Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Terngiang-ngiang.


__ADS_3

Sekembalinya Shella dari supermarket, dia berubah menjadi tak konsentrasi. Ingatan nya di penuhi dengan kalimat ancaman Nisa. Entah mengapa Shella merasa, jika ancaman Nisa tak main-main. Ada pesan yang tersirat dalam tiap bait kalimat ancaman tersebut.


Shella memotong sayur sambil termenung membayangkan pertemuan nya tadi dengan Nisa. Hingga tak sadar Shella mengiris jarinya sendiri.


"Ah," pekik Shella. Dia melihat darah sudah keluar dari jarinya yang terluka. Shella mengisap jarinya itu, tetapi luka yang terdapat di kulit nya tak seberapa sakitnya, jika di bandingkan dengan luka hati yang sengaja di torehkan Nisa tadi. Penghinaan itu masih terngiang-ngiang di ingatan Shella. Hingga pundak wanita itu terasa di sentuh oleh seseorang.


"Sayang?"


"Akemi?"


Ya, Akemi telah pulang dari kantor. Pria itu memanggil-manggil Shella sedari tadi, tetapi wanita itu tak menyadari keberadaan Akemi. Dia diam tanpa kata, jiwanya pergi entah kemana.


"Apa yang sedang kamu lakukan? mengapa kamu melamun?" Tanya Akemi dengan kening berkerut.


"Ah, maaf. Tadi tanganku terluka," jawab Shella sedikit bohong.


"Terluka? kenapa bisa kamu terluka? coba tunjukkan padaku. Aku akan mengobati nya," jawab Akemi dengan raut wajah cemas. Pria itu seolah melihat goresan luka besar di jari Shella. Padahal hanya segaris luka kecil yang tertoreh. Namun, bukan itu yang membuat Shella berhasil diam dan merasakan sakit, tetapi luka hatinya lah yang sukses membuat Shella berbeda kali ini.

__ADS_1


Akemi menuntun Shella untuk duduk di kursi.


"Tunggu sebentar ya?" Akemi pergi mengambil kotak obat yang ada di kamar. Sementara Shella tak menjawab ucapan pria tersebut. Wanita itu tampak masih memikirkan setiap bait hinaan Nisa. Bagaimana bisa wanita paruh baya itu sangat yakin jika dirinya masih memiliki hubungan dengan Ibrahim? apa yang sebenarnya terjadi? mengapa sampai Tante Nisa mengancam dirinya? dan dimana Ibrahim sekarang? mengapa mereka seolah berkeliaran di kota ini? padahal tempat tinggal mereka bukanlah di kota yang sama dengan Shella. Lalu apa yang mereka lakukan disini? pikir Shella.


"Aww," pekik Shella. Akhirnya wanita itu merasakan sakit di bagian jarinya berkat cubitan keras dari Akemi. Ya, Akemi sengaja mencubit luka Shella agar wanita itu menyadari keberadaan dirinya. Bagaimana tidak, Shella seolah hidup di tempat lain. Hanya tubuhnya lah yang berada di ruangan itu. Bahkan ketika Akemi meneteskan obat luka di jarinya, Shella tak merasakan apapun.


"Apa yang kamu pikirkan? apakah kamu sedang mencemaskan sesuatu?" Tanya Akemi. Shella masih belum bergeming, dia tampak berpikir, apakah dia akan menceritakan perihal pertemuan nya dengan Nisa tadi dan berujung adanya ancaman? atau justru di pendam begitu saja? ataukah dia harus menceritakan perihal Ibrahim pada Akemi? entahlah, Shella tampak ragu. Bagaimana jika Akemi cemburu dan berakhir dengan kemarahan? Akemi memang hampir tak pernah memarahi Shella jika bukan karena mencemaskan wanita itu. Namun, Shella tak jamin jika itu menyangkut pria lain di kehidupan mereka.


"Aku baik-baik saja, aku hanya merindukan Panti Asuhan," jawab Shella bohong setelah beberapa saat diam. Wanita itu memutuskan untuk memendam perasaannya.


"Benarkah? apakah kamu tidak keberatan? lalu bagaimana dengan pekerjaan mu di kantor?" Tanya Shella dengan sedikit risau. Dia tak mau membuat suaminya itu repot. Sudah terlalu sering Akemi menghujam nya dengan berbagai macam kebahagian. Segala cara di lakukan Akemi agar senyuman Shella tetap menghiasi wajahnya yang cantik, dan melupakan yang namanya kepedihan hati.


"Aku adalah Bosnya sayang, kita akan kesana besok, em?" jawab Akemi sembari menangkup kedua pipi Shella dan berakhir dengan satu kecupan manis di kening Shella.


"Terimakasih Akemi," jawab Shella tulus. Namun, entah mengapa Akemi merasa ada sesuatu yang berbeda dari Shella saat ini, dia seperti sedang risau. Akemi bisa menangkap gelagat cemas di wajah Shella.


"Katakan padaku, apakah ada sesuatu yang menggangu pikiran mu, em?" Tanya Akemi datar dan hati-hati. Dia tidak ingin membuat wanita itu tersinggung hingga menutupi keadaan yang sebenarnya. Namun sayang, Akemi tetap tak mendapatkan jawaban yang di inginkan nya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, mungkin aku sedikit kelelahan," jawab Shella bohong. Namun, Akemi tahu jika wanita itu tengah berbohong, tetapi Akemi tak ingin mendesak Shella. Biarlah wanita itu sendiri yang akan bercerita nanti jika dia sudah siap. Pikir Akemi.


"Baiklah, besok akan ada asisten rumah tangga yang akan membantu kamu disini. Supaya tangan Istri ku ini tidak lecet lagi," balas Akemi seraya mencium jari Shella yang terluka. Shella merasa bersalah pada Akemi. Dia terpaksa harus berbohong pada suaminya itu. Bukan tanpa alasan Shella melakukan itu semua. Dia hanya tak ingin menambah beban Akemi. Pria itu sudah terlalu baik padanya. Bukan hanya Akemi, tetapi seluruh anggota keluarga pria tersebut. Shella tak merasa menjadi yatim piatu semenjak menikah.


Shella tersenyum manis pada Akemi, dapat di ketahui, bahwa wanita itu sangat mencintai Akemi. Hanya saja, dia tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan cinta itu.


"Terimakasih," ucap Shella akhirnya setelah beberapa saat diam. Shella memeluk tubuh Akemi.


"Maafkan aku Akemi, aku terpaksa membohongi mu. Aku tidak ada pilihan lain. Kamu terlalu baik untuk ku. Kamu memberiku cinta yang begitu besar, hingga aku lupa, bahwa dulu aku sangat kesepian. Kamu memberiku kehormatan, kehormatan yang tak pernah aku rasakan. Kehormatan yang di injak-injak orang. Bahkan orang-orang menolakku. Terimakasih untuk cinta mu Akemi. Suatu saat nanti, aku akan menyatakan cintaku padamu tanpa beban," batin Shella.


"Aku tahu Shella, kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku bisa melihat betapa cemasnya dirimu. Jika bibir dapat berbohong, tapi tidak dengan matamu Shella. Aku tahu kamu sedang ketakutan, dan aku tidak akan membiarkan rasa takut itu menciptakan jarak diantara kita. Aku akan menghapus tiap jarak yang akan membentang di antara kita. Aku akan menggantikan semua kesedihan mu menjadi kebahagiaan. Aku akan menggantikan ketakutan mu, menjadi keberanian. Aku yakin itu," batin Akemi.


Pendirian Akemi sangat bulat, dimana dia akan selalu menanamkan kepercayaan pada Shella. Dia akan menghujam wanita itu dengan sejuta kebahagiaan. Janji itu telah terukir di bawah langit senja di Maladewa. Janji yang di bawah pulang dan di pegang teguh oleh Akemi. Dia tak akan memberi kesempatan pada siapapun untuk menyakiti Shella. Akemi akan memotong tangan siapa saja yang berani menyakiti istrinya itu. Dia akan membalas tiap sakit hati dan deraian air mata wanita nya itu.


Akemi sudah bersumpah di depan para saksi untuk melindungi Shella yang kini menjadi istrinya, agar tak terkena mata jahat, bahkan padangan meremehkan sekalipun. Ya, itulah Akemi. Begitu besar cintanya pada Shella. Hingga dia akan rela melakukan apa saja yang bisa di lakukan demi kebahagiaan wanita tersebut.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2