Wanita Lucu Itu Istriku

Wanita Lucu Itu Istriku
Episode. 101. Haruskah?


__ADS_3

Shella menatap manik mata perak Akemi. Jujur saja, dia bisa mendengar dan merasakan debaran jantung pria tersebut. Tapi sekali lagi, Shella merasa Akemi hanya kasihan padanya. Lagi pula, salah Akemi sendiri yang terlalu kaku untuk mengatakan yang sebenarnya. Cinta tapi tak tahu harus berbuat apa, dasar payah.😁


"Baiklah, akan aku pikirkan." Jawaban Shella seolah Akemi mendapat angin segar. Mata pria itu berbinar-binar.


"Benarkah?" Tanya Akemi antusias.


"Iya," jawab Shella malu-malu.


"Baiklah, aku akan membawamu ke rumahku," ucap Akemi tanpa ragu.


"Untuk apa?" Tanya Shella bingung.


"Tentu saja untuk memperkenal kan mu kepada Mama dan Papa," jawab Akemi seraya tersenyum bahagia. Sementara Shella justru merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti... takut? haruskah dia bertemu kedua orang tua Akemi? apakah dia akan di terima disana? atau justru kembali mendapatkan penolakan?


"Maaf Tuan, aku rasa ini terlalu berlebihan. Aku kan baru bilang nanti di pikirkan. Tapi mengapa sekarang Anda ingin aku menemui keluarga Tuan?" ucap Shella ragu-ragu. Ya, Shella sangat ragu untuk bertemu keluarga Akemi. Lebih tepatnya malu.


"Kenapa harus ragu? bukankah kita akan menikah? sudah seharusnya aku memperkenalkan mu pada Mama dan Papa. Kamu tenang saja, mereka tidak akan menggigit mu. Mereka baik kok." Akemi memahami ketakutan Shella. Terlebih lagi pengalaman wanita itu sangat menyakitkan ketika dulu di hina dan di tolak mentah-mentah oleh keluarga Ibrahim. Ya, Akemi telah mengetahui fakta menyakitkan itu melalui anak buahnya.


"Kamu tidak perlu takut sayang, semua akan baik-baik saja, em? aku akan melindungi mu kapanpun dan di manapun kamu berada," tutur Akemi tanpa sadar ia sudah mengobrak-abrik hati Shella dengan menyebut wanita itu sayang.


"Sayang?" Ucap Shella akhirnya mengingat kan Akemi akan ketidak sengajaan nya menyebut Shella dengan kata sayang.


"Ah, maksudku itu sayang karena teman," ralat Akemi.


"Ah, begitu rupanya," lirih Shella. Ada gumpalan kekecewaan di dalam sana yang membuat relung hati Shella merasa tak nyaman. Mungkinkah dia benar-benar jatuh cinta pada Akemi? mengapa rasanya sangat sakit ketika Akemi menyebutnya teman? pikir Shella.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Ayo kita ke butik untuk membelikan mu pakaian baru, lalu kita ke rumah Mama dan Papa," ucap Akemi dengan senyum penuh bahagia. Namun, berbeda dengan Shella. Wanita itu justru semakin merasa di kasihani. Dia masih belum mau melangkah. Pikirannya larut dalam ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Akemi menyadari ketakutan Shella, akhirnya meyakinkan wanita itu.


"Ayolah Shella, aku melakukan ini bukan karena malu memiliki calon istri seperti mu. Tapi aku ingin membuatmu nyaman ketika berada di sisiku, percayalah padaku, em?" Akhirnya Shella mau mengikuti ucapan Akemi. Dia menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan pria tersebut.


**


Selama di perjalanan menuju butik, Shella maupun Akemi diam tak bersuara. Hanya suara musik yang menemani keheningan di antara keduanya.


Akemi terus tersenyum cerah, sementara Shella tak berekspresi. Tentu saja pria itu bahagia bukan kepalang. Sebentar lagi dia akan menikahi wanita yang di cintai nya, dan suatu saat nanti akan mengungkapkan cintanya dengan penuh percaya diri. Ya, Akemi akan menyatakan cintanya ketika waktunya sudah tepat. Sekarang mereka harus menikah dulu. Yang pertama di lakukan adalah membuat wanita itu menjadi miliknya, lalu kemudian membuat Shella jatuh cinta padanya. Kendati pria itu tak tahu, jika sebenarnya Shella juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Setidaknya, itulah yang di pikirkan Akemi saat ini.


Kini mobil sedan Akemi terparkir di pelataran parkir butik langganan keluarga pria tersebut. Akemi membukakan pintu untuk Shella, membuat wanita itu merasa di cintai.


"Terimakasih," ucap Shella tulus.


Kini keduanya telah memasuki butik, Akemi memanggil pelayan untuk menunjukkan semua gaun terbaik yang di miliki oleh butik tersebut. Dan akhirnya setelah mendapatkan beberapa gaun, Shella pun mencoba gaun tersebut. Betapa terkejutnya Akemi ketika melihat Shella yang tampak sangat cantik dengan gaun berwarna merah muda. Akemi berdecak kagum pada wanita itu. Mata pria itu tak berkedip sama sekali. Namun, Akemi memilih untuk mengganti gaun tersebut. Karena pria itu ingin Shella mencoba semua gaun yang telah tersedia, lalu kemudian membawa pulang semua gaun itu.


Pada akhirnya Shella menggunakannya gaun berwarna hitam dengan belahan dada yang sedikit terbuka. Shella tampak sangat cantik dan elegan di balik gaunnya yang sederhana. Sungguh menambah kesan kecantikan wanita tersebut.


Kini Shella beralih ke tata rias dimana Naomi selalu menggunakan jasanya. Shella di rias sedemikan rupa hingga wajahnya yang sederhana menjadi tampak luar biasa. Meski polesan makeup itu sangat tipis, tetapi cukup menambah poin kecantikan seorang Shella Yolanda.


Kulitnya yang putih, sangat cocok di padukan dengan gaun berwarna hitam. Rambutnya yang panjang dan lurus di ikat menggunakan pita berwarna hitam pula. Anting-anting mutiara putih menghiasi telinga Shella, dan makeup yang flawless, menambah kesan kecantikan wanita pujaan hati Akemi Alexander Gautam.


Tak henti-hentinya pria itu berdecak kagum pada Shella. Jantung pria itu mulai bekerja keras lagi. Ingin rasanya Akemi memeluk Shella dan menggiring nya ke tempat tidur dan menikmati kecantikan wanita tersebut.


"Cantiknya," gumam Akemi. Pria itu sungguh terpesona akan kecantikan Shella. Tanpa di rias pun wanita itu tetap tampak cantik. Akemi tak perduli, bahwa Shella menggunakan makeup atau tidak, yang jelas hatinya sudah terpikat pada seorang Shella Yolanda.

__ADS_1


**


Setelah selesai dari butik dan makeup, kini Shella dan Akemi menuju rumah Papa Javier. Shella tampak sangat gugup. Bagaimana tidak, ini yang kedua kalinya dia harus bertemu dengan orang tua seorang pria yang ingin mempersunting dirinya. Apakah dia akan kembali menerima penolakan yang sama? ataukah justru Papa Javier dan Mama Alea menerima Shella dengan tangan terbuka?


Terdengar beberapa kali Shella mengembuskan nafas berat. Akemi memahami keraguan dan ketakutan Shella. Akhirnya pria itu menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Apakah kamu gugup?" Tanya Akemi.


"Iya," jawab Shella. Akemi meraih tangan Shella yang tampak berkeringat karena takut.


"Kamu tidak perlu takut, Mama pasti akan menyukai mu. Percayalah padaku," ucap Akemi berusaha untuk menenangkan Shella.


"Tapi bagaimana jika mereka justru menolak ku?" Tanya Shella ragu. Ya, Shella sangat meragukan dirinya sendiri. Meski sudah berdandan cantik, itu tak akan mengubah apapun yang menyangkut kehidupan Shella. Kecuali kecantikan yang di milikinya.


"Tenang saja, Mama dan Papa tidak pernah merendahkan orang lain. Aku sangat mengenal mereka. Mama akan menerima calon menantunya yang cantik ini dengan bahagia," goda Akemi seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Shella merasa malu. Wajahnya menjadi merah merona.


"Is, tidak usah mengedip kan mata," ucap Shella seraya memalingkan wajahnya ke jendela. Akemi menarik sudut bibirnya membentuk senyum penuh kebahagiaan disana.


"Tapi kamu suka kan?" goda Akemi sekali lagi.


"Aku sudah tenang, ayo kita jalan." Shella tak sanggup lagi jika harus berlama-lama di dalam mobil bersama Akemi. Terlebih lagi pria itu terlalu mempesona. Shella tak bisa menahan pesona seorang Akemi Alexander Gautam. Jantung wanita itu mulai bekerja keras lagi. Sementara Akemi terus tersenyum bahagia. Senyuman itu tak pernah menyurut ketika Shella mengatakan Iya untuk menerima lamarannya.


Akankah Mama Alea dan Papa Javier menerima Shella dengan tangan terbuka? atau justru menolak wanita itu dan menikahkan Akemi dengan putri dari rekan bisnis Papa Javier? silahkan komen di bawah ya readers. Jangan lupa like dan vote yang banyak ya. Terimakasih.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2