Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 88. Nasi Goreng.


__ADS_3

Puas berfantasi liar dalam kamar, Akemi pun keluar. Jiwa dan hatinya terasa tenang ketika ular naga yang tadi terbangun, kini tidur kembali karena terkena air dingin.


Akemi mengenakan baju kaos berwarna putih dan celana pendek sebatas lutut. Pria itu tampak segar dan tampan. Shella yang baru menyadari ketampanan pria sekaligus bos nya itu, diam-diam terpesona. Ketampanan Akemi mengalahkan Ibrahim sang mantan kekasih.


Mata Shella tak berkedip kala memandang ciptaan Tuhan yang satu ini. Matanya berwarna perak, hidungnya mancung, rambut lebat, tubuh tinggi kekar, jika di panjat pasti akan sangat nikmat. Oh matilah kamu Shella. Bagaimana bisa kamu berhalusinasi yang tidak-tidak. Kali ini Shella yang mulai berfantasi, sampai nasi goreng nya gosong tak berbentuk.


Bau hangus mulai menyengat di hidung wanita cantik tersebut. Dan benar saja, nasi goreng nya sudah hangus dan berwarna hitam.


"Aduh bagaimana ini, nasi gorengnya gosong." Shella gelagapan dengan situasi yang ada. Dia mematikan kompor, sementara Akemi berjalan cepat menghampiri Shella yang tampak kesusahan.


"Ada apa? apa yang terjadi?" Tanya Akemi panik.


"Nasi gorengnya gosong," jawab Shella.


"Bagaimana bisa?"


"Ini semua gara-gara kamu!" Balas Shella sambil menunjuk Akemi. Kening Akemi berkerut dalam hampir menyatu. Pria itu merasa bingung ketika Shella tiba-tiba saja menyalahkan dirinya atas nasi goreng yang hangus tadi.


"Aku?" Tanya Akemi seraya menunjuk wajahnya dengan menggunakan jari telunjuk.


"Iya kamu. Ini semua karena kamu terlalu tampan, sampai mataku tak bisa berkedip sama sekali!" Ucap Shella dengan satu kali tarikan nafas. Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum bahagia disana. Pria itu merasa tersanjung. Bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya.


"Benarkah?" Tanya Akemi malu-malu.


"Apanya yang benar?" Tanya Shella bingung.


"Tentu saja benar, nasi gorengnya gosong." Lanjut Shella kemudian.


"Maksudku, tadi kamu bilang apa?" Tanya Akemi.


"Apanya?" Shella menjadi bingung dengan pertanyaan Akemi.


"Tadi kamu bilang aku apa?" Akemi memasang wajah penuh harapan agar di puji Kembali oleh Shella.


"Gara-gara kamu?" Ucap Shella.


"Bukan, yang satunya."

__ADS_1


"Nasi goreng gosong?"


"Bukan, aku terlihat apa tadi?"


"Terlihat bersalah?"


"Sudahlah." Sumpah demi apapun Akemi merasa sangat kesal karena tak mendapat jawaban yang di inginkan. Sementara Shella tak bergeming. Tatapannya tak terbaca.


"Bagaimana bisa dia melupakan kalimat nya secepat itu?" Gumam Akemi. Namun, masih bisa di dengar oleh Shella, tetapi wanita itu memilih untuk diam.


"Bukankah tadi dia mengatakan, bahwa aku tampan?" Lanjut Akemi kemudian.


"Ha? apakah Anda mengatakan sesuatu Tuan?" Tanya Shella pura-pura tuli. Ya, wanita itu seakan tak mendengar kalimat Akemi yang sangat jelas di telinganya.


"Tidak ada, kamu masak lah yang benar. Aku sudah lapar," titah Akemi akhirnya. Pria itu benar-benar sangat kesal, baru saja hatinya berbunga-bunga kala mendekati pujian Shella, tapi meredup seketika kala Shella tak mengucapkan kembali pujian itu.


Akemi meninggalkan Shella di dapur, sedangkan Shella akhirnya mengembuskan nafas lega sembari memegang dadanya.


"Hufft, untung saja. Aku hampir ketahuan memujinya" gumam Shella. Ya, ternyata wanita itu tak melupakan kalimat pujiannya tadi. Dia sangat ingat betul tiap bait kalimat pujian yang terlontar dari mulutnya sendiri. Hanya saja, dia memilih untuk berpura-pura lupa. Terlebih lagi dia mengagumi sosok Bos nya. Bos yang sangat kaya raya. Tak akan sebanding dengan dirinya.


"Semangat Shella, kamu tidak boleh putus asa. Jatuh cinta bukan segalanya." Shella menguatkan dirinya sendiri yang tampak rapuh. Tak bisa di pungkiri jika hatinya juga menginginkan cinta dalam hidup. Cinta antara pria dan wanita.


**


Di ruang tamu, Akemi tak henti-hentinya menggerutu. Pria itu masih saja memikirkan kalimat pujian Shella. Namun sayang, dia tidak menyadari jika sejujurnya Shella tak melupakan kalimat pujian tersebut. Hanya saja, perbedaan antara mereka membuat wanita itu sengaja menciptakan jarak di antara mereka.


Setiap wanita memiliki hati yang rapuh, kebanyakan para wanita memilih memendam perasaannya. Sama seperti Shella, dia bahkan tak berani mengucapkan kembali kalimat pujian yang sudah terlanjut terucap dari bibir manisnya.


"Apa tadi aku salah dengar ya?" Gumam Akemi.


"Ah, tidak. Aku tidak tuli. Jelas-jelas tadi dia memujiku. Apa aku bertanya kembali saja?" Rupanya Akemi masih tampak penasaran dengan kalimat Shella. Hatinya merasa tak puas.


"Aku akan bertanya sekali lagi nanti. Akan aku pastikan, jika tadi dia mengatakan aku tampan. Memang aku tampan kan?" Ucap Akemi seraya mengusungkan dada penuh percaya diri.


**


Di dapur, Shella telah selesai dengan aktivitas memasaknya. Wanita itu menata semua makanan yang telah siap untuk di santap. Nasi putih, ayam goreng, sayur capcay, dan salad sayur.

__ADS_1


Shella memanggil Akemi yang sedang duduk di ruang tamu sembari melamun.


"Tuan, sarapannya sudah siap," ucap Shella.


"Baiklah."


Dua insan itu pun pergi ke dapur untuk sarapan. Akemi menarik kursi untuk duduk, sementara Shella masih tetap diam dan berdiri.


"Kamu tidak lapar?" Tanya Akemi. Namun, Shella tak memberi jawaban.


"Apakah kamu akan tetap berdiri diam disitu tanpa memakan semua makanan ini?" Tanya Akemi selanjutnya, akan tetapi Shella masih saja diam tak bergeming. Mulutnya terasa kaku.


"Shella Yolanda!" Bentak Akemi akhirnya. Pria itu tak sanggup lagi mengendalikan diri.


"Iya Tuan," balas Shella akhirnya setelah lama bungkam.


"Duduklah, kita sarapan bersama. Aku tidak suka sarapan sendirian," titah Akemi. Suara pria itu mulai melunak, amarahnya seakan menguap ketika mendengar suara Shella yang syahdu.


"Tapi Tuan, saya hanyalah seorang pelayan. Tidak sepantasnya saya duduk sarapan berdampingan dengan Anda Tuan," ujar Shella sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa kecil di mata orang lain, terlebih lagi di mata orang kaya seperti Akemi. Penghinaan dan penolakan yang di alaminya membuat luka dan trauma yang besar dalam hati wanita tersebut. Dan rasanya pun masih sangat segar, serta meninggalkan bekas.


"Ayolah Shella, berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain. Kamu bukanlah mahluk luar angkasa yang menakutkan sehingga orang-orang harus menjauhi mu. Kamu terlalu cantik dan baik untuk itu." Terang Akemi.


"Ha?"


"Iya Shella, kamu cantik dan baik. Berhenti menyalahkan dirimu atas perbuatan orang lain. Apa salahnya menjadi seorang pelayan? kita sama-sama manusia, dan bernafas di bumi yang sama pula. Suatu saat nanti kita akan mati dan tak membawa apa-apa. Hanya karena kamu pelayan, bukan berarti kamu akan duduk di bawah dan aku di atas. Hanya karena aku adalah bos kamu, lantas kamu membandingkan dirimu. Kamu dan aku sama Shella, kita bernafas di tempat yang sama. Satu-satunya perbedaan di antara kita adalah, kamu wanita dan aku pria. Jadi berhentilah merendahkan dirimu, em?" Kalimat Akemi membuat Shella terpukau. Diam-diam hati wanita itu mulai tersentuh. Akhirnya, dia merasa di hargai oleh seseorang. Dan itu adalah seorang Akemi Alexander Gautam.


Shella menitikan air mata haru, wanita itu benar-benar terharu ketika dia berhasil mencerna tiap bait kalimat bijak Akemi.


"Hei, mengapa kamu menangis, em?" Akemi berdiri dari tempat duduknya dan menyeka air mata Shella.


"Saya terharu Tuan. Terimakasih sudah menghargai saya," ucap Shella haru, dan sukses membuat seorang Akemi tersanjung untuk yang kedua kalinya.


"Jadi benar tadi kamu mengatakan aku tampan?"


"Ha?"


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2