
Javier menatap kosong kedepan. Tatapannya sendu seolah menyesali perbuatannya sendiri.
"Aku sudah sering katakan pada mu, jangan bermain-main dengan pernikahan atau kamu akan menyesal. Dan lihatlah, cinta berhasil menaklukan keangkuhan mu. Aku pernah berada di posisi seperti dirimu. Saat itu aku menyia-nyiakan wanita yang sangat berarti bagiku.". Tutur Alex sambil menatap ke atas seperti melihat masa lalunya berputar di atas kepalanya.
"Apa aku terlambat Lex?. Aku takut jika dia menolak ku. Selama ini aku melakukan Alea dengan begitu kasar. Apa aku pantas mendapatkan maaf dan cintanya?". Tutur Javier dengan tatapan kosong. Tersirat rasa takut akan penolakan yang di alaminya.
"Buktikan jika kamu mencintai nya, Vir. Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi. Ingatlah apapun yang kamu berikan pada wanita, ia akan membuatnya lebih besar. Jika kamu memberinya bangunan, maka ia akan memberikan mu rumah tangga. Jika kamu memberinya senyuman, maka ia akan memberikan hatinya untukmu. Wanita melipat gandakan dan membesarkan apa saja yang di berikan padanya. Jadi, jika kamu memberinya sampah, maka siap-siaplah untuk menerima satu ton kotoran. Dan aku terlambat untuk menyadari itu. Bahkan aku menerima berton-ton sampah yang hingga saat ini tak bisa aku bersihkan. Jangan lakukan kesalahan seperti yang aku lakukan dulu, Vir. Alea mencintai mu".
Mata Javier membulat sempurna mendengar ucapan sahabatnya itu, sahabat yang sempat ia benci karena sebuah kesalahpahaman.
"Benarkah?". Tanya Javier sambil memegang bahu sahabat sekaligus rekan kerjanya itu untuk meyakinkan dirinya.
"Tentu saja. Apa kamu tidak bisa melihat betapa besar cinta wanita itu untuk mu?. Kamu Memang payah". Cibir Alex.
"Yah, aku memang payah. Aku terlalu pengecut untuk menyimpulkan perasaanku. Aku memang payah, sudah menyia-nyiakan wanita yang selama ini menjagaku". Tutur Javier dengan wajah penuh penyesalan. Wajah sendu itu menemaninya selama seminggu ini pasca kesalahpahaman yang terjadi.
Dua pria berbeda karakter itu saling diam untuk beberapa saat, merenungi kesalahan yang di lakukan. Ada guratan penyesalan dari keduanya. Bukankah penyesalan itu selalu berada di belakang. (Kalau di depan namanya pendaftaran)😄.
"Baiklah aku rasa aku harus menyelesaikan sesuatu. Terimakasih karena sudah menjelaskan padaku". Tutur Javier sambil menepuk pundak Alex dan berlalu pergi begitu saja tanpa mendengar kan ucapan sahabatnya itu.
"Javier, dengar kan aku dulu". Panggil Alex namun di abaikan oleh Javier. Pria itu tampak terburu-buru ingin menemui wanitanya, wanita yang telah di sakitinya, wanita yang sudah ia lecehkan secara fisik dan mental.
__ADS_1
*****
Javier telah sampai di rumah yang selama seminggu ini di tinggalkan. Ia memasuki dalam rumah dengan langkah cepat, ia ingin menemui Alea dan mengungkapkan perasaannya. Namun tidak siapa pun dalam rumah itu kecuali asisten rumah tangga yang selalu setia berada dalam rumah itu selama seminggu terakhir ini. Di carinya Alea ke semua ruangan namun hasilnya pun nihil. Di kamar, ruang ganti, ruang kerja, dapur, kamar mandi, tak ada satu pun ruangan yang di lewatkan Javier. Namun tetap saja ia tidak menemukan Alea. Javier mengusap wajahnya dengan kasar, ia frustasi.
"Bi, dimana Alea?". Tanya Javier ketika melihat Bisa Asih yang masih dengan wajah mengantuknya. Wanita paruh baya itu baru saja melangsungkan aktivitas tidurnya, namun tiba-tiba saja ia mendengar suara yang tidak asing di telinga nya. Ternyata Tuannya telah pulang dengan penampilan yang semrawut. Tidak ada kesan keangkuhan dari wajah pria itu, sikap dingin yang di pelihara nya selama ini telah hilang dan berganti wajah frustasi seperti takut kehilangan harta berharganya.
"Maaf Tuan. Nyonya Alea tidak ada di rumah". Jawab Bi Asih dengan menundukan kepalanya merasa takut pada Tuannya yang tampak tidak baik-baik saja itu.
"Kemana perginya Bi?". Tanya Javier sambil menangkup bahu wanita paruh baya tersebut.
"S--saya tidak tahu Tuan". Tutur Bi Asih dengan suara ragu-ragu.
"Bagaimana Bibi tidak tau?. Bukankah bibi selama ini ada di rumah?". Javier tampak frustasi karena Alea kini telah meninggalkan rumah, meninggalkan dirinya.
"Alea, maafkan aku sayang..." Javier duduk terkulai di lantai sambil menangis.
"Aaaaa.... Apa yang sudah aku lakukan?. Alea... Huhuhu". Javier menangis meratapi kepergian wanita yang telah meninggal kan dirinya entah kemana hingga ia terlelap dengan tangisan.
*Ku pikir wanita itu bodoh bila berlagak bahwa ia setara dengan pria. Wanita jauh lebih hebat, sudah sejak dahulu demikian. Apapun yang kau berikan kepada wanita, ia akan membuatnya lebih besar. Kau beri ia setetes mani, ia akan memberimu bayi. Kau beri ia bangunan, ia akan memberimu rumah tangga. Jika ia kau beri belanjaan, ia akan memberimu makanan. Jika kau memberinya senyuman, ia akan memberimu hatinya. Ia melipat gandakan dan membesarkan apa saja yang di berikan padanya. Jadi... Kalau kau memberinya sampah, siap-siaplah untuk menerima satu ton kotoran.
~Wilyam Golding. 1911-1993*.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Assalamualaikum. Selamat malam Readers. Mohon maaf ya jika lama up nya. Proses review nya cukup lama juga. Jangan lupa like dan komentar serta vote ya. Beri bintang juga. Terimakasih.
__ADS_1
Happy Reading.
*Dede...