
Shella POV.
Aku membulatkan tekad untuk mengutarakan cinta pada Akemi. Cinta ini sudah tak bisa aku bendung lagi, cinta ini mulai meronta di dalam sana. Cinta ini seolah berkata, "Keluarkan aku, jangan kurung aku di dalam sini. Aku sesak, aku butuh udara." Begitulah ungkapan cinta ku yang kuat di dalam dada.
Terlalu lama aku mengurung mu wahai cinta, terlalu lama aku menahan mu wahai cinta, terlalu lama aku membuatmu menunggu wahai cintaku, Akemi Alexander Gautam.
Aku tersenyum cerah di dalam mobil yang aku tumpangi, hatiku berdendang ria. Bahagia rasanya cinta ini ingin menemui pasangannya. Sampai tatapan sopir seolah berkata, "Wanita ini sudah gila." Ya, aku sudah gila. Aku gila karena cinta. Jika dulu Akemi yang tergila-gila akan cinta, kini giliran ku yang tergila-gila akan cinta.
Entah mengapa aku merasa waktu berputar sangat lambat. Berharap akan cepat sampai ke tempat Akemi. Namun, dunia berputar tak sesuai yang aku inginkan. Ayolah lebih cepat lagi, aku sudah tak sabar untuk melihat wajah pujaan hatiku.
Tak lama sopir sudah memarkir mobil di pelataran parkir Perusahaan tempat suamiku berada. Sebelum aku turun, aku mengatur pernafasan ku yang seolah memburuh. Tubuhku gemetar seperti seseorang yang sedang kelaparan. Sedangkan jantungku, seperti seseorang yang baru saja usai melakukan lari maraton.
Oh Tuhan, secanggung inikah untuk mengungkapkan cinta? bantu aku Tuhan. Beri aku kekuatan agar aku sanggup mengutarakan isi hatiku.
"Huf, kamu pasti bisa Shella. Kamu pasti bisa," ucapku seolah menguatkan diri.
"Nona, apakah Anda mau turun untuk menemui Tuan Akemi, atau tetap berada di mobil ini Nona? lagi pula, makanan itu bisa basi kalau berlama-lama di dalam tempat itu," tutur sopir ku. Mendengar kata makanan, aku merasa sedikit lega. Bukankah tujuanku ke kantor untuk membawakan makan siang buat Akemi? lalu mengapa aku mengabaikan fakta itu?
Ah, aku rasa aku terlalu fokus dengan kisah cintaku, sampai mengabaikan hal yang lain. Aku bisa menjadikan makanan ini sebagai alasan utama menemui Akemi. Setelah waktunya pas, dan aku berhasil mengumpulkan keberanian, maka aku akan mengatakan segalanya.
"Iya Pak, aku akan turun. Tunggu sebentar ya Pak," ucapku pada sopir tersebut.
"Silahkan Nona, saya tetap akan menunggu Anda kok. Nanti kalau saya mengabaikan Anda, Tuan Akemi pasti akan memecat saya," goda supir yang bernama Komang itu.
"Kamu ini ada-ada saja. Dia tidak akan memecat supir sebaik kamu Komang. Ya sudah, aku turun dulu ya? nanti makanan nya dingin." Aku pun turun dari mobil dan memantapkan hati untuk melangkah.
Setibanya aku di lobi, semua mata tertuju padaku. Tatapan itu seolah berkata, "Wah, beruntung nya wanita itu menikah dengan Tuan Akemi yang kaya raya."
Ada juga yang seolah berkata, "Pasti wanita ini menggunakan ilmu pelet untuk memikat Tuan Akemi. Apa cantiknya wanita itu? bahkan aku lebih cantik dari dia." Begitulah kira-kira arti dari tiap tatapan itu. Bahkan masih banyak lagi. Namun, aku tak perduli. Tujuan ku kesini bukanlah untuk mengartikan tatapan mereka, melainkan menyatakan cinta.
Aku terus berjalan, dan masuk ke dalam lift. Lift ini dulu sering di gunakan oleh petinggi Perusahaan Akemi. Aku bahkan tak pernah berani untuk sekedar berdiri di depan lift ini dulu sewaktu bekerja di Perusahaan. Hampir setiap hari aku membersihkannya ruangan yang kini aku lewati. Ruang HRD, ruang Direktur, wakil Direktur, ruang meeting, dan kini tibalah aku di ruang utama, yakni ruang CEO.
Lutut ku semakin gemetar untuk masuk ke dalam sana. Selama hampir sepuluh menit aku menatap pintu ruang CEO dimana suamiku berada.
"Shella, kamu kesini untuk mengantarkan makanan buat Akemi. Mengapa kamu jadi gugup? ayolah Shella, kamu adalah istri Akemi. Bukankah setiap hari kalian bertemu di rumah? lantas apa yang membuat mu setakut ini?" Aku bermonolog seolah ingin menguatkan diri.
__ADS_1
Tak lama pintu ruang CEO terbuka, aku melihat bukan suamiku yang keluar, melainkan...
"Delon?"
Ya, Delon keluar dari ruang CEO dengan raut muka kecut. Entah apa yang membuat pria itu tampak cemberut. Mungkin Akemi menjahilinya lagi.
"Oh, jadi ini yang membuat si Tuan menyebalkan itu tersenyum terus sepanjang hari? ternyata istrinya datang membawa makan siang," goda Delon. Aku pun menjadi malu. Mungkin wajah ku sudah berwarna oranye sekarang.
"Seandainya saja Naomi juga membawakan aku makan siang, mungkin aku akan bahagia juga," lirih Delon. Tampaknya pria itu sedang patah hati. Mengapa Naomi harus menolak cinta Delon? padahal tak ada yang aneh dari pria ini. Wajahnya tampan, baik, cerdas, dan yang terpenting adalah mereka sepadan. Mereka sama-sama dari keluarga terpandang. Lalu apa yang membuat Naomi menolak pria malang ini?
Ah, mengapa aku jadi memikirkan urusan percintaan Delon dan Naomi? bukankah aku kemari untuk menemui suamiku?
"Ah, maaf. Apakah Akemi ada di dalam?" Tanya ku sopan. Lebih tepatnya canggung.
"Tentu saja ada, sejak tadi dia sudah menunggu mu. Dia seperti orang gila yang tak sabaran," ejek Delon.
"Sayang, apakah kamu akan tetap berbincang dengan pria malang itu? atau mau menemui suamimu ini?"
Deg,
"Masuklah Nona Shella, atau dia akan menggonggong padaku nanti," ejek Delon.
"Apa kau pikir aku ini seekor doggy?" tandas Akemi kesal.
"Silahkan masuk Nona Shella, suamimu itu sudah tak sabar menunggu mu," bisik Delon padaku. Sumpah demi apapun aku semakin tersipu malu.
"Hei, jangan bisik ke telinga istriku. Atau aku patahkan leher mu itu!" Ancam Akemi. Aku hanya tersenyum melihat perdebatan dua sahabat yang saling mengasihi itu. Mereka memang sering berdebat, namun tak jarang saling merindukan.
Tak lama Delon pun pergi meninggalkan ruangan CEO, dan tinggallah kami berdua di ruangan yang tiba-tiba terasa panas itu.
Akemi terus menatap ku dengan tatapan yang sukses membuat hati ku bergejolak. Senyuman suamiku itu sungguh sangat mempesona.
"Hei, apakah kamu mau tetap berdiri di pintu itu atau memberiku makan siang?" ucap Akemi menyadarkan ku dari lamunan.
"Ah, iya. Aku membawakan makan siang untuk mu. Makanlah," ucapku sembari meletakan kotak makan siang di atas meja.
__ADS_1
"Wah, coba kita lihat. Istriku ini memasak apa untuk suaminya?" goda Akemi.
"Buka lah, kamu akan tahu," jawab ku malu-malu. Tak lama Akemi menarik ku hingga terjatuh di atas pangkuan nya. Sumpah, jantung ku semakin bekerja keras. Oh, Tuhan. Mengapa rasanya sangat aneh? tiba-tiba aku merasa suhu di ruangan itu semakin panas.
Akemi mulai membelai ku, belaian yang setiap malam dia lakukan padaku di atas ranjang ketika ingin menancapkan tongkat si buta dari goa hantu untuk membela semangka matang ku.
Tangan itu beralih ke leher jenjang ku, dan mengecup nya. Kemudahan berakhir di bibirku. Aku tak kuasa menahan sentuhan Akemi, sentuhan yang sukses membuat jiwaku meronta.
"Lepaskan, sebaiknya kamu makan dulu. Makanan nya sudah dingin," bujuk ku menghentikan gerakan Akemi yang sudah menjalar kemana-mana bagia linta penghisap darah. Mau tak mau Akemi harus melepas ku.
"Baiklah, sayang. Sekarang aku melepaskan mu, karena perutku membutuhkan nutrisi. Tapi jangan harap nanti malam aku melepaskan mu," tutur Akemi dengan penuh penekan.
"Aku akan menunggu mu di rumah nanti malam," bisik ku sembari meninggal kan jejak kecupan manis di pipi suamiku itu.
"Benarkah? apakah kamu akan mengatakan sesuatu yang membuat hatiku bahagia?" Tanya Akemi antusias.
"Tentu saja, bahkan lebih dari sekedar bahagia," balas ku sambil tersenyum manis. Akemi kembali memeluk ku dengan agresif.
"Aku tidak tahan lagi ingin pulang, atau katakan saja sekarang," balas Akemi dengan suara manja khas nya.
"Bukan surprise dong namanya kalau aku katakan sekarang." Aku melihat kening Akemi berkerut seolah merasa bingung.
"Surprise?"
"Iya surprise. Nanti malam aku menunggu mu di rumah. Kita akan makan malam romantis," ucap ku malu-malu.
"Wah, ternyata istriku ini sudah pandai membuat surprise ya?" Aku hanya tersenyum malu-malu dengan nada godaan Akemi.
"Baiklah, sekarang kamu makan siang dulu. Aku akan menemani mu sampai selesai," tutup ku seraya berdiri dari pangkuan Akemi.
"Baiklah sayang, aku akan makan siang sekarang. Tapi nanti malam, kamu yang akan aku makan," balas Akemi seraya mengedipkan sebelah matanya.
Oh, Tuhan. Sumpah demi apapun mata itu membuatku semakin di mabuk kepayang. Rasanya gunung es di benua Antartika ku mulai mencair ke permukaan hanya dengan melihat satu kedipan mata Akemi.
Lalu aku pun berkata, "Jangan lupa like dan vote ya readers. Dan jangan lupa mampir juga ke kisah MARINAKU di platform DM ya. Itu tentang kisah cinta Kakak ipar ku loh. Dan jangan lupa tekan tombol love sebelum baca ya."
__ADS_1
Happy reading.