main cibir gue aja".
"Tentu saja mau pulang. Apa kamu mau kita tinggal di Apartemen kamu terus?. Nanti kita gak bebas lagi". Tutur Javier dengan wajah mesumnya.
"Sudah-sudah". Alea mendekati Alex yang masih berdiri di ambang pintu.
"Alex, terimakasih banyak karena sudah membantuku selama ini. Maaf jika aku merepotkan mu". Tutur Alea dengan mata berkaca-kaca dan penuh ketulusan. Wanita itu merasa terharu atas bantuan yang di lakukan Alex untuknya selama ia bersembunyi dari Javier.
Melihat Alea yang hampir saja menitikan air mata, Alex pun memegang kedua lengan Alea.
"Al, kamu sudah aku anggap seperti adik. Jangan sungkan jika kamu butuh sesuatu. Termasuk... Pria itu. Jika dia berani menyakiti mu lagi, datang saja padaku. Aku akan membawa mu lari sampai dia tidak akan menemukan mu". Tutur Alex dengan suara yang di buat-buat, hingga Javier memelototi pria tersebut, dan Alex pun hanya tersenyum mengejek.
"Sudah. Jangan lama-lama sentuh istri gue, entar istri gue rabies lagi!". Javier menyingkirkan tangan Alex yang masih setia berada di kedua lengan istrinya tersebut.
"Enak aja, emang gue guk-guk apa?!".
"Kali aja lo---"
__ADS_1
"Sudah-sudah. Bisa gak sih kalian itu gak usah meributkan hal yang gak penting?". Alea merasa kesal pada dua pria yang selama beberapa hari ini selalu saja berdebat, terutama pada suaminya.
"Sayang, kamu itu penting. Bagaimana bisa kamu bilang kalo kamu gak penting?".
"Oh ya?. Tidakkah kamu mengatakan itu karena aku sedang mengandung anakmu?. Bukannya dulu aku bukan wanita penting bagimu?". Alea menyangsikan ucapan Javier.
"Hehe. Sayang, kamu kan tau sendiri alasannya waktu itu. Aku cemburu tahu".
Javier mengecilkan suaranya karena malu pada Alea dan juga Alex. Kali ini harga dirinya ia turunkan dan mengakui jika saat itu ia cemburu pada Alex. Alea yang melihat ekspresi malu suaminya pun tersenyum, namun tak di ketahui oleh suaminya tersebut.
"Sudahlah. Sebaiknya kalian pulang deh di rumah kalian, bosan gue lihat kemesraan yang Kalian tunjukkan. Gak tau apa kalo gue jomblo akut?". Alex yang beberapa menit yang lalu cuma menyaksikan perdebatan kecil suami istri tersebut, pun menimpali pembicaraan keduanya.
Sejenak Javier menatap tajam wajah Alex. Namun sang sahabat pun hanya tersenyum bagai tanpa dosa. Tetapi Javier tidak merasa sakit hati atau pun kecewa. Setelah tatapan itu, keduanya pun tersenyum dan berpelukan seolah saling berterimakasih dan memberi selamat.
"Terimakasih Lex. Kalo gak ada lo, entah bagaimana jadinya hidup gue. Alea aman itu juga berkat lo. Terimakasih". Tutur Javier dengan tulus.
"Lo mesti traktir gue".
"Beres".
Keduanya pun saling melepas pelukan dan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Alea. Wanita itu merasa terharu akan kedua pria yang berbeda karakter tersebut hingga menitikan air mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa like dan vote serta komentar juga ya. Beri bintang juga. Terimakasih.