Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Rencana Pindah Rumah.


__ADS_3

Kesalahpahaman dalam salah mengartikan kalimat plesetan antara Akemi dan Shella pun berakhir tanpa adanya kelanjutan. Bagaimana tidak, Akemi harus ekstra kerja keras untuk menembus kepolosan Shella. Akemi memang pria kaku, irit kata, dan sebelumnya tak kenal wanita, tetapi dia cukup tahu bagaimana cara mengenal cinta.


Sementara Shella? wanita itu bahkan hanya bereaksi malu-malu kucing ala Korea.


"Jadi, apakah kita akan ke gunung berapi sore ini?" Tanya Shella masih dengan topik yang sama mengenai gunung berapi. Akemi memijit pelipisnya merasa bingung harus berkata apa.


"Baiklah, mendaki gunung nya kita tunda dulu. Kita harus segera pindah dari sini," tutur Akemi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mengapa?" Tanya Shella.


"Karena kita akan tinggal di Apartemen sayang," jawab Akemi.


Seketika wajah Shella berubah menjadi sendu. Bagaimana tidak, baru saja Shella merasakan kasih sayang orang tua lewat Mama Alea dan Papa Javier, kini ia harus berpisah dengan orang yang mulai di kasihinya itu. Kendati tinggal di kota yang sama, tetapi rasanya akan berbeda ketika harus tinggal serumah.


"Kamu kenapa sedih?" Tanya Akemi bingung.


"Apa kamu tidak suka aku tinggal disini?" Lirih Shella. Pertanyaan itu justru membuat Akemi semakin bingung. Mengapa dia harus tidak menyukai Shella tinggal di rumah ini? pikir Akemi.


"Apa maksud kamu?" Tanya Akemi dengan kening berkerut. Shella masih menundukkan kepalanya. Hatinya benar-benar merasa kehilangan jika harus tinggal berjauhan dari kedua mertuanya. Baru juga sehari menjadi menantu, dan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan keluarga, serta cinta kasih Ibu, Bapak, dan saudara. Dia harus pergi meninggalkan mereka yang sudah terlanjur memiliki tempat khusus di hati Shella.


"Sejujurnya aku merasa nyaman tinggal disini. Akhirnya aku bisa merasakan kasih sayang orang tua. Mama dan Papa tidak pernah menolakku. Bahkan mereka menerimaku tanpa syarat sekalipun. Kehidupan ku di masa lalu, mereka tak pernah menganggap itu ada. Kalian bahkan merangkul ku, hingga aku hampir lupa, bahwa dulu aku hidup sendirian." Shella tak dapat menahan perasaannya yang emosional. Hingga air mata itu akhirnya tumpah. Suaranya lirih dan bergetar. Shella sungguh-sungguh jatuh cinta pada keluarga Akemi. Karena bersama mereka lah, wanita itu mendapatkan penghargaan yang luar biasa tingginya, tanpa memandang status sosial yang di sandang oleh seorang Shella Yolanda.

__ADS_1


Akemi sangat terharu dengan pengakuan Shella, pria itu tersenyum manis sembari memeluk tubuh istrinya.


"Kita pindah dari rumah ini, bukan berarti kita tidak akan mengunjungi Mama dan Papa, tapi kita harus mendiri. Lagi pula, kamu adalah tanggung jawab ku sekarang. Apapun yang berhubungan dengan mu, itu sudah menjadi urusan ku. Kamu juga boleh datang ke rumah ini kapanpun kamu mau," terang Akemi. Shella menarik tubuhnya dari pelukan pria tersebut.


"Benarkah?" Tanya Shella dengan senyum sumringah.


"Tentu saja," balas Akemi. Sontak saja Shella memeluk tubuh Akemi dengan sangat kuat, hingga sang empunya tubuh merasa tersengat listrik. Pancaran cinta itu kembali bersinar lagi.


Bug,


"Terimakasih Tuan, terimakasih," ucap Shella sungguh-sungguh. Namun, Akemi justru mengerutkan keningnya. Bagaimana tidak, pria itu kembali mendengar Shella menyebutnya Tuan. Baru juga sinar cinta itu merekah, kini meredup kembali seiring dengan pernyataan Shella yang menyebut nya Tuan.


"Ah, maksud ku Tuan suami," ralat Shella akhirnya. Meski sebenarnya wanita itu tak sengaja mengucapkan kata Tuan tadi, tetapi tak ada salahnya jika harus membenahi ucapannya. Terlebih lagi ucapan itu justru menciptakan senyuman manis di wajah sang suami.


Sementara Akemi sudah mulai merasakan bahagia yang dua kali lipat dari sebelumnya. Mata pria itu berbinar-binar memancarkan cahaya cinta untuk Shella.


"Benarkah?" Tanya Akemi malu-malu.


"Iya, karena sekarang kamu adalah suamiku. Jadi tidak masalah kan jika aku memanggil mu dengan sebutan Tuan suami?" Tutur Shella polos. Sedangkan Akemi tak berdaya lagi harus menghadapi kepolosan Shella. Ternyata wanita itu belum juga memahami bahasa tubuh suaminya. Setidaknya Shella harus memanggilnya dengan sebutan Sayang. Akemi sudah berbinar-binar karena di anggap sebagai suami istimewa, Shella justru hanya menganggap hubungan mereka hanyalah sebatas status di atas kertas.


Sejujurnya Shella memiliki alasan mengapa wanita itu tak menganggap terlalu serius pernikahan itu. Dia belum pernah mendengar ungkapan cinta Akemi kepada dirinya. Di tambah lagi, status Akemi yang merupakan kekasih dari wanita lain sebelum dirinya menikah dengan pria tersebut, membuat Shella semakin di rundung rasa bersalah. Di satu sisi Shella merasa bahagia karena dia menikah dengan Akemi yang sudah mulai di cintai nya. Namun di sisi lain, wanita itu justru menganggap dirinya merebut kekasih wanita lain. Hubungan mereka pun bisa berakhir suatu waktu jika pada akhirnya Akemi harus kembali pada kekasihnya itu. Setidaknya itulah yang di pikirkan Shella saat ini.

__ADS_1


"Jika saja kamu tidak memiliki kekasih, maka aku akan menganggap mu sebagai suamiku sepenuhnya. Aku akan menyerahkan segalanya padamu. Aku tahu, kamu hanya kasihan kepada ku. Kamu berusaha untuk mengangkat derajat ku. Setelah semua ini berakhir, kamu pasti akan kembali pada kekasih mu itu," batin Shella.


Entah darimana datangnya pikiran kolot itu, Shella masih berpikir, bahwa Akemi hanya kasihan kepada dirinya. Bahkan pernikahan itu hanyalah sebatas status. Padahal tak pernah ada perjanjian kontrak pernikahan di antara mereka sebelumnya. Pernikahan itu sah di mata hukum dan agama. Lalu mengapa Shella harus menyangsikan hal itu?


"Aku akan membuatmu mencintaiku Shella. Aku akan membuat mu percaya, bahwa aku tulus mencintaimu, dan pernikahan ini bukan hanya sebatas nama suami dan istri, tetapi hubungan yang di bangun atas dasar cinta," batin Akemi penuh keyakinan.


"Baiklah, jadi kamu setuju kan kita pindah ke Apartemen?" Tanya Akemi akhirnya setelah beberapa saat diam.


"Baiklah jika itu yang terbaik, aku akan mengikuti apa katamu," jawab Shella.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan padamu Tuan, aku hanya bisa membalas budimu dengan mengurusmu di Apartemen itu," lanjut Shella kemudian dalam hati.


"Baiklah Shella, karena kamu sudah setuju, maka aku akan memiliki kesempatan yang banyak agar kita lebih dekat lagi," batin Akemi.


Ya, tujuan pria itu pindah ke Apartemen adalah agar dia bisa lebih dekat dengan Shella dan menunjukkan cintanya dengan leluasa kepada wanita yang kini berstatus sebagai istrinya tersebut. Mereka bisa lebih mengenal satu sama lain. Mereka juga bisa bercengkrama bersama, tertawa lepas bersama, serta berbagi suka dan duka bersama.


Akemi ingin menunjukkan cintanya dengan caranya sendiri. Dia benar-benar tulus mencintai wanita itu. Tak ada alasan untuknya meninggalkan Shella.


Terlepas dari itu semua, Akemi juga ingin banyak menghabiskan waktu bersama Shella tanpa adanya gangguan dari Papa Javier yang terkenal sangat usil itu. Dengan begitu, Akemi tak akan segan untuk mengungkapkan perasaan cinta yang kini meronta di dalam dada, dan meminta untuk di keluarkan agar tak menjadi penyakit di dalam hati.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2