
Puas melihat Alea melepas kenikmatan, Javier kembali merengkuh wanita itu. Hingga keduanya menyatu dalam satu kali hentakan.
Alea menitikan air mata karena rasa sakit yang melanda. Rintihan itu terhenti ketika Javier tidak bergerak untuk memulai. Melihat Alea merasa tenang, Javier bergerak secara berirama hingga pergumulan keduanya pun terjadi.
Selepas percintaan yang terjadi antara Alea dan Javier, keduanya pun tertidur saling berpelukan seolah tidak ingin berpisah.
******
Sinar mentari mulai memasuki ruangan yang dimana dua insan sedang tertidur pulas. Nafas keduanya bergerak teratur. Javier memeluk Alea yang sedang tertidur membelakanginya. Entah berapa lama mereka tidur sambil berpelukan, namun kini posisi Alea sedang membelakangi Javier.
Alea membuka matanya secara perlahan karena di rasa ada sesuatu yang menindih pinggulnya. Ia menoleh melihat benda itu, betapa terkejutnya Alea ketika melihat tangan kekar Javier melingkar sempurna di pinggul rampingnya. 'Astaga, apa yang terjadi?. Kenapa bisa aku tidur bersamanya?. Dan apa ini? kenapa aku tidak mengenakan pakaian sama sekali?'. Batin Alea mulai bertanya-tanya. 'Apakah semalam itu bukan mimpi?'. Alea merasa bingung. Di singkirkan lengan kekar tersebut untuk memastikan tubuh bagian bawahnya, dan betapa terkejutnya Alea melihat bercak darah yang menempel pada seprei, ia pun merasa pedih pada bagian bawah tubuhnya. 'Astaga jadi semalam itu nyata?'. Alea menutup mulut menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri menahan selimut agar tetap menutupi tubuhnya. Alea menitikan air mata ketika melihat Javier sedang tertidur pulas. Merasa kesal dengan pria itu, namun bukankah itu adalah kewajibannya sebagai istri?
"Mmmmm---, selamat pagi". Javier merenggangkan ototnya lalu bangun dari tempat pembaringan dan mengecup kening Alea secara kilat. Tentu saja hal itu membuat Alea kaget, 'Ada apa dengan pria ini?'. Alea menatap bingung Javier. Karena mendapat tatapan dari Alea, Javier pun tersenyum.
"Apa aku setampan itu hingga matamu tidak berkedip sedikitpun?. Awas nanti kamu ileran loh". Javier sengaja menggoda Alea hingga wajah wanita itu memerah.
"Ge'er banget sih jadi orang". Bantah Alea sambil memalingkan wajahnya. Ia ketahuan mengagumi ketampanan Javier. kalau boleh jujur Alea menggumi Javier ketika melihat wajah pria itu tertidur pulas tadi, dan ketika suaminya itu bangun dan merenggangkan ototnya, Alea menelan slavinya merasa terpesona dengan tubuh kekar suaminya tersebut. Kini Alea seperti kedapatan mencuri.
"Tapi wajahmu berubah warna, seperti ingin berkata------- aku ketahuan. Haha". Javier menertawakan tingkah Alea yang malu akan sikapnya sendiri. Sementara Alea mengumpat suaminya itu dengan geram, 'Dasar pria mesum. Kelaut saja sana!'.
"Aku mau mandi". Alea menarik paksa selimut yang di kenakannya bersama Javier untuk menutupi tubuhnya hingga tubuh polos Javier terlihat sempurnah oleh Alea.
"Aaaaaakkkk---" Alea menutup matanya sambil berteriak manakala melihat Javier tidak menggunakan celana. Namun bukannya merasa malu, pria itu justru tersenyum melihat wajah dan juga sikap Alea yang tampak salah tingkah. "Pakai celanamu Javier". Titah Alea dengan suara keras. Wanita itu benar-benar malu melihat suaminya.
"Emang kenapa?. Semalam juga kamu sudah merasakannya. Bahkan kamu mengeluarkan suara desahan, ssssaa----". Javier mempraktekkan cara Alea mendesah hingga wajah wanita itu kembali merah bagai kepiting rebus.
'Hah, memalukan!. Kenapa semalam aku mengeluarkan suara laknat itu?. Ini lagi, kenapa juga dia berubah jadi pria mesum sih?'. Alea hanya bisa membatin, tidak tau bagaimana cara harus membalas perkataan Javier karena itu memang benar adanya.
__ADS_1
"Kenapa harus di bahas sih?". Alea memberanikan diri menatap Javier, tatapan penuh kekesalan tentunya. Namun bukannya menyurut perbuatan Javier, pria itu justru semakin menggoda istrinya tersebut.
"Supaya kamu tau siapa yang lebih menikmati adegan semalam. Dan aku lihat---- kamu sangat menikmatinya". Javier tersenyum mengejek, merasa puas menggoda Alea. Javier menyukai situasi dimana Alea merasa malu, karena wajah wanita itu berubah menjadi lucu dan cantik. Apa? cantik?. Ayolah Javier, bukankah dia sekretaris mata empat yang kamu ingin manfaatkan?.
Javier memamilingkan pandangannya ke jendela. merutuki pikirannya sendiri, karena dia sudah mulai berpikir bahwa wanita yang di nikahinya tersebut memiliki wajah cantik. Ia sih Alea cantik, hanya saja kacamata yang di kenakan menutupi kecantikan itu. Namun ketika semalam mereka tidur bersama, Javier terbangun pukul 02.00 dini hari. Pria itu merasa haus, dan di lihatnya Alea sedang bergerak pelan, mungkin ia merasa terusik ketika Javier memindahkan tangan wanita itu dari pelukan. Javier menatap lekat wajah istrinya tersebut. Javier tersenyum, 'Ternyata dia cantik tanpa kacamata'.
"Tapi kamu yang memulainya". Suara Alea membuyarkan lamunan Javier membuat pria itu menolah pada Alea.
"Tapi kamu menerima dan menyukainya kan...??".
"Pakai celana ih, jorok tau". Alea melemparkan celana Javier yang tergeletak di sisi ranjang. Javier pun mengenakan celana tersebut tanpa menggunakan baju menunjukan otot perut yang sempurna, hingga Alea menelan slavinya dengan susah payah.
Sekali lagi Alea seperti kedapatan mencuri, Javier telah menyadari jika Alea sedang menatapnya kagum. Javier tersenyum usil,
"Apakah kamu mau mengulang peristiwa semalam, em?"
"Hati-hati. Ayo, biar aku bantu". Javier mengangkat tubuh Alea dan mendudukkan wanita itu di atas bathtub.
"Apa kamu mau aku mandikan?". Tanya Javier masih dengan senyum menggodanya.
"Aku bisa sendiri". Jawab Alea dengan tegas. Wanita itu memalingkan wajahnya yang merah akibat malu.
"Baiklah. Jika ada apa-apa panggil saja aku. Dengan senang hati aku akan membantumu". Javier mengedipkan matanya dan wajah Alea pun semakin bersemu merah, diam-diam wanita itu tersenyum dan tidak di sadari oleh Javier.
'Hah, memalukan'.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya. Jangan lupa like dan votenya untuk beri sedikit trip. Beri bintang juga ya. Terimakasih.
Happy Reading 😊
*Dede...
__ADS_1