
Setelah mendengar penjelasan Dokter Kiara, Shella dan Nisa sama-sama terguncang. Kedua wanita itu berjalan diam tanpa kata. Tatapan mereka kosong. Bahkan air mata yang tadinya bercucuran, kini seakan mengering dan lelah untuk keluar. Dunia Shella dan Nisa seolah berhenti sejenak. Kondisi Ibrahim sangat memprihatikan. Apa salah Dan dosa pria itu sampai dia harus menanggung beban yang begitu berat. Bahkan untuk menyakiti seekor semut pun dia sulit untuk menyentuhnya. Tapi mengapa takdir tak adil terhadap pria itu?
Tak lama datang lah Ayah Ibrahim dengan langkah cepat dan wajah panik. Pria paruh baya itu sangat terkejut ketika mendengar kondisi putra semata wayangnya tak memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Anak yang di rawatnya sedari kecil, kini harus tak berdaya di atas pembaringan Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi pada Ibrahim? apakah benar kata Dokter? apakah tak ada lagi harapan untuk dia? hu, hu, hu." Ayah Ibrahim akhirnya menangis. Dia yang selama ini tegar akan kondisi putra semata wayangnya itu, tetapi kini pria paruh baya itu seolah rapuh. Dunianya juga runtuh seketika.
"Sayang, apa salah putra kita? kita yang bersalah dalam hal ini, tapi mengapa harus Ibrahim yang di hukum? hu, hu, hu," lanjut Ayah Ibrahim kemudian. Sesungguhnya kedua orang tua paruh baya itu sedang mendapatkan hukuman dari Tuhan atas perbuatannya sendiri. Bukankah dengan melihat kondisi Ibrahim yang tak berdaya, itu merupakan hukuman yang menyakitkan? sebagai orang tua, tentu saja tak ingin melihat anaknya jatuh sakit. Terlebih lagi harus mengidap penyakit yang mematikan.
"Shella, tolong bantu kami Nak. Tolong buat Ibrahim sadar. Dia belum memaafkan kesalahan kami. Hu, hu, hu," pinta Nisa. Shella pun merasa iba pada Nisa dan Suaminya. Meski sejujurnya dia juga tak kalah sedihnya dari mereka.
"Tante, Aku ke ruang ICU dulu. Permisi," pamit Shella tanpa menjawab ucapan Nisa.
Shella pergi meninggalkan Nisa dan Suaminya dalam keadaan yang tidak karuan. Hatinya benar-benar teriris dan terluka. Luka itu sangat besar dan menganga. Jika saja dia bisa melakukan sesuatu yang mampu mengembalikan kondisi Ibrahim seperti semula, maka Shella akan melakukannya. Terlebih lagi pria itu sangat berharga bagi Shella. Mereka baru saja memupuk harapan untuk saling hidup berdampingan, kendati sebagai saudara.
Kini tibalah Shella di depan ruang ICU. Dia membuka pintu ruangan yang membuat jantungnya bekerja keras itu dengan pelan. Air mata Shella mengalir deras sedari tadi.
Shella duduk di kursi samping Ibrahim. Ada banyak selang yang melekat pada tubuh pria yang tinggal tulang di lapisi kulit tersebut sembari memegang tangannya.
"Kakak, sampai kapan Kakak akan seperti ini? apakah Kakak tidak ingin melihat ku bahagia? apakah kamu lupa dengan janji kita? bukankah kamu ingin meraih mimpi mu? kalau kamu ingin kita menikah, maka ayo kita menikah. Kita akan hidup bahagia bersama. Kita akan memiliki anak-anak yang lucu seperti yang kita impikan dulu. Tapi tolong, bangunlah Kak. Aku mohon, hu, hu, hu." Shella menangis pilu di ruang ICU. Wanita itu mengatakan banyak hal yang tak seharusnya di katakan. Dia bahkan seolah melupakan statusnya sebagai istri Akemi demi menyadarkan Ibrahim yang tak berdaya. Pria itu seperti mayat hidup yang mati segan, hidup pun tak mau.
"Kak Ibrahim, tidakkah kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu? aku benar-benar mencintaimu Kak. Cintaku padamu dulu adalah tulus. Percayalah Kak, aku tak pernah berhenti berjuang dulu. Aku hanya menunggu mu untuk menjemput ku di tempat yang jauh. Aku sengaja meninggalkan mu agar aku tahu sejauh mana kamu mencintai ku. Ternyata aku berhasil mengujimu. Kamu lulus ujian Kak, kamu lulus. Ayo kita menikah Kak, ayolah bangun. Hu, hu, hu."Shella terus menangis, meraung, dan berteriak dengan harapan pria itu tersadar dari tidur panjangnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau Kakak tidak mau bangun, aku akan pergi bersama pria lain! aku akan meninggalkan Kakak sendirian lagi disini. Kakak akan kembali berjuang sendirian tanpa aku lagi! bangun bodoh, bangun! hu, hu, hu." Shella memukul-mukul tepi ranjang seolah melampiaskan amarahnya pada takdir yang begitu menyakitkan.
Tak lama terdengar suara monitor berbunyi yang menandakan detak jantung Ibrahim berjalan tak seperti biasanya.
Tit, tit, tit,
Shella melihat kearah monitor, lalu kemudian beralih melihat Ibrahim yang kini telah membuka mata. Shella ingin berteriak memanggil Dokter, tetapi Ibrahim menahan dirinya dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya.
"Ella," lirih Ibrahim sembari memegang tangan Shella.
"Kakak, Kakak sudah sadar?" ucap Shella sembari menangis haru.
"Mau sampai kapan kamu akan terus membohongi ku?" Tanya Ibrahim dengan suara parau. Pria itu seperti kehilangan tenaga selama berhari-hari.
"Kamu tidak perlu melanjutkan kebohongan mu Ella, aku tahu kamu sudah menikah."
Deg,
Benarkah Ibrahim tahu, bahwa Shella telah menikah? itu artinya pria itu sudah sadar dan kembali normal?
"Apakah Kak Ibrahim sudah sadar sekarang? apakah Kakak mengingat semuanya?" tanya Shella antusias dengan suara kaku. Ibrahim hanya tersenyum lemah atas pertanyaan Shella itu.
__ADS_1
Melihat Ibrahim yang akhirnya sadar, Shella pun memanggil dokter dan juga Nisa serta Suaminya untuk memberitahukan, bahwa Ibrahim telah sadar dari komanya.
Betapa bahagianya Nisa dan Suaminya ketika kabar menggembirakan itu sampai ke telinga mereka. Bahkan kondisi kejiwaan Ibrahim telah pulih dengan sendirinya seperti sediakala. Mungkin inilah yang di namakan mukjizat dari Tuhan.
"Terimakasih Tuhan, terimakasih karena Engkau telah menyadarkan putraku. Hu, hu, hu," ucap Nisa sembari menitikan air mata bahagia. Nisa beralih melihat Shella yang juga tak kalah bahagianya.
"Terimakasih Nak, terimakasih. Entah apa yang harus aku lakukan padamu agar kamu mau memaafkan kami. Aku--" Nisa masih ingin melanjutkan kalimatnya, tetapi Shella sudah memotong ucapan wanita paruh baya tersebut.
"Tante, aku tidak melakukan apa-apa dalam hal ini. Dan jangan pernah meminta maaf padaku lagi. Aku sudah melupakan semuanya," jawab Shella sungguh-sungguh. Nisa semakin merasa bersalah kepada Shella. Dia menyesali perbuatannya dahulu, karena menelantarkan Shella yang seharusnya di rawatnya selayaknya seorang putri kandung.
Tak lama terdengar suara Ibrahim memanggil Shella dan menanyakan sesuatu yang sukses membuat Nisa dan Suaminya, serta Shella senam jantung.
"Ella, apakah kamu benar-benar ingin menikah dengan ku?"
Deg,
Pertanyaan yang tak pernah di duga oleh siapapun, kini terucap dari bibir pucat Ibrahim.
Apakah jawaban Shella? apakah wanita itu rela meninggalkan Akemi demi mengembalikan keadaan Ibrahim? ataukah justru pria itu harus menelan kembali pil kekecewaan? atau Ibrahim merelakan Shella bersama Akemi?
Saksikan kisah selanjutnya ya readers.
__ADS_1
To be continued.
Assalamualaikum. Mohon maaf ya lama update nya. Selama hampir dua Minggu ini Author lagi bersemedi di dunia nyata karena turunnya level karya Novel ini. Tapi Author kini kembali untuk menghibur kalian semua. Nah, sekarang gantian kalian yang harus menghibur Author, dengan cara like, komen yang bijak, dan jangan lupa Vote yang banyak ya. Terimakasih. Sampai jumpa besok.